
Satu Minggu Kemudian
Di Mansion Alexander Lemos
Fajar mulai menyingsing, menyapa seluruh penduduk bumi dengan cahaya kemerahan yang terbit di ufuk timur. Cuaca kali ini bener-benar cerah dan nyaman, membuat siapapun seolah merasa enggan untuk membuka kedua matanya.
Namun, tidak halnya dengan Alex saat ini. Ia yang awalnya masih terlelap tiba-tiba berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.
Semua yang dimakan Alex sudah dimuntahkan tak bersisa, hingga membuat tubuhnya melemas. Alex lalu mencuci wajah di wastafel yang tak berada jauh dari tempat ia muntah tadi.
"Ada apa denganku?" Alex menatap pantulan wajahnya di cermin dengan satu tangan yang menopang kepala.
Terlihat dengan jelas bulir keringat yang masih bersarang di pelipisnya dengan wajah yang terlihat memucat.
"Aku harus periksa ke dokter, takutnya aku mengalami penyakit parah," ujar Alex.
Di Ruang Makan
"Kenapa wajah kamu pucat begitu Lex?" tanya David saat melihat wajah pucat putranya.
"Tidak apa pa, mungkin aku kelelahan saja," ujar Alex.
Claudia langsung melirik ke arah Alex, dan ia baru sadar jika memang wajah Alex sangat pucat.
"Ya, sudah. Lebih baik sekarang kita makan," ujar Angelina.
Mereka mengambil posisi duduk masing-masing, dan menyantap makanan dengan khidmat. Namun berbeda dengan Alex yang tetap diam dan tidak memakan apapun. Claudia yang melihat itu seketika mengernyitkan dahinya dan bertanya.
"Apa kau tidak ingin makan mas?" tanya Claudia dengan penasaran.
Angelina dan David langsung menatap ke arah sang putra ketika mendengar pertanyaan Claudia.
"Tidak ada yang membuatku berselera di sini, rasanya aku ingin makan pasta buatan papa," ujar Alex dengan mata berbinar.
Claudia, Angelina, Ara, dan juga David langsung melototkan matanya ketika mendengar pernyataan Alexander. Terutama David! Ia sangat kaget akan kemauan sang putra, bagaimana bisa putranya menginginkan ia memasak pasta.
"Kau jangan bercanda Lex! Kau tahu papa tidak bisa memasak bodoh!" Ketus David ketika mendengar sang putra, sontak wajah Alex memberengut dan membuat Claudia juga Angelina menahan tawanya ketika melihat wajah mengemaskan pria datar ini. Beda dengan Ara yang kesal dengan tingkah ayahnya itu.
"Oh... ayolah pa, aku tidak ingin makanan yang ada di atas meja ini! Aku hanya ingin masakan papa." Rengek Alex dengan memohon, hal itu membuat Claudia mengigit bibir bawahnya untuk menahan tawanya agar tidak keluar.
"Papa tidak mau Lex," ujar David dengan keras, yang benar saja ia di suruh memasak. Yang ada dapurnya akan terbakar gara-gara ulahnya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Dasal manja," batin Ara dengan wajah kesal.
"Turuti saja pa, dari pada putra kita tidak makan dan malah sakit nanti. Lihatlah wajahnya sangat pucat dan melas sekali," sahut Angelina dengan mengelus lembut lengan suaminya.
"Tapi ma, kau tahu aku tidak bisa memasak. Kenapa mama malah menyuruh papa memasak?" tanya David dengan wajah kesal.
"Ayo, biar mama yang membantu papa, nanti mama akan mengajari papa untuk membuat pasta kesukaan anak kita." Alex yang mendengar perkataan ibunya langsung tersenyum dengan mata berbinar seperti anak kecil yang di beri mainan.
"Lihatlah anak kita, matanya langsung berbinar saat mendengar perkataan mama yang mengatakan mau membantu papa membuat pasta kesukaan nya itu. Mama merasa heran dengan tingkah Alex hari ini, jangan-jangan ia mengalami Couvade Syndrome," bisik Angelina dan hanya bisa di dengar oleh David, ia langsung menatap sang putra. Dan benar saja anaknya itu matanya sudah berbinar.
