
Di Mansion Alexander Lemos
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
"Ada apa bi?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Itu nyonya, di luar ada teman nyonya yang ingin bertemu dengan nyonya Claudia." Jelas pembantu itu dengan sopan.
"Di mana dia bi?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Dia ada di ruang tamu nyonya," jawab pembantu itu.
"Baiklah. Bibi bisa lanjutkan pekerjaan bibi lagi," titah Claudia dengan tegas.
"Baik nyonya," jawab pembantu itu seraya pergi dari sana.
Tak
Tak
Tak
Mendengar suara langkah kaki seseorang membuat mereka yang sedang asyik bercanda langsung melihat ke asal suara. Saat tau siapa yang saat ini ada di dekat mereka langsung saja membuat mereka sangat senang dan bahagia.
"Clau! Aku kangen banget sama kamu. Bagaimana dengan ponakan aku? Apa dia baik-baik saja?" tanya orang itu yang tak lain adalah Alice Norin kakak angkat Claudia.
Yah, dia sengaja datang ke mansion Alexander karena sudah kangen dengan adik angkatnya dan juga ponakan cantiknya itu di tambah dengan calon ponakan barunya yang saat ini sedang di kandung Claudia.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu saja mommy baik-baik saja olang yang mengalami sakit dan lemas itu daddy," sahut Ara dengan cepat.
"Apa maksud Ara?" tanya Alice dengan bingung karena dia sama sekali tidak tau masalah yang terjadi pada Alexander.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa Ara bisa langsung jawab saja pertanyaan aunty? Kenapa setiap aunty bertanya kamu selalu menjawab, ihhh, pucing pala Ala?" tanya Alice dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa semua olang selalu plotes saat Ala bicala seperti ini? Ala juga ingin belhenti bicala ini tapi pada saat Ala mau melupakan kata-kata itu hati Ala menjadi sakit, dan juga sedih," ujar Ara dengan sendu.
"Oh Tuhan... Kenapa anak ini selalu membuat drama? Kenapa hanya melupakan kata itu saja bisa membuat dia sedih? Dasar bocah aneh," batin Alice dengan wajah kesal.
__ADS_1
Berbeda dengan yang lain yang ingin sekali tertawa saat mendengar perkataan Ara. Sungguh, mereka sangat heran kenapa Ara bisa menjadi anak yang sangat menyebalkan seperti itu.
"Oke, sekarang Ara boleh bicara apapun yang ingin Ara bicarakan, aunty berjanji tidak akan marah lagi yang penting Ara jawab dulu pertanyaan aunty, apa maksud perkataan Ara tadi?" tanya Alice dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Benelan aunty Lilis ndak akan malah jika Ala bicala sesuka Ala nanti?" tanya Ara dengan antusias.
"Tentu saja tidak," jawab Alice dengan penuh keyakinan.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Aunty sangat jelek, dan juga bodoh, tenapa daddy makcim mau menikah dengan aunty yang jelek ini? Padahal kalau daddy maksim mau menikah dia pasti bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih antik dan pintel dali pada aunty Lilis," ujar Ara dengan mulut pedasnya.
"Kau... Kenapa sekarang malah menghina aunty hah," bentak Alice.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa aunty Lilis malah membentak Ala? Padahal Ala ndak ada salah apapun, tadi aunty Lilis sendili yang menyuluh Ala bicala sesuka Ala tapi tenapa sekalang aunty Lilis malah malahin Ala? Sungguh, ini sangat menyakitkan... Hiks... Hiks... Tenapa semua olang membenci Ala? Apa Ala ndak belhak bahagia... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.
Hahahaha
Tawa yang sedari tadi mereka tahan akhirnya pecah juga. Sungguh, mereka tidak tahan lagi jika harus menahannya karena itu akan membuat perut mereka sakit jika harus menahan tawanya.
"Hey bocah licik kenapa malah kamu yang menangis? Padahal kamu yang salah di sini kenapa kamu malah menyalahkan aunty?" tanya Alice seraya menahan emosi agar tidak meledak. Dia sangat menyesal datang ke mansion ini, dia pikir keponakannya itu sudah berubah menjadi anak baik tapi nyatanya keponakannya bukannya tambah baik tapi dia malah tambah menyebalkan.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Walaupun aunty jelek yang penting laku. Sedangkan kamu belum tentu ada laki-laki yang mau sama kamu apalagi jika mereka tau bagaimana sifat asli kamu yang ternyata perempuan licik dan juga matre. Aunty sangat yakin mereka pasti akan meninggalkan kamu," ujar Alice dengan sinis.
Sebenarnya Alice tidak ingin bicara seperti ini pada keponakan cantiknya itu, tapi dia tidak bisa menahan emosinya saat berhadapan dengan keponakannya yang nakal itu.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ck! Jangan samakan Ala dengan aunty yang mempunyai wajah pas-pasan. Jika aunty ndak laku itu wajal kalena wajah aunty emang ndak ada yang menalik sedikitpun. Belbeda dengan wajah Ala yang sepelti bidadali yang tulun dali kayangan jadi sudah pasti banyak laki-laki yang telgila-gila dengan wajah antik Ala ini telmaksud anak aunty nanti," ujar Ara dengan sombong.
