One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Mencari Tahu Kebenaran )


__ADS_3

Di Mansion Alexander Lemos


Saat ini Claudia sudah selesai mempersiapkan keperluan yang ingin dia bawa dari Mansion ini. Karena dia sudah bertekad tidak akan kembali lagi ke Mansion ini.


"Ayo Clau kita pergi sekarang," ajak Alice seraya menyeret koper Claudia.


"Iya, kak," jawab Claudia seraya mengikuti Alice yang sudah berjalan duluan.


Di Luar Mansion


"Apa Ara benar tidak mau ikut sama mommy?" tanya Claudia dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Benal mom, Ala sudah sangat yakin ndak mau ikut cama mommy. Jaga dili mommy baik-baik di sana, mommy ndak usah khawatil cama Ala kalena Ala bisa jaga dili sendili," ujar Ara dengan cepat.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan Ara. Kalau begitu mommy pergi dulu," ujar Claudia seraya masuk ke dalam mobil Alice.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Oke mom, hati-hati di jalan. Jika mommy menemukan laki-laki yang lebih kaya dali daddy sebaik na mommy menikah saja dengan na. Dan lupakan saja daddy yang tukang selingkuh itu," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


"Apa anak ini tidak memiliki perasaan? Kenapa dia mudah sekali menyuruh ibunya menikah lagi dengan laki-laki lain sementara ibunya masih terikat pernikahan dengan ayahnya. Entah terbuat dari apa hati anak ini, sehingga dia tidak memiliki perasaan simpati sedikitpun pada orang tuanya," batin Alice sambil geleng-geleng kepala.


"Bagaimana mungkin mommy bisa menikah dengan laki-laki lain sedangkan mommy masih terikat pernikahan dengan daddy kamu? Jika mommy mau menikah lagi itu artinya mommy harus cerai dulu dari daddy kamu," ujar Claudia.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ah... Tenapa menjadi olang dewasa sangat libet? Bikin pala Ala pucing saja. Enakan menjadi anak kecil tidak banyak beban beda sepelti olang dewasa banyak sekali masalah yang ndak pelnah habis," ujar Ara.


"Bukannya setiap hari kepala kamu selalu pucing?" tanya Alice seraya menahan tawanya saat mendengar perkataan nya sendiri.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Itu cuman kata-kata ajaib Ala, kalau sekalang balu pucing benelan. Helan deuh aunty Lilis ini sudah tua tapi itu saja ndak ngelti entah tenapa daddy Maksim masih betah jadi suami na aunty Lilis," ujar Ara dengan mulut pedasnya.


"Hey bocah, apa kamu bisa sekali saja tidak menghina aunty hah," bentak Alice dengan emosi.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa aunty selalu menyalahkan Ala? Padahal aunty sendili yang mencali gala-gala cama Ala. Jika aunty ndak membuat Ala kesal Ala juga ndak akan menghina aunty," ujar Ara yang tidak mau kalah berdebat dengan Alice.


"Kau..."


"Sudah kak Al, lebih baik kita pergi saja dari sini. Aku takut mas Alex sudah pulang dari kantor," potong Claudia yang sudah malas mendengar perdebatan mereka.


"Oke," jawab Alice dengan cepat.


"Dan kamu Ara cepat masuk ke dalam. Ingat pesan mommy jangan bilang pada daddy di mana keberadaan mommy. Apa kamu mengerti," titah Claudia dengan tegas.


"Mommy tenang saja Ala ndak mungkin bilang cama daddy kebeladaan mommy. Bialkan saja daddy gelisah kalena ndak tahu halus mencali mommy di mana," ujar Ara dengan cepat.


"Kenapa kamu seperti nya dendam sekali pada daddy kamu? Bukannya selama ini kamu yang sudah menyatukan mereka berdua?" tanya Alice dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Itu dulu, sebelum daddy selingkuh cama pelempuan lain maka na Ala mau membantu daddy agal dekat dengan mommy. Belbeda dengan sekalang, daddy sudah melakukan kesalahan besal sehingga membuat mommy halus melasakan kesedihan gala-gala ulah daddy yang dekat dengan pelempuan jelek itu. Padahal kalau di lihat mommy jauh lebih antik dali pada wanita jelek itu, ya walaupun tubuh mommy sudah menjadi gendut setidak na wajah mommy masih antik," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


Mendengar perkataan Ara membuat Claudia kesal setengah mati. Awalnya dia sangat bahagia saat mendengar anaknya yang sedang memujinya tapi pada saat mendengar kelanjutan nya dia justru ingin sekali merobek mulut anaknya yang pedas itu.


