
Sebuah permata tidak akan dapat dipoles tanpa gesekan, demikian juga seseorang tidak akan menjadi sukses tanpa adanya tantangan.
Seperti halnya yang terjadi dengan Claudia, dia berani mengambil langkah yang sangat besar untuk keluar dari rumah orang tuanya. Dan memilih meninggalkan negaranya untuk memulai hidup baru dinegara orang lain tanpa ada persiapan apapun. Dan usaha dan kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil dengan menjadikan dia orang yang sukses sekarang ini.
" Permisi nyonya! Di luar ada tamu yang mencari nyonya Clau," ujar Siska pembantu di rumah Claudia.
"Siapa pagi-pagi bertamu ke rumah Clau?" tanya Alice.
"Mana aku tahu kak. Orang aku juga ada di sini sama kakak," ujar Claudia.
"Emang siapa tamunya bi?" tanya Claudia pada Siska pembantu rumahnya.
"Tidak tahu nyonya. Dia laki-laki yang kemarin datang ke rumah bersama nyonya kemarin," ujar Siska lagi.
"Kamu mau pergi kemana, dengan nak Max Clau?" tanya Ariana.
"Nggak kok ma. Aku tidak ada rencana pergi dengan kak Maxim," ujar Claudia.
"Terus ngapain dia kemari?" tanya Ariana dengan penasaran.
"Entahlah ma. Aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita lihat saja ke depan, siapa tahu kak Maxim ada perlu dengan kita," ujar Claudia lagi.
"Ara sayang, kamu sudah selesai makan belum? Kalau belum, Ara makan saja dulu ya, mommy mau ketemu om Max dulu di depan," sambungnya lagi.
"Apa?" teriak Ara.
"Di depan ada om anteng?" tanya Ara dengan antusias.
"Iya, om Max ada di depan," jawab Alice.
"Holle... Ala sudah selesai makan mom. Ala mau ketemu om anteng dulu," ujar Ara seraya pergi dari ruang makan untuk menemui Maxim.
"Om anteng," panggil Arrabella.
Maxim yang mendengar suara Ara langsung menurunkan tubuhnya ke lantai untuk menyambut pelukan Ara.
"Bagaimana keadaan Ara sekarang? Apa sudah baikan?" tanya Maxim.
"Ala audah baik kok om anteng," ujar Ara.
"Syukurlah kalau Ara sudah baikan," ujar Maxim seraya mengelus rambut pirang Ara yang terurai.
"Ada perlu apa kamu datang ke sini pagi-pagi sekali?" tanya Claudia.
__ADS_1
"Emangnya aku tidak boleh datang ke rumah calon istri aku sendiri?" tanya Maxim seraya menggoda Claudia.
Claudia yang mendengar perkataan Maxim jadi salah tingkah. Bahkan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Cie... cie... Ternyata yang datang ke rumah calon suaminya kamu Clau?" anya Alice seraya terkekeh geli.
"Apaan sih kak Alice," ujar Claudia dengan kesel karena di goda sama mereka.
"Sekarang nak Max jawab dengan serius, ada keperluan apa nak Max datang kemari pagi-pagi sekali?" tanya Ariana dengan serius.
"Hemmh... Begini Tante, aku kesini bermaksud meminta izin untuk mengajak Ara jalan-jalan di moll," ujar Maxim dengan hati-hati takut mereka tidak mengizinkan dia mengajak Ara pergi ke moll.
Claudia yang mendengar Maxim ingin mengajak Ara ke moll langsung tidak mengizinkan nya karena dia masih trauma anaknya hampir kehilangan nyawa gara-gara kecelakaan kemarin yang terjadi di sana.
"Aku tidak memberikan izin Ara pergi ke moll. Cukup kemarin Ara celaka gara-gara pergi kesana," ujar Claudia masih dengan wajah sedih karena teringat lagi tentang kecelakaan kemarin.
Maxim yang mendengar Claudia tidak memberikan izin untuk mengajak Ara ke moll sudah ketakutan.
Karena dia sudah membuat kesepakatan dengan Ara bila dia berhasil membujuk ibunya untuk memberikan dia izin untuk membawa Ara jalan-jalan.
Maka dia sudah bisa mendekati ibunya. Yang artinya dia boleh menikah dengan wanita pujaannya. Tapi bila dia gagal membawa Ara pergi jalan-jalan ke moll maka dia harus siap menjauhi keluarga nya, yang artinya dia gagal untuk menikah dengan Claudia.
Ara yang mendengar mommy nya tidak membolehkan dia pergi ke moll langsung menatap ke arah Maxim dengan tatapan tajamnya.
