
Sembilan Bulan Kemudian
Di Mansion Alexander Lemos
"Bi, Lani." Claudia berteriak histeris memanggil asisten rumahnya.
Kurang lebih satu menit, sosok yang di panggil Claudia langsung datang menghadap." Ada apa, nyonya muda?" tanya Lani asisten rumahnya Claudia yang baru datang dengan tergesa-gesa.
"Panggil sopir! Air ketuban ku pecah! jerit Claudia dengan instruksi jelas dan berusaha untuk tidak panik.
Lani dengan gesit membantu Claudia naik ke dalam mobil dan membawa segala perlengkapan yang telah disediakan sebelumnya. Setelah segalanya beres, kemudian Claudia di bawa ke rumah sakit.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Aunty Dian, mommy mau kemana? Tenapa mommy sepelti kesakitan?" tanya Ara dengan perasaan cemas saat melihat keadaan ibunya yang kesakitan.
"Nyonya muda mau ke rumah sakit nona kecil," jawab Dian.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa mommy pelgi ke lumah sakit?" tanya Ara dengan penasaran.
"Karena sebentar lagi nyonya muda akan melahirkan yang artinya sebentar lagi nona kecil akan memiliki adik bayi," jawab Dian.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa Ala boleh ikut melihat adik bayi?" tanya Ara yang antusias saat mendengar sebentar lagi akan memiliki adik bayi. Dia sekarang sudah menerima adik bayinya, itu sebabnya dia ingin pergi ke rumah sakit untuk melihat adiknya yang sebentar lagi akan hadir ke dunia ini.
"Sebaiknya nona kecil tunggu di mansion saja, karena anak kecil tidak di perbolehkan ada di rumah sakit," ujar Dian dengan lembut.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oke, aunty," jawab Ara seraya menganggukkan kepalanya.
β’
β’
β’
Di Perjalanan
"Aku sudah menghubungi tuan muda, tapi belum tersambung," ujar Lani saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Kirim pesan dan hubungi lagi," ujar Claudia. Keringat menetes membasahi dahinya.
Pagi tadi, Alex berangkat ke London untuk menghadiri pertemuan bersama para klien yang berasal dari luar negeri. Alex sempat ingin meminta agar dirinya mengadakan virtual meeting saja, tapi Claudia malah menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Saat ini, sebisa mungkin Claudia menahan diri untuk tidak mengeluh atas rasa sakit saat yang menggodanya untuk menjerit. Claudia merasakan rasa sakit yang di sertai gelombang yang membuat desakan-desakan nyeri di jalan lahirnya.
__ADS_1
Sementara itu, Lani menghubungi seluruh anggota keluarga untuk mengabarkan keadaan Claudia saat ini.
Di Bandar Udara Internasional London Heathrow, pesawat yang di tumpangi Alex baru saja mendarat dan dia langsung mengaktifkan ponselnya. Alex terkejut saat membaca pesan dari Lani dan segera menelepon kembali asisten rumahnya untuk bicara dengan Claudia.
Dreet... Dreet... Dreet...
π "Air ketubanku pecah dan sekarang sedang dalam perjalanan untuk ke rumah sakit," jelas Claudia.
π "Tunggu ya, sayang. Aku segera ke sana sekarang," ujar Alex.
π "Tapi, bagaimana dengan meeting yang akan mas Alex hadiri?" tanya Claudia.
π "Aku sudah berjanji akan menemanimu melahirkan, jadi kamu jauh lebih penting dari pada pertemuan ini," ujar Alex.
π "Baiklah, akan ku tunggu mas Alex. Cepatlah datang ke sini," ujar Claudia dengan lirih.
π "Kamu yang kuat ya, sayang. Aku janji akan segera ada di sana," ujar Alex.
π "Hati-hati, mas," ujar Claudia dengan lirih.
π "Iya, sayang," jawab Alex seraya mematikan smartphone nya.
Saat sampai di rumah sakit Claudia langsung mendapatkan penanganan dan di putuskan akan menjalani operasi Caesar seperti kesepakatan sebelumnya.
"Aku harus menunggu suamiku dulu," ujar Claudia saat perawat melepaskan bajunya untuk di ganti dengan pakaian steril.
"Kita tunggu sambil bersiap-siap, ya Bu," jelas perawat dengan sabar.
Laki-laki itu kembali ke California dengan menggunakan helikopter karena terlalu lama jika menggunakan pesawat.
Sedangkan di rumah sakit, Claudia terus bersikukuh ingin ditemani oleh suaminya saat dokter ingin membawanya ke ruang operasi.
"Sudah bukaan enam," seru salah seorang perawat yang mengecek keadaan Claudia.
"Kita tunggu sebentar lagi," balas dokter.
Claudia terus menerus menangis, bahkan sesekali menjerit desakan rasa sakit itu melandanya. Angelina, Ariana dan Alice bergantian memberikan semangat untuknya.
