One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Terbongkar )


__ADS_3

Beberapa Jam Kemudian


Sampailah mereka di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Claudia yang melihat gedung ini langsung mengenali nya karena dia pernah datang ke gedung ini dengan orang kepercayaan nya membuat dia penasaran untuk apa penjahat ini membawa mereka ke tempat ini.


Walaupun dia sangat penasaran tapi tetap saja dia tidak berani untuk bertanya sama mereka, berbeda dengan Arrabella yang tidak takut sama sekali dengan orang yang sudah menculik mereka saat ini.


"Apa om jahat ndak salah tempat? Tenapa om malah membawa kami ke tempat bagus sepelti ini? Setahu Ala, jika kita di tangkap cama olang jahat pasti akan di bawa ke tempat jelek yang banyak kuman na?" tanya Ara dengan kening mengkerut.


"Anak ini selain cerewet dia juga sangat pintar sekali. Bahkan dia sama sekali tidak ada raut wajah takut sedikitpun. Biasanya kalau anak kecil lain pasti akan takut jika di culik sama orang yang tak di kenal. Tapi anak ini tidak ada takutnya sama sekali," batin ketua itu dengan heran.


"Jangan banyak bertanya lebih baik kalian cepat masuk ke dalam. Sebelum saya melakukan sesuatu sama kalian," ancam ketua itu dengan tatapan tajamnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa om jadi olang celewet sekali? Apa om lagi datang bulan?" tanya Ara dengan wajah tanpa dosa.


( Karena setahu Ara ibunya sering marah-marah pada saat dia mendapatkan tamu bulanan. Mana tahu dia kalau laki-laki tidak mendapatkan tamu istimewa seperti wanita. Ara, kamu lucu banget sih. Author ikut ketawa mendengarnya..🤣🤣)


Mendengar perkataan Ara membuat penculik itu sangat emosi. Sungguh, dia ingin sekali mendorong anak ini ke curang biar dia di makan binatang buas sekalian. Tapi dia terpaksa menahannya. Jika tidak, maka nyawanya yang akan melayang oleh bos besarnya.


"Cepat bawa mereka masuk ke dalam, sebelum bos murka dengan kita yang tak kunjung membawa mereka di hadapan bos," titah ketua itu dengan tegas.


"Baik, ketua." Mereka menjawab dengan serentak.


"Ayo cepat masuk, sebelum kami berbuat kasar pada kalian," ancam salah satu anak buah ketua itu dengan tatapan tajamnya.


"Ihh, pucing pala Ala..."


"Om... ndak Pelu pegang-pegang Ala dengan tangan kotol om itu. Ala ndak mau sampai sakit, gala-gala menempel kuman dali tubuh om itu," ujar Ara dengan mulut pedasnya.


Mendengar perkataan Ara membuat semua orang yang ada di sana melongo, dan juga terkejut. Sungguh, mereka tidak menyangka anak sekecil Ara bisa berbicara sangat pedas seperti ini.


"Ayo Mom. Kita masuk saja ke dalam. Kalena Ala sudah capek beldili di sini sejak tadi," ujar Ara seraya mengandeng tangan mamanya, dan langsung masuk ke dalam gedung itu. Tak lupa di ikuti oleh sebagian anak buah ketua itu, menuju ruangan bos besar mereka.


"Bos? Apa wajah kita kurang serem, sampai anak kecil itu tidak takut sama kita? Tidak hanya itu saja bos. Biasanya kalau kita menculik orang pasti mereka pada kabur di saat kita lepaskan tangannya. Tapi anak kecil ini malah mengajak mamanya masuk ke dalam gedung ini. Bukannya itu tidak masuk akal bos?" tanya anak buah ketua itu dengan bingung.


"Aku juga tidak tahu bodoh. Jika kamu penasaran sebaiknya kita menyusul mereka ke dalam saja," ujar ketua itu yang di jawab anggukkan kepala oleh anak buahnya itu.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


Cklek


"Maaf tuan. Di luar ada anak buah tuan yang ingin bertemu," ujar sekretaris perusahaan itu.


"Suruh dia masuk," titah orang itu dengan tegas.


"Baik, tuan," jawab sekretaris perusahaan itu seraya menyuruh ketua itu untuk masuk ke dalam ruangan atasannya.


"Permisi tuan. Kami sudah membawa mereka ke sini," ujar ketua itu dengan sopan.


"Bawa mereka ke hadapan ku sekarang," titah orang itu dengan tegas.


"Baik, tuan," jawab ketua itu seraya menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan bos besarnya itu.


