
Di Ruang Kerja David Lemos
"Bagaimana dengan menantu kita ma? Apa mama sudah tanyakan padanya kapan dia kembali ke mansion Alex?" tanya David dengan penasaran.
"Sudah pa," jawab Angelina dengan singkat.
"Apa katanya ma?" tanya David.
"Dia bilang butuh waktu satu minggu lagi untuk menenangkan dirinya di mansion kita setelah itu dia berjanji akan kembali lagi ke mansion Alex," jelas Angelina.
"Kenapa lama sekali ma? Bagaimana kalau wanita itu berhasil menggoda Alex dan akhirnya dia malah jatuh ke dalam jebakan dia? Sebelum wanita itu berhasil menjebak Alex kita harus secepatnya bergerak." David sangat takut jika anaknya malah jatuh ke dalam jebakan wanita itu.
Dia sangat tahu wanita seperti itu pasti akan memiliki banyak cara untuk bisa memikat laki-laki agar masuk ke dalam jebakan nya.
"Apa yang ingin papa lakukan?" tanya Angelina dengan penasaran.
"Kita harus mempertemukan Claudia dan Alex secepatnya ma," balas David.
"Papa sudah tahu kalau Claudia belum siap bertemu dengan Alex. Bagaimana kalau dia marah pada kita dan akhirnya dia pergi dari negara ini? Papa tahu sendiri kalau menantu kita itu selalu memilih melarikan diri dari pada menyelesaikan masalah," ujar Angelina seraya mengingatkan suaminya bagaimana sifat menantu mereka yang suka melarikan diri.
"Siap tidak siap dia harus bertemu dengan Alex. Kita lakukan ini demi dia juga agar suaminya tidak di rebut oleh wanita itu," ujar David.
"Papa ingin mempertemukan mereka di mana?" tanya Angelina dengan penasaran.
"Tentu saja di mansion ini. Papa akan menyuruh Alex untuk datang ke sini dengan alasan pekerjaan biar Alex tidak curiga kalau kita sudah menyembunyikan istrinya itu di sini," balas David.
"Bagaimana kalau Alex marah pada kita karena sudah menyembunyikan istrinya di sini?" tanya Angelina dengan perasaan cemas.
"Mama tenang saja, Alex tidak mungkin marah pada kita. Karena kita melakukan ini gara-gara kesalahan dia yang membiarkan wanita itu ada di dalam ruangan nya sehingga istrinya malah salah paham dan akhirnya malah pergi meninggalkan dia," ujar David dengan tenang.
Mendengar perkataan David membuat Angelina menghela nafas lega. Setidaknya mereka memiliki alasan yang kuat jika sampai Alex marah pada mereka karena sudah menyembunyikan istrinya.
"Semoga saja Alex tidak marah pada kita karena sudah menyembunyikan istrinya di mansion kita," ujar Angelina.
"Kita melakukan ini demi keinginan menantu kita. Jika kita kenak marah Alex papa sangat yakin Claudia pasti akan membela kita. Mana mungkin menantu kita akan diam saja saat kita di marahin oleh Alex apalagi kita melakukan itu atas perintah dia," ujar David.
__ADS_1
"Apa kita perlu memberitahukan pada Claudia tentang rencana kita ini?" tanya Angelina.
"Jangan beritahu pada Claudia tentang rencana kita ini. Jika mama beritahukan pada Claudia takutnya dia malah kabur dari sini," ujar David.
"Terus mama harus melakukan apa?" tanya Angelina dengan perasaan.
"Mama tidak perlu melakukan apapun yang perlu mama lakukan pada saat papa menyuruh Alex datang ke mansion ini mama pergi saja dari sini biar mereka bisa menghabiskan waktu berdua saja agar hubungan mereka kembali membaik seperti dulu lagi," ujar David.
"Oke, mama mengerti," balas Angelina seraya menganggukkan kepala.
"Aku berharap rencana papa bisa berhasil, dan mereka bisa kembali bersama seperti dulu lagi," batin Angelina dengan penuh harap.
Dia sangat berharap rencana David ini bisa berhasil. Dengan begitu hubungan anak dan menantunya bisa kembali bersama seperti dulu lagi.
•
•
•
Di Kamar Aluna
Bruk
Pyar
Terdengar suara pecahan barang-barang yang ada di dalam kamar Aluna. Sehingga kamarnya sekarang sudah seperti kapal pecah.
"Dasar bocah kurang ajar! Aku tidak menyangka dia bisa menjebak ku seperti ini. Gara-gara dia kak Alex sekarang malah benci pada ku. Jika bukan karena dia aku pasti bisa mendapatkan kak Alex kembali."