Lalu, Alex datang setelah hampir dua jam kemudian dan langsung memeluk serta menguatkan istrinya.
"Sakit, mas," ujar Claudia sedikit meringis. Dia memegang tangan Alex dengan begitu erat, hingga buku jarinya memutih semua.
"Sabar, ya," ujar Alex. Laki-laki itu kemudian dipakaikan pakaian steril dan juga masker.
"Aku... nggak kuat lagi, mas..." jerit Claudia.
Rasa sakit yang datang mendera tanpa ampun membuat Claudia tidak sanggup lagi menyembunyikan ekspresinya. Keringat mengalir deras di pelipis dan membasahi wajahnya.
"Bagaimana ini? Istri saya semakin kesakitan!" seru Alex yang ikut-ikutan panik. Apalagi saat melihat darah dan air menetes dari sela paha Claudia.
__ADS_1
"Ruang operasi sudah siap, ayo bawa pasien sekarang juga," perintah salah seorang perawat senior.
Claudia dibawa ke dalam ruang operasi dan dia terus menjerit sepanjang perjalanan. Saat tiba di ruang operasi dengan suhu yang begitu dingin itu, Claudia merasakan sesuatu akan keluar dari jalan lahirnya.
Dokter yang memeriksa Claudia langsung meminta para perawat untuk bersiaga dengan cepat. Sepertinya tindakan operasi tidak akan dilaksanakan karena bukaan semakin besar.
Mengikuti instruksi dari dokter kandungan, Claudia melahirkan anaknya dengan cara normal. Alex sama sekali tidak protes karena dia fokus menenangkan istrinya dan berdoa agar segalanya berjalan lancar.
Saat tangis bayi memecah udara, maka seketika ketegangan di wajah Alex sedikit mencair.
"Bayinya lahir dengan selamat dan sehat," jelas dokter." Sekarang bayinya dibersihkan dulu, ya."
"Syukurlah," desis Alex. Sedangkan Claudia tersenyum di antara nafasnya yang memburu.
Sayangnya, rasa lega itu hanya di rasakan Alex beberapa saat saja. Karena dia mulai panik saat genggaman tangan Claudia melemah dan perempuan itu memejamkan matanya.
"Sayang... Sayang..." Alex menepuk pipi Claudia demi meminta agar perempuan itu kembali membuka matanya." Please, bangun sayang..."
"Jangan panik, Bu Claudia cuma kelelahan saja," ujar dokter yang menangani.
Meskipun sudah di jelaskan begitu, Alex tetap saja tidak bisa tenang. Apalagi saat ini Claudia belum benar-benar kembali membuka mata. Hanya kedipan-kedipan lemah yang membuat bulu mata lentik Claudia sebagai penanda bahwa dia sudah sadar.
"Sayang," panggil Alex sambil mengusap peluh di dahi Claudia." Jawab aku sayang..."
"Hemmm." Hanya ada gumaman lemah yang keluar dari bibir Claudia.
"Istri anda baik-baik saja, pak," ujar salah seorang perawat.
Alex hanya menghela napas dalam sambil terus menggenggam tangan Claudia. Dia tidak akan pernah rela jika terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Di dunia ini, hanya Claudia perempuan satu-satunya yang paling diinginkan Alex.
Ada begitu banyak rencana masa depan yang telah dirancangnya bersama Claudia. Tentang bagaimana mereka menciptakan bahagia dan melewati seluruh waktu bersama hingga tua bersama.
"Aku tidak mau kehilanganmu, sayang. Buka matamu dan lihat aku, katakan bahwa kamu akan baik-baik saja setelah melewati semua ini," ujar Alex lirih.
Para perawat dan dokter hanya bisa saling pandang dan mengelus senyum di balik masker yang mereka kenakan. Sosok Alexander Lemos yang selama ini mereka lihat melalui berita yang terkenal dengan kekejaman dan kelicikan nya dan tidak pernah mengampuni musuhnya, ternyata laki-laki bucin yang takut kehilangan istrinya.
"Melalui rasa sakit akibat kontraksi selama berjam-jam memang sangat melelahkan, hal ini wajar saja terjadi," tukas dokter kemudian.
"Syukurlah," desis Alex terharu.
Tidak lama kemudian Claudia membuka matanya yang sayu dan menunjukkan rasa lelahnya. Perempuan itu bisa mendengar semua ucapan Alex, hanya saja dia tidak sanggup bersuara untuk membalasnya. Dia sangat bahagia bisa melahirkan anak keduanya dengan selamat. Dan kali ini dia melahirkan di temani oleh suaminya sehingga membuat dia berkali-kali lipat bahagia berbeda dengan dulu dia harus melewatinya seorang diri tanpa adanya sosok suami di sampingnya.
β’
β’
β’
Bersambung...
__ADS_1
πΏπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΏ