One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Bertemu Oma Anggelina )


__ADS_3

Saat ini mereka masih berada di moll Ferry Building Marketplace yang ada di kota California Amerika serikat.


"Ada masalah apa di sana Alya?" tanya Anggelina pada keponakan nya itu.


"Tidak tahu tante. Sebaiknya kita lihat saja apa yang terjadi disana dari pada kita penasaran di sini," ujar Alya Putri.


"Ya, sudah baiklah," jawab Anggelina seraya pergi dari sana.


Saat mereka baru sampai di sana. Anggelina yang baru pertama kali melihat wajah Ara langsung terkejut. Karena dia tidak menyangka wajah Ara sangat mirip dengan putra semata wayangnya itu.


"Oh Tuhan... Anak siapa ini? Apa ini anak Alex yang selama ini di sembunyikan olehnya? Aku tahu sekarang kenapa Alex tidak mau di jodohkan dengan wanita pilihan ku. Pasti karena dia selama ini sudah menikah diam-diam dengan wanita ini hingga mereka memiliki putri yang sangat cantik seperti anak ini," batin Anggelina.


"Ada apa ini? Kenapa kamu menangis anak manis?" tanya Anggelina seraya mengelus kepala Ara dengan lembut.


"Siapa olang yang mengelus kepala Ala. Tapi di lihat dali penampilan na dia cepelti olang kaya. Apa Ala manfaatin olang ini saja buat bisa membeli pelajalan cama pelayan sombong itu," batin Ara dengan seringai liciknya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ini semua kelena olang itu oma," ujar Ara seraya menunjuk pelayan yang membuat masalah dengan Ara tadi.


Sementara orang yang di tunjuk oleh Ara hanya bisa menundukkan kepalanya. Karena dia tahu sebentar lagi akan di pecat dari sini. Karena dia tahu orang yang saat ini berada di depan Ara adalah pemilik moll ini.


Anggelina yang melihat Ara menunjuk pelayan yang bekerja di moll nya, merasa bingung dan juga penasaran.


"Apa yang sudah dia lakukan sama Ara?" tanya Anggelina.


"Dia sudah menghina Ala dan juga mengusil Ala dali sini. Kalena Ala ndak puna uang buat beli baju mahal di sini oma," Jelas Ara dengan wajah sendu.


"Apa?" teriak Anggelina.


"Beraninya kamu melakukan itu sama pelanggan yang mau belanja di sini. Apalagi kamu melakukan itu sama anak kecil.


"Panggil Manager kesini sekarang juga," perintah Anggelina dengan wajah penuh kemarahan.


Mendengar kemarahan pemilik moll ini. Salah satu pelayan yang ada disana langsung memanggil manager yang bertugas di moll ini.


"A... apa ada yang bisa saya bantu Nyonya Angel?" tanya pak Agus manager disana dengan terbata-bata.


"Apa kamu tahu, apa yang sudah di lakukan oleh anak buah kamu ini? Lihat anak kecil ini, dia hanya ingin belanja baju disini. Tapi anak buah kamu malah menghina dan mengusir dia dari sini hanya karena anak ini tidak bisa membayar baju di toko ini.

__ADS_1


"Begini kah cara kamu mengajari anak buah kamu. Untuk memperlakukan orang yang yang berada di kalangan rendah?" tanya Anggelina dengan penuh emosi.


"Ma... maafkan saya nyonya. Saya berjanji lain kali kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi," ujar Agus dengan terbata-bata.


"Tidak ada lain kali. Saya minta mulai sekarang kamu pecat pelayan ini. Karena saya tidak mau ada orang seperti itu bekerja di moll saya ini, kamu mengerti," perintah Anggelina.


"Baik Nyonya," jawab Agus.


"Hey... sini kamu," panggil Agus pada pelayan tadi yang melamun sejak tadi.


"Iya pak," jawab pelayan itu dengan kepala menunduk.


"Apa kamu dengar apa yang sudah di katakan oleh nyonya Anggelina. Mulai hari ini kamu di pecat," ujar Agus dengan tegas.


"Apa?" teriak pelayan itu dengan wajah terkejut.


"Saya mohon jangan pecat saya dari sini pak. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini... Hiks... Hiks..." Pelayan itu berucap seraya berlutut.


"Maaf, ini sudah menjadi keputusan nyonya Anggelina. Makanya kalau kerja yang benar. Bukannya kamu malah menghina apalagi mengusir pelanggan yang ingin belanja disini," ujar Agus yang masih kekeh tak mau memaafkan pelayan itu.


"Saya mohon pak, nyonya Anggelina. Tolong beri saya satu kesempatan lagi. Saya berjanji akan berubah," ujar pelayan itu yang masih memohon untuk diberikan kesempatan.


Karena dia tidak mendapatkan pengampunan dari mereka. Mau tidak mau dia harus pergi dari moll tempat dia selama ini mencari rezeki. Bagaimana pun ini kesalahan dia yang sudah bersiap sombong sama pelanggan tadi.


Melihat pelayan itu sudah di pecat dari moll ini. Membuat Ara tersenyum senang. Sebenarnya dia juga kasihan dengan pelayan itu. Tapi karena dia sudah jahat sama dia akhirnya Ara mengurungkan niatnya untuk menyuruh Anggelina agar pelayan itu tidak di pecat dari moll ini.