Tak Lama Kemudian


Masuklah Claudia dan Ara ke dalam ruangan itu. Hingga membuat Claudia terkejut saat dia melihat orang yang sudah berani menyuruh penjahat itu untuk menculik mereka tadi.


"Apa maksud anda menculik kami pak Alex?" tanya Claudia dengan tatapan tajamnya.


Alex yang ditatap seperti itu oleh wanita kesayangannya, bukannya takut. Dia justru ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat Ekspresi wanita nya yang sangat mengemaskan.


"Wah sayang. Apa begini cara kamu menyambut calon suami kamu sendiri?" tanya Alex seraya terkekeh geli saat melihat calon istrinya yang sangat mengemaskan.


"Siapa yang kau sebut calon istri, hah," bentak Claudia dengan penuh kemarahan.


Mendengar bentakan Claudia membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Karena selama ini tidak ada seorang pun yang berani melawan, apalagi membentak penguasa negara ini.


Hahahaha

__ADS_1


"Ternyata kucing liar ku sangat pemberani. Kau tahu sayang. Tidak ada seorang pun yang berani membentak aku seperti yang kamu lakukan tadi. Jika orang lain pasti sudah aku lempar dia dari gedung ini. Tapi karena kamu yang melakukan itu. Aku tidak mempermasalahkan nya, bagaimana pun kamu orang yang selama ini aku cintai." Alex berucap dengan senyum bahagia.


"Dasar orang gila. Apa dia pikir aku mau menikah dengan nya," batin Claudia dengan wajah kesal.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


Alex yang mendengar suara anak kecil, langsung menoleh ke asal suara. Saat dia melihat anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengannya langsung bisa mengenali kalau dia adalah anak kandung yang selama ini dia rindukan.


"Kamu kenapa sayang? Apa kamu sakit?" tanya Alex seraya menghampiri anaknya dengan wajah khawatir.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Om ini sebelna na siapa sih? Tenapa om menculik Ala cama mommy? Apa om tahu, gala-gala om menuluh meleka menculik Ala. Membuat Ala takut, dan juga teltekan... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.


"Apa masuk kamu sayang? Apa yang sudah mereka lakukan sama kamu? Kasih tahu sama daddy. Biar daddy kasih mereka pelajaran?" tanya Alex dengan penuh kemarahan saat dia mendengar perkataan anaknya tadi.


"Tenapa om menyebut dili om sebagai daddy na Ala? Apa om ini benelan daddy asli Ala?" tanya Ara dengan wajah terkejut saat mendengar perkataan Alex, yang menyebut dirinya sebagai ayah kandung Ara.


Tak jauh berbeda dengan Claudia yang sangat terkejut, dan syok. Saat mendengar pengakuan laki-laki ini yang menyebutkan dirinya sebagai ayah kandung anaknya.


Akhirnya rahasia yang selama ini di sembunyikan oleh Claudia tentang anaknya terbongkar di depan laki-laki ini. Dia tidak menyangka kalau laki-laki ini bisa mengetahui keberadaan mereka di negara ini.


Padahal dia sudah bersusah payah bersembunyi dari semua orang agar tidak ada seorangpun yang mengetahui mereka di negara ini. Tapi sekarang, laki-laki yang baru dia lihat malah mengakui kalau Ara adalah anak kandung nya.


"Dia tidak mungkin ayah kandung Ara kan? Tapi wajah mereka sangat mirip. Oh Tuhan... aku takut sekali kalau benar laki-laki ini ayah kandung Ara. Bagaimana kalau dia merebut Ara dari tangan aku," batin Claudia dengan wajah ketakutan.


"Tentu saja sayang. Aku daddy kandung kamu. Jadi mulai sekarang Ara harus memanggil aku dengan panggilan daddy. Apa Ara mengerti," titah Alex seraya mengelus rambut pirang anaknya.


"Tenapa Ala halus memanggil om dengan panggilan daddy? Apa benal om ini daddy na Ala? Telus kenapa selama ini daddy ndak pernah ada cama kami?" tanya Ara dengan tatapan tajamnya.


Glekk


"Ternyata anak aku sangat pintar. Tapi aku daddy nya pasti lebih pintar dari pada Ara," batin Alex dengan seringai liciknya.


"Jika Ara mau tahu kenapa daddy tidak pernah ada sama kalian selama ini. Ara tanya saja sama mommy nya Ara. Karena dia yang sudah membunyikan Ara dari daddy. Jadi ini bukan salah daddy, melainkan salah mommy nya Ara," ujar Alex yang melemparkan kesalahan pada Claudia.


