One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Misi Kedua Di jalankan )


__ADS_3

Mansion Keluarga Abraham


Saat ini bibi Ani sudah pergi ke kamar tuan Henry untuk melakukan misi kedua yang di perintahkan oleh nona Claudia.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di ruangan itu.


Cklek


Saat bibi Ani masuk ke dalam kamar tuan Henry. Dia melihat kalau tuan nya sedang melamun sedari tadi.


"Ada apa dengan tuan Henry? Kenapa dia seperti orang yang tertekan seperti itu," batin bibi Ani.


"Permisi tuan Henry. Aku mau mengantar sarapan untuk tuan," ujar bibi Ani.


Mendengar suara seseorang Henry langsung tersadar dari lamunannya, dan dia menoleh ke asal suara untuk melihat siapa orang yang sudah memanggil namanya itu.


"Ada apa bi?" tanya Henry.


"Ini tuan Henry. Aku mau mengantarkan sarapan untuk tuan," ujar bibi Ani seraya menaruh makanan di samping tempat tidurnya tuan Henry.


"Terima kasih bibi," ujar Henry.


"Sama-sama tuan Henry. Ya sudah sebaiknya tuan makan dulu sarapan nya, biar bibi bisa membawa piringnya kembali ke dapur," kata bibi Ani.


"Nanti saja aku makannya bi," ujar Henry yang tidak ada selera untuk memakan sarapan yang di bawakan oleh bibi Ani.


"Gawat. Kalau tuan Henry tidak mau makan makanan itu. Bagaimana cara nona Claudia membawa tuan pergi dari Mansion ini," batin bibi Ani.


"Tuan harus makan biar tuan tidak bertambah sakit. Bagaimana kalau seandainya nona Claudia tahu kalau daddy nya semakin kurus seperti ini." Bujuk bini Ani.


Mendengar nama anaknya di sebut membuat Henry semakin sedih. Karena sampai sekarang dia belum bisa menemukan anaknya.


"Apa bibi sudah mendapatkan kabar keberadaan Claudia?" tanya Henry.


"Belum tuan. Bibi tidak tahu nona Claudia ada dimana," ujar bibi Ani dengan cepat.

__ADS_1


"Maaf tuan. Bibi tidak bisa memberitahukan keberadaan nona Claudia sama tuan. Karena itu perintah dari nona Claudia sendiri," batin bibi Ani.


Henry yang mendengar perkataan pembantunya hanya bisa menghela nafas pasrah. Karena lagi-lagi dia belum tahu keberadaan anaknya saat ini.


"Oh Tuhan... bagaimana keadaan kamu. Apa kamu baik-baik saja selama ini. Daddy minta maaf jika ada salah sama kamu," batin Henry dengan wajah sendu.


"Baiklah. Aku akan makan sarapan yang bibi buatkan. Aku tidak mau Claudia tambah sedih saat melihat keadaan daddy nya yang sangat menyedihkan seperti ini," ujar Henry.


Bibi Ani yang melihat tuan Henry sudah mau makan merasa senang itu berarti misi kedua berhasil di jalankan.


"Syukurlah tuan Henry mau mendengarkan perkataan aku untuk makan makanan yang aku buat. Dengan begitu nona Claudia bisa secepatnya membawa pergi tuan Henry dari Mansion ini," batin bibi Ani.


"Kenapa kepala aku jadi sakit seperti ini?" tanya Henry seraya memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.


Bibi Ani yang ingin menjawab perkataan tuan Henry tidak jadi, saat melihat tuan Henry yang tiba-tiba jatuh pingsan, dan tidak sadarkan diri.


"Tuan... tuan Henry bangun," ujar bibi Ani seraya menepuk pipinya.


"Apa tuan Henry baik-baik saja? Emangnya tadi nona Claudia memberikan obat apa sama ayah nya. Kenapa tuan Henry bisa pingsan seperti ini? Sebaiknya aku panggilkan nona Claudia kesini saja, biar dia bisa melihat keadaan ayahnya," sambungnya lagi seraya pergi dari sana.


"Nona Clau," panggil bibi Ani setelah dia berada di ruang tamu saat ini.


"Tadi tuan Henry sudah makan makanan yang sudah bibi campurkan obat yang nona kasih sama bibi. Waktu tuan Henry makan makanan itu. Tiba-tiba tuan Henry langsung pingsan non... itu sebabnya bibi takut terjadi sesuatu sama tuan Henry." Jelas bibi Ani dengan raut wajah khawatir.


"Bibi tidak perlu takut, itu cuman obat tidur saja. Aku sengaja melakukan itu agar kami bisa membawa daddy pergi dari sini. Karena jika kami membawa daddy dengan keadaan sadar. Aku sangat yakin daddy pasti tidak mau ikut dengan kami.


