
Di Mansion Maxim Almero
Maxim pulang ke rumahnya dan di sambut senyum manis Alice yang selalu menjadi pelepas penatnya.
"Mas kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Alice dengan penasaran.
"Hanya sedang mengagumi kecantikan istriku," balas Maxim sedikit menggoda.
"Kalau nanti aku sudah jelek dan keriput, mas pasti akan mengalihkan pandanganmu. Soalnya aku kan sudah tidak cantik lagi," ujar Alice sambil menepis rasa tersipu nya.
"Sepertinya aku duluan yang lebih awal jelek dan keriput. Soalnya umur ku lebih tua darimu," sahut Maxim.
"Mas Maxim akan tetap tampan walaupun sudah tua nanti," ujar Alice.
"Nah, kamu juga gitu, sayang. Kamu akan tetap cantik meski rambutmu sudah berubah menjadi putih semua. Kamu akan selalu cantik di mataku," ujar Maxim.
"Mulai lagi, deh. Gombal," ujar Alice.
Maxim tertawa kecil, lalu merengkuh tubuh istrinya. Dia mengendus leher Alice dan bertanya," Kamu sudah mandi?" tanya Maxim.
"Sudah, dong," jawab Alice percaya diri.
"Tapi kenapa tidak wangi?" tanya Maxim dengan masuk tertentu.
"Masa, sih? Aku juga sudah pakek parfum, lho," ujar Alice.
Maxim menarik bagian gaun yang dikenakan Alice dan mendekatkan wajahnya ke arah istrinya. Dan dia membenamkan hidungnya di sana dan menghirup aroma manis dari tubuh Alice nya dalam-dalam.
"Ternyata wanginya ngumpul di sini," ujar Maxim.
Alice tertawa dan mencubit kecil pinggang suaminya." Mas bisa saja," ujar Alice dengan tersenyum malu.
"Jadi, malam ini mau pakai lingerie yang mana?" tanya Maxim dengan senyum menggoda.
"Nggak usah pakai lingerie segala, nanti juga dibuka semua sampai polos," jawab Alice sambil memutar bola matanya.
"Wah, sudah berani ngomong gitu sekarang, ya," ujar Maxim dengan gemas.
"Kenyataannya memang begitu," sahut Alice.
Mendengar perkataan istrinya membuat Maxim menahan tawanya agar tidak keluar. Dia benar-benar bahagia bisa menikah dengan Alice, hanya Alice wanita yang bisa membuat dia melupakan Claudia.
Padahal dulu dengan sombongnya dia menyodorkan surat perjanjian kontrak pada Alice karena berpikir kalau dia tidak akan pernah mencintai Alice. Tapi sekarang dia justru malah jatuh cinta pada istrinya dan dia sangat takut kehilangan istrinya.
•
•
__ADS_1
•
"Kamu sakit, sayang?" tanya Maxim saat melihat wajah istrinya yang belum bangun dari tempat tidur.
Biasanya Alice akan bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya dan juga membuatkan sarapan. Tapi sekarang Alice bahkan belum berpindah dari posisinya semula. Padahal Maxim sudah selesai mandi.
"Tidak mas, cuma lagi lemas saja," ujar Alice.
Maxim mendekat dan menempelkan telapak tangannya di kening Alice." Tidak panas," ujar Maxim.
"Emang enggak, mas. Cuma aku lagi lemas dan malas bangun saja." Jelas Alice.
"Apa gara-gara tadi malam?" tanya Maxim dengan wajah khawatir.
"Soalnya tadi malam kamu pasrah banget, nggak ngasih perlawanan apa-apa," ujar Maxim dengan perasaan cemas. Dia sangat takut jika istrinya sampai jatuh sakit gara-gara ulahnya.
"Mas Maxim sangar banget, mana mau ngasih aku kesempatan untuk melawan," balas Alice.
"Lain kali jangan sok-sokan mau ngasih aku obat jamu kuat segala. Aku tidak minum jamu saja kamu sudah lemas begini, tapi kamu malah menantangi aku agar mau meminum jamu itu," ujar Maxim sedikit menggerutu.
Alice tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang kesal bercampur khawatir. Tadi malam mereka memang main dengan durasi yang lebih lama dari biasanya. Tentu saja dengan berbagai gaya yang di inginkan oleh Maxim dan Alice menjadi gadis penurut di tangan suaminya.
Semua itu gara-gara iklan produk herbal yang di lihat Alice di salah satu situs Internet. Tanpa tahu apa akibatnya jika suaminya sampai meminum obat jamu itu. Jika dia tahu apa kasiat obat itu pasti Alice tidak akan membeli obat itu dan menyuruh suaminya agar meminum obat jamu itu.
