
Di Perjalanan
Saat ini Alice sedang pergi ke restoran milik Claudia. Tapi, saat di perjalanan dia tidak sengaja menabrak mobil seseorang, hingga membuat Alice panik dan juga takut. Karena dia tahu mobil yang dia tabrak bukan mobil biasa melainkan mobil sport keluaran terbaru.
"Oh my good! Apa yang kamu lakukan Al... kenapa kamu malah menabrak mobil orang? Bagaimana kalau sampai dia meminta nganti rugi, bisa habis uang tabungan aku selama ini," ujar Alice dengan wajah cemas.
Ckittt
"Awwsstt..." Apa kamu bisa menyetir mobil, hah," bentak seseorang saat dia tiba-tiba berhenti mendadak.
"Maaf tuan... bukan saya yang berhenti mendadak. Tapi, mobil kita ada yang menabrak dari belakang tuan." Jelas orang itu yang takut dengan kemarahan atasannya itu.
"Siapa yang berani menabrak mobil aku?" tanya orang itu dengan kesal.
"Tidak tahu tuan. biar saya lihat dulu, siapa yang sudah menabrak mobil tuan," ujar bawahan orang itu seraya turun dari mobil.
Tok... Tok... Tok...
Alice yang melihat seseorang mengetuk kaca mobilnya langsung saja dia menurunkan nya dengan segera.
"Tuan Ryan," teriak Alice dengan wajah terkejut. Tak kalah dengan Ryan yang ikut terkejut saat melihat siapa orang yang sudah berani menabrak mobil atasannya itu.
"Nona Alice... apa anda yang sudah menabrak mobil atasan saya?" tanya Ryan dengan tegas.
Hehehehe
"Maaf tuan. Saya tidak sengaja tadi, tolong jangan minta nganti rugi sama saya. Karena saya benar-benar tidak memiliki uang," ujar Alice dengan wajah memelas.
"Maaf nona... ini bukan ranah saya. Jika tuan Maxim tidak memperpanjang masalah ini. Maka saya pun tidak akan melakukan nya," jelas Ryan dengan tegas.
"Baiklah. Aku akan meminta maaf sama kak Maxim, agar dia tidak meminta nganti rugi sama saya," ujar Alice yang berharap Maxim mau memaafkan dia.
"Terserah nona Alice saja," ujar Ryan dengan cepat.
Tak Lama Kemudian
Turunlah Maxim Almero seraya berjalan ke arah asistennya berada saat ini. Dia sudah penasaran sejak tadi, saat asistennya belum kembali juga ke dalam mobilnya.
"Siapa orang yang sudah menabrak mobil aku tadi yan?" tanya Maxim dengan penasaran.
Ryan yang mendengar suara atasannya langsung saja dia menoleh ke belakang, dimana atasannya berdiri saat ini.
"Dia nona Alice, temannya nona Claudia tuan," jawab Ryan dengan cepat.
"Maafkan aku kak Max... aku tadi tidak sengaja menabrak mobil kak maxim," sahut Alice seraya turun dari mobilnya.
"Apa kamu terluka?" tanya Maxim yang justru lebih khawatir sama Alice dari pada mobilnya.
"Aku baik kak max," jawab Alice dengan cepat.
__ADS_1
"Syukur lah kalau kamu baik-baik saja," ujar Maxim dengan perasaan lega.
"Bagaimana dengan mobilnya kak maxim?" tanya Alice yang khawatir kalau sampai maxim meminta nganti rugi padanya.
"Tidak apa-apa," ujar Maxim dengan cepat.
"Terima kasih, karena kak maxim tidak marah sama aku gara-gara tadi aku menabrak mobil kak maxim," ujar Alice dengan tulus.
"Sama-sama," jawab Maxim dengan lembut.
"Kalau begitu, aku pergi ke restoran dulu," pamit Alice yang di jawab anggukan kepala oleh Maxim.
"Kenapa tuan tidak meminta nganti rugi sama nona Alice?" tanya Ryan dengan penasaran.
"Untuk apa aku mempermasalahkan masalah kecil seperti ini. Jika mobil ini rusak tinggal beli lain saja," jawab Maxim dengan santai.
"Apa katanya tadi, ini masalah kecil. Apa dia tidak lihat, kalau mobil ini rusak parah. Bukannya dia meminta nganti rugi, tapi dia justru santai saja seperti tidak terjadi apapun. Bahkan dengan entengnya dia bilang tinggal beli lain saja," batin Ryan yang tidak habis pikir dengan atasannya itu.
"Apa tuan suka dengan nona Alice?" tanya Ryan dengan penasaran.
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu?" tanya Maxim dengan kening mengkerut.
"Maaf tuan jika aku lancang.Tadi aku melihat tuan seperti suka dengan nona Alice. Bahkan tuan tidak marah sedikit pun saat nona Alice menabrak mobil tuan. Biasanya tuan langsung marah sama orang yang bikin mobil kesayangan tuan lecet seperti ini." Jelas Ryan.
"Entahlah yan... aku sendiri tidak tahu, bagaimana perasaan aku sama Alice. Kamu tahu sendiri selama ini aku sukanya sama Claudia. Tapi dia justru menikah dengan laki-laki lain," ujar Maxim.
"Kenapa tuan tidak membuka hati buat nona Alice saja? Aku rasa nona Alice wanita baik-baik, pasti dia cocok dengan tuan,"ujar Ryan.
"Kalau untuk sekarang, aku belum bisa membuka hati untuk wanita mana pun yan... tapi tidak tahu kedepannya seperti apa. Yang jelas aku tidak mau menjadi laki-laki Playboy seperti dulu lagi. Mungkin ini karma buat aku karena dulu aku sering bikin wanita sakit hati, sekarang malah aku yang merasakan nya sendiri," ujar Maxim saat mengingat kelakuannya dulu.
