One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Kesedihan Claudia )


__ADS_3

Di Mansion Alexander Lemos


Sebulan Kemudian


"Sayang... kamu dimana," panggil Alex dengan wajah bahagia. Karena dia pikir istrinya saat ini sedang menunggu kepulangan dia dari kantor seperti biasanya. Tapi sayang, dia harus menelan kekecewaan saat dia tidak melihat keberadaan istrinya.


"Bi... Bi Susan." Alex memanggil dengan suara keras.


"Iya tuan muda," jawab Bibi Susan kepala pelayan di sana seraya menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Apa Bibi melihat keberadaan istri saya?" tanya Alex dengan penasaran.


"Tadi Bibi lihat nyonya muda sedang berada di belakang mansion ini tuan," jawab Bibi Susan dengan sopan.


"Bibi bisa lanjutkan kerja sekarang," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan muda," jawab Bibi Susan seraya pergi dari sana.


Di Belakang Mansion



"Sayang... kenapa kamu duduk di sini sendirian?" tanya Alex dengan lembut.


"Euh... mas Alex sudah pulang. Maaf mas aku tidak menyambut kamu tadi," ujar Claudia saat baru sadar kalau ada Alex yang duduk di sampingnya saat ini.


"Kenapa kamu melamun sejak tadi? Apa kamu menyesal menikah dengan ku?" tanya Alex dengan wajah sendu.


Dia pikir kalau istrinya tidak bahagia menikah dengan nya. Itu sebabnya dia menayangkan itu sama Claudia.


"Kenapa mas Alex bicara seperti itu? Walaupun aku belum bisa mencintai kamu, bukan berarti aku tidak bahagia hidup bersama dengan kamu. Karena sejak aku memutuskan untuk menikah dengan mu... maka aku akan menerima kamu baik susah maupun senang.


"Karena aku bukan orang yang suka mempermainkan pernikahan. Kecuali jika kamu melakukan kesalahan fatal maka aku tidak bisa memaafkan kamu sampai kapan pun. Jadi, buang pikiran kamu itu mas... aku minta maaf belum bisa membuka hati buat kamu. Tapi, aku berjanji akan belajar mencintai kamu." Jelas Claudia.


Mendengar perkataan Claudia membuat Alex bisa bernafas lega dan hatinya berbunga-bunga saat tahu kalau istrinya akan belajar mencintai dia.


"Terus kenapa kamu sedih seperti ini sayang?" tanya Alex dengan bingung.


"Aku sedih karena teringat Ara mas... sejak kita menikah Ara sama sekali tidak pernah main ke mansion kita. Aku pikir mama hanya menginginkan Ara untuk tinggal sebentar di mansion nya itu. Tapi sudah sebulan ini mama tidak membawa Ara pulang ke mansion kita mas," jawab Claudia dengan raut wajah sedih.


"Apa kamu mau kita jemput Ara di mansion mama sayang?" tanya Alex dengan lembut.


"Apa tidak apa-apa mas? Aku tidak mau mama malah benci sama kita, gara-gara membawa Ara ke mansion kita ini?" tanya Claudia yang merasa tidak enak hati.


"Oh Tuhan. Kamu benar-benar wanita yang sangat baik sayang.Walaupun kamu sedang sedih dan merindukan anak kita.Tapi kamu masih memikirkan perasaan orang tua aku. Padahal kita lebih berhak atas Ara, tapi kamu tidak merebut dia dari tangan orang tua aku," batin Alex yang sangat kagum dan senang memiliki istri sebaik Claudia.


"Tidak apa-apa sayang. Kita bisa memberikan mereka pengertian, bagaimana pun Ara anak kandung kita. Aku yakin mama sama daddy pasti akan mengizinkan kita membawa Ara pulang bersama kita nanti," ujar Alex seraya memberi semangat pada istrinya agar tidak sedih lagi.


"Baik mas. Aku ikutin apa kata kamu," jawab Claudia dengan senyum bahagia saat dia mendengar perkataan suaminya yang akan menjemput Ara kembali ke mansion ini.


"Ayo sayang... kita pergi ke sana sekarang juga," titah Alex dengan lembut.


"Baik mas. Aku nganti baju dulu," jawab Claudia dengan antusias seraya pergi dari sana.





Beberapa Jam Kemudian


Saat ini mereka sudah sampai di mansion keluarga David Lemos. Mansion yang sangat mewah nan megah yang hanya di miliki oleh orang-orang dari kalangan atas saja.


Tok.... Tok... Tok...


Cklek


"Tuan muda... nyonya muda... silahkan masuk tuan," ujar Bibi Astri dengan sopan.


"Apa mama sama papa ada di dalam?" tanya Alex.


"Ada tuan muda. Mereka semua sedang berada di ruang makan saat ini," jawab Bibi Astri dengan sopan yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.


"Ayo sayang... kita pergi ke sana," ajak Alex dengan lembut.

__ADS_1


"Iya mas," jawab Claudia dengan cepat.


Ruang Makan



"Kenapa kamu kesini lex? tanya Angelina dengan kesal.


Karena dia tahu anaknya ke sini pasti mau menjemput cucunya itu, hanya saja dia pura-pura tidak tahu saja.


"Tentu saja mau menjemput Ara untuk pulang ke mansion kami ma," jawab Alex dengan cepat.


"Apa kamu pikir Ara mau pulang bersama kalian," ujar Angelina mengejek anaknya.


"Apa maksud mama?" tanya Alex dengan penasaran.


"Tanya saja sama Ara sendiri. Apa dia mau pulang sama kalian atau tidak," jawab Angelina dengan cepat.


"Ara sayang... apa kamu mau tinggal di mansion daddy?" tanya Alex dengan lembut.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Tenapa balu sekalang daddy menjemput Ala untuk pulang belsama kalian? Apa kalian pikil Ala mau ikut pulang cama kalian setelah kalian membuang Ala di lumah oma dan opa?" tanya Ara dengan sinis.


Mendengar perkataan anaknya membuat Alex melongo dan juga terkejut. Alex tidak menyangka kalau anaknya akan berpikir seperti itu. Padahal sudah jelas kalau anaknya sendiri yang ingin tinggal di sini bersama opa dan omanya. Tapi sekarang malah mereka yang di salahkan.


Berbeda dengan David dan Angelina yang berusaha menahan tawanya agar tidak keluar. Sungguh, mereka juga sama seperti Alex yang terkejut saat mendengar perkataan cucunya itu. Tapi setelah itu mereka bersikap seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apapun.


"Apa yang Ara katakan? Bukannya Ara sendiri yang ingin tinggal bersama opa dan oma. " Kenapa sekarang Ara malah menyalahkan daddy dan mommy?" tanya Alex dengan kesal.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Kapan Ala bicala cepelti itu?" Pelasaan Ala ndak pelnah bicala cepelti itu cama daddy," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


"Sejak Ara tinggal di mansion opa dan oma," jawab Alex dengan cepat.


"Mana bukti na. Kalau Ala bicala cepelti itu cama daddy," ujar Ara dengan tegas.


Glekk


Jujur saja selama ini tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan dia. Tapi sekarang, dia justru kalah dengan anak kandung nya sendiri.


"Lupakan masalah itu. Sekarang daddy tanyak, apa Ara mau ikut pulang bersama kami apa tidak?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Sudah Ala bilang dali tadi. Kalau Ala ndak mau pulang cama kalian, tenapa daddy beltanyak lagi."


"Ala tahu. Mommy cama daddy pasti senang kalau Ala ndak tinggal cama kalian. Jadi, ndak usah belpula-pula seolah-olah kalian kehilangan Ala. Jadi anggap saja kalian ndak memiliki anak cepelti Ala," ujar Ara dengan wajah kesal.


"Oh Tuhan... Apa ini karma buat aku. Karena dulu pernah mengeluarkan kata-kata kalau Ara lebih baik di asuh sama orang lain saja dari pada aku ibu kandungnya sendiri. Lihat saja, baru sebulan Ara tinggal sama Oma dan Opanya dia malah melupakan aku ibu kandungnya sendiri," batin Claudia dengan wajah sedih.


"Apa Ara tidak sayang lagi sama mommy? Itu sebabnya Ara lebih senang tinggal di sini dari pada tinggal sama mommy?" tanya Claudia dengan mata berkaca-kaca.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Solly mommy. Bukan na Ala ndak sayang cama mommy. Tapi Ala telpaksa tinggal belcama oma dan opa kalena oma sudah beljanji cama Ala. Kalau Ala mau tinggal cama meleka di sini. Maka oma akan membelikan semua halta na buat Ala," ujar Ara yang keceplosan bicara.


"Apa," teriak mereka berdua dengan wajah terkejut saat mendengar perkataan anaknya.


"Oh... jadi ini rencana mama buat menahan agar Ara betah tinggal di sini?" tanya Alex pada mamanya dengan aura sangat menakutkan.


Glekk


"Apa maksud kamu melihat mama seperti itu Lee... Wajar kalau mama memberikan harta keluarga lemos untuk Ara. Karena Ara cucu satu-satunya di keluarga ini. Jika bukan Ara yang menikmati harta ini lalu siapa lagi. Sedangkan kamu sudah memiliki harta kekayaan sendiri," ujar Angelina membela dirinya sendiri agar tidak di salahkan oleh anaknya.


"Tapi bukan begini caranya. Mama sudah mencuci otak anak Alex agar dia menjadi anak matre di usia dia yang masih kecil seperti ini. Apa mama tidak kasihan sama Ara yang masih lugu dan polos begini menjadi orang yang haus akan kekayaan," ujar Alex menasehati mamanya tanpa tahu bagaimana sifat asli anaknya sendiri.


Hahahaha


"Lex... apa benar kamu ayah kandung Ara?" tanya David tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan anaknya tadi.


"Tentu saja aku ayah kandungnya. Bukannya papa sudah pernah melakukan Tes DNA dan terbukti aku ayah biologis nya," jawab Alex yang tidak paham maksud ucapan ayahnya.