"Max... kamu harus bisa membujuk Claudia, jika kamu ingin mendapatkan restu dari calon anak mu. Semangat Max kamu pasti bisa, ini demi masa depan kamu sendiri," batin Maxim.
"Kamu tenang saja Clau. Aku yang akan menjaga Ara dengan baik, dan aku juga membawa bodyguard untuk menjaga Ara di sana nanti," ujar Maxim lagi.
"Clau biarin Ara pergi bersama dengan nak Maxim. Kamu tidak kasihan sama Ara yang hanya main di rumah ini saja," sahut Ariana.
"Tapi ma... Aku masih takut terjadi sesuatu dengan Ara," ujar Claudia.
"Mama tahu kamu masih trauma karena kejadian kemarin, tapi mengurung Ara di rumah juga tidak bagus bagi pertumbuhan Ara sendiri nak.
"Ara perlu melihat dunia luar biar dia tidak menjadi anak bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang perkembangan dunia luar," ujar Ariana dengan bijak.
Claudia yang mendengar nasehat mamanya hanya bisa pasrah dan mengizinkan Ara untuk pergi bersama dengan Maxim.
"Baiklah. Aku izinkan kamu membawa Ara pergi jalan-jalan, tapi dengan syarat kamu harus menjaga Ara selalu. Dan jangan pernah melepaskan Ara sedikit pun dari pengawasan kamu," ujar Claudia lagi.
"Yessss... Akhirnya misi ku berhasil. Restu sudah aku dapatkan dari calon anak ku tinggal aku dekatin ibunya untuk aku ajak menikah," batin Maxim terkekeh geli.
Ara yang melihat Maxim tersenyum sendiri hanya memutar matanya dengan malas karena dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan Maxim.
__ADS_1
"Pasti om anteng lagi membuat lencana buat dekatin mommy. Ah... bialkan saja, aku juga penen puna Daddy cepelti yang lain," batin Ara setuju bila Maxim menjadi Daddynya.
"Ya, sudah kami pergi dulu," ujar Maxim lagi.
"Ala pelgi dulu ya mommy. Jangan Lindu Ala nanti, soalna Ala cuman pelgi sebental saja dan ndak lama," ujar Ara percaya diri kalau mommy nya akan sangat merindukan dia.
"Siapa juga yang merindukan anak nakal seperti kamu. Kalau kamu tidak pulang kerumah ini lagi juga tidak masalah," sahut Alice dengan cepat.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Mulai... mulai deuh drama Queennya," batin Alice.
"Kak Maxim sebaiknya kalian pergi saja, biar cepat sampai di sana nanti," potong Alice dengan cepat sebelum dia mendengar perkataan Ara yang ujung-ujungnya bikin dia sakit kepala.
"Baiklah kami pergi dulu. Ayo Ara sayang, biar om Max gendong saja," ujar Maxim seraya mengendong Ara.
"Ala... pelgi dulu ya mommy... dada..." Ara berucap seraya melambaikan tangannya kepada mereka semua.
"Sudah Clau. Kamu tidak perlu khawatir. Mama yakin nak Max pasti bisa menjaga Ara, apalagi dia membawa banyak bodyguard untuk menjaga Ara dari bahaya.
"Bukannya kita sudah tahu kalau nak Max selama ini selalu melindungi dan menjaga Ara bahkan kemarin saja waktu dia belum kenal dengan kita saja dia rela mengorbankan nyawa nya hanya untuk menolong Ara.
"Apalagi sekarang kita sudah mengenal dia dengan baik. Mama yakin Ara pasti baik-baik saja bersama dengan nak Max," ujar Ariana yang melihat Claudia seperti enggan untuk melepaskan kepergian Ara bersama dengan Maxim.
"Baiklah aku akan percayakan Ara sama Maxim. Semoga Ara baik-baik saja bersama dengan nya. Kalau begitu aku sama kak Alice pergi kerja dulu. Mama di rumah saja. Biar aku sama kak Alice yang mengurus restoran kita dengan baik." ujar Claudia
"Ya, sudah. Kak Alice lebih baik kita pergi ke restoran sekarang juga," sambungnya lagi yang tak mau ibu angkatnya sakit gara-gara mengurus restoran mereka.
"Oke," jawab Alice.
"Ya, sudah ma. Kami pergi dulu," ujar Alice lagi.
"Ya, hati-hati di jalan," ujar Ariana yang di jawab anggukkan kepala oleh mereka berdua.
•
•
•
Bersambung.......
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1