One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Pura-pura Miskin )


__ADS_3

Masih Di Restoran


"Apa Ara mau tambah lagi, biar Oma pesan lagi untuk Ara?" tanya Angelina saat melihat Ara yang makan dengan saat lahap.


"Ala sudah kenyang oma. Tapi besok Ala ndak tahu lagi apa bisa makan enak apa ndak," ujar Ara dengan wajah sendu.


"Ara tidak perlu sedih seperti itu lagi oke. Ini oma ada sedikit uang buat Ara. Jadi Ara tidak perlu lagi menahan lapar. Jika Ara perlu sesuatu lagi, Ara tinggal telpon oma," ujar Angelina seraya memberikan amplop uang yang isinya sangat tebal.


"Aku juga ada sedikit uang buat Ara. Jadi Ara tidak perlu sedih lagi oke. Benar kata tante Angel jika Ara mau sesuatu tinggal bilang saja sama tante Angel. Pasti tante Angel akan membelikan apapun yang Ara minta," sahut Alya Putri seraya memberikan uang kepada Ara.


"Ah... betapa beluntung na Ala. Sudah dapat balang mahal, cekalang Ala dapat uang lagi. Ndak lugi Ala pula-pula jadi olang miskin. Cekalang tabunan Ala beltambah lagi. Ah senangna hati Ala... Hehehehe..." Ara membatin dengan mata berbinar-binar saat menerima uang dari mereka.


"Maaf tante. Sebaiknya tante Angel tidak perlu repot-repot memberikan Ara uang segala. Saya merasa tidak enak tante," ujar Claudia.


"Tidak apa-apa Clau. Tante ikhlas memberikan Ara uang ini. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak oke," ujar Angelina dengan cepat.


"Tapi Tan....


"Sudahlah mommy. Oma saja sudah bilang ndak masalah membelikan Ala uang. Tenapa mommy masih menolakna. Ala kan ndak meminta, tapi oma sendili yang membelikan na," potong Ara dengan cepat sebelum Claudia melanjutkan ucapannya itu.


"Yang di katakan Ara benar Clau. Saya memberikan uang itu biar Ara tidak kelaparan lagi seperti sebelumnya. Apa kamu tidak kasihan dengan anak kamu yang harus menahan lapar gara-gara kalian tidak sanggup membelikan Ara makanan," sahut Angelina yang tak ingin Claudia menolak pemberian nya itu.


"Apanya yang kelaparan tante? Setiap hari Ara selalu makan enak. Bahkan kami sendiri memiliki beberapa restoran yang sangat terkenal. Jadi Ara tidak mungkin hidup dalam kemiskinan apalagi kelaparan. Kalian benar-benar bodoh sekali karena masuk dalam perangkap anak ini," batin Alice.


"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih atas semua bantuan tante Angel dan juga kak Alya," ujar Claudia dengan pasrah.


"Sama-sama," jawab Angelina sementara Alya hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu," sahut Alice dengan cepat karena dia sudah malas mendengar drama Ara sejak tadi.


"Gawat. Mereka mau pulang lagi. Aku harus bisa mengambil sampel rambut Ara buat aku lakukan tes DNA dengan Alex nanti. Karena aku Sangat yakin kalau Ara anak kandung Alex," batin Anggelina.


Tiba-tiba." Awwwsstt... Sakit oma! Tenapa oma menalik lambut Ala? Kalau Ala ndak antik lagi gimana?" tanya Ara dengan wajah kesal saat tiba-tiba Angelina menarik rambutnya yang terasa sakit.


"Oh... ya ampun... maafkan oma sayang! Oma tidak sengaja tadi," uar Angelina seolah-olah terkejut.


"Ndak apa-apa, Ala sudah maafin oma. Kalena Ala tahu oma pasti ndak sengaja tadi," ujar Ara.


"Wah... kamu baik sekali sayang," ujar Anggelina dengan bahagia. Karena dia sudah berhasil mengambil sampel rambut Ara.


"Oh ya... untuk kenangan-kenangan bagaimana kalau kita berfoto dulu," ujar Angelina dengan maksud tertentu.


Tanpa curiga sedikitpun mereka langsung saja melakukan apa yang di minta oleh Angelina.

__ADS_1


"Baik Tante," jawab Claudia seraya berjalan ke arah mereka untuk melakukan foto Selfi bersama dengan Angelina.


"Tante Angel, kak Alya kami pamit pulang dulu," ujar Claudia dengan sopan.


"Iya, hati-hati di jalan," ujar Angelina dengan cepat.


Akhirnya mereka pergi dari sana tanpa curiga sedikitpun dengan Angelina yang ingin melakukan tes DNA dengan Arrabella.