"Jika benar kamu ayah kandung Ara. Kamu pasti tahu sifat asli anak kamu itu seperti apa. Tanpa mama kamu mencuci otak Ara agar menjadi anak yang matre pun. Anak kamu ini sudah lebih dulu menjadi anak yang matre, licik dan juga pandai memanfaatkan orang lain," ujar David yang sengaja bicara dalam bahasa prancis agar cucunya tidak mengerti apa yang dia bicarakan. (Anggap saja ini bahasa prancis ya )

__ADS_1


"Apa benar sayang... kalau anak kita seperti yang papa bicarakan?" tanya Alex berbisik pada istrinya.


"Maaf mas... aku tidak mengerti papa bicara apa tadi," jawab Claudia dengan polos.


Mendengar perkataan istrinya membuat Alex menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa, kalau tadi ayahnya menggunakan bahasa prancis. Wajar kalau istrinya tidak mengerti perkataan ayahnya tadi.


"Apa benar anak kita matre dan suka memanfaatkan orang lain?" tanya Alex dengan penasaran.


"Benar mas. Awalnya aku heran kenapa sifat Ara bertolak belakang dengan aku.Tapi sekarang aku sudah tahu kalau Ara menurunkan gen kamu yang memiliki sifat kejam, licik, dan pasti suka memanfaatkan orang lain," jawab Claudia yang tidak sadar menjelaskan keburukan Alex pada orangnya langsung.


Mendengar perkataan Claudia membuat Alex terdiam seperti patung. Sungguh, dia tidak menyangka kalau anaknya bisa mengikuti semua sifat buruknya, padahal dia berharap kalau anaknya bisa menjadi anak yang sama persis seperti istrinya yang baik dan juga lembut.


"Apa Ara benar tidak mau pulang sama daddy?" tanya Alex sekali lagi.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa daddy celalu memaksa Ala untuk pulang cama kalian. Ala cudah bilang mau tinggal di lumah Ini," ujar Ara dengan kesal.


"Mas... tolong bujuk Ara agar mau pulang sama kita. Kalau tidak, aku akan tinggal di mansion ini sama Ara." Claudia mengancam Alexander dengan suara berbisik.


Mendengar perkataan istrinya membuat Alex kelimpungan. Mana sanggup dia hidup terpisah dari istrinya lagi.


"Baik. Kalau Ara mau tinggal di sini. Itu berarti Ara tidak berhak mendapatkan harta daddy lagi. Karena Ara sudah menjadi bagian dari oma dan opa. Padahal jika di bandingkan harta opa dan oma, harta daddy jauh lebih besar.


"Tapi tidak masalah, kalau Ara mau tinggal di sini selamanya. Daddy akan mengadopsi anak orang lain dan daddy akan memberikan harta kekayaan daddy untuk anak angkat daddy nanti. Sedangkan Ara tidak berhak lagi untuk memiliki harta daddy." Alex mengancam anaknya dengan tegas.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Baik. Ala akan ikut pulang cama daddy. Ala ndak lela daddy membelikan halta milik Ala cama olang lain," ujar Ara yang takut dengan ancaman ayahnya.


"Kenapa sekarang Ara malah ikut pulang bersama mereka? Bukannya Ara sudah berjanji akan tinggal di sini selamanya?" tanya Angelina yang tidak rela cucunya pergi dari sini.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Solly oma... Ala ndak memiliki pilihan lain selain ikut cama daddy. Kalena Ala ndak lela halta Ala di kacih cama olang lain," jawab Ara.


"Bukannya Ara sudah mendapatkan harta opa dan oma. Kenapa Ara harus takut, saat daddy kamu mengancam tidak memberikan kamu harta?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Itu kalena Ala sudah mendapatkan halta opa dan oma. Sekalang Ala halus tinggal di lumah daddy, agal daddy membelikan halta na itu untuk Ala," jawab Ara dengan wajah tanpa dosa.


Hahahaha


"Diam kalian," bentak Angelina saat melihat mereka menertawakan dia.


"Ya, sudah jika Ara ingin pulang bersama mereka oma tidak akan melarangnya lagi," ujar Angelina yang kesal dengan cucunya itu.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Walaupun oma melalang Ala untuk tidak pelgi dali sini. Ala tetap akan ikut pelgi cama daddy. Mana mungkin Ala membialkan daddy membelikan halta na Ala buat olang lain," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


Mendengar perkataan Ara membuat mereka menahan tawanya agar tidak keluar. Berbeda dengan Angelina yang sudah kesal sejak tadi.


"Ya, sudah. Cepat Ara minta bantuan sama baby sister nya buat beresin barang-barang Ara agar kita bisa pulang sekarang juga," titah Alex dengan tegas.


"Oke. Dad... Ala pelgi ke dalam kamal dulu buat belesin Balang-balang na Ala," jawab Ara seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.


Beberapa Menit Kemudian


"Ayo dad... kita pelgi dali sini," ajak Ara yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.


"Ma... pa... kami pamit pulang dulu," ujar Alex pada orang tuanya.


"Iya... hati-hati di jalan," sahut David dengan cepat yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.





Bersambung..


Salam cinta ❤️❤️❤️ untuk kalian semuanya. love you semuanya.

__ADS_1


💖💖💖( by Aty Farah )💗💗💗


__ADS_2