
Di perusahaan Maxim Almero
Saat ini Maxim ada di dalam ruangan kerjanya. Dia sedang memikirkan perkataan Ara dulu yang sangat marah dengan nya. Hingga dia tidak berani untuk datang ke rumah Claudia lagi sampai saat ini.
"Pak max," panggil Ryan Richard yang melihat atasannya melamun sejak tadi.
"Ah... iya ada apa yan?" tanya Maxim yang baru sadar dari lamunannya.
"Kenapa tuan melamun sejak tadi? Apa tuan sedang ada masalah. Jika ada, tuan bisa ceritakan sama aku, siapa tahu aku bisa membantu tuan nantik?" tanya Ryan Richard.
"Aku sedang memikirkan Ara. Sampai saat ini Ara tidak pernah menghubungi aku lagi. Apa dia masih marah sama aku yan? Kamu tahu sangat sulit membuat Ara mau mendukung aku menjadi Daddynya selama ini. Tapi gara-gara aku membela Jessika Ara malah salah paham, dan sekarang dia malah membenci aku," ujar Maxim yang sedang frustasi.
"Oh... sejak tadi tuan sedang memikirkan nona kecil? Sebenarnya tuan tidak salah di sini. Tapi nona kecil lah yang suka bikin ulah. Aku tidak menyangka nona kecil begitu licik. Padahal dia baru berusia empat tahun. Tuan bisa lihat sendiri, kelakuan nya seperti orang dewasa saja," ujar Ryan Richard seraya geleng-geleng kepala saat memikirkan kelakuan Ara.
"Kamu benar sekali yan... Ara emang seperti itu orangnya. Dia yang buat salah, tapi tidak mau mengakui kesalahan yang dia buat itu. Sekarang dia malah membenci aku hanya gara-gara masalah kecil. Sungguh, Aku sangat pusing memikirkan dia Yan... apa kamu punya ide agar Ara tidak marah lagi pada ku.
"Bagaimana kalau tuan pergi ke rumah nona kecil. Tuan bawakan saja dia boneka, dan coklat, agar dia cepat luluh. siapa tahu dia mau memaafkan tuan," kata Ryan Richard.
"Kamu benar juga yan... aku harus pergi ke rumah Ara. Dengan begitu aku bisa meminta maaf padanya. Semoga Ara mau memaafkan aku nantik," ujar Maxim penuh semangat.
Ryan yang melihat tuan nya seperti itu hanya menghela nafas seraya geleng-geleng kepala. Dia tidak habis pikir kenapa kelakuan bosnya sekarang seperti anak kecil saja.
•
•
•
Beberapa Jam Kemudian
Saat ini Maxim sudah sampai di depan rumah Claudia. Tapi dia masih ragu apa mau masuk atau tidak. Karena dia masih takut dengan penolakan Ara, dan lebih parah lagi dia malah di usir dari rumahnya.
Sementara Ryan Richard yang melihat tuan nya ragu-ragu begitu hanya bisa bersabar menunggu nya. Karena bagaimanapun dia hanya lah bawahannya. Jika dia salah bicara maka tamat sudah riwayatnya.
"Yan... kamu yakin Ara mau memaafkan aku nantik?" tanya Maxim.
"Tentu saja tuan. Bukannya tuan sudah membawa boneka, dan coklat untuk nona kecil. Aku yakin 100% nona kecil akan langsung menerima tuan kembali seperti dulu. Karena biasanya kalau anak kecil sudah di berikan boneka, dan coklat maka mereka pasti akan senang," ujar Ryan Richard dengan percaya diri kalau Ara akan mau memaafkan tuan nya itu.
( Dia belum tahu saja bagaimana sifat Ara sebenarnya yang suka bikin ulah. Ara kan ratu drama. Kalau sehari saja tidak membuat drama, maka bukan Ara namanya. Author aja pusing mikirin Arrabella. )
"Ayo tuan. Sebaiknya kita masuk saja ke dalam," ujar Ryan Richard yang melihat tuan nya masih duduk di dalam mobil.
Mendengar perkataan Ryan mau tidak mau dia harus turun dari mobilnya. Urusan Ara yang masih marah dengan nya, bisa menjadi urusan belakangan.
Tok... Tok... Tok...
Cklek
"Maaf tuan mau mencari siapa?" tanya Siska pembantu di rumah Claudia.
"Hallo Bu... kami kesini mau bertemu dengan Arrabella. Apa dia ada di dalam Bu?" tanya Maxim.