Entah kenapa setiap anaknya bicara dia selalu darah tinggi. Untung dia bisa mengontrol emosinya. Jika tidak, anaknya pasti akan menangis dan malah menyalahkan dia jika membalas perkataan anaknya yang lebih pedas darinya. Lebih baik dia mengalah dari pada anaknya kesal yang ada malah dia yang rebut nanti.


"Kenapa setiap kali anak ini bicara selalu bikin orang emosi? Jika Claudia mengizinkan aku ingin sekali melempar anak ini ke curang biar di makan binatang buas sekalian," batin Alice dengan wajah kesal.


"Ayo kak Al, kita pergi sekarang," ujar Claudia yang tidak mau meladeni anaknya lagi.


"Oke," balas Alice seraya pergi dari sana.

__ADS_1


β€’


β€’


β€’


Di Perjalanan


Dreet... Dreet... Dreet...


πŸ“ž "Hallo ma! Ada apa?" tanya Claudia dengan lembut.


πŸ“ž "Bagaimana kabar kamu dan calon cucu mama? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Angelina dengan penasaran.


πŸ“ž "Hiks... Hiks..." Hanya tangisan yang terdengar di balik telepon sehingga membuat Angelina merasa cemas dan juga takut jika terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucunya.


πŸ“ž "Kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi pada kamu? Kenapa kamu menangis?" tanya Angelina dengan panik.


πŸ“ž "Mas Alex ma! Mas Alex selingkuh di belakang aku... Hiks... Hiks..." Jelas Claudia dengan terisak.


πŸ“ž "Apa?" teriak Angelina yang terkejut saat mendengar perkataan menantunya.


Mendengar teriakan ibu mertuanya membuat Claudia menjauhkan smartphone nya dari telinganya. Jujur saja, telinganya sangat sakit saat mendengar suara ibu mertuanya yang sangat keras.


πŸ“ž "Di mana kamu sekarang? Kamu tidak ada niatan kabur dari negara ini lagi kan?" tanya Angelina dengan panik.


Dia sangat takut jika menantunya akan kabur lagi dari negara ini. Jika itu benar terjadi maka dia akan kehilangan cucunya lagi.


πŸ“ž "Aku sekarang sudah keluar dari mansion mas Alex ma! Karena aku tidak mau sakit hati jika harus tinggal satu atap dengan tukang selingkuh." Jelas Claudia seraya menahan emosi.


πŸ“ž "Sayang! Jangan lakukan kesalahan yang sama lagi seperti dulu. Sekarang kamu datang ke mansion mama kita akan mencari tahu kebenaran dulu apa benar suami kamu selingkuh apa tidak? Jika benar Alex selingkuh dari kamu maka mama sendiri yang akan membantu kamu cerai dari nya dan mama janji anak-anak kamu akan jatuh ke tangan kamu," ujar Angelina yang sengaja membujuk menantunya agar tidak pergi meninggalkan negara ini sama seperti dulu.


Mana sanggup dia hidup terpisah dengan cucu kesayangannya itu. Apalagi menantunya sekarang sedang hamil anak kedua dia tidak mau jika kejadian dulu terulang lagi. Karena dia ingin bisa melihat cucunya yang masih bayi agar dia bisa menggendong dan bisa melihat tumbuh kembang cucunya itu.


Bukan seperti Ara yang sudah besar baru bisa dia lihat. Cukup sekali dia kehilangan momen seperti itu sekarang apapun akan dia lakukan agar menantunya tidak meninggalkan negara ini. Walaupun dia harus melawan anak kandung nya sendiri demi membela menantunya.


"Kak Al, kita ke mansion mama dulu ada yang ingin aku bicarakan dengan nya," ujar Claudia.


"Oke Clau," jawab Alice dengan cepat.