"Kurang ajar. Berani sekali laki-laki ini menjelekkan aku di depan Ara," batin Claudia dengan wajah kesal.


"Apa Ara mau memanggil aku dengan sebutan daddy?" tanya Alex lagi dengan penuh harap.


"Oke, Ala mau. Asal om membelikan Ala uang yang banyak," sahut Ara yang tidak mau melepaskan kesempatan emas ini.


"Baik. Daddy akan memberikan uang yang Ara inginkan." Alex berucap dengan santai.


Bagi dia uang tidak penting, asalkan anaknya mau memanggil dia dengan sebutan daddy. Lagian uang dia sangat banyak tidak mungkin bisa habis hanya gara-gara di berikan untuk anak kandungnya sendiri.


"Holle... Telima kasih daddy," ujar Ara yang memanggil Alex dengan sebutan daddy.


Alex yang mendengar anaknya menyebut dirinya dengan panggilan daddy. Membuat dia terharu. Dia sempat berpikir kalau anaknya mungkin akan membenci dirinya, karena selama ini dia tidak pernah ada di saat anak lahir ke dunia sampai dia besar seperti ini. Tapi sekarang, dia sungguh bahagia bisa di pertemukan kembali dengan wanita yang sangat dia cintai dan juga anak kandungnya sendiri.


"Apa meleka pesuluh daddy?" tanya Ara seraya menunjuk anak buah Alex yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


Alex yang melihat kemana anaknya menunjuk. Langsung saja dia menoleh ke arah mereka yang sejak tadi masih berdiri di dalam ruangan kerjanya. Sementara orang yang di tunjuk oleh Ara sudah berkeringat, serta ketakutan sejak tadi.


Jika mereka tahu anak yang mereka culik adalah anak kandung bos besar mereka. Pasti mereka tidak akan berani bersikap kasar sama anak itu. Sekarang mereka hanya bisa pasrah menerima hukuman dari bos besarnya itu. Bagaimana pun, mereka mengakui kalau mereka salah karena sudah bersikap tidak sopan sama anak bos besarnya itu.


"Iya. Emangnya kenapa dengan mereka sayang?" tanya Alex seraya menggendong anaknya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan kerjanya itu.


"Lihat saja, apa yang Ala lakukan cama kalian. Ini bukan salah Ala. Tapi kalian sendili yang sudah mencali gala-gala dengan Ala," batin Ara dengan seringai liciknya.


"Sepertinya anak ini akan membuat drama yang sangat besar. Ini pasti gara-gara mereka yang sudah menyinggung anak ini. Hingga dia ingin membalaskan dendam sama mereka. Astaga... ternyata sifat anak ini benar-benar sangat mirip dengan tuan Alexander yang sangat kejam dan juga licik," batin Andre asisten pribadinya Alexander.


"Daddy... Hiks... Hiks... apa daddy tahu, meleka semua sudah sangat jahat cama Ala... Hiks... Hiks... meleka sudah menyiksa Ala cama Mommy... Hiks... Hiks..."


"Padahal Ala... Hiks... Hiks... sudah meminta ampun cama meleka... Hiks... Hiks... tapi, meleka tetap ndak pelduli cama teliakan Ala yang kesakitan... Hiks... Hiks..."


"Meleka cama sekali ndak puna hati menyiksa anak kecil sepelti Ala... Hiks... Hiks... Ala benar-benar telsiksa Dad. Gala-gala pelbuatan meleka... Hiks... Hiks... atit hati Ala Dad... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.


Mendengar perkataan anaknya membuat Alex sangat murka. Dia tidak akan mengampuni orang yang sudah menyakiti wanita dan anak kesayangannya. Siapapun itu, baik wanita maupun pria, akan tetap dia hancurkan.


Berbeda dengan anak buah Alex yang semakin ketakutan bahkan ada yang sudah kencing di dalam celananya. Saking dia takut dengan wajah Alex yang sudah merah seperti singa yang ingin memangsa buruannya.

__ADS_1


Sungguh, mereka benar-benar tidak menyangka anak bosnya sangat licik seperti ini. Padahal mereka tidak pernah melakukan apa yang Ara katakan tadi. Tapi, untuk membela dirinya sendiri tidak kuasa mereka lakukan. Karena percuma, bosnya itu pasti lebih percaya sama anaknya sendiri dari pada mereka.


"Beraninya kalian memperlakukan anak ku seperti itu. Apa kalian sudah bosan hidup tenang di dunia ini?" tanya Alex dengan penuh kemarahan.


