One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Menemui Pengacara Keluarganya )


__ADS_3

Di Rumah Claudia


"Kamu yakin ingin menemui Pengacara Keluarga kamu Clau?" tanya Ariana dengan wajah khawatir.


"Tentu saja ma. Aku harus bisa bergerak secepatnya biar mereka tidak lagi menghamburkan uang keluarga aku ma. Karena sampai kapan pun aku tidak rela melihat mereka bahagia diatas penderitaan aku dan daddy," ujar Claudia dengan wajah penuh emosi.


"Aku juga mau ikut kamu Clau. Karena aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri ke sana," sahut Alice dengan cepat.


"Mama juga mau ikut Clau," sahut Ariana yang juga ingin ikut dengan mereka.


"Ok. Aku akan pergi bersama kak Alice saja. Sementara mama di rumah saja. Karena aku tidak mau mama sampai terluka nanti."


"Tolong mama jaga Ara di rumah saja," titah Claudia dengan tegas.


"Baiklah. Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, mama ikut saja," ujar Ariana dengan pasrah.


"Gawat. Ala halus bisa ikut cama mommy. Kalena Ala tahu mommy cama aunty Lilis pasti ndak akan bisa melawan olang jahat itu. Kalena mommy cama aunty Lilis olang na bodoh sekali dan mudah di tipu cama olang. Ala halus masuk ke dalam mobil cekalang juga. Sebelum meleka melihat Ala," batin Ara seraya pergi dari sana.


"Ya, sudah aku sama kak Al pergi dulu ma," ujar Claudia yang di anggukan kepala oleh Ariana.


"Apa kamu punya alamatnya Clau?" tanya Alice seraya menyetir mobil saat ini.


"Ini alamat pengacara itu kak Al," ujar Claudia seraya memberikan alamat pada Alice yang langsung di terima olehnya.


"Kamu yakin kita cuman pergi berdua saja Clau. Bagaimana kalau orang itu berbuat jahat sama kita? Bagaimana kalau kita menyewa bodyguard untuk berjaga-jaga agar orang itu tidak bisa mencelakai kita nanti?" tanya Alice yang merasa takut.


"Kak Al tenang saja. Aku yakin kita akan baik-baik saja disana," ujar Claudia seraya menenangkan Alice yang merasa khawatir sejak tadi.


"Baiklah Clau. Aku percaya saja sama kamu," ujar Alice dengan wajah pasrah.


"Benal kan kata Ala kalau meleka emang bodoh. Tenapa meleka cuman pelgi beldua saja? Apa meleka ndak takut cama olang jahat itu? Cih... cepelti meleka pintal bela dili saja.


"Untung ada Ala yang ikut pelgi dengan meleka. Kalena Ala memiliki selibu cala buat mengalahkan olang jahat itu. Lihat saja nanti Ala pasti yang menjadi pemenang na," batin Ara dengan seringai liciknya.


Beberapa Jam Kemudian


"Clau! Apa benar ini kantor pengacara keluarga kamu?" tanya Alice yang saat ini sedang berdiri di kantor pengacara.


"Benar kak Al. Daddy sendiri yang memberikan alamat nya sama aku kemarin, " ujar Claudia dengan cepat.


"Ya, sudah kita masuk saja ke dalam," ujar Alice seraya masuk ke dalam kantor pengacara tersebut.


"Permisi! Apa benar ini kantor pengacara pak Steven?" tanya Alice pada resepsionis itu.


"Benar sekali nona. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis itu dengan sopan.


"Kami ingin bertemu dengan pak Steven. Apa dia ada di ruangan nya?" tanya Alice.


"Maaf. Apa kalian sudah membuat janji dengan pak Steven?" tanya resepsionis itu.


"Sudah. Apa kami bisa bertemu dengan nya?" tanya Alice seraya berbohong.


"Oh... tentu saja nona. Biar petugas kami yang mengantar kalian ke ruangan nya," ujar resepsionis itu dengan sopan.


"Terima kasih," ujar Alice.


"Sama-sama nona," jawab resepsionis itu lagi.

__ADS_1


"Kenapa kak Al berbohong sama resepsionis itu kalau kita sudah membuat janji dengan pengacara itu?" tanya Claudia seraya berbisik takut kedengaran oleh petugas itu.


"Apa kamu pikir dengan kita bicara jujur sama resepsionis itu, kita akan langsung di antar ke ruangan pengacara itu? Ingat Clau... sangat sulit bagi kita bertemu dengan pak Steven jika belum membuat janji dengan nya." Jelas Alice.


"Kamu benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran seperti kak Alice ya?" tanya Claudia.


"Itu karena kamu bodoh," jawab Alice seraya mengejek.


"Aku tidak bodoh. Hanya saja lambat berpikir," sahut Claudia yang tak mau di bilang bodoh.


"Itu sama saja," ujar Alice.


"Terserah kak Alice saja. Aku tidak mau berdebat lagi. Sebaiknya sekarang kita fokus dengan rencana kita saja," ujar Claudia dengan pasrah.


"Oke. Baiklah," jawab Alice dengan cepat.


Beberapa menit kemudian


"Kita sudah sampai di depan ruangan pak Steven. Kalian bisa masuk ke dalam sekarang," titah petugas itu.


"Oke. Baiklah, terima kasih," jawab Alice dengan sopan.


"Sama-sama nona. Saya permisi dulu," ujar petugas itu seraya pergi dari sana yang di anggukkan kepala oleh mereka.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


Cklek


"Siapa kalian?" tanya Steven dengan kening mengkerut.


