
Di Mansion Alexander Lemos
"Sekalang Ala sudah tau kalau mommy lebih sayang adik Ala dali pada Ala sendili. Jadi, jika ada masalah apapun Ala ndak akan membicalakan pada mommy lagi. Kalena pelcuma Ala bicala cama mommy, pasti yang mommy bela adik Ala walaupun dia belsalah, sedangkan Ala ndak akan telihat baik di mata mommy kalena di mata mommy Ala ini hanyalah anak nakal, dan kejam," ujar Ara seraya pergi dari sana dengan hati terluka.
Deg
Mendengar Perkataan Ara membuat Claudia terkejut dan juga shock. Sungguh, dia tidak ada niatan melukai anaknya itu. Dia tidak tau gara-gara ucapan nya malah membuat anaknya sedih. Sungguh, dia merasa bersalah karena sudah bicara seperti itu pada anaknya hingga anaknya malah terluka gara-gara ucapannya padahal dia sama sekali tidak ada maksud membela adiknya dari pada Ara.
"Apa yang kamu lakukan Clau? Apa kamu sadar telah menyakiti anak kamu sendiri? Lihat Ara, hatinya pasti sangat sakit saat mendengar kamu bicara seperti itu padanya, dan dia pasti berpikir kalau kamu lebih sayang adiknya dari pada Ara sendiri," ujar Angelina dengan wajah kesal.
"Maaf ma, aku tidak bermaksud menyakiti Ara. Aku juga sayang pada Ara tidak ada di pikiran ku untuk pilih kasih antara Ara dan anak yang sedang aku kandung ini." Jelas Claudia dengan wajah menyesal.
Saat melihat Claudia bersedih seperti ini sudah membuktikan kalau dia sangat sayang pada Ara. Mungkin dia bicara seperti itu pada bayinya agar anaknya lahir kelak bisa menjadi anak yang baik dan tidak menyebalkan seperti Ara.
"Ya, sudah. Lupakan saja apa yang terjadi tadi mama tidak mau kamu banyak pikiran karena itu tidak baik buat kandungan kamu," ujar Angelina yang tidak mau menantunya banyak pikiran karena itu bisa berakibat fatal pada kandungan menantunya.
"Aku ingin minta maaf pada Ara dan menjelaskan padanya kalau apa yang dia pikirkan tadi tidak benar," ujar Claudia dengan perasaan cemas.
"Kamu tunggu di sini saja biar mama yang membujuk Ara agar mau memaafkan kamu," ujar Angelina yang mencegah menantunya untuk menemui Ara.
"Iya, ma. Tolong bujuk Ara agar dia mau memaafkan aku." Claudia berharap anaknya mau memaafkan nya.
"Iya, mama janji." Angelina berucap seraya pergi dari sana.
"Clau! Kenapa kamu harus bicara seperti itu pada Ara? Apa kamu lupa kalau Ara sangat membenci adiknya itu? Bukannya kamu membujuk Ara agar mau menerima adiknya tapi kamu malah membuat Ara tambah membenci nya," ujar Alice.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang kak? Aku tidak mau Ara membenci aku dan juga adiknya ini." Claudia berucap dengan gelisah.
"Kamu tenang saja Clau! Aku sangat yakin tante Angel pasti bisa membujuk Ara agar mau memaafkan kamu nanti," ujar Alice seraya menenangkan Claudia yang sedang gelisah.
"Semoga saja Ara mau memaafkan aku," ujar Claudia dengan penuh harap.
"Bagaimana keadaan kandungan kamu? Apa kamu sudah melihat jenis kelamin anak kamu?" tanya Alice dengan penasaran.
"Kandungan aku baik-baik saja kak. Dan kami sepakat untuk tidak melihat jenis kelamin nya, kata mas Alex biar ini menjadi kejutan. Aku berharap anak kedua kami laki-laki biar dia bisa menggantikan daddy nya di perusahaan. Karena aku sangat tau Ara tidak akan mau bekerja di perusahaan daddy nya karena dia sudah bercita-cita menjadi seorang model terkenal." Jelas Claudia.
"Ya, kamu benar Clau. Anak kamu itu dari kecil saja sudah bermimpi ingin menjadi seorang model terkenal pasti dia tidak akan tertarik untuk bekerja di perusahaan daddy nya," ujar Alice yang membenarkan perkataan Claudia.
"Bagaimana dengan kak Al? Apa kak Al sudah hamil?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Bagaimana aku bisa hamil, orang baru kemarin kami melakukan itu. Itupun gara-gara Mas Maxim mabuk, jika bukan karena mabuk mana mau dia menyentuh aku. Tapi aku bersyukur gara-gara kejadian tak terduga itu pernikahan kami bisa menjadi kenyataan. Dan surat perjanjiannya tidak berlaku lagi sekarang. Walaupun mas Maxim belum mencintai aku setidaknya aku tidak perlu takut menjadi janda," batin Alice dengan perasaan lega.
