
Di Perjalanan
"Kemana anda ingin membawa kami tuan Alex?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Tentu saja menemui calon mertua kamu," jawab Alex dengan santai.
"Apa?" teriak Claudia terkejut saat mendengar perkataan Alexander.
"Cepat turunkan aku di sini," titah Claudia dengan tegas.
"Kenapa kamu mau turun? Apa kamu tidak dengar apa kata aku tadi. Kalau kita akan menemui calon mertua kamu?" tanya Alex dengan bingung.
"Aku tidak ingin menemui orang tua kamu. Jadi, cepat turunkan aku di sini sekarang juga." Claudia menjawab dengan tegas.
"Apa kamu sudah lupa apa keinginan anak kita. Kalau sebentar lagi kita akan menikah. Jadi, tidak salah jika aku mengajak kamu menemui orang tua aku untuk meminta restu pada mereka," jelas Alex dengan suara lembut.
Mendengar perkataan Alex membuat Claudia langsung teringat pada anaknya tentang Ara yang menginginkan orang tuanya hidup bersama.
"Apa orang tua kamu mau menerima aku sebagai menantunya?" tanya Claudia dengan wajah takut akan di tolak oleh orang tua kandung Alex.
"Kamu tenang saja sayang. Aku yakin orang tua aku pasti menerima kamu sebagai menantu di keluarga lemos. Dan mulai sekarang kamu tidak boleh memanggil aku dengan sebutan tuan. Karena aku bukan majikan kamu melainkan calon suami kamu sekarang," ujar Alex seraya menenangkan calon istrinya itu.
"Tapi aku harus memanggil kamu apa?" tanya Claudia dengan bingung.
"Kamu bisa panggil aku dengan sebutan sayang," Alex menjawab seraya menggoda calon istrinya itu.
Mendengar perkataan Alex membuat Claudia salah tingkah dan wajahnya langsung berubah memerah bak kepiting rebus.
"Aku panggil mas Alex saja," ujar Claudia dengan cepat.
"Boleh juga dengan panggilan itu, aku suka. Mulai sekarang kamu harus memanggil aku dengan sebutan mas Alex. Jika aku mendengar kamu memanggil aku dengan sebutan tuan lagi, maka aku akan menghukum kamu dengan hukuman yang sangat nikmat," ujar Alex dengan mata genitnya.
"Apa maksud kamu dengan hukuman nikmat?" tanya Claudia dengan wajah polos.
Alex yang mendengar perkataan calon istrinya yang kelewatan polos berusaha menahan tawanya agar tidak meledak di depan Claudia.
"Oh Tuhan... Kamu sangat polos banget sih sayang. Aku ingin sekali bisa mengulang kembali kejadian dulu. Tapi aku akan bertahan agar tidak melakukan itu lagi sama kamu sebelum kita menikah," batin Alex yang merasa gemes dengan calon istrinya.
"Tidak apa-apa sayang. Nanti saja setelah kita menikah baru aku akan kasih tahu kamu hukuman yang aku maksud tadi," ujar Alex ambigu.
"Apa hubungan nya masalah ini dengan pernikahan kita?" tanya Claudia dengan polosnya.
"Tentu saja ada sayang. Tapi aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Tunggu saat kita menikah saja sekaligus mempraktekkan nya langsung agar kamu paham," ujar Alex dengan cepat.
"Kenapa mas Alex bicara tidak jelas seperti ini sih? Terserah mas Alex saja lah mau menjelaskan nya apa tidak. Aku tidak peduli lagi," ujar Claudia yang kesal dengan Alex.
Mendengar perkataan calon istrinya membuat Alex menahan tawanya agar tidak keluar. Dia sungguh, tidak menyangka ternyata calon istrinya ini masih sangat polos walaupun dia sudah pernah merasakannya dulu. Bahkan dia sekarang sudah menjadi seorang ibu bagi anak kandung dia sendiri tapi tetap saja belum paham apa yang dia maksud hukuman nikmat.
•
•
•
Tak Lama Kemudian
Sampailah mereka di mansion keluarga Lemos. Claudia yang baru pertama kali melihat Mansion yang sangat besar, mewah nan megah, hanya bisa melongo. Dia tidak menyangka ternyata mansion keluarganya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan mansion keluarga Lemos.