"Semoga saja tante Angel bisa membujuk Claudia agar tidak pergi dari negara ini," batin Alice dengan penuh harap.


Beberapa jam kemudian, saat ini Claudia dan Alice sudah sampai di mansion David Lemos. Mansion yang sangat bagus dan indah dengan interior yang sangat menarik dan elegan. Hanya orang-orang kaya yang dapat memiliki mansion semewah ini sementara kalangan bawah hanya dapat bermimpi.


Karena sampai kapan pun mereka tidak akan bisa memiliki mansion semewah ini kecuali dengan usaha dan kerja keras maka apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin jika Tuhan sudah berkehendak untuk menjadikan dia orang sukses di masa depan. Itu sebabnya perbanyaklah usaha dan berdoa agar keinginan kita bisa tercapai dan kita bisa menjadi orang yang sukses di masa depan.


"Kita sudah sampai Clau! Apa kamu mau aku temani?" tanya Alice dengan penasaran.


"Tidak usah kak, aku masuk sendiri saja. Sebaiknya kak Al pulang saja aku takut kak Maxim marah pada kakak karena pulang terlambat," ujar Claudia yang merasa khawatir pada Alice.


Dia tidak mau gara-gara membantu nya kakaknya malah ikut terkenak masalah dengan suaminya. Bagaimana pun kakak angkatnya sekarang sudah memiliki suami bukan seperti dulu yang masih bebas mau kemanapun tidak akan ada yang melarang.


"Ya, sudah. Aku pulang dulu, jaga diri kamu baik-baik jika ada apa-apa hubungi aku oke," ujar Alice.


"Oke kak," balas Claudia seraya masuk ke dalam mansion David Lemos.


Di Ruang Keluarga


"Clau! Kamu sudah datang? Ayo duduk di sini dulu," ujar Angelina seraya menuntun menantunya untuk duduk di sofa yang ada di mansion David Lemos.


"Baik ma," jawab Claudia dengan lembut.


"Coba cerita sama mama bagaimana kamu bisa tahu kalau Alex selingkuh dari kamu?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Aku melihat dengan mata kepala aku sendiri ma kalau mas Alex sedang asyik berpelukan dengan perempuan murahan itu di sofa ruangan kerja mas Alex." Jelas Claudia seraya menahan emosi.


"Apa?" teriak Angelina yang terkejut saat mendengar perkataan menantunya.

__ADS_1


"Apa kamu yakin kalau Alex selingkuh dengan perempuan itu? Bagaimana kalau apa yang kamu lihat itu belum tentu kebenarannya, bisa saja mereka tidak sengaja terpeleset dan akhirnya jatuh di sofa barengan," ujar Angelina dengan hati-hati takut membuat menantunya tersinggung.


"Kenapa mama malah membela mas Alex? Apa karena mas Alex anak kandung mama sendiri, makanya mama lebih membela dia dari pada aku?" tanya Claudia dengan emosi.


"Ma... maksud mama bukan begitu sayang! Mama cuman bicara kemungkinan. Jika seandainya Alex beneran selingkuh di belakang kamu maka mama orang pertama yang akan membela kamu nanti," ujar Angelina seraya terbata-bata.


Mendengar perkataan ibu mertuanya membuat Claudia terharu. Dia tidak menyangka bisa mendapatkan ibu mertua sebaik ini. Jika mertua lain pasti lebih membela anak kandung nya dari pada menantunya sendiri. Walaupun menantunya yang benar, tetap saja di mata mertua dia yang salah sedangkan anaknya malah di anggap benar.


"Terima kasih ma, karena mama lebih membela aku dari pada anak kandung mama sendiri," ujar Claudia dengan tulus.


"Sama-sama sayang! Mama pasti akan membela kamu jika terbukti anak kandung mama yang salah."


"Ya, sudah. Lebih baik kamu istirahat di kamar Alex dulu. Biar mama yang mencari tahu kebenaran tentang Alex. Jika benar dia selingkuh maka mama akan lebih membela kamu dari pada anak kandung mama sendiri," ujar Angelina dengan lembut.