"Baiklah, kamu tunggu di sini! Papa akan membuatkan nya untukmu," ujar David yang ditanggapi anggukan kepala oleh Alex.
David dan Angelina berjalan menuju dapur, mereka meminta pembantu untuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat pasta. Kepala David rasanya mau pecah ketika melihat bahan-bahan yang begitu banyak.
"Apa memang membuatnya serumit ini ma?" tanya David seraya memijit pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Kapan lagi aku melihat wajah frustasi pria ini. Ternyata papa kalau sedang kacau seperti ini sangat lucu. Apa anak Alex kali ini sifatnya akan sama seperti Ara yang sangat licik dan menyebalkan?" batin Angelina ketika melihat wajah putus asa suaminya.
"Sudah, lebih baik papa segera memasaknya! Aku akan memandu mulai dari sini," ujar Angelina.
David segera memasak dan mengikuti instruksi istrinya. Tiba-tiba...
Prang
Prang
Prang
Segala sesuatu peralatan masak yang telah di pakai David terbang begitu saja, Angelina yang melihat suaminya yang sangat bar-bar hanya bisa meringis saat melihat segala sesuatu nya hancur berantakan.
"Pelan-pelan pa, kenapa papa kasar sekali?" tanya Angelina dengan lembut dan menghampiri suaminya untuk membantu memasak agar cepat selesai dan tidak ada barang lagi yang menjadi korban.
Di sisi lain Claudia dan Alex yang mendengar keributan dari arah dapur langsung saling menatap satu sama lain.
"Apa keributan itu terjadi gara-gara permintaan kamu tadi mas?" Alex yang mendengar pertanyaan Claudia hanya menggedikkan bahunya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu saja itu pelbuatan opa. Ini semua gala-gala daddy yang menuluh opa memasak makanan kesukaan daddy. Sudah tahu opa ndak bisa memasak, tapi daddy tetap saja menuluh na memasak. Jadi, beginilah akhil na teljadi, hancul semua balang-balang di lumah ini," sahut Ara dengan wajah kesal.
"Kenapa Ara bicara seperti itu? Daddy tidak menyuruh opa menghancurkan barang. Tapi daddy cuman menyuruh opa memasak makanan kesukaan daddy saja. Jika opa menghancurkan barang di mansion ini, itu salah opa sendiri bukan salah daddy," ujar Alex.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tapi daddy yang menuluh opa memasak tadi. Jika daddy ndak menuluh opa memasak, mana mungkin opa menghanculkan balang di lumah ini. Tenapa sekalang daddy suka sekali menyusahkan olang? Apa daddy ndak kasihan cama opa yang sudah tua malah di suluh memasak?" tanya Ara dengan wajah kesal.
"Sayang, lihat anak kamu itu. Kenapa dia malah memarahin aku seperti ini? Apa salah jika aku ingin makanan buatan papa?" tanya Alex dengan sendu.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Dasal tukang ngadu," ujar Ara dengan wajah kesal.
"Diam kamu Ara." Ara yang mendengar perkataan ibunya membuat dia kesal setengah mati.
"Jangan dengarkan perkataan Ara oke. Mas tahu sendiri bagaimana sifat Ara yang suka sekali bikin kita kesal. Lebih baik kita tunggu papa dan mama membawa makanan kesukaan mas ke sini," ujar Claudia seraya menenangkan suaminya agar tidak ngambek lagi.
"Iya sayang," jawab Alex dengan mata berbinar, saat dia mendengar istrinya lebih membela dia dari pada anaknya sendiri.
"Kenapa mas Alex aneh banget? Apa ia sedang mengalami kehamilan simpatik?" Kalau ia, pantas saja aku tidak mengalami ngidam. Apa sekarang kami bertukar posisi? Jika dulu aku yang ngidam, sekarang ngantian mas Alex yang mengalaminya," batin Claudia dengan terheran akan tingkah suaminya hari ini.
30 menit kemudian, David dan Angelina kembali ke meja makan dan menyodorkan pasta yang di minta Alex tadi.
Alex yang melihat makanan di depannya seketika matanya berbinar dan langsung saja dia meraih makanan tersebut.
"Semoga kau tidak mati karena memakan masakan papa Lex," batin David dengan meringis melihat putranya yang sangat senang ketika melihat pasta buatannya.
"Makanlah Lex, itu papa sudah membuatkan nya untuk kamu dengan susah payah tadi," ujar Angelina dan segera mendudukkan dirinya si kursi.
Di luar dugaan mereka semua, Alex malah menyodorkan pasta itu ke arah ayahnya. David yang melihatnya langsung menatap bingung.
"Ada apa Lex? Kenapa kamu malah memberikan pada papa?" tanya David penasaran.
"Iya pa, aku sudah tidak ingin memakan pasta ini. Aku ingin papa yang memakan pastanya," ujar Alex.
Deg
__ADS_1
Semua yang ada di meja makan tersebut langsung membulatkan matanya ketika mendengar permintaan Alex yang berubah.
"Ya, ampun anak mommy. Kenapa kamu sangat usil sekali?" batin Claudia seraya meringis ketika melihat wajah pias ayah mertuanya.
"Yang benar saja kamu Lex?" hardik David dengan wajah kesal.
"Benar pa. Aku ingin papa memakan masakan buatan papa sendiri," ujar Alex dengan wajah tanpa dosa.
"Ck! Dasar cucu menyebalkan. Belum lahir saja sudah menyusahkan opa," batin David dengan wajah kesal.
"Ayo pa, cepat makan pastanya." Akhirnya mau tidak mau David memakan pasta buatannya sendiri, matanya berbinar ketika merasakan pastanya yang sangat enak.
Claudia dan Angelina yang melihat jika David sangat menikmati makannya, akhirnya bisa bernafas lega, setidaknya mereka tidak khawatir David akan protes.
Alex sendiri yang melihat ayahnya sangat lahap dan menikmati makannya langsung merasa ikut kenyang.
"Kau tidak makan Lex?" tanya Angelina ketika melihat anaknya sedang memperhatikan ayahnya makan.
"Tidak ma, nanti saja. Sekarang aku merasa puas dan kenyang setelah melihat ayah makan pastanya." Angelina, Claudia dan David sontak melihat ke arah Alex dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ku? Sehingga kalian melihatku. Aku tau jika aku tampan, jadi tidak usah melihatku seperti itu." Mereka bertiga yang mendengar ke narsisan Alex sontak membulatkan matanya, Angelina menghampiri sang putra dan menempelkan telapak tangannya ke arah dahi Alex.
"Tidak panas pa." ujar Angelina dengan terheran.
"Kau semalam habis terbentur apa Lex?" tanya David dengan tatapan memicing.
"Tidak terbentur apapun, kalian ini kenapa?" tanya Alex sembari melihat mereka secara bergantian.
"Sudahlah, lebih baik kita segera menyelesaikan makan paginya." Pungkas Angelina, karena ia merasa ada yang aneh dengan sang putra. Ia berpikir apakah Couvade Syndrome yang di alami putranya menyebabkan ke narsisan.
"Iya, ma," jawab mereka dengan serentak.
Beberapa Menit Kemudian
"Sayang, aku pergi kerja dulu. Ingat, kata aku jangan lakukan apapun di mansion ini. Jika kamu butuh sesuatu beritahu sama bibi ataupun sama mama. Apa kamu mengerti," titah Alex dengan tegas.
"Iya, mas," jawab Claudia.
"Mama jaga Claudia selama aku pergi kerja. Jika ada apapun jangan lupa hubungi aku segera," ujar Alex.
"Iya, Lex. Kamu tenang saja mama akan menjaga istri dan calon cucu mama dengan baik," sahut Angelina.
"Terima kasih ma. Karena mama sudah mau membantu menjaga istri Alex dengan baik. Bahkan mama rela tinggal di mansion Alex hanya untuk menjaga Claudia yang sedang hamil," ujar Alex.
"Sama-sama. Sudah, lebih baik kamu berangkat sekarang," ujar Angelina.
"Iya ma," jawab Alex mencium kening istrinya dengan lembut.
"Ya, Hati-hati di jalan," ujar Angelina seraya melihat anaknya yang sudah pergi.
•
•
•
Bersambung.....
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1