One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Saat Di Perjalanan )


__ADS_3

Saat Di Perjalanan


Saat ini mereka sedang berada di perjalanan untuk kembali pulang ke rumah yang selama ini mereka tinggali.


"Ara sayang! Apa benar, kalau kamu memiliki bukti kejahatan pengacara tadi?" tanya Claudia dengan penasaran. Karena dia tidak menyangka bahwa anaknya sangat pintar, seperti ini.


Hahahaha


"Kenapa kamu ketawa sayang? Emang ada yang lucu dengan pertanyaan mommy?" tanya Claudia dengan kening mengkerut saat melihat anaknya yang ketawa terbahak-bahak.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Jadi mommy juga pelcaya cama pelkataan Ala tadi?" tanya Ara seraya terkekeh.


"Maksud Ara apa? Mommy tidak mengerti sayang?" tanya Claudia dengan kening mengkerut.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Berhenti bilang pucing pala Ala. Kalau di tanyak jawab saja. Jangan bilang pucing Mulu bikin orang kesal saja," sahut Alice dengan kesal.


"Diam deuh Aunty Lilis. Ala ndak bicala cama Aunty. Tenapa Aunty jadi olang selalu ikut campul masalah olang. Sebaikna Aunty menyetil mobil saja yang benal. Bial majikan na, ndak tenapa-tenapa nanti, gala-gala memiliki supil ndak becus kayak Aunty Lilis," ujar Ara dengan mulut pedasnya.


"Apa?" teriak Alice dengan keras.


"Dasar bocah licik. Beraninya kamu menyebut aku supir. Mau aku buang kamu keluar dari mobil ini," ancam Alice.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa Aunty Lilis bisa na mengancam olang saja? Tapi gililan di ancam balik malah takut. Kalau mau ancam olang di pikil dulu."


"Apa Aunty ndak takut saat mendolong Ala dali mobil ini malah di kejal om polisi?" tanya Ara dengan wajah mengejek.


"Yang dikatakan Ara benar juga. Bukannya ini di jalan raya. Aku yakin semua orang pasti akan melihat perbuatan yang aku lakukan. Otomatis aku bisa masuk penjara karena mencelakakan anak kecil," batin Alice yang membenarkan perkataan Ara.


"Tenapa diam? Apa Aunty sudah sadal dali kebodohan Na?" tanya Ara dengan tatapan mengejek sementara Alice hanya bisa diam karena lagi-lagi dia kalah debat dengan Ara.


"Sudah cukup berdebat nya. Sekarang Ara harus jawab dulu pertanyaan mommy tadi."


"Apa Ara benar-benar ada bukti kejahatan pengacara tadi apa tidak?" tanya Claudia dengan penasaran.

__ADS_1


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Dengal ya mommy Ala yang antik. Tapi tetap saja Ala yang jauh lebih antik. Ala tadi cuman mengancam om jahat itu saja, supaya dia mau membantu kita melebut halga mommy kembali ladi cama kita." Jelas Ara dengan wajah tanpa dosa.


Ckiitt


"Apa?" teriak mereka berdua saat mendengar perkataan Ara tadi, hingga menyebabkan Alice berhenti mendadak.


"Awwssstt! Sakit..."


"Tenapa Aunty, belhenti mendadak sih?Bagaimana kalau wajah antik Ala teluka?Aunty halus tahu, kalau wajah Ala ini sangat belhalga, jadi Aunty ndak boleh sampai membuat na lecet sedikitpun."


"Apa Aunty mengelti," titah Ara dengan tegas.


"Maaf Ara sayang, Aunty tidak sengaja." Jelas Alice yang lebih mengalah dari pada dia dihina oleh Ara lagi.


"Kalau menyetir mobil, pelan-pelan saja kak. Aku masih ingin hidup," sahut Claudia yang ikut kesal sama Alice saat dia berhenti mendadak tadi.


"Maaf Clau, Aku beneran tidak sengaja. Aku kaget banget tadi saat mendengar perkataan Ara," ujar Alice seraya membela dirinya sendiri.


"Alah... alasan saja, bial ndak di malahin cama mommy," sahut Ara dengan sindiran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ala ndak pelnah melekam pembicalaan mommy cama om jahat itu tadi. Ala sengaja mengancam om jahat itu, bial dia takut, dan mau membantu kita, untuk melebut halta mommy ladi." Jelas Ara dengan wajah tidak berdosa.


