One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Kemarahan Alexander )


__ADS_3

Di Mansion Keluarga Lemos


Saat ini Alex sudah pulang ke mansion orang tuanya dengan hati berbunga-bunga saat dia baru tahu ternyata dia sudah memiliki seorang anak dari wanita yang sangat dia cintai selama ini. Dia tidak menyangka kalau dia sekarang sudah menjadi seorang ayah. Betapa bahagianya dia saat mendengar berita ini.


Sehingga dia tidak sabar pulang ke mansion orang tuanya dan dia ingin menyampaikan berita bahagia ini sama kedua orang tuanya kalau dia sudah memiliki seorang putri yang Sangat cantik.


"Mama... papa... Alex ada kabar bahagia untuk kalian," teriak Alex seraya memanggil kedua orang tuanya.


"Ada apa sih Lex? Pulang-pulang langsung teriak-teriak. Apa kamu pikir mansion mama ini pasar yang seenaknya kamu teriak seperti itu," sahut Anggelina dengan wajah kesal.


"Ma... pa... Alex punya berita bahagia untuk kalian," ujar Alexander yang tak mau memperdulikan Omelan mamanya karena dia sedang bahagia sekarang.


"Berita apa. Cepat katakan sekarang juga," ttah David Lemos yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kalian tahu, kalau Alex sekarang sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik." Jelas Alex dengan wajah antusias.


"Ooohh." Mereka hanya menanggapi dengan perkataan oh saja, sehingga membuat Alex penasaran.


"Kenapa mereka cuman menjawab Ooohhh saja? Apa mereka tidak mendengarkan perkataan aku dengan jelas," batin Alex dengan kening mengkerut.


"Kenapa mama sama papa cuman menjawab Ooohhh saja? Apa kalian mendengarkan perkataan aku tadi, yang mengatakan kalau aku sudah memiliki seorang anak yang sangat cantik?" tanya Alexander dengan wajah bingung.


"Baguslah kalau begitu," ujar mereka dengan cuek.


Mendengar perkataan mereka membuat Alexander emosi dan marah terhadap orang tuanya. Karena dia berpikir kalau kedua orang tuanya tidak mau menerima anak kandungnya itu.


"Apa yang terjadi sama kalian? Kenapa kalian cuman merespon seperti itu? Apa kalian tidak suka aku memiliki seorang anak?"


"Bukannya selama ini kalian yang selalu menyuruh aku agar cepat memberikan kalian seorang cucu. Tapi giliran aku sudah memberikan kalian cucu. Malah respon kalian cuman seperti ini," ujar Alexander dengan penuh kemarahan.


"Jika kamu memberitahukan masalah ini sebelum kami mengetahui kalau kamu sudah memiliki seorang anak, mungkin mama sama papa akan terkejut dan syok saat mendengar perkataan kamu.


"Berbeda dengan sekarang. Karena mama sama papa sudah tahu sejak dulu kalau kamu pernah menghamili seorang gadis yang tidak bersalah. Hingga dia minggat dari rumah orang tuanya sendiri, gara-gara perbuatan kamu itu," ujar Anggelina dengan wajah kesal.


"Apa?" teriak Alex dengan wajah terkejut saat mendengar perkataan mamanya.


"Ja... jadi... kalian sudah tahu masalah ini sejak lama. Tapi kenapa kalian tidak memberitahukan sama aku?" tanya Alex dengan wajah kesal.


"Sengaja," jawab mereka serentak.


"Kenapa kalian tega sekali sama aku? Apa kalian tahu aku sudah seperti orang gila yang mencari keberadaan wanita itu. Sementara kalian yang sudah tahu keberadaan wanita itu malah tidak mau memberitahukan sama aku," ujar Alex dengan wajah kesal.


"Apa kamu pernah memberitahukan sama kami jika kamu pernah melecehkan anak gadis orang, hingga dia hamil seperti ini?" tanya David dengan tatapan tajam.


SKEMA


"Benar juga. Aku kan tidak pernah memberitahukan sama mereka tentang wanita yang sudah aku lecehkan dulu," batin Alex seraya menelan saliva nya sendiri saat melihat tatapan tajam ayahnya.