"Mungkin kamu benar. Aku akan berusaha menjadi orang yang baik dari pada sebelumnya. Untuk sekarang aku ingin menata hati aku dulu agar bisa mengikhlaskan Claudia buat di miliki oleh orang lain," ujar Maxim.
•
•
•
Di Mansion Keluarga David Lemos
Saat ini Ara sedang duduk di ruangan keluarga bersama dengan Opa dan Omanya.
"Oma... Tenapa Ala ndak boleh tinggal belsama dengan daddy dan mommy? Apa meleka sudah puna anak lain lagi selain Ala?" tanyak Ara dengan wajah sendu.
"Kenapa Ara bisa bicara seperti itu sayang? Apa Ara tidak suka tinggal bersama dengan Oma dan Opa?" tanya Anggelina dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Bukan na Ala ndak suka tinggal cama oma dan opa.Tapi Ala ndak lela kalau sampai daddy dan mommy memiliki anak lain selain Ala. Kalena jika sampai itu teljadi, maka pasti halta Ala akan belkulang. Enak saja meleka membelikan halta Ala buat di bagi cama olang lain. Cuman Ala yang boleh memiliki halta meleka sedangkan yang lain ndak boleh!" jawab Ara dengan kesal.
__ADS_1
Angelina yang mendengar perkataan cucunya hanya bisa melongo dan juga syok. Sungguh, dia tidak menyangka kalau cucunya bisa menjadi wanita matre seperti ini. Padahal umurnya masih empat tahun, tapi dia sudah pintar masalah harta.
Berbeda dengan David yang sejak tadi sedang menahan tawanya agar tidak keluar. Dia sudah tahu sejak awal, kalau cucu kesayangannya itu wanita yang licik dan juga matre.
"Kalau masalah itu kamu tenang saja sayang. Ara masih memiliki opa dan oma. Harta kami juga banyak sama seperti daddy nya Ara. oma akan kasih harta ini buat Ara, jika Ara mau tinggal bersama kami." Anggelina membujuk cucunya yang matre ini, agar mau tinggal bersama dengan nya.
"Wah... Sungguh beluntung na nasib Ala. Sekalang Ala akan menjadi olang paling kaya dali pada teman-teman Ala yang lain. Soal halta daddy cama mommy Ala akan pikil kan lagi nanti. Yang jelas Ala ndak akan telima kalau sampai daddy membelikan halta itu cama olang lain," batin Ara dengan seringai liciknya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oke... mulai sekalang Ala akan tinggal di sini, asal oma dan opa membelikan semua halta kalian buat Ala.
"Apa opa dan oma setuju membelikan halta itu buat Ala, Jika ndak juga ndak jadi masalah. Belalti Ala akan pulang ke lumah daddy dan mommy hali ini juga. " Ara mengancam omanya dengan tegas.
"Oh Tuhan Lex... Kenapa kamu bisa memiliki anak seperti ini? Dia tidak hanya licik tapi juga matre. Aku sih tidak masalah kalau memberikan seluruh harta aku buat Ara. Bagaimana pun Ara cucu kandung aku sendiri. Tapi bagaimana kalau seandainya mereka memiliki anak kandung lain selain Ara? Bukannya tidak adil jika aku hanya memberikan harta ini buat Ara saja, sedangkan aku masih memiliki cucu kandung yang lain," batin Anggelina dengan bimbang.
"Tenapa oma cuman diam saja sejak tadi? Apa oma ndak mau menuluti keinginan Ala. ya sudah. Itu belalti Ala akan pulang ke lumah daddy sekalang juga." Ara mengancam oma nya dengan tegas.
"Oke. Oma akan memberikan seluruh harta oma buat Ara. Asal Ara berjanji akan tinggal di mansion oma selamanya," ujar Anggelina dengan pasrah.
"Ihhh, pucing pala Ala... "
"Oke. Ala akan tinggal cama oma dan opa!" jawab Ara dengan antusias.
"Ya, sudah. Ala pelgi ke kamal dulu," sambungnya lagi seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.
Hahahaha
Akhirnya keluar juga tawa David yang sejak tadi dia tahan.
"Kenapa papa ketawa?" tanya Angelina dengan kesal.
"Makanya ma... jangan pernah menjanjikan apapun sama Ara. Sudah tahu Ara bukan anak kecil biasa. Tapi mama masih saja bicara yang ujungnya malah mama yang pusing sendiri," ujar David tertawa terbahak-bahak.
"Jika mama tidak bicara seperti itu sama Ara. Mana mau dia tinggal di sini. Mama tidak masalah kalau harta keluarga kita jatuh ke tangan Ara. Karena dia cucu kandung kita sendiri.
"Terus kenapa mama seperti orang yang tidak rela memberikan harta itu pada Ara," potong David dengan cepat.
"Coba papa pikirkan. Kalau kita memberikan semua harta ini sama Ara. Lalu bagaimana dengan calon cucu kita yang baru. Bukannya itu tidak adil, jika kita memberikan Ara harta sedangkan cucu kita yang lain malah tidak dapat apa-apa." Jelas Angelina.
"Mama lupakan saja masalah itu. Ara juga masih kecil, siapa tahu dia lupa nanti," ujar David.
"Papa benar juga. Semoga Ara melupakan masalah ini," ujar Angelina dengan lega.
"Ya, sudah. Papa mau pergi ke ruang kerja dulu," ujar David yang di jawab anggukan kepala oleh Angelina.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung......
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