"Ahhh... Aku benci pada mu. Lihat saja nanti jika aku berhasil menikah dengan kak Alex aku akan membuang bocah licik itu ke curang biar tidak ada seorang pun yang menganggu kami lagi," ujar Aluna dengan tatapan penuh kebencian.
Cklek
"Apa yang kamu lakukan Luna? Kenapa kamar kamu bisa berantakan seperti ini?" Maura sangat kaget saat melihat keadaan kamar anaknya yang seperti kapal pecah.
__ADS_1
"Kak Alex ma... Hiks... Hiks... Dia sekarang tidak mau bertemu dengan ku lagi. Ini semua gara-gara anak licik itu yang sudah menjebak aku agar kak Alex benci pada ku," jelas Aluna menangis terisak.
"Apa maksud kamu sayang?" Maura sama sekali tidak mengerti maksud perkataan anaknya.
"Tadi aku datang ke kantor kak Alex. Pas di sana aku bertemu dengan anak kecil yang sangat mirip dengan kak Alex. Awalnya aku kaget saat melihat ada anak kecil di dalam ruangan kerja kak Alex. Pas aku tanyakan ternyata dia anak kandung kak Alex dengan wanita murahan itu."
"Saat aku tahu dia anak kandung kak Alex, aku berencana mau mengambil hati anak itu agar dia mau mendukung ku dan memberikan izin untuk menikahi ayahnya dan menjadikan aku sebagai ibu sambungnya."
"Tapi, siapa sangka ternyata anak itu malah memasang perangkap untuk ku dan akhirnya kak Alex malah mengusir aku dari perusahaan nya itu," jelas Aluna seraya mengepalkan tangannya karena emosi saat mengingat semua perlakuan mereka padanya.
Mendengar perkataan anaknya membuat Maura menghela nafas panjang. Dia sudah lelah menasehati anaknya agar berhenti menganggu rumah tangga orang lain. Tapi anaknya masih saja keras kepala, entah apalagi yang harus dia lakukan agar anaknya sadar kalau laki-laki yang dia cintai sudah menjadi milik orang lain.
"Sudah berapa kali mama katakan pada kamu untuk berhenti menganggu rumah tangga orang lain. Tapi kamu sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan mama. Sekarang lihat, kamu malah di usir dari sana apa kamu tidak memiliki harga diri sudah di tolak tapi kamu masih saja mengemis cinta suami orang?" Maura sangat sedih melihat nasib percintaan anaknya yang tidak berjalan mulus.
Dia sangat tahu seberapa besar cinta anaknya untuk laki-laki itu. Anaknya bahkan rela menunggu laki-laki itu karena berpikir mereka akan menikah setelah mereka dewasa.
Tapi nyatanya hanya anaknya saja yang masih mengingat janji itu sedangkan laki-laki itu sama sekali tidak ingat atau mungkin tidak peduli dengan janji itu karena memang pada dasarnya laki-laki itu sama sekali tidak mencintai anaknya.
"Aku tidak bisa melupakan kak Alex ma. Aku sudah berusaha menghilangkan perasaan ini tapi aku sama sekali tidak bisa ma... Hiks... Hiks..."
"Apa yang harus aku lakukan ma? Bagaimana caranya agar aku bisa menghilangkan perasaan ini? Aku tidak kuat melihat laki-laki yang aku cintai justru bahagia bersama orang lain... Hiks... Hiks..." Aluna berucap seraya terisak.
"Mama yakin cepat atau lambat kamu pasti bisa melupakan Alex," ujar Maura seraya menenangkan anaknya yang sedang terisak.
"Aku tidak yakin bisa melupakan kak Alex ma. Sudah sejak kecil aku bermimpi agar bisa menjadi istrinya. Tapi sekarang mimpi itu malah hancur gara-gara wanita murahan itu," ujar Aluna dengan tatapan penuh kebencian.
"Ini bukan salah wanita itu sayang? Tapi mereka sudah di takdirkan untuk bersama. Mama sangat yakin kamu pasti akan mendapatkan laki-laki lain yang mau menerima kamu apa adanya." Maura berharap anaknya bisa sadar kalau laki-laki itu bukan di takdirkan untuk nya.
"Tidak ma. Kak Alex hanya boleh menjadi milik ku. Aku akan merebut kak Alex dari tangan wanita murahan itu. Lihat saja nanti aku akan menjebak kak Alex agar dia bisa jatuh ke dalam pelukan ku," batin Aluna dengan seringai liciknya.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung...
🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