
Di Kamar Aldia (Alex & Claudia )
"Bagaimana keadaan kamu Clau?" tanya Ariana dengan penasaran.
"Sudah baikan ma," jawab Claudia.
"Syukurlah. Mama senang dengarnya," ujar Ariana.
"Apa mama sudah membujuk Ara tadi?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Sudah Clau. Tapi bukan mama yang membujuknya melainkan suami kamu." Jelas Ariana.
"Apa sekarang Ara sudah memaafkan kami?" tanya Claudia dengan cemas.
"Sudah Clau," jawab Ariana.
"Syukurlah," ujar Claudia dengan perasaan lega.
"Bagaimana cara mas Alex membujuk Ara?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu bagaimana cara suami kamu membujuk Ara. Yang penting Ara sudah memaafkan kalian dan juga mau menerima adiknya yang saat ini kamu kandung," sahut Alice.
Dia takut mamanya keceplosan bicara. Karena sebelum mereka menemui Claudia di kamarnya, Alex sudah memperingati mereka agar jangan pernah membahas masalah yang terjadi pada Ara. Jika sampai Claudia mengetahui masalah tadi bisa saja dia kepikiran dan akhirnya malah mengalami keguguran.
"Ternyata, mas Alex pintar sekali membujuk Ara sampai dia memaafkan kami dan juga mau menerima adiknya ini," ujar Claudia dengan senyum bahagia seraya mengelus perutnya.
"Bukan suami kamu yang pintar melainkan anak kamu. Asal kamu tahu Clau, anak kamu sekarang sudah menjadi penguasa baru di negara ini mengantikan suami kamu. Karena seluruh kekayaan suami kamu sudah jatuh pada Ara, sedangkan suami kamu sudah menjadi orang miskin yang tidak punya apapun lagi," batin Alice.
Dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada Claudia tentang kelakuan anaknya itu. Tapi, karena teringat ancaman Alex membuat dia mengurungkan niatnya itu.
"Kapan kak Alice menikah?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Bagaimana aku bisa menikah sedangkan pacar saja aku tidak punya," ujar Alice dengan ketus.
"Kenapa kak Alice jawabnya ketus seperti itu?" tanya Claudia dengan kening mengkerut.
"Bagaimana aku tidak ketus. Sudah tahu, kalau aku tidak memiliki pacar. Kenapa kamu malah menanyakan pertanyaan sensitif seperti itu?" tanya Alice.
"Mana aku tahu, kalau kak Alice belum punya pacar. Jika Aku tahu kak Alice belum punya pacar tidak mungkin aku menayangkan masalah itu," ujar Claudia.
"Lain kali kamu tanya dulu sama aku. Apa kamu sudah punya pacar apa belum? Jangan langsung kamu tanyakan, kapan kamu menikah," ujar Alice.
"Oke. Aku minta maaf. Apa sekarang kak Alice sudah puas?" tanya Claudia dengan kesal.
"Dari tadi kek kamu minta maafnya," ujar Alice.
"Pantesan Ara sangat membenci kak Alice. Karena kak Alice pantas untuk di benci, lihat saja kelakuan kakak ini. Bikin aku emosi saja," ujar Claudia dengan wajah kesal.
"Sudah cukup berdebat nya. Mama pusing dengerin kalian bertengkar dari tadi," sahut Ariana.
Mendengar perkataan Ariana membuat mereka berdua terdiam seperti patung. Mana berani mereka membantah perkataan mamanya.
__ADS_1
"Kasihan juga kak Alice sampai sekarang belum menikah. Apa aku jodohkan saja kak Alice dengan seseorang yang aku kenal. Ya, sepertinya ini ide yang sangat bagus," batin Claudia.
•
•
•
Di Ruang Maxim Almero
"Bagaimana keadaan nona Nabila? Apa dia sudah baikan?" tanya Ryan asisten pribadinya.
"Belum," jawab Maxim dengan yang frustasi saat memikirkan adiknya.
Ya, setelah Nabila pulang dari negara paris dia langsung mengurung diri di kamarnya. sehingga menyebabkan sakit seperti ini.
"Apa tuan tahu, penyebab nona Nabila menangis hingga sakit seperti ini?" tanya Ryan penasaran.
"Tidak. Aku sudah berulang lagi bertanya padanya kenapa dia menangis dan mengurung diri di kamarnya. Tapi, tetap saja dia tidak mau memberitahukan pada ku," ujar Maxim.
"Apa ini ada sangkut pautnya sama laki-laki yang di sukai oleh nona Nabila?" tanya Ryan.
"Itu tidak mungkin. Karena aku sudah lama menyuruh Nabila putus dengan laki-laki brengsek itu. Jadi, mana mungkin Nabila masih berani berhubungan dengan laki-laki yang paling aku benci itu," ujar Maxim seraya menahan emosi.
Saat dia mengingat kelakuan laki-laki yang di sukai oleh adiknya itu. Rasanya dia ingin sekali membunuh laki-laki itu karena sudah memanfaatkan kepolosan adiknya demi keuntungan laki-laki brengsek itu.