Di Perjalanan


"Apa yang kamu lakukan tadi Ara? Kenapa kamu mempermalukan mommy seperti itu? Pakek bilang mommy orang miskin yang kerjaannya jualan kue keliling. Sejak kapan mommy menjual kue keliling?" tanya Claudia dengan tatapan tajamnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudah lah mommy. Jangan jadi olang celewet bisa ndak. Ala pucing dengal na. Jika Ala ndak bicala cepelti itu. Maka Ala ndak akan mendapatkan uang dan balang-balang mahal ini," ujar Ara tanpa dosa sedikitpun.


"Apa kamu bilang? Kamu pikir mommy tidak mampu membelikan kamu barang mahal seperti itu. Bukannya mommy mengajak Ara ke moll untuk membelikan Ara barang yang Ara inginkan?" tanya Claudia dengan wajah kesal.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Oke. Ala akan menjawab na. Mommy jadi olang ndak sabal sekali sih. Begini mommy, Ala bicala cepelti itu sebenal na untuk membuat nenek sihil itu malu dan juga ingin dia di usil dali moll itu.


"Tapi Ala ndak tahu. Malah mendapatkan kebeluntungan cepelti itu dengan beltemu oma baik itu. Ah senangna Ala bisa dapat uang dan balang-balang mahal cepelti ini." Jelas Ara dengan mata berbinar-binar.


Mendengar perkataan anaknya membuat Claudia melongo dan juga terkejut. Dia tidak menyangka anaknya sendiri memanfaatkan dia demi keuntungan nya sendiri.


"Apa benar dia anak aku Tuhan? Kenapa Ara tega sekali menjual nama baik aku hanya demi mendapatkan uang dan barang-barang gratis," batin Claudia dengan wajah kesal.


"Ya, sudah kalau begitu. Mommy tidak akan memberikan Ara uang lagi. Apalagi Ara sekarang sudah mendapatkan banyak uang dari mereka," ujar Claudia.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ndak bisa begitu dong mommy. Enak saja mommy ndak mau membelikan Ala uang lagi. Uang ini dali hasil kelingat Ala cendili. Ala halus menangis segala sampai ail mata Ala habis." Protes Ara dengan wajah kesal.


"Apa kamu bilang? Dari hasil keringat kamu? Hey bocil, bukannya kamu cuman mengeluarkan air mata buaya hanya untuk menipu orang biar mereka kasihan dengan kamu. Jadi, apanya dari hasil keringat kamu? Dasar ratu drama," sahut Alice yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa setiap Ala bicala. Aunty selalu ikut campul ulusan Ala. Apa aunty ndak bisa diam saja. Pucing pala Ala mendengal suala aunty Lilis yang jelek itu," ujar Ara dengan mulut pedasnya.

__ADS_1


"Kalau kamu mau aunty diam. Sebaikna kamu diam juga. Pala aunty juga pucing mengelti," ujar Alice yang meniru bicaranya Ara.


Ara yang mendengar perkataan Alice hanya memutar bola matanya malas. Karena dia sudah malas berdebat dengan Alice yang tak akan ada habisnya.


"Kenapa Ara masih mau meminta uang sama mommy? Bukannya Ara yang bilang sendiri kalau mommy orang miskin," ujar Claudia yang masih kesal sama Ara.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudah lah mommy. Jangan membahas masalah itu lagi. Sebaikna mommy cepat kacih Ala uang bial Ala bisa menyimpan di tabunan na Ala nanti," ujar Ara dengan cepat.


"Ara sudah memiliki banyak uang. Jadi untuk apa Ara meminta sama mommy lagi?" tanya Claudia dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tentu saja bial Ala bisa masuk jadi model telkenal," jawab Ara dengan percaya diri.


"Apa?" teriak Claudia yang terkejut saat mendengar perkataan anaknya yang ingin menjadi seorang model.


"Kalau Ara ingin menjadi model, mommy bisa membantu Ara nanti. Jadi Ara tidak perlu repot-repot menabung uang yang banyak. Ara hanya perlu menabung seperlunya saja. Karena jika Ara mau sesuatu mommy masih sanggup memberikannya untuk Ara," ujar Claudia.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Mommy ndak ngelti juga dali tadi. Ala sengaja menabung uang yang banyak. Bial suatu saat kalau mommy bangkluk. Ala masih Puna uang cendili," ujar Ara tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah bicara seperti itu.


"Apa?" teriak Claudia yang saat syok mendengar perkataan anaknya.


"Apa Ara selama ini mendoakan mommy agar bangkrut?" tanya Claudia dengan tatapan tajamnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ala kan... cuman beljaga-jaga saja. Jika teljadi sesuatu cama lestolan mommy. Ala masih Puna tabunan na cendili. Bukan maksud Ala mendoakan mommy agal bangklut," ujar Ara yang tak mau di salahkan.


"Oh Tuhan... Anak ini benar-benar bikin aku emosi. Rasanya aku tidak sanggup lagi mengurus anak ini. Apa ada yang mau menampung anak ini," batin Claudia seraya menahan emosi nya agar tidak meledak.





Bersambung....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2