
Di Ruangan Alexander Lemos
"Jadi bagaimana, apa kamu mau bekerjasama dengan perusahaan ku?" tanya Daffa dengan penasaran.
"Aku tidak bisa menjawab sekarang, nanti saja aku pikirkan apa mau bekerjasama dengan perusahaan kamu atau tidak," balas Alex.
"Kenapa tidak sekarang saja kamu memberikan jawaban nya, kenapa harus menunggu lagi?" tanya Daffa yang tidak bisa sabaran menunggu keputusan Alexander. Dia berharap temannya mau menjalin kerjasama dengan perusahaan miliknya. Dengan begitu perusahaan nya akan lebih maju di karenakan menjalin kerjasama dengan perusahaan terbesar di negara ini.
"Kenapa kamu mengatur ku? Terserah aku mau menerima kerjasama dengan perusahaan kamu ataupun menolaknya," ujar Alex dengan tatapan tajam.
Mendengar perkataan Alex membuat Daffa sangat emosi. Jika tidak ingat dia sedang membutuhkan bantuannya sudah sedari tadi dia melempar Alexander ke curang biar di makan binatang buas.
"Oke, terserah kamu mau menjawab kapan, asal kamu mau berkerjasama dengan perusahaan ku," ujar Daffa dengan pasrah percuma dia berdebat dengan Alex yang ada malah dia yang kalah. Karena tidak ada yang bisa mengalahkan Alexander kecuali ayahnya sendiri.
"Sudah aku katakan jangan pernah mengatur ku terserah aku mau melakukan apa, itu hak ku. Jika kamu tidak suka dengan caraku lebih baik kita batalkan saja kerjasama ini karena tanpa menjalin kerjasama dengan perusahaan kamu saja perusahaan aku tidak akan rugi apalagi bangkrut. Karena perusahaan ku sudah di kenal sebagai perusahaan terbesar dan sukses baik di negara ini maupun di negara lain," ujar Alex dengan sombongnya.
"Oke, aku akan menunggu keputusan dari kamu," ujar Daffa dengan pasrah.
"Lebih baik kamu pulang saja dari sini jika aku sudah memiliki jawabannya akan memberitahukan padamu segera," ujar Alex seraya mengusir temannya.
Alex sengaja melakukan ini karena masih kesal dengan temannya yang ingkar janji. Temannya yang membuat janji malah dia pula yang ingkar. Siapapun yang ada di posisi Alex pasti akan merasa kesal, marah dan segala umpatan akan dia terima.
Tetapi Alex tidak suka melakukan hal seperti itu, dia akan melampiaskan kekesalannya dengan cara elegan seperti ini. Padahal dia bukan orang yang suka melakukan hal kekanak-kanakan tetapi karena mengingat temannya datang terlambat ke tempat janjian mereka bukan karena hal penting melainkan dia sedang bercocok tanam dengan para wanita yang selama ini sudah memberikan kepuasan pada temannya yang terkenal Casanova.
Itu yang membuat dia sangat marah karena sudah membuang waktu nya yang sangat berharga hanya untuk menunggu orang yang tidak bertanggung jawab seperti temannya itu.
"Kamu mengusir ku?" Daffa tidak menyangka temannya malah mengusir dirinya.
__ADS_1
Padahal selama ini temannya Alexander tidak pernah bersikap seperti ini mungkin dia sudah keterlaluan karena datang terlambat di tempat janjian mereka sehingga menyebabkan Alex marah dan emosi karena capek menunggu dirinya yang tidak datang-datang.
Dan dia sangat tahu Alex bukan orang yang suka menunggu tetapi demi persahabatan mereka Alex rela menunggu temannya datang ke tempat janjian mereka tetapi setelah sampai di sana dia malah di buat kecewa oleh temannya sendiri yang tidak datang padahal dia sudah menunggu temannya sampai berjam-jam tetapi tidak datang juga dan akhirnya dia terpaksa pergi dari sana dengan wajah penuh kemarahan.
"Hemmm." Hanya deheman yang Alex keluarkan karena dia sudah malas melihat keberadaan Daffa di depannya.