__ADS_1
Mansion Keluarga David Lemos
"Ayo turun sayang," ujar Alex dengan lembut saat dia melihat calon istrinya hanya diam saja sejak tadi.
"Hah... apa?" tanya Claudia saat dia sadar dari melamun nya.
"Kita sudah sampai sayang. Kamu turun duluan, biar Ara aku yang gendong saja ke dalam," ujar Alex dengan lembut.
"Apa tidak apa-apa kamu menggendong Ara? Sebaiknya kita bangunin dia saja biar dia jalan sendiri ke dalam," ujar Claudia yang tak enak harus merepotkan Alex.
"Kasihan Ara kalau sampai kita bangunin. lebih baik aku saja yang menggendong Ara ke dalam," ujar Alex yang di jawab anggukkan kepala oleh Claudia.
"Bi.. bibi," panggil Alex setelah masuk ke dalam mansion nya itu.
"Iya tuan muda." Apa ada yang bisa bibi bantu?" tanya pembantu itu dengan sopan.
"Apa bibi tahu di mana orang tua saya sekarang?" tanya Alex dengan tegas.
"Tuan sama nyonya ada di halaman belakang tuan," jawab pembantu itu lagi.
"Bibi bisa lanjutkan kerja sekarang," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan muda," jawab pembantu itu seraya pergi dari sana.
"Sayang... Sebaiknya kita pergi ke kamar aku saja dulu," ujar Alex dengan lembut.
"Untuk apa kamu mengajak aku ke kamar kamu? Apa kamu mau melecehkan aku lagi?" tanya Claudia seraya menyilang kan ke dua tangannya di depan dadanya itu dengan wajah takut.
"Pelan kan suara kamu sayang. Apa kamu tidak lihat anak kita sedang tidur. Kamu jangan berpikir yang macam-macam sama aku. Aku mengajak kamu ke kamar untuk menemani aku menaruh anak kita di tempat tidur agar dia bisa tidur dengan nyenyak." Jelas Alex dengan cepat agar calon istrinya tidak berpikir yang macam-macam sama dia.
"Maaf karena aku sudah berpikir macam-macam sama kamu tadi," ujar Claudia dengan wajah menyesal.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita masuk ke kamar aku saja. Kasihan Ara karena sejak tadi tidak bisa tidur dengan nyenyak," ujar Alex yang di jawab anggukan kepala oleh Claudia.
Claudia yang melihat kamar Alex langsung saja membuat dia melongo dan juga takjub. Apalagi dia bisa melihat pemandangan yang sangat indah yang ada di bawah sana.
Kamar Alexander
"Sayang... Ayo kita turun ke bawah. Biarkan Ara istirahat di kamar aku saja," titah Alex dengan lembut.
"Apa tidak apa-apa Ara di biarkan sendiri di sini? Bagaimana kalau dia bangun dan menangis saat melihat tidak ada satu orang pun di kamar ini," ujar Claudia yang merasa khawatir pada anaknya.
"Kamu tidak usah khawatir sama Ara. Aku yakin Ara tidak akan menangis. Lebih baik kita menemui orang tua aku di bawah saja," ujar Alex yang di jawab anggukan kepala oleh Claudia.
Saat ini mereka sudah berada di halaman belakang mansion keluarga Lemos yang sangat luas dan indah.
"Ma... pa... lihat siapa yang Alex bawa ke sini," ujar Alex dengan antusias saat mengenalkan Claudia sama orang tuanya.
Mendengar suara Alex membuat orang tua Alex menoleh ke belakang. Hingga membuat mereka terkejut saat melihat wanita yang pernah di lecehkan oleh putranya ada di depan mereka saat ini. Begitu pun Claudia tak kalah terkejutnya saat melihat wanita yang dulu pernah menolong putrinya ada di mansion ini.
"Kenapa kalian cuman diam saja? Apa kalian tidak senang aku membawa calon menantu untuk kalian?" tanya Alex yang merasa kesal dengan orang tuanya yang hanya diam saja sejak tadi.