"Maaf pa... aku tidak sengaja melecehkan wanita itu. Karena pada saat itu dia sedang terpengaruh obat perangsang hingga aku lepas kontrol dan malah melakukan hubungan intim dengannya." Jelas Alex agar orang tuanya tidak menyalahkan dia yang berbuat tidak baik sama wanita itu.


"Terus kenapa kamu malah tidak mau bertanggung jawab sama dia? Kamu tahu, gara-gara ulah kamu dia harus membanting tulang untuk menghidupi anak kamu. Sementara kamu malah enak-enakan di sini," ujar Anggelina dengan sinis.


"Bagaimana Aku bisa bertanggung jawab. Pada saat aku ke luar dari kamar mandi dia malah tidak ada lagi di kamar itu. Aku bahkan sudah menyuruh anak buah aku untuk mencari wanita itu.

__ADS_1


"Tapi tidak ada hasilnya sama sekali. Karena aku tidak tahu nama dia, ataupun foto wanita itu. Hingga kami tidak sengaja bertemu kembali di perusahaan aku kemarin.


"Saat aku mencari tahu indentitas wanita itu. Ternyata dia memiliki seorang anak yang sangat mirip dengan aku. Hingga aku curiga dan langsung melakukan Tes DNA dan hasilnya dia terbukti anak kandung aku." Jelas Alex yang tidak terima di salahkan.


Mendengar perkataan Alex membuat mereka terdiam. Karena apa yang Alex katakan semuanya benar. Ini tidak sepenuhnya salah Alex tapi salah wanita itu yang kabur tanpa meminta pertanggung jawaban dari anaknya.


"Apa yang ingin kamu lakukan sama dia?" tanya David dengan penasaran.


"Tentu saja mengajak dia untuk menikah."


"Setelah dia ada di depan mata aku. Aku akan mengikat dia biar dia tidak bisa kabur lagi dari aku," ujar Alexander dengan antusias.


"Jangan pernah mengancam dia. Jika kamu ingin wanita itu tetap berada di negara ini," sahut Anggelina dengan cepat.


"Mama tenang saja. Aku pastikan dia akan menjadi istrinya Alexander Lemos," ujar Alex dengan percaya diri sementara orang tuanya hanya bisa menghela nafas pasrah karena percuma menasehati anak yang keras kepala seperti Alex.


"Terserah kamu saja mau melakukan apa. Tapi jika wanita itu kabur lagi dari negara ini gara-gara ulah kamu. Mama pastikan akan mencincang kamu menjadi perkedel," ancam Anggelina.


"Aku pastikan dia tidak akan bisa kabur lagi dari negara ini," ujar Alex dengan seringai liciknya.


"Apa yang akan dilakukan oleh anak nakal ini? Aku berharap rencana yang di lakukan oleh Alex tidak membuat wanita itu semakin membencinya," batin Anggelina.





Di Rumah Claudia


"Tadi mama sama Ara pergi ke taman hiburan," ujar Ariana.


"Kenapa mama tidak memberitahukan sama aku, kalau kalian pergi ke taman hiburan?"


"Aku takut banget tadi, saat pulang ke rumah tapi kalian malah nggak ada di sini," ujar Claudia.


"Ihhh... pucing pala Ala..."


"Mommy jangan lebay deuh. Walaupun Ala pelgi jauh, nggak akan ada yang menculik juga," ujar Ara seraya memutar bola matanya malas.


"Siapa bilang tidak ada yang akan menculik kamu?" tanya Claudia dengan wajah kesal saat mendengar perkataan anaknya.


"Ihhh... pucing pala Ala..."


"Dengal ya mommy. Kalau ada olang yang menculik Ala dan dia meminta uang tebusan. Ala tinggal bilangin aja cama om penculik itu kalau Ala cuman anak olang miskin yang hanya memiliki seolang mommy penjual kue keliling.


"Dengan begitu om penculik itu pasti akan melepaskan Ala. Kalena meleka belpikil kalau olang tua Ala ndak akan mampu membelikan meleka uang tebusan, beles kan," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


"Jika Ara benar-benar ingin menjadi orang miskin yang memiliki seorang ibu penjual kue keliling. Mommy akan meminta ibu itu untuk mengadopsi Ara seumur hidup.


