One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Di Pulau Alimatha Maldives )


__ADS_3

Di Resort pribadi yang ada di pulau Alimatha Maldives, Daffa dan Aluna sedang menikmati suasana bulan madu kedua mereka yang terasa lebih intim dan syahdu.


Sesuai dengan keinginannya, Aluna memakai bikini model two pieces berwarna merah. Tapi Aluna melapisi bikini itu dengan sebuah outer putih tipis sehingga warna yang kontras semakin membuatnya terlihat seksi.


"Seksi banget istriku," ujar Daffa sambil menatap penampilan Aluna yang memang sengaja menunjukkan lekuk tubuhnya.


"Seksi hanya untuk dirimu. Eh, ini beneran nggak ada yang lihat, kan?" tanya Aluna sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


Resort pribadi yang mereka tempati memang terlihat sepi karena pengelola menjamin privasi setiap pengunjung terjaga dengan baik. Jadi, tidak ada yang akan menganggu satu sama lain.


"Aman," ujar Daffa memastikan." Aku sudah meminta agar pelayan tidak datang sampai sore nanti. Jadi hanya aku yang akan menikmati keseksian tubuhmu ini," ujar Daffa seraya mengedipkan matanya.


Aluna yang mendengar perkataan Daffa merasa malu dan salah tingkah. Setelah itu dia memasang kaca mata gelap yang melindungi matanya dari silau cahaya matahari langsung.


Kemudian Aluna merebahkan dirinya di samping Daffa yang menyambutnya dengan pelukan. Daffa sendiri dalam posisi tiduran di atas kursi pantai yang di lapisi busa lembut. Dia tidak mengenakan baju, hanya mengenakan celana kain pendek sepaha saja.


Kaca mata hitam yang dipakai Daffa membuat wajah tampangnya semakin mempesona dan Aluna juga memuji suaminya dengan terus tarang.


"Aku nggak akan rela kalau mas buka baju di depan perempuan lain," ujar Aluna sambil mengelus perut suaminya yang keras dan berotot kotak-kotak.


"Memangnya dalam rangka apa aku harus membuka baju di depan perempuan lain? Ada-ada saja kamu ini," balas Daffa sambil memencet hidung istrinya dengan lembut.


"Apapun alasannya, aku nggak rela ada perempuan lain yang menikmati pesona suamiku." Aluna berujar sambil menggerakkan tangannya ke tonjolan yang ada di bawah pusar Daffa." Apalagi ini..." Lanjutnya lagi.


Daffa segera menangkap tangan Aluna agar tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi terhadap kejantanannya.


"Jangan berpikir macam-macam, sayang," seru Daffa sambil meletakkan tangan Aluna di atas dadanya." Aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal nakal selain pada istriku sendiri," ujar Daffa.


"Mungkin saja penyakit kamu yang suka celap celup itu kambuh lagi saat melihat wanita di luar sana yang jauh lebih cantik dan seksi dari aku," ujar Aluna seraya menyindir masa lalu suaminya yang suka mempermainkan perasaan wanita.


Daffa memegang pipi Aluna dan mencium bibir istrinya dengan ******* lembut dan halus.


"You are my everything," bisik Daffa setelah ciuman mereka terlepas.


Aluna tidak membalas ucapan romantis suaminya, tapi dia meraih tengkuk Daffa untuk kembali berpagutan. Mereka tidak akan pernah bosan menikmati bibir satu sama lain, tidak hanya sebagai wujud gairah tapi juga sebagai penyampaian rasa kasih sayang keduanya.


"Mau snorkeling, nggak?" tanya Daffa sambil melingkarkan tangan ke pinggul istrinya dengan erat.

__ADS_1


"Nggak. Nanti aku tenggelam," jawab Aluna dengan perasaan takut.


"Masa aku tega biarin istri sendiri tenggelam, itu tidak mungkin aku lakukan," ujar Daffa.


Aluna tertawa kecil sambil merebahkan kepala di dada Daffa." Kita di sini aja dulu, mas," ujar Aluna dengan lembut.


"Oke, sayang," tukas Daffa dengan singkat.


"Olahraga apa yang nggak bisa mas Daffa lakukan? Kok kelihatannya serba bisa," ujar Aluna dengan penasaran.


Mulai dari berenang, tenis, voly, dan masih banyak olahraga lainnya yang bisa Daffa lakukan dengan baik. Dia mengetahui ini semua dari adik iparnya saat tak sengaja Aluna melihat medali milik suaminya saat dia berkunjung ke mansion orang tuanya Daffa sehingga dia penasaran dan akhirnya adik iparnya menceritakan itu semua padanya. Aluna merasa bahwa suaminya terlalu too good to be true sebagai laki-laki.