"Wah... pak Steven. Apa begini cara anda menyambut tamu yang datang ke kantor pak Steven?" tanya Alice dengan wajah sinis.


"Tidak perlu basa-basi. Katakan siapa kalian?Ada keperluan apa kalian datang ke kantor saya ini, sampai membohongi resepsionis saya kalau kalian sudah membuat janji dengan saya segala?" tanya Steven dengan wajah kesal.


"Tentu saja ingin menuntut keadilan buat keluarga saya," sahut Claudia dengan cepat.


"Apa?" teriak Steven dengan kening mengkerut.


"Apa maksud kamu menuntut keadilan? Emangnya apa yang sudah saya lakukan sama kamu dan juga keluarga kamu?" tanya Steven dengan penasaran.


"Apa anda lupa atau pura-pura lupa pak Steven? Coba anda ingat apa yang anda lakukan pada keluarga Abraham?" tanya Claudia dengan tatapan tajamnya.


Deg


"Si... siapa kalian?" tanya Steven terbata-bata.


"Saya adalah Claudia Henry Abraham putri sah dari Henry Abraham," jawab Claudia dengan wajah penuh emosi.


"Apa?" teriaknya lagi.


"Bukannya kamu sudah mati?" tanya Steven dengan kening mengkerut.


"Siapa yang bilang aku sudah mati hah. Aku masih hidup sampai saat ini," bentak Claudia dengan penuh kemarahan.


"Barbara yang mengatakan kalau kamu sudah mati. Mana mungkin aku percaya sama kamu. Bisa saja kamu mau menipu saya yang mengaku-ngaku anak kandung Henry Abraham," ujar Steven yang masih tak percaya dengan perkataan Claudia.

__ADS_1


"Lihatlah bukti ini kalau aku adalah putri kandung Henry Abraham," ujar Claudia seraya memberikan bukti kalau dia benar anak kandung Henry Abraham.


Sementara Steven yang melihat bukti yang di berikan oleh Claudia membuat dia terkejut dan syok.


"Ternyata benar kalau gadis ini anak tuan Henry. Apa yang di inginkan anak ini dengan datang ke kantor aku segala," batin Steven.


"Apa maksud kamu datang menemui saya disini?" tanya Steven dengan penasaran.


"Saya ingin anda meminta tanda tangan Barbara agar harta kekayaan keluarga saya bisa kembali lagi ke tangan saya," titah Claudia dengan tegas.


Hahahaha


"Untuk apa saya membantu kalian mengambil harta itu kembali. Sementara saya sendiri yang membuat harta itu jatuh ke tangan barbara... Hahahaha..." Steven berucap seraya tertawa terbahak-bahak.


"Sudah aku duga. Kalau kamu sekongkol dengan wanita siluman ular itu," ujar Claudia penuh emosi.


Hahahaha


"Jika benar saya bersekongkol dengan Barbara, Emang apa yang bisa kalian lakukan? Karena harta itu sudah menjadi milik barbara sekarang. Sementara kalian tidak memiliki apa-apa lagi alias bangkrut... Hahahaha..." Steven berucap seraya tertawa terbahak-bahak.


"Dasar tua Bangka tak tahu diri. Kenapa kamu mengkhianati kepercayaan daddy aku? Apa kamu tidak punya hati nurani sedikitpun, saat kamu lebih memilih membela wanita ular itu dari pada daddy aku yang sudah berjasa untuk kamu dan juga keluarga kamu?" tanya Claudia menahan emosi nya agar tidak meledak.


Hahahaha


"Kamu sangat lucu sekali anak cantik. Kita hidup butuh uang. Tanpa uang kita bukan siapa-siapa. Mana mungkin saya melewatkan kesempatan disaat saya di tawarkan uang yang banyak oleh ibu tirinya kamu.


"Sebaiknya kalian pulang saja. Percuma melawan mereka karena harta itu sudah sah menjadi milik mereka. Karena daddy kamu sendiri yang menandatangani surat pengalihan itu," ujar Steven tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kau benar-benar manusia tak punya hati. Teganya kamu mengkhianati kepercayaan Daddy aku. Seharusnya sebagai pengacara kamu harus setia dan memihak pada daddy aku bukan malah mengkhianati nya," ujar Claudia dengan penuh emosi.


Hahahaha


"Sudahlah lebih baik kamu pulang saja. Percuma kamu mencaci maki aku seperti itu. Sampai kapan pun harta itu tidak akan bisa menjadi milik kalian lagi," titah Steven tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kau...


"Sudah Clau. Biarkan saja dia bahagia dulu sebelum kita menghancurkan hidupnya bersama dengan wanita ular itu," potong Alice seraya menenangkan Claudia.


"Emangnya apa yang bisa kalian lakukan pada saya." Tantang Steven saat mendengar ancaman Alice.


"Gawat. Kenapa aku harus bicara seperti itu? Bagaimana aku mengancam nya? Sementara aku tidak memiliki bukti apapun," batin Alice dengan wajah cemas.


"Kenapa kamu diam? Apa kalian sudah sadar kalau kalian sudah kalah sejak tadi... Hahahaha..." Steven berucap seraya tertawa terbahak-bahak.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Benal kan kata Ala. Kalau meleka itu bodoh. Balu di ancam cepelti itu saja sudah takut. Tenang saja mommy... aunty Lilis... kalian ndak Pelu takut selama ada Ala di sini," batin Ara dengan seringai liciknya.





Bersambung....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2