"Kenapa tuan tidak tanya pada teman nona Nabila? Bukannya kemarin nona Nabila pergi ke negara paris bersama temannya?" tanya Ryan.
"Kenapa Nona Nabila berbohong pada tuan? Bukannya selama ini nona Nabila tidak pernah berbohong pada tuan?" tanya Ryan yang penasaran.
"Aku juga tidak tahu, sejak kapan dia berbohong pada ku," ujar Maxim.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
"Ada apa Jessi?" tanya Maxim dengan penasaran.
"Maaf tuan Max! Saya mau memberitahukan pada tuan, kalau klien yang Anda tunggu sudah datang," ujar Jessica dengan sopan.
"Siapkan berkas kerjasama perusahaan kita sekarang," titah Maxim dengan tegas.
"Baik tuan Max," jawab Jessica seraya pergi dari sana.
"Tuan yakin mau bekerjasama dengan tuan Arkana?" tanya Ryan dengan perasaan cemas.
"Ada apa dengan tuan Arkana? Apa Ada yang kamu sembunyikan dari ku?" tanya Maxim dengan penasaran.
"Sebaiknya urungkan niat tuan untuk bekerjasama dengan tuan Arkana. Karena dia bukan orang yang baik, melainkan orang yang sangat licik. Sudah banyak perusahaan lain yang menjadi korban dari kelicikan tuan Arkana. Cuman satu perusahaan yang tidak berani dia usik karena takut dengan pemilik perusahaan itu." Jelas Ryan.
__ADS_1
"Siapa orang yang dia takutkan?" tanya Maxim dengan penasaran.
"Dia adalah tuan Alexander Lemos," jawab Ryan.
"Tentu saja dia tidak berani mengusik sang penguasa negara ini. Jika dia berani mengusik tuan Alex itu tandanya dia sudah siap menjadi pengemis di jalanan," ujar Maxim.
"Setelah tuan tahu kebusukan tuan Arkana. Apa tuan masih mau bekerjasama dengannya?" tanya Ryan dengan penasaran.
"Tidak," jawab Maxim.
Mendengar jawaban atasannya membuat Ryan menghela nafas lega. Untung dia bisa mengetahui kebusukan klien atasannya tepat waktu. Jika telat sedikit saja maka bisa di pastikan mereka akan mengalami kerugian yang sangat besar.
Di Ruang Meeting
"Bagaimana tuan Maxim? Apa anda mau bekerjasama dengan perusahaan saya?" tanya Arkana.
"Benar apa yang di katakan oleh Ryan jika laki-laki ini sangat licik. Jika aku tidak di beritahukan oleh Ryan maka bisa di pastikan akan masuk perangkap dia. Lihat saja proposal yang dia ajukan pada ku. Jika kita tidak teliti membaca berkasnya maka bisa di pastikan aku akan mengalami kerugian yang sangat besar," batin Maxim.
"Tidak," jawab Maxim dengan santai.
"Apa alasan anda menolak untuk bekerjasama dengan perusahaan saya?" tanya Arkana.
Hahahaha
"Wah... wah... ternyata anda sangat pintar berakting tuan Arkana. Apa anda pikir saya bodoh yang tidak tahu kebusukan kamu?" tanya Maxim seraya tertawa terbahak-bahak.
"Sial. Apa dia sudah tahu, kalau saya melakukan kecurangan pada proposal yang aku kasih padanya itu. Tapi, bagaimana dia bisa tahu, kalau proposal itu bisa membuat kerugian besar pada perusahaan nya itu. Bukannya selama ini aku selalu lolos saat melakukan kerjasama dengan perusahaan lain?" batin Arkana.
"Apa yang anda katakan tuan Maxim? Mana mungkin saya melakukan kecurangan seperti itu pada perusahaan anda." Kilah Arkana.
"Sudahlah tuan Arkana. Jangan main drama di depan saya. Karena saya sudah tahu semua kebusukan kamu itu. Lebih baik anda pergi dari perusahaan saya sebelum saya laporkan anda ke polisi. Anda tahu kan, jika melibatkan polisi itu artinya anda sudah siap masuk penjara," ujar Maxim seraya mengancam Arkana.
"Baik. Saya akan pergi dari sini," ujar Arkana seraya pergi dari sana dengan wajah ketakutan.
Hahahaha
"Kamu lihat yan... Expresi wajahnya tadi benar-benar sangat lucu. Baru di ancam sedikit saja sudah membuat dia ketakutan," ujar Maxim seraya tertawa terbahak-bahak.
"Wajar dia merasakan ketakutan, karena kejahatan dia sangat banyak. Jika sampai polisi menyelidiki dia, bisa di pastikan dia akan membusuk di penjaga seumur hidup," ujar Ryan.
"Terima kasih yan... Jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah masuk perangkap dia tadi," ujar Maxim dengan tulus. Dia sungguh, merasa beruntung bisa mendapatkan asisten pribadi yang baik dan setia seperti nya.
"Sama-sama tuan," jawab Ryan.
•
•
•
Bersambung.....
__ADS_1
✼ •• ┈┈┈┈๑⋅⋯ ୨˚୧ ⋯⋅๑┈┈┈┈ •• ✼