"Belum Clau! Berdoa saja agar aku bisa dapat di beri kepercayaan untuk mengandung bayi seperti kamu," ujar Alice dengan penuh harap.
__ADS_1
"Itu sudah pasti kak," ujar Claudia dengan tersenyum.
•
•
•
Di Kamar Arrabella
Tok... Tok... Tok...
"Ara? Boleh oma masuk?" tanya Angelina seraya mengetuk pintu kamar Ara.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Masuk saja oma. Pintu na ndak di kunci," sahut Ara dengan suara keras.
Cklek
"Sayang! Apa Ara masih marah pada mommy?" tanya Angelina hati-hati.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Bagaimana Ala ndak malah sama mommy oma? Mommy lebih sayang cama adik Ala dali pada Ala sendili. Benal yang Ala takutkan selama ini jika daddy dan mommy puna anak lain meleka pasti ndak akan sayang lagi cama Ala. Sekalang telbukti kan kalau mommy lebih peduli pada adik Ala," ujar Ara dengan wajah sendu.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa benal mommy sayang pada Ala, oma?" tanya Ara dengan penasaran.
"Tentu saja dia sayang pada Ara," jawab Angelina dengan penuh keyakinan.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Kalau begitu Ala mau meminta maaf cama mommy kalena sudah bicala sepelti itu padanya tadi," ujar Ara dengan perasaan bersalah.
"Besok saja Ara menemui mommy. Sekarang Ara istirahat saja di kamar ini oke," ujar Angelina dengan lembut.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oke, oma," jawab Ara dengan cepat.
"Ya, sudah. Oma keluar dulu," ujar Angelina yang di tanggapi anggukan kepala oleh Ara.
__ADS_1
Di Ruang Tamu
"Bagaimana ma? Apa Ara mau memaafkan aku?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Kamu tenang saja sayang? Mama sudah membujuk Ara tadi, dan dia mau memaafkan kamu bahkan dia ingin meminta maaf pada kamu karena sudah bicara seperti itu pada kamu tadi." Jelas Angelina.
Mendengar perkataan Angelina membuat mereka terkejut. Karena setau mereka, Ara bukan orang yang suka mengakui kesalahannya walaupun dia terbukti bersalah. Yang mereka tau Ara orangnya suka menyalahkan orang lain padahal dia yang bersalah tapi malah tidak mau mengakui nya. Tapi, kenapa Ara malah berubah seperti ini?
"Apa mama yakin Ara mau minta maaf pada ku dan dia mengakui kesalahannya tadi?" tanya Claudia dengan kening mengkerut.
"Tentu saja Clau. Mana mungkin mama berbohong pada kamu, dia tadi ingin meminta maaf padamu tapi mama melarang dia meminta maaf sekarang. Karena mama kasihan melihat dia kelelahan, mungkin dia baru selesai menangis. Itu sebabnya mama menyuruh Ara istirahat di kamar," ujar Angelina.
"Aku tidak menyangka Ara mau meminta maaf pada ku ma. Tadinya aku yang ingin meminta maaf pada dia, tapi ternyata malah Ara yang ingin meminta maaf padaku. Bukannya ini kabar bahagia ma? Itu artinya Ara sudah berubah menjadi anak yang baik," ujar Claudia dengan antusias.
"Apa yang tante bicarakan pada Ara? Kenapa tiba-tiba Ara bisa berubah seperti ini?" tanya Alice dengan penasaran.
"Tante cuman menjelaskan kalau mommy nya sangat sayang dan peduli padanya. Buktinya dulu sebelum adanya daddynya, mommy yang mengurus Ara dengan sangat baik." Jelas Angelina.
"Terima kasih ma. Karena mama sudah mau membujuk Ara agar mau memaafkan aku," ujar Claudia dengan tulus.
"Sama-sama sayang. Dan ingat pesan mama, kamu tidak boleh bicara seperti itu lagi di depan Ara," ujar Angelina.
"Iya, ma. Aku berjanji tidak akan bicara seperti itu lagi di depan Ara," ujar Claudia.
"Baguslah. Mama harap kamu menepati janji kamu itu. Ya sudah, mama mau ke kamar dulu," ujar Angelina yang di jawab anggukkan kepala oleh Claudia.
"Aku juga mau pulang Clau," ujar Alice.
"Kenapa kak Al buru-buru pulang?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Aku sekarang sudah menikah Clau, tidak bisa bebas seperti dulu lagi. Itu sebabnya aku harus pulang sekarang takutnya mas Maxim sudah pulang dari kantor." Jelas Alice.
"Ya, sudah. Kalau begitu kak Al bisa pulang sekarang," ujar Claudia.
"Aku pulang dulu permisi," ujar Alice.
"Hati-hati di jalan," ujar Claudia yang di jawab anggukan kepala oleh Alice.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung.....
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