__ADS_1
"Kamu serius mau menikah dengan Claudia?" tanya Angelina dengan antusias.
"Benar ma... Itu sebabnya aku membawa dia ke sini untuk meminta restu sama kalian berdua." Alex menjawab dengan cepat.
"Kalau calon menantu mama seperti ini. Mama pasti akan menerima dia dengan senang hati," ujar Angelina dengan wajah bahagia.
"Sebaiknya kalian duduk dulu di sofa itu. Biar kita bisa mengobrol dengan baik dan tenang," titah David dengan tegas.
"Baik Dad. Ayo sayang kita duduk dulu," ujar Alex seraya menuntun Claudia agar duduk di sampingnya.
"Kapan kalian menikah?" tanya Angelina dengan antusias.
"Satu minggu lagi ma. Alex menjawab dengan santai sementara yang lain malah terkejut saat mendengar perkataan Alex.
"Apa kamu pikir satu minggu cukup untuk mengadakan pernikahan kamu? tanya Angelina dengan wajah kesal.
"Bukannya ada mama yang bisa mengurus semuanya nanti. Aku yakin dalam waktu satu minggu mama pasti bisa mengurus pernikahan Alex dengan mewah," ujar Alex dengan santai.
"Apa yang di katakan Alex benar ma. Selama kita memiliki uang. Apapun keinginan kita pasti akan terwujud. Bukannya lebih cepat mereka menikah malah lebih baik," sahut David Lemos yang mendukung keinginan Alex.
"Baiklah. Kalian hanya perlu membeli cincin nikah dan Fitting baju pengantin saja. Sedangkan masalah lain biar mama yang urus semuanya. Mama akan membuat pernikahan ini dengan mewah dan meriah," ujar Angelina dengan antusias.
"Kenapa mereka mengadakan pernikahan tanpa bertanya dulu pendapat aku. Apa aku tidak ada artinya di mata mereka? Jika bukan karena keinginan Ara. Aku pasti tidak akan sudi menikah dengan laki-laki yang sangat aku benci," batin Claudia dengan kesal.
"Apa ayah kamu sudah tahu tentang pernikahan kamu?" tanya David pada Claudia.
"Daddy belum tahu om. Aku takut kalau daddy tidak merestui pernikahan kami," ujar Claudia dengan sendu.
"Sebaiknya kalian meminta restu dari ayah kamu juga. Apapun yang di katakan oleh ayah kamu nanti, kalian akan tetap menikah. Jadi kamu tidak perlu khawatir jika dia sampai menolak pernikahan kalian," titah David seraya memberi semangat sama calon menantunya biar tidak sedih lagi.
Mendengar perkataan David membuat Claudia terharu. Dia tidak menyangka ayah dari laki-laki yang sangat dia benci mau menerima dia menjadi menantunya. Padahal jika mereka mau, mereka pasti bisa mendapatkan calon menantu yang sepadan dengan mereka.
"Apa kalian pergi ke sini bersama Ara?" tanya Angelina mengalihkan pembicaraan agar calon menantunya tidak sedih lagi.
"Iya tante. Ara lagi tidur di kamar mas Alex sekarang," ujar Claudia dengan cepat.
"Mama mau melihat Ara dulu," ujar Angelina seraya pergi dari sana.
"Papa juga mau melihat Ara," sahut David langsung pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari mereka.
"Kenapa kamu putuskan sendiri tentang kapan kita menikah tadi sama orang tua kamu? Apa menurut kamu pendapat aku tidak penting?" tanya Claudia dengan kesal.
"Kenapa kamu marah sayang. Bukannya kita sudah sepakat untuk menikah. Menurut aku waktu satu minggu cukup untuk kita persiapkan pesta pernikahan kita. Apalagi ada mama yang akan membantu kita nanti," ujar Alex seraya terkekeh geli saat melihat wajah calon istrinya yang sedang marah tapi mengemaskan.
"Terserah kamu saja. Dasar laki-laki licik," ujar Claudia seraya pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya karena kesal dengan Alex.
Sementara Alex hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah calon istrinya seperti anak kecil.
•
•
•
Bersambung.....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1