"Bagaimana kalau mas Alex datang ke sini mencari aku nanti ma? Aku tidak mau ketemu mas Alex untuk saat ini ma," ujar Claudia dengan perasaan cemas.


"Kamu tenang saja mama janji tidak akan bilang pada Alex kalau kamu ada di sini. Sudah, kamu jangan takut. Lebih baik kamu istirahat dulu di kamar Alex. Karena mama tidak mau terjadi sesuatu pada calon cucu mama," titah Angelina dengan tegas.


"Oke ma." Saat Claudia mau pergi dari sana langsung di hentikan oleh Angelina sehingga membuat Claudia bingung. Karena tiba-tiba dirinya di hentikan oleh ibu mertuanya itu.


"Euh, tunggu dulu," ujar Angelina.


"Apa apa ma?" tanya Claudia dengan penasaran.


"Di mana Ara? Kenapa cuman kamu saja yang datang ke mansion ini? Apa kamu ingin pergi tanpa membawa Ara bersama dengan kamu?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Bukan aku tidak mau membawa Ara pergi bersama dengan aku ma. Tapi Ara sendiri yang tidak mau ikut dengan aku. Aku bahkan sudah berusaha membujuk Ara agar mau ikut bersama dengan aku tapi dianya yang tidak mau pergi. Jadi apa yang bisa aku lakukan selain pasrah." Jelas Claudia.


"Kenapa Ara tidak mau pergi dengan kamu? Bukannya selama ini Ara tidak mau jauh dari kamu? Bahkan dia pernah mengancam kamu jika kamu tidak mau menikah dengan Alex maka dia tidak akan mau bertemu dengan kamu lagi," ujar Angelina dengan penasaran.


Yah, dia sudah tahu alasan Claudia mau menerima anaknya. Padahal saat itu menantunya sangat membenci anaknya yang sudah membuat dia hamil di luar nikah tanpa tahu siapa orang yang telah menghamilinya.


"Itu karena Ara tidak mau harta yang telah menjadi miliknya jatuh pada wanita pelakor itu. Padahal dia sudah bersusah payah mendapatkan harta itu, mana mungkin dia membiarkan orang lain yang menikmati nya." Jelas Claudia.


"Apa?" teriak Angelina yang terkejut saat mendengar perkataan Claudia.


"Kamu serius Clau, Ara bicara seperti itu?" Angelina tidak menyangka cucunya bisa memiliki pemikiran seperti itu. Padahal umurnya masih empat tahun tapi pikirannya sudah seperti orang dewasa.


"Iya, ma. Dia juga bilang tidak mau ikut dengan aku karena takut hidup miskin. Padahal walaupun dia tinggal bersama dengan aku, Ara tidak akan hidup susah."


"Dia selama ini sudah terbiasa hidup dalam kemewahan makanya dia takut jika ikut dengan aku maka dia akan hidup pas-pasan. Aku bahkan sudah menjelaskan padanya walaupun dia tinggal dengan aku tidak akan hidup menderita, tapi tetap saja dia tidak percaya pada ku." Jelas Claudia.


Mendengar perkataan Claudia membuat Angelina geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka cucunya bisa menjadi anak matre seperti ini.


"Sekarang Ara sama siapa?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Bersama dengan Dian ma," jawab Claudia dengan lembut.


"Ya, sudah. Sebaiknya kamu istirahat di kamar Alex saja, pasti kamu capek habis dari perjalanan jauh tadi," ujar Angelina dengan lembut.


"Baik ma, aku mau istirahat dulu. Dan ingat, jika mas Alex menanyakan tentang aku bilang saja mama tidak tahu. Jujur saja aku belum siap jika harus bertemu dengan mas Alex," ujar Claudia.


"Oke, kamu tenang saja. Mama berjanji tidak akan memberitahukan pada Alex jika kamu ada di mansion mama," ujar Angelina seraya menenangkan menantunya agar tidak perlu khawatir.


"Terima kasih," ujar Claudia dengan tulus.


"Sama-sama," jawab Angelina dengan cepat.


"Ya, sudah. Aku pergi istirahat dulu," ujar Claudia yang di jawab anggukan kepala oleh Angelina.


β€’


β€’


β€’


Bersambung....

__ADS_1


🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿


__ADS_2