"Ampuni kami bos. Tapi kami tidak melakukan apa yang nona kecil bicarakan," ujar mereka seraya berlutut di lantai dan mengatupkan kedua tangannya di depan Alexander.


"Apa kalian mau bilang anak saya penipu, hah," bentak Alexander dengan penuh emosi.


"Tidak bos. Kami mengaku salah, tolong ampuni kami bos." Mohon mereka yang lebih mengakui kesalahannya dari pada di hukum lebih berat nanti.


"Ndre... kamu sudah tahu apa hukuman bagi orang yang berani melukai keluarga aku kan?" tanya Alex dengan seringai liciknya.


"Iya tuan. Saya akan melaksanakan perintah tuan." Andre berucap dengan cepat.


"Tunggu," ujar Alex dengan tegas.


"Iya tuan," jawab Andre dengan cepat.


"Kamu cukup melakukan dengan jalur normal saja. Karena aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main dengan mereka di saat aku sudah menemukan keberadaan keluarga kecil aku di sini. Apa kamu paham maksud aku Ndre," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan. Saya mengerti," ujar Andre dengan sopan.


"Tumben tuan melepaskan mereka di tangan orang lain. Biasanya dia sendiri yang menghukum orang yang sudah berani melukai keluarganya," batin Andre seraya mengikuti perintah atasannya.


"Tolong maafkan kami tuan." Mohon mereka lagi yang tidak di perduli kan oleh Alex.


Tak lama kemudian


Cklek


"Apa yang bisa kami lakukan tuan?" tanya komandan polisi itu dengan sopan.


"Masukkan mereka ke penjara atas tuduhan penyiksaan anak kandung saya. Apa kamu mengerti," titah Alexander dengan tatapan tajamnya.


"A... apa anda memiliki bukti kalau mereka menyiksa anak anda tuan Alex?" tanya komandan polisi itu seraya terbata-bata. Walaupun dia takut tapi dia tetap menanyakan itu saat dia melihat anak itu terlihat baik-baik saja dalam pangkuan Alex.


"Apa maksud Om polici bicala sepelti itu? Apa Om polici melagukan pelkataan Ala?" tanya Ara dengan tatapan tajamnya. Hingga membuat komandan polisi itu terdiam seperti patung.


Glekk


"Gawat. Kenapa aku harus keceplosan bicara seperti itu di depan penguasa negara ini? Bagaimana kalau tuan Alex menghancurkan keluarga aku? Lihat saja tatapan anak ini persis seperti tuan Alex. Tidak ayah, tidak anak, sama-sama menyeramkan," batin Komandan polisi itu dengan ketakutan.


"Kenapa kamu cuman diam saja? Apa kamu sudah bosan bekerja di negara ini. Jika sudah. Maka saya bisa melempar kamu ke negara terpencil," ancam Alex dengan tatapan tajamnya.


"Jangan tuan. Saya akan melaksanakan perintah tuan Alex sekarang juga," ujar komandan polisi itu dengan wajah ketakutan.


"Cepat bawa mereka pergi dari sini segera," titah komandan polisi itu pada anak buahnya.


"Siap, laksanakan Dan." Mereka menjawab dengan serentak seraya berjalan ke arah anak buah Alex.


"Cepat lepaskan kami. Kami tidak bersalah," ujar mereka seraya berontak saat tangannya di borgol oleh polisi.


"Berhenti berontak jika kalian tidak ingin kami menambah hukuman yang lebih berat lagi," ancam salah satu polisi di sana yang menyebabkan mereka semua terdiam.


"Saya permisi dulu tuan Alex," ujar komandan polisi itu seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.


"Oh Tuhan... Sungguh bahaya anak tuan Alex. Aku harus hati-hati saat bicara dengan anak ini. Jika tidak, aku pasti akan mengalami nasib yang sama seperti mereka," batin Andre seraya bergerik ngeri.


Claudia yang melihat tingkah anaknya tidak bisa bicara apa-apa. Karena dia sendiri masih syok dengan kenyataan yang baru dia ketahui tentang laki-laki yang sangat dia benci Selama ini sedang dekat dengan anaknya.


Sementara Ara jangan di tanya lagi. Dia sangat senang karena sudah berhasil membalaskan perbuatan anak buah Alex yang sudah berani berbuat tidak sopan dengan mereka tadi.


"Itu hukuman na bagi olang yang mencali gala-gala cama Ala," batin Ara dengan wajah bahagia.





Bersambung.....

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2