"Panjat tebing," jawab Daffa.


"Kenapa? Bukannya kamu sangat pandai memuaskan para wanita mu dulu?" tanya Aluna dengan tatapan mengejek.


"Apa hubungannya memanjat tebing dengan memuaskan para wanita ku dulu?" Daffa tidak habis pikir dengan istrinya ini, dia sedang membahas masalah panjat tebing, tetapi istrinya justru malah membahas masalah lain.


"Bukannya itu sama-sama memanjat, bedanya jika panjat tebing kita naiknya berbatuan satu persatu sedangkan yang sering kamu lakukan dengan para wanita mu adalah memanjat tubuh mereka satu persatu hingga kamu puas." Aluna tidak henti-hentinya membahas masa lalu suaminya yang suka mempermainkan wanita. Karena dia benar-benar sangat kesel saat mengingat masa lalu suaminya yang suka celap celup. Padahal saat suaminya melakukan itu dengan nya dia masih suci dan belum tersentuh oleh laki-laki manapun sedangkan dia harus mendapatkan seorang Casanova.


"Kalau itu aku ahlinya, buktinya kamu selalu teriak keenakan saat aku menusuk kamu terlalu dalam sehingga kamu meminta lebih kencang lagi untuk di goyang olehku," ujar Daffa dengan tatapan genit.


"Berhenti bicara seperti itu," ujar Aluna dengan kesal.


"Siapa tadi yang memancing aku duluan?" Jadi, jangan salahkan aku jika meladeni perkataan kamu tadi," ujar Daffa.


"Jangan bahas masalah itu lagi," ujar Aluna.


"Oke," jawab Daffa dengan singkat.


Tangan Daffa tetap melingkari pinggang istrinya dan mengelus-elus perut datar Aluna. Angin berembus dengan lembut dan memberi kesejukan meski matahari bersinar dengan terik.


Hamparan lautan yang biru dan jernih membuat keindahan alam yang begitu luar biasa. Tapi bagi Daffa, keinginan yang paling mempesona tetaplah tubuh istrinya sendiri.


"Kamu sendiri bagaimana? Olahraga apa yang kamu sukai?" tanya Daffa dengan penasaran.


"Dulu nggak ada, tapi sekarang aku suka melakukan olahraga yang menyenangkan," jawab Aluna.

__ADS_1


"Olahraga apa itu?" tanya Daffa dengan penasaran.


"Riding your ****," bisik Aluna di telinga suaminya.


"Damn," ujar Daffa sambil meremas pinggul istrinya." Kenapa akhir-akhir ini kamu suka sekali bersikap nakal dan menggodaku?" tanya Daffa.


"Aku belajar darimu," balas Aluna sambil mengulas senyum miring.


"Masa sih?" tanya Daffa.


"Pura-pura tidak tahu," cibir Aluna sambil mencubit perut suaminya itu." Lagipula, jika bukan suamiku yang harus kugoda, terus siapa lagi?" tanya Aluna.


Daffa melepas kaca mata hitamnya dan meletakkan benda itu sembarangan. Dia bertumpu pada kedua siku dan mengukung Aluna dengan kedua lengannya.


Di ciumnya bibir Aluna dengan hisapan kuat yang lama. Sebelah tangan Daffa menyibak outer yang dikenakan Aluna dan mengelus permukaan tubuh istrinya dengan liar.


"Mind to ride my ****?" tanya Daffa.


"Right now?" Aluna menatap suaminya dari balik kaca mata hitam yang dikenakannya.


"Absolutely, right now," balas Daffa.


"Tapi tidak di sini, mas," ujar Aluna.


"Kita lakukan di dalam, oke?" tanya Daffa yang di tanggapi anggukan kepalaberh Aluna.


Daffa melingkarkan kedua kaki Aluna ke pinggangnya dan Aluna berpegangan di leher Daffa. Setelah itu Daffa mengangkat tubuh istrinya yang ramping dengan mudah. Sementara itu, Aluna menempel di tubuh Daffa seperti koala. Setelah itu mereka melakukan hubungan suami istri dengan penuh semangat hingga mereka kelelahan dan akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.





Bersambung...


Bayangan saja sendiri, author tidak bisa menulis dengan jelas masalah ranjangnya takut di tolak nanti.

__ADS_1


Selamat membaca


🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿


__ADS_2