"Wah... sekarang Aunty Alice sudah mengakui kalau kamu emang benar-benar orang yang sangat licik. Padahal tadi pengacara itu juga sangat licik karena dia sudah berhasil menipu kakek kamu hingga hartanya jatuh ke tangan mereka.


"Tapi sekarang berkat cucu kebanggaan nya ini. Harta itu berhasil direbut kembali dari tangan mereka. Kamu memang hebat bisa mengelabui orang licik itu. Ternyata orang licik lawannya harus dengan orang yang jauh lebih licik agar bisa menang dari mereka. Kalau seperti Claudia yang ada kita malah kalah," ujar Alice seraya mengejek Claudia.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Aunty Lilis bisa na mengejek olang lain. Apa Aunty Lilis ndak ingat tadi, kalau Aunty Lilis juga bodoh. Kalena ndak bisa melawan om jahat itu. Ini bukan na sadal dili, tapi malah mengejek olang lain," ujar Ara dengan mulut pedasnya.


Alice yang mendengar perkataan Ara hanya bisa menghela nafas pasrah. Bukannya dia mendapatkan pujian, karena sudah memuji dia. Tapi ini, dia malah mendapatkan penghinaan.


Sementara Claudia hanya bisa menahan tawanya saat mendengar perkataan anaknya yang menghina Alice demi membela dirinya.


"Oh Tuhan... maunya anak ini apa sih. Dipuji malah dihina, nggak dipuji lebih parah lagi dihina. Kenapa nasib aku selalu sial jika ada anak ini di dekat aku," batin Alice dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Jadi kamu, nggak ada bukti rekaman pengacara itu. Terus bagaimana kita mengancam orang itu? Mommy takut dia tidak mau membantu kita, kalau dia tahu kita tidak memiliki bukti untuk mengancamnya nanti," ujar Claudia dengan wajah cemas.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudahlah mom, Itu saja lepot. Mana mungkin olang itu tahu kalau Ala ndak ada bukti buat mengancam olang itu. Kecuali kalau kita memberitahu cama dia, Balu kita akan kalah dengan olang itu," ujar Ara dengan tenang, berbeda dengan Claudia yang sudah takut sejak tadi.


"Kamu benar juga sayang. Kenapa mommy tidak berpikir seperti itu ya?" tanya Claudia dengan perasaan lega saat mendengar perkataan anaknya.


"Itu kalena mommy lambat belpikil. Belbeda dengan Ala yang celdik, dan pintal. Hingga membuat olang itu masuk ke dalam pelangkap Ala," ujar Ara dengan wajah sombong.


Hahahaha


"Tenyata bukan aku saja yang berpikir kalau kamu itu bodoh, Clau. Lihat saja anak kamu sendiri juga berpikir sama dengan aku," sahut Alice seraya tertawa terbahak-bahak.


"Diam kalian semua. Kenapa kalian suka sekali mengejek aku sih?" tanya Claudia dengan wajah kesal.


"Bukannya benar kalau kamu bodoh Clau. Jika kamu pintar. Pasti kita tidak akan kalah dengan pengacara itu tadi. Kalau tidak ada Ara... kita pasti sudah pulang dengan tangan kosong," ujar Alice seraya mengejek Claudia.


"Kak Al... juga bodoh bukan aku saja. Benar kata Ara, kalau kak Al cuman bisa mengancam orang saja. Giliran di ancam balik malah takut," ujar Claudia seraya membalas ejekannya tadi.


Alice yang mendengar perkataan Claudia langsung, terdiam. Karena apa yang di katakan oleh Claudia, semuanya benar. Sementara Ara yang melihat mereka bertengkar hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Tenapa meleka bisa na beltengkal yang ndak penting cepelti ini? Helan deuh Ala cama meleka. Sudah tahu cama-cama bodoh masih saja saling mengalahkan," batin Ara.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Kalian bisa diam ndak. Pucing pala Ala mendengal kalian beltengkal cepelti itu. Maka na, kalian ndak bisa menang melawan olang jahat itu. Kalena kalian lebih suka menyelesaikan masalah dengan mulut celewet kalian itu.


"Dali pada memakai akal untuk belpikil supaya bisa melawan olang jahat itu. Jika ndak ada Ala tadi. Pasti kalian sudah belkelahi dengan olang jahat itu. Dan ujung-ujung na kalian yang akan masuk lumah sakit," ujar Ara dengan mulut pedasnya.


Mendengar perkataan Ara membuat mereka langsung terdiam. Karena percuma melawan Ara... yang ada malah Mereka yang emosi, saat mendengar perkataan Ara yang pedas melebihi cabai rawit.





Bersambung...

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2