Maxim yang merasa tersinggung dengan ucapan istrinya karena berpikir istrinya selama ini tidak puas dengan pelayanan dia. Tanpa berpikir dua kali dia langsung meminum obat itu. Dan sekarang terbukti kalau dia bukan lah pria lemah, tanpa obat itu saja dia bisa memuaskan istrinya apalagi sekarang bertambah obat itu lagi. Wajar saja istrinya terkapar seperti ini.
"Sekarang bagaimana? Mau tidur lagi?" tanya Maxim dengan wajah yang masih khawatir.
"Enggak," balas Alice. Perempuan itu duduk dan mengelus lengan suaminya yang kekar berotot.
Dia menatap wajah suaminya yang segar dengan rambut yang masih lembab. Maxim hanya mengenakan selembar handuk yang melilit pinggangnya.
"Kiss me," pinta Alice sambil menengadah.
Maxim menunduk dan mencium bibir Alice dengan lembut dan pelan. Alice memejamkan mata dan menikmati sentuhan bibir Maxim yang dingin namun terasa menyenangkan. Apalagi saat mencium aroma tubuh suaminya yang segar.
"Kalau dilanjutkan nanti aku nggak jadi ke kantor," ujar Maxim setelah selesai mencium istrinya tapi Alice malah merangkul lehernya.
"Bagaimana kalau aku minta mas Maxim hari ini nggak usah ke kantor?" tanya Alice.
"Kamu mau begitu?" tanya Maxim yang merasa heran dengan tingkah istrinya hari ini.
"Iya, mas," balas Alice dengan singkat.
"Aku juga mau begitu tapi maaf, sayang. Hari ini aku ada janji sama klien," ujar Maxim yang merasa bersalah karena tidak bisa mengabulkan keinginan istrinya.
Alice menatap Maxim dengan senyum merekah. Dia paham dengan posisi suaminya saat ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, mas. Lagian tidak ada sesuatu yang urgent sampai mas harus meninggalkan kerjaan demi aku," ujar Alice.
"Beneran kamu tidak merasa sakit, kan?" tanya Maxim memastikan keadaan istrinya.
"Iya. Aku baik-baik saja. Cuma malas bangun dan pengennya rebahan terus." Jelas Alice.
"Ya, sudah. Kamu di sini saja, biar aku ambilkan sarapan dulu untuk kamu," ujar Maxim yang di tanggapi anggukan kepala oleh Alice.
Maxim kemudian berjalan ke walk in closet dan memilih pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Setelah itu, barulah dia turun ke bawah dan meminta pembantunya menyiapkan sarapan untuk dibawanya ke kamar.
Semangkuk bubur kacang hijau, roti gandum, alpukat yang diiris, segelas jus jeruk dan secangkir kopi hitam ditata rapi di nampan. Maxim kemudian membawa sendiri nampan itu ke kamarnya dengan hati-hati.
"Mau disuapin?" tanya Maxim seraya meletakkan sarapan dengan menu sehat itu di pinggir ranjang.
"Nggak usah, mas siap-siap saja. Mana belum pasang dasi dan sisiran lagi," balas Alice.
"Bisa nanti saja," ujar Maxim santai." Ayo sarapan dulu."
"Iya mas," jawab Alice.
Maxim mengambil gelas jus dan menyerahkan pada istrinya. Sedangkan Maxim sendiri menyisip kopinya dan mengigit roti gandum.
Setelah selesai sarapan, Maxim kemudian berbenah dan bersiap-siap ke kantor. Dia berdiri di depan cermin, lalu menyisir rambutnya dengan rapi. Sebuah dasi berwarna gelap diambilnya dari atas meja dan dipakainya dengan cekatan.
Setelah selesai, Maxim kembali menemui Alice yang masih rebahan di ranjang. Nampan yang isinya tak lagi utuh diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur.
"Istirahat saja di rumah dan nggak usah ngapa-ngapain hari ini. Kalau seandainya nanti semakin lemas dan butuh bantuan, cepat telepon aku," ujar Maxim penuh perhatian.
"Baik mas," sahut Alice dengan cepat.
"Aku berangkat dulu, ya." Maxim mencium bibir Alice sejenak.
"Hati-hati," bisik Alice.
"Iya sayang," jawab Maxim dengan lembut.
Maxim turun ke lantai bawah dengan penampilan rapi dan berpesan pada pembantunya agar membantu memperhatikan istrinya. Setelah itu Maxim masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediamannya.
•
•
•
Bersambung....
🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿
__ADS_1