"Dan mulai sekarang Ara bukan anak mommy lagi. Karena mulai sekarang mommy akan mengadopsi anak orang lain saja yang jelas dia lebih baik dan tidak nakal seperti Ara," ancam Claudia dengan wajah kesal saat Mendengar perkataan anaknya.


"Ala benci cama mommy. Tenapa mommy lebih suka cama anak olang lain dali pada Ala yang antik ini.

__ADS_1


"Jangan-Jangan mommy menculik Ala dali olang tua asli Ala. Itu sebabna mommy ndak sayang cama Ala kelena Ala bukan anak asli mommy.


"Jika mommy ndak sayang cama Ala ladi. Sehalus na mommy kembalikan Ala cama olang tua asli Ala. Kalena Ala sudah ndak tahan menelima penyiksaan sepelti ini ladi.


"Tenapa semua olang jahat cama Ala? Apa Ala ndak belhak bahadia... Hiks... Hiks... Ala ndak kuat lagi tinggal di lumah halimau ini," ujar Ara seraya terisak.


Hahahaha


Tawa Ariana dengan keras, sementara Claudia hanya bisa melongo. Sungguh, dia tidak menyangka kalau anaknya bisa bicara seperti itu sama dia.


"Oh Tuhan... apa salah aku selama ini? Kenapa aku harus memiliki anak nakal seperti ini? Andai benar kamu bukan anak kandung aku, sudah aku kembalikan kamu sama orang tua kandung kamu itu," batin Claudia.


"Ihhh... pucing pala Ala..."


"Tenapa oma ketawa? Apa oma juga cama kayak mommy yang ndak sayang cama Ala?"


"Atit hati Ala... Hiks... Hiks... Ala benci cama kalian semua," ujar Ara seraya lari dari sana dengan perasaan hancur.


"Ara," panggil Claudia dengan keras saat dia melihat anaknya sudah naik ke lantai atas dengan terburu-buru. Dia sangat takut kalau sampai anaknya jatuh di tangga hingga menyebabkan anaknya terluka.


"Kenapa mama malah ketawa sih? Lihat Ara dia malah tambah salah paham sama kita. Sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk membujuk Ara agar dia tidak marah lagi sama kita?" tanya Claudia dengan wajah cemas.


"Maafin mama clau... mama kelepasan ketawa saat mendengar perkataan Ara yang mengatakan kalau kamu menculik dia dari orang tua kandungnya itu.


"Padahal sudah jelas-jelas kamu ibu kandungnya, tapi Ara malah salah paham sama kamu gara-gara kamu mau mengadopsi anak orang lain," ujar Ariana dengan wajah menyesal.


"Kamu cukup kasih Ara uang saja clau... aku yakin Ara akan mau memaafkan kamu lagi.


Bukannya selama ini kalau Ara marah kita hanya perlu menyogok dia dengan uang," sahut Alice yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kak Al benar juga. Kenapa aku tidak memikirkan itu tadi," kata Claudia yang membenarkan perkataan Alice.


"Lebih baik kita makan saja dulu. Nantik saja kita membujuk Ara agar dia tidak marah lagi sama kita. Mama benar-benar heran dengan anak kamu clau... dia yang berbuat ulah malah kita yang di salahkan. Mama pusing mikirin anak kamu itu," ujar Ariana.


"Jangankan mama. Aku yang ibu kandungnya sendiri juga pusing mikirin Ara yang semakin hari semakin nakal," ujar Claudia dengan frustasi.


"Lupakan masalah Ara dulu. Lebih baik kita makan saja dulu. Bukannya sejak tadi kamu belum makan gara-gara menunggu Ara pulang ke rumah ini," sahut Alice dengan cepat.


"Baiklah. Ayo ma... kita makan saja dulu," ujar Claudia.


"Bagaimana dengan Ara? Dia belum makan juga sejak tadi?" tanya Ariana dengan perasaan cemas.


"Mama tenang saja. Aku tidak mungkin membiarkan anak aku kelaparan. Mama tahu sendiri Ara lagi ngambek sama kita. Jadi biarkan bibi yang mengantarkan sarapan buat Ara di kamarnya nanti." Jelas Claudia.


"Baiklah. Lebih baik kita makan saja dulu. Mama sudah lapar banget sejak tadi," ujar Ariana yang jawab anggukan kepala oleh mereka.





BERSAMBUNG....

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2