"Euh bocil, jika bermimpi jangan terlalu ketinggian. Jika aunty memiliki anak laki-laki orang pertama yang aunty suruh jauhin adalah kamu biar anak aunty tidak terjerat pada wanita licik dan matre seperti kamu," ujar Alice dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Kita lihat saja nanti. Ala sangat yakin walaupun Ala ndak melayu anak aunty tapi anak aunty sendili yang akan mengejal cinta Ala. Jika itu teljadi maka Ala akan menolak anak aunty dengan mentah-mentah kalena Ala ndak mau memiliki ibu meltua yang celewet sepelti aunty," ujar Ara seraya mengejek.
"Siapa juga yang mau memiliki menantu seperti kamu. Bahkan aunty selalu berdoa agar anak-anak aunty jangan sampai menyukai wanita matre seperti kamu," ujar Alice tak ingin kalah mengejek Ara.
"Apa kalian bisa berhenti berdebat? Aku sangat pusing mendengar kalian bertengkar sedari tadi," sahut Claudia dengan wajah kesal saat mendengar perdebatan Ara dan Alice.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
__ADS_1
"Ini semua gala-gala aunty Lilis mommy. Dia yang lebih dulu mencali gala-gala cama Ala, kalau mau salahin salahkan saja aunty Lilis," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.
"Diam kamu Ara. Kenapa kamu selalu menyalahkan orang lain? Padahal sudah jelas kamu yang mulai duluan tadi," ujar Claudia dengan wajah kesal saat mendengar anaknya justru malah menyalahkan orang lain padahal sudah jelas dia yang salah di sini tapi malah tidak mau mengaku.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oh Tuhan... Beginilah nasib anak punut. Walaupun Ala ndak belbuat jahat tapi tetap saja di salahkan. Entah sampai kapan pendelitaan Ala bisa belakhil. Sungguh, Ala ndak sanggup lagi hidup mendelita sepelti ini... Hiks... Hiks..."
"Sakit... Hiks... Hiks... tenapa batin Ala selalu teltekan? Ala ndak tahan lagi tinggal di lumah ini. Ala ingin pelgi dali lumah ini kalena Ala ndak kuat lagi halus satu atap cama olang yang ndak sayang cama Ala," ujar Ara seraya terisak.
"Ya, sudah. Jika Ara ingin pergi dari sini pergi saja untuk apa Ara harus meminta izin segala," ujar Claudia dengan wajah kesal pada anaknya yang selalu mengancam ingin minggat dari rumah ini.
"Clau! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyuruh cucu mama pergi dari mansion ini? Kamu sangat tahu cucu mama itu masih sangat kecil, kemana dia harus pergi, apa kamu tidak kasihan pada anak kamu sendiri?" tanya Angelina yang sangat kesal dengan menantunya saat mendengar perkataan dia tadi.
"Tapi bukan aku yang menyuruh dia pergi dari sini, tapi dia sendiri yang mau pergi dari mansion ini," ujar Claudia yang sebenarnya tidak ada niatan mengusir anaknya sendiri. Dia sengaja bicara seperti itu agar anaknya bisa jera dan tidak lagi mengancam ingin minggat dari mansion ini.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Siapa juga yang mau pelgi dali lumah ini. Asal mommy tahu semua halta daddy baik lumah ini, pelusahan, bahkan halta daddy yang lain pun sudah menjadi milik Allabella Anastasya Lemos. Jadi Ala ndak mungkin pelgi dali lumah ini setelah belsusah payah mendapatkan na dali daddy. Lagian Ala hanya belcanda saja tadi yang mengatakan mau minggat dali lumah besal ini," ujar Ara.
"Apa?" teriak Claudia yang terkejut saat mendengar perkataan Ara.
"Bagaimana mungkin mas Alex memberikan seluruh hartanya sama kamu? Apa mas Alex tidak memikirkan anak yang sedang aku kandung ini?" tanya Claudia dengan wajah shock.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Mommy tenang saja, walaupun daddy membelikan sululuh halta na pada Ala. Ala beljanji ndak akan belbuat jahat. Lagian kalian semua masih bisa menikmati halta ini sepelti Ala," ujar Ara yang emang tidak ada niatan untuk menguasai harta ayahnya untuk dirinya sendiri.
"Jika Ara tidak memiliki niat jahat, kenapa juga Ara meminta daddy agar mengalihkan seluruh harta ini menjadi milik Ara?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu saja beljaga-jaga jika ada anak lain yang ingin menguasi halta ini dan malah menyuluh mommy dan daddy agal mengusil Ala dali lumah ini. Jadi, sebelum dia memiliki niat jahat itu Ala yang lebih dulu melakukan itu pada na nanti," jawab Ara dengan cepat.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Mana mungkin adik kamu punya pemikiran seperti itu, karena mommy sangat yakin anak mommy kali ini pasti sangat lugu, dan baik seperti mommy dia tidak akan mengikuti jejak kamu dan daddy kamu itu yang memiliki sifat sombong, licik, dan kejam," ujar Claudia seraya mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sekalang Ala sudah tau kalau mommy lebih sayang adik Ala dali pada Ala sendili. Jadi, jika ada masalah apapun Ala ndak akan membicalakan pada mommy lagi. Kalena pelcuma Ala bicala cama mommy, pasti yang mommy bela adik Ala walaupun dia belsalah, sedangkan Ala ndak akan telihat baik di mata mommy kalena di mata mommy Ala ini hanyalah anak nakal, dan kejam," ujar Ara seraya pergi dari sana dengan hati terluka.
•
•
•
Bersambung.....
__ADS_1
💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