"Bagaimana pun dia pasti lebih percaya dengan istrinya, dibandingkan aku. Bibi tahu sendiri. Aku belum punya bukti untuk membongkar kejahatan mereka selama ini. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa membawa daddy pergi dari sini." Jelas Claudia.


"Oh... syukurlah kalau begitu bibi bisa tenang sekarang. Ya sudah non... lebih baik kita semua langsung masuk ke dalam kamar tuan Henry sebelum satpam di rumah ini pulang ke sini," ujar bibi Ani.


"Baik bi... ayo kak Al... Antonio, kita ke atas sekarang juga. Sebelum wanita ular itu pulang ke rumah ini," ujar Claudia seraya pergi dari sana.


Cklek


Dan masuklah Claudia ke dalam kamar ayahnya selama ini. Saat melihat keadaan ayahnya membuat air mata Claudia mengalir dengan sendirinya. Dia tidak menyangka keadaan ayahnya sangat menyedihkan seperti ini.


"Daddy... Hiks... Hiks... ini aku Clau. Aku datang untuk membawa daddy pergi dari rumah neraka ini. Aku berharap daddy tidak membenci Claudia karena membawa daddy pergi dari Mansion ini... Hiks... Hiks... Claudia sengaja melakukan ini agar daddy bisa selamat dari mereka," ujar Claudia seraya terisak.

__ADS_1


"Sudahlah Clau... nanti saja kamu sambung lagi menangis nya. Lebih baik sekarang kita bawa daddy kamu pergi dari sini sebelum nenek sihir itu pulang ke rumah ini," sahut Alice dengan cepat.


Bruk


"Aw... sakit," teriak Alice.


"Apa yang kamu lakukan Clau? Kenapa kamu memukul kepala aku?" tanya Alice seraya mengelus kepalanya yang tadi di pukuli oleh Claudia.


"Kak Alice masih bertanya kenapa aku memukul kepala kak Alice. Apa kak Alice tidak sadar. Aku menangis karena aku kasihan melihat keadaan Daddy seperti ini. Tapi kak Alice malah merusak semuanya. Apa kak Alice pikir aku lagi berakting menangis pakek di suruh berhenti dulu, baru setelah itu aku di suruh sambung lagi," ujar Claudia dengan wajah kesal.


Mendengar perkataan Claudia membuat Alice memasang wajah cemberut. Sementara yang lain terkekeh geli melihat tingkah laku mereka yang aneh itu. Sudah tahu lagi keadaan ngenting seperti ini masih saja bertengkar seperti itu.


"Sudah non... lebih baik kalian bawa tuan Henry pergi dari sini. Kita tidak punya banyak waktu lagi," sahut bibi Ani dengan cepat.


Mendengar perkataan bibi Ani membuat Claudia tersadar kalau mereka harus secepatnya membawa ayahnya pergi dari Mansion ini.


"Biar aku saja yang mengangkat tuan Henry ke kursi roda. Sebaiknya kalian persiapkan keperluan tuan Henry saja."


"Dan satu lagi siapa di antara kalian yang bisa meniru tulisan tuan Henry?" tanya Antonio membuat semua orang menatap dengan ke arah Antonio dengan wajah bingung.


"Hey.. hey... kenapa kalian menatap ku seperti itu? Dengar aku baik-baik, kita harus membuat seolah-olah tuan Henry sendiri yang pergi dari sini bukan karena di culik. Dengan begitu wanita ular itu tidak akan curiga, karena suaminya tiba-tiba hilang dari Mansion ini."


"Apa kalian mengerti sekarang?" tanya Antonio yang membuat semuanya menganggukkan kepala tanda mengerti maksud dari Antonio.


"Ok. Biar aku saja yang menulis suratnya. Sedangkan bibi Ani, dan kak Alice yang persiapkan keperluan daddy. Kita bagi tugas biar lebih cepat selesai," sahut Claudia dengan cepat.


"Ok. Ayo bi... kita persiapkan keperluan paman Henry. Biar kami semua bisa pergi dari Mansion ini dengan segera sebelum nenek sihir itu pulang ke sini," ujar Alice sementara bibi Ani hanya menganggukkan kepalanya saja.


Akhirnya Misi Kedua berhasil di jalankan. Tanpa ada halangan sama sekali. Walaupun ada sedikit drama kecil yang di lakukan oleh Alice dan juga Claudia.


Tidak menjadi masalah karena mereka bisa bebas mengeluarkan Henry dari sini tanpa ada yang tahu sama sekali kalau mereka lah pelaku utama yang membebaskan Henry dari rumah neraka ini. Setelah itu mereka semua berhasil keluar dari rumah ini dengan selamat.




__ADS_1


Bersambung.....


🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺


__ADS_2