"Sekali lagi saya minta maaf nyonya. Karena saya sudah lalai dalam mengawasi pengawai yang bekerja disini," ujar Agus seraya menundukkan kepalanya.


"Ya, sudah lupakan saja masalah ini. Saya tahu kamu tidak bersalah di sini. Tapi ini memang murni salah pelayan itu. Lebih baik kamu kembali bekerja. Biar urusan anak ini menjadi urusan saya," perintah Anggelina.


"Baik nyonya," jawab Agus seraya pergi dari sana. Begitu pun orang-orang yang sejak tadi menjadi penonton yang ada disana juga ikut pergi.


"Telima kasih oma. Kalena belkat oma Ala ndak jadi di usil dali sini. Telnyata masih ada olang yang baik cama Ala. Ala pikil ndak akan ada olang yang baik cama Ala. Kalena Ala... cuman olang miskin yang ndak ada gunana... Hiks... Hiks..." Ara berucap dengan mata berkaca-kaca.


Anggelina yang mendengar perkataan Ara ikutan menangis karena dia tidak menyangka anak sekecil Ara bisa hidup menderita selama ini.


"Oh Tuhan... Seandainya dia beneran cucu kandung aku. Berarti selama ini dia sudah hidup menderita selama ini. Alex apa yang sudah kamu lakukan Sama anak kandung kamu sendiri. Apa selama ini kamu tidak mau bertanggung jawab dengan anak ini. Kasihan sekali kamu sayang," batin Anggelina seraya terisak.


"Sudah sayang. Kamu jangan menangis lagi oke. Sekarang kamu bisa memilih baju apa saja yang kamu mau. Biar oma yang membayarnya," ujar Anggelina.

__ADS_1


Mendengar kata gratis. Membuat mata Ala langsung berbinar-binar." Ah... begitu Beluntung na nasib Ala. Cekalang tanpa halus mengelualkan uang. Ala bisa memiliki baju mahal. Sementala uang mommy Ala nabung di tabunan Ala nanti. Ah... Ala emang pintal sekali... Hehehehe..." Ara membatin seraya terkekeh.


"Benelan oma. Ala ndak enak melepotin oma. Kalena mommy selalu bilang kalau kita ndak boleh memanfaatkan olang lain. Ala ndak apa-apa oma. Kalau Ala ndak bisa beli baju balu. Ala akan membantu mommy menjual kue keliling ladi, dan setelah itu Ala akan menabung lagi bial Ala bisa beli baju di sini. ya, walaupun Ala halus menahan lapal oma... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.


Mendengar perkataan Ara membuat Anggelina menangis semakin keras dan langsung saja dia memeluk Ara dengan erat.


"Ya, ampun sayang. Jangan menangis lagi oke. Ada oma disini. Sekarang kamu pilih apa saja yang kamu suka. Kamu tidak perlu mencari uang apalagi harus menahan lapar hanya gara-gara ingin membeli baju baru oke," ujar Anggelina setelah melepaskan pelukan dari Ara.


"Kak Al... apa aku sedang bermimpi?" tanya Claudia.


"Apa maksud kamu Clau?" tanya Alice dengan kening mengkerut.


"Coba kak Al... mencubit tangan aku. Jika sakit berarti ini bukan mimpi," ujar Claudia. Bukannya dia menjawab pertanyaan Alice tapi dia malah menyuruh Alice mencubit tangannya.


Alice yang tak paham maksud Claudia hanya mengikuti perkataannya saja." Awwwsstt! Kenapa kak Al... mencubit tangan aku sangat keras?" tanya Claudia seraya mengelus tangannya yang sakit akibat dicubit oleh Alice tadi.


"Bukannya kamu sendiri yang menyuruh aku mencubit kamu tadi. Kenapa sekarang malah aku yang salah?" tanya Alice dengan malas.


"Iya, tapi jangan cubit terlalu keras bisa tidak," ujar Claudia dengan wajah kesal.


"Apa maksud perkataan kamu tadi?" tanya Alice dengan wajah penasaran.


"Coba lihat keponakan kak Al... demi mewujudkan tujuannya yang ingin memiliki barang-barang branded. Dia rela menjual nama aku kak.


"Aku sangat malu sekali kak Al... sejak kapan aku menjual kue keliling? Sejak kapan Ara hidup susah apalagi sampai Ara menahan lapar hanya gara-gara mau membeli baju branded? Bukannya sejak Ara lahir sampai sekarang dia tidak pernah hidup susah?"


"Dan apa katanya tadi. Dia tidak pernah memakai baju mahal. Bukannya di lemarinya sudah penuh dengan barang-barang yang setiap hari jika ada barang baru dia beli. Bahkan lemari pakaian nya saja sudah tidak muat lagi untuk menaruh barangnya itu. Aku malu sekali kak Al... rasanya aku ingin sekali menangis kak Al," ujar Claudia dengan wajah kesal.


"Sudah lah Clau. Kamu kayak tidak tahu sifat Ara saja. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan. Walaupun kamu menasehati dia, pasti unjung2nya dia yang marah, dan akan bilang kalau dia cuman anak pungut kamu," ujar Alice.


"Kamu benar juga kak Al," ujar Claudia dengan pasrah. Percuma dia memarahi Ara. Yang ada malah menambah masalah, jadi diam lebih baik.





Bersambung...

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2