"Oh... nona kecil, dia ada di dalam. Silahkan masuk tuan," ujar Siska.
"Terima kasih Bu," ujar Maxim seraya masuk ke dalam rumah yang di ikuti oleh Ryan Richard di belakang.
"Permisi Nyonya. Di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan nona kecil," ujar Siska pembantu di rumah Claudia.
__ADS_1
"Siapa bi... yang ingin bertemu dengan Ara?" tanya Ariana dengan kening mengkerut.
"Tidak tahu nyonya," jawab Siska.
"Ya sudah. Bibi bisa lanjutkan pekerjaan bibi lagi. Biar aku yang menemui mereka," ujar Ariana.
"Baik nyonya. Saya permisi dulu." Siska menjawab dengan sopan yang di anggukkan kepala oleh Ariana.
"Ara?" Sini dulu sayang," panggil Ariana.
"Ada apa Oma? Apa Oma Ndak lihat Ala lagi cibuk," ujar Ara dengan cemberut karena di nganggu oleh Ariana.
"Ya ampun sayang. Jangan cemberut begitu. Itu di luar ada yang ingin bertemu dengan kamu," ujar Ariana.
"Ciapa Oma? Kalau Ndak penting cebalina Oma ucil aja dia dali lumah Ala," ujar Ara.
"Ya ampun sayang. Ara jangan bicara seperti itu. Itu tidak baik," kata Ariana yang menasehati Ara. Sementara Ara hanya memutar bola matanya malas.
Setelah itu mereka pergi dari sana untuk melihat siapa yang ingin bertemu dengan Arrabella Anastasia.
"Hay Ara sayang. Apa kabar?" tanya Maxim saat melihat Ara ada di depan dia.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Napain daddy datang ke lumah Ala? Apa daddy Ndak malu pelgi ke lumah Ala tanpa di undang?" tanya Ara dengan mulut pedasnya.
Mendengar perkataan Ara membuat Maxim melongo, dan juga terkejut. Karena dia tidak menyangka akan mendapatkan sambutan seperti ini oleh Ara.
"Ara!" Minta maaf sama nak Maxim. Oma tidak pernah mengajari Ara bersikap seperti itu," ujar Ariana dengan tegas.
"Oma dengal Ala baik-baik. Ala macih malah cama Daddy. Kalena dia lebih membela nenek cihil itu dali pada Ala, yang anak na cendili. Jadi wajal kalau Ala Ndak mau beltemu cama daddy. Lebih baik daddy pelgi caja dali lumah Ala. kalena Ala Ndak cuka melihat daddy ada di cini," ujar Ara dengan wajah kesal.
"Ara sayang maafin Daddy ya. Daddy janji tidak akan membela aunty Jessica lagi. Oh ya, ini daddy bawakan boneka sama coklat untuk Ara," ujar Maxim.
"Ihhhh, pucing pala Ala..."
"Apa daddy cenaja mau menogok Ala, agal Ala mau maafin daddy. Solly ya daddy, itu Ndak akan pengaluh cama cekali," kata Ara.
Maxim yang mendengar perkataan Ara hanya bisa pasrah. Karena dia tidak tahu lagi harus merayu Ara seperti apalagi. Sementara Ryan Richard hanya bisa menahan tawanya agar tidak keluar.
"Terus apa yang bisa daddy lakukan agar Ara mau memaafkan daddy?" tanya maxim.
"Ihhhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa daddy jadi Olang bodoh cekali cih? Katana olang pintal. Daddy duga menjadi bos becal di pelusahaan na. Macak itu caja ndak mengelti.
"Helan deuh Ala. Tenapa daddy bica menjadi bos di pelucahaan becal. Tenapa bucan Olang lain caja yang menjadi bos di pelucahaan itu. Kalena kalau daddy macih menjadi bos di cana, takut na pelucahaan itu bica bangklut selama macih di pegang oleh daddy," ujar Ara dengan mulut pedasnya.
Maxim yang mendengar perkataan Ara hanya bisa terdiam seperti patung. Karena percuma berdebat dengan Ara. Yang ada malah dia yang selalu kalah. Sementara Ryan, dan Ariana sedang tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan Ara tadi.
"Bos yang sabar ya. Jangan marah. Walau bagaimana pun dia tetap calon anak bos," ujar Ryan Richard seraya berbisik.
"Diam kamu yan... ini juga salah kamu. Karena kamu yang sudah memberikan ide ini untuk membujuk Ara. Lihat sekarang Ara malah semakin membenci aku," ujar Maxim dengan wajah kesal.
"Kalau Ara tidak mau boneka sama coklat. Ara maunya apa? Biar daddy belikan nantik untuk Ara?" tanya Maxim dengan lembut.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
__ADS_1
"Gala-gala daddy. Pala Ala jadi pucing tahu Ndak. Dali tali daddy ndak ngelti duga. Dengal ya daddy. Kalau daddy mau Ala maafin. Daddy hanya pelu membelikan Ala uang agal Ala bica belanja nanti," ujar Ara.
"Apa?" teriak mereka semua karena terkejut saat mendengar perkataan Ara.
"Kamu yakin sayang mau uang? Emang berapa yang Ara mau?" tanya Maxim.
"Oma?" Belapa uang yang paling banyak di negala kita?" tanya Ara.
"Kenapa Ara mau tahu sayang?" tanya Ariana dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Udah deuh Oma, jawab caja pelkataan Ala. Jangan beltanyak balik. Nantik pala Ala tambah pucing. Helan deuh Ala cama Olang dewaca. Kalau di tanyak bucan na di jawab. Ini malah beltanyak balik," ujar Ara dengan wajah kesal.
Ariana yang mendengar perkataan Ara hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Entah keturunan siapa anak ini. Kenapa sifatnya beda jauh dengan sifat Claudia yang sangat lembut dan baik pada siapapun.
"Aku jawab saja yang paling sedikit, karena aku tahu kalau cucu aku ini, orangnya sangat matre. Takutnya nak Maxim malah di peras habis sama ini anak," batin Ariana.
"Satu dolar sayang," Ariana menjawab dengan penuh keyakinan agar Ara tidak curiga dengan nya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Emang na Ala pelcaya cama pelkataan oma. Mana ada uang paling banyak cuman angkat catu. Sehalus na kan angkat selatus. Helan deuh Ala. Tenapa Oma malah bohongin Ala, sehalus na Oma kacih tahu uang yang angka paling banyak.
"Bucan uang angka paling cedikit. Oma tenang caja, nantik Ala akan kacih duga untuk Oma. Jadi Oma Ndak Pelu ILi cama Ala. Kalena Ala akan di belikan uang yang banyak cama daddy," ujar Ara dengan wajah kesal sementara Ariana hanya bisa terdiam seperti patung.
"Apa daddy akan kacih uang untuk Ala apa Ndak? Kalena cuman itu syalat agal Ala mau maafin daddy?" tanya Ara.
"Oh tuhan... Pintar sekali anak ini. Masih kecil saja sudah pintar memanfaatkan orang. Dasar bocah matre. Aku saja yang sudah lama bekerja dengan tuan Maxim belum pernah di berikan bonus sebanyak itu," batin Ryan Richard.
"Baik. Daddy akan berikan uang itu untuk Ara. Asal Ara mau maafin daddy. Tapi daddy mau kirim kemana uangnya bukannya Ara tidak memiliki buku tabungan?" tanya maxim.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Daddy tenang caja, coal itu ulucan ngampang. Daddy bawa caja uang na kecini. Kalena Ala Puna tabungan cendili di lumah ini," ujar Ara.
Maxim yang Mendengar perkataan Ara hanya bisa menghela nafas pasrah. Karena dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk mengelabuhi Ara.
"Ok. Besok daddy akan membawakan uangnya kesini. Biar Ara bisa menyimpan sendiri nantik," kata Maxim.
"Baguslah. Ahlil na Ala mendapatkan uang ladi. Telnyata Ala cangat pintal cekali," kata Ara tersenyum senang.
"Iya kamu emang pintar. Pintar memanfaatkan orang. Dasar bocah mata duitan," batin Ryan Richard dengan wajah kesal.
Karena baginya ini tidak adil. Ara yang sama sekali tidak bekerja malah di berikan uang sebanyak itu oleh atasannya. Sementara dia yang capek bekerja malah tidak mendapatkan bonus sebanyak itu dari Maxim. Bagaimana dia tidak kesal dengan Ara.
"Tuan benar-benar tidak adil. Kenapa aku tidak di berikan uang yang banyak seperti nona kecil. Padahal selama ini aku sangat rajin bekerja di perusahaan dia," batin Ryan Richard.
•
•
•
Bersambung....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1