Mendengar perkataan Alex membuat Daffa mau tidak mau terpaksa pergi dari sana walaupun hatinya sakit saat di usir oleh temannya sendiri dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sadar kenapa temannya sampai berbuat seperti ini akibat ulahnya sendiri yang sudah membuat Alex kesal karena menunggu dia berjam-jam di tempat janjian mereka.
"Baiklah, aku pergi dulu jika kamu sudah memiliki jawaban atas tawaran kerjasama dengan perusahaan ku maka secepatnya kamu hubungan aku," ujar Daffa seraya pergi dari sana sedangkan Alex hanya diam saja tanpa menjawab apapun.
Dreet... Dreet.... Dreet...
π "Hallo? Ada apa mas?" tanya Claudia di sebrang sana dengan suara lembut.
π "Apa kamu masih berada di mall?" tanya Alex dengan penasaran.
π "Tidak, aku sekarang sudah ada di mansion kita," balas Claudia.
π "Dengan kak Alice dan Ara," jawab Claudia.
π "Tadi kamu beneran pergi ke moll?" tanya Alex.
π "Iya, kenapa mas bertanya begitu? Apa mas pikir aku berbohong dengan mengatakan pergi ke moll?" tanya Claudia dengan wajah kesal.
Mendengar perkataan istrinya membuat Alex kelimpungan. Dia sangat takut jika istrinya malah marah padanya, sudah cukup dia di benci oleh istrinya dulu makanya sekarang dia sangat berhati-hati saat bicara dengan istrinya takut dia marah dan mendiami dirinya.
"Maaf sayang, aku bertanya begitu karena jika kamu pergi ke moll buat belanja pasti akan ada notif yang masuk di HP ku sedangkan dari tadi tidak ada satupun notif yang masuk ke dalam HP aku," ujar Alex dengan hati-hati takut istrinya malah salah paham.
__ADS_1
"Itu karena tidak ada satupun yang menarik di mataku sehingga aku tidak ada keinginan untuk membelinya. Lagian aku pergi ke moll bukan untuk belanja melainkan ingin pergi jalan-jalan karena aku sudah bosan terkurung di dalam mansion ini," ujar Claudia seraya menyindir suaminya.
"Sayang! Aku menyuruh mu diam di mansion karena kamu saat ini sedang hamil besar. Aku takut jika kamu banyak beraktivitas di luar bisa menyebabkan kamu kelelahan dan akhirnya malah keguguran. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada kamu dan calon anak kita," ujar Alex dengan lembut.
"Iya, mas maafkan aku karena sudah mengeluh seperti ini. Aku akan mendengarkan apa yang kamu katakan karena aku tahu apa yang kamu katakan demi kebaikan aku dan calon anak kita." Claudia merasa bersalah karena sudah bicara seperti itu pada suaminya. Dia sangat tahu suaminya menyuruh dia diam di mansion demi kebaikan dirinya sendiri dan calon anak mereka.
Mendengar perkataan Claudia membuat Alex menghela nafas lega. Dia tidak perlu menasehati istrinya lagi karena sekarang istrinya sudah sadar apa yang dia lakukan pada istrinya selama ini demi kebaikan dia dan calon anak mereka.
π "Ya, sudah. Aku lanjut kerja dulu jika ada apa-apa hubungi aku segera," ujar Alex dengan penuh perhatian.
π "Baik mas," jawab Claudia seraya mematikan smartphone nya.
"Siapa yang menghubungi kamu tadi?" tanya Alice yang baru datang.
"Mas Alex kak," jawab Claudia dengan singkat.
"Apa yang dia katakan?" tanya Alice dengan penasaran.
"Dia menanyakan apa benar tadi kita pergi ke moll apa tidak? Dia berpikir kalau kita tidak pergi ke moll karena jika benar kita pergi ke moll buat belanja pasti akan bunyi notif di HP nya mas Alex makanya dia curiga dan berpikir kalau kita pergi ke tempat lain tanpa di ketahui oleh mas Alex," jelas Claudia.
"Ada-ada saja suami kamu itu. Mungkin saja suami kamu takut jika kamu kabur dari negara ini makanya dia curiga padamu dan berpikir kalau kamu akan kabur dari negara ini lagi," ujar Alice yang di benarkan oleh Claudia.
β’
β’
β’
__ADS_1
Bersambung....
πΏπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΏ