One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Hasil Pemeriksaan )


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


Di Mansion Alexander Lemos


Fajar mulai menyingsing, menyapa seluruh penduduk bumi dengan cahaya kemerahan yang terbit di ufuk timur. Cuaca kali ini bener-benar cerah dan nyaman, membuat siapapun seolah merasa enggan untuk membuka kedua matanya.


Namun, tidak halnya dengan Claudia saat ini. Ia yang awalnya masih terlelap dalam pelukan Alex, tiba-tiba langsung melepaskan tangan Alex yang masih melingkar di perutnya. Dengan cepat Claudia berlari menuju kamar mandi tanpa berhati-hati sama sekali.


Merasakan bahwa Claudia baru saja melepaskan pelukannya dengan paksa, membuat Alex pun buru-buru membuka kedua matanya lebar-lebar. Dahinya mengernyit, ketika melihat Claudia yang langsung berlari begitu saja ke kamar mandi.


"Astaga! Apa yang terjadi pada Claudia? Kenapa dia sangat terburu-buru dan tidak berhati-hati seperti itu?" Alex menggeleng pelan dengan keheranan yang teramat besar di hatinya.


"Huek! Huek!"


Alex terperanjat, ketika ia mendengar suara Claudia yang sepertinya sedang muntah-muntah di dalam sana. Wajah Alex memucat, dan terlihat jelas gurat ke khawatiran di sana.


"Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi pada Claudia?" tanya Alex cemas, dan ia pun refleks segera berlari menuju ke kamar mandi untuk memeriksa keadaan Claudia.


"Huek! Huek!"


Suara Claudia terdengar semakin jelas, dan hal itu semakin membuat Alex kalang kabut. Tanpa permisi, ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


Brakk


"Sayang, apa yang terjadi?" Alex bertanya seraya mengedarkan matanya ke sekeliling, dan menjelajahi seluruh sudut kamar mandi.


Di sebuah wastafel yang berada tepat di depan kaca besar kamar mandi tersebut, Alex melihat Claudia yang sedang berdiri menunduk sambil memegangi tepian wastafel. Bibir gadis itu nampak basah, dan wajahnya juga terlihat sangat pucat.


Kedua mata Alex langsung terbelalak lebar melihat keadaan Claudia yang nampak lemas sembari memegangi perutnya. Tak ingin membuang waktu, Alex pun segera berlari menghampiri Claudia dan langsung saja menahan bahu gadis itu supaya tak terkulai lemas.


"Astaga, sayang! Kenapa wajah kamu pucat seperti ini? Apa yang terjadi sama kamu, sayang?" Wajah Alex pun turut memucat karena ia di landa oleh kecemasan.


"Mas Alex, aku... aku lemes banget. Perut aku mual dan sejak tadi aku muntah-muntah terus. Kepala aku juga rasanya pusing banget," keluh Claudia sambil memegangi perut dengan salah satu tangannya. Sementara tangan yang satunya lagi ia pergunakan untuk memegangi kepalanya.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu." Alex yang sangat khawatir pada istrinya ingin membawanya ke rumah sakit.


"Untuk apa kita ke rumah sakit? Aku baik-baik saja. Ini pasti cuma masuk angin biasa, karena aku terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat." Claudia bersikukuh dengan pendiriannya.


"Aku tidak mau tahu. Kamu harus ikut aku ke rumah sakit sekarang juga, dan kita harus pastikan kalau kamu baik-baik saja," ujar Alex yang tidak mau di bantah.


"Mas, tapi..."

__ADS_1


Tak sempat Claudia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Alex sudah menggendong istrinya untuk masuk ke dalam mobilnya. Awalnya Claudia menolak, karena dia yakin kalau dia hanya sedang tidak enak badan. Akan tetapi, Alex terus saja memaksa untuk mengantar Claudia ke dokter. Hingga akhirnya, mau tak mau Claudia pun terpaksa harus ikut dengan suaminya itu.


"Pasang sabuk pengaman dulu sayang," titah Alex dengan tegas.


"Iya mas," jawab Claudia yang sudah duduk di samping sebelah kemudi.


Alex kemudian segera melajukan mobilnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Claudia terus berharap kalau dia baik-baik saja.


Tak lama, mobil yang di kemudikan oleh Alex pun akhirnya tiba di halaman rumah sakit. Alex bergegas mengajak Claudia untuk turun dari mobil, kemudian menuntun tangannya untuk bertemu dengan dokter yang dia kenal.


Brakk


Mendengar suara pintu yang di buka secara paksa membuat seseorang yang ada di dalam ruangan itu ingin sekali memaki orang yang sudah lancang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.


Tapi, saat dia tahu yang berdiri di depannya ini orang yang sangat berpengaruh di negara ini langsung saja dia terdiam seperti patung. Mana berani dia menegur orang yang sangat berpengaruh di negara ini.


"Selamat pagi tuan muda, nyonya muda." sapa dokter itu dengan sopan.


"Periksa istri saya sekarang juga," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan muda," jawab dokter itu dengan sopan.


"Mari nyonya, saya periksa dulu," ujar dokter itu seraya menyuruh Claudia berbaring di brangkar yang ada di rumah sakit itu.


"Bagaimana keadaan istri saya?" Alex bertanya dengan wajah khawatir.


"Tuan muda tidak perlu khawatir. Istri tuan baik-baik saja." Jelas dokter itu dengan tenang.


"Apanya yang baik-baik saja? Apa kamu tidak lihat istri saya sudah lemas dan pucat seperti itu? Cepat periksa lagi yang benar," ujar Alex yang merasa emosi saat mendengar perkataan dokter itu.


"Tuan tenang saja. Ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil," ujar Dokter itu dengan tenang.


"Apa?" teriak mereka yang terkejut saat mendengar perkataan dokter itu.


"Apa benar istri saya hamil?" Alex bertanya dengan wajah antusias.


"Benar tuan muda. Jika tuan muda masih ragu dengan saya. Maka tuan muda bisa konsultasikan pada dokter kandungan yang ada di rumah sakit ini," ujar dokter itu.


"Baik. Saya akan membawa istri saya ke dokter kandungan," ujar Alex seraya pergi dari sana.


Ruangan Dokter Kandungan

__ADS_1


"Selamat pagi tuan muda, nyonya muda, perkenalkan, saya dokter Anya," ujar dokter yang bernama Anya itu.


"Pagi dok," ujar Claudia dengan sopan.


"Cepat periksa istri saya," titah Alex dengan tegas.


"Hemm, baiklah. Mari ikut saya." Claudia mengangguk dan mengikuti langkah dokter Anya. Mereka menuju ke sebuah ruangan, dimana Claudia di minta untuk berbaring di atas brankar. Dengan peralatan medisnya, dokter Anya kemudian mulai memeriksa perut Claudia dengan seksama.


Setelah pemeriksaan berlangsung sekitar 15 menit, dokter Anya pun keluar dengan di ikuti oleh Claudia di belakangnya. Mereka kembali menghampiri Alex yang masih duduk di depan meja kerja dokter tersebut.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Alex yang tampak antusias dan tak sabaran mendengar berita yang akan di dapatkan dari dokter Anya.


Dokter Anya tersenyum pada Claudia dan Alex secara bergantian. Ia kemudian memberikan secarik kertas putih kepada Claudia dan mengulurkan tangan pada Claudia. Claudia heran, tapi dia segera membalas uluran tangan itu dan menjabat tangan dokter Anya dengan ragu-ragu.


"Selamat, nyonya muda. Kehamilan anda sudah memasuki usia empat minggu," ujar dokter Anya.


"Apa, Dok? Jadi saya hamil?" Claudia bertanya dengan wajah bahagia.


"Iya, nyonya muda. Sekali lagi selamat ya. Dan tolong jaga kandungannya, karena usia kehamilan nyonya masih tergolong usia yang sangat rawan. Harap nyonya selalu berhati-hati, kurangi aktivitas berat, jangan terlalu kelelahan dan nyonya tidak boleh stress. Oh iya, ini hasil pemeriksaan nyonya." Dokter Anya menyarankan sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna putih ke pada Claudia.


"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Claudia seraya menerima amplop itu dari tangan dokter Anya.


"Apa ada yang ingin di tanyakan?" tanya Dokter Anya dengan sopan.


"Hemm, Apa masih boleh melakukan hubungan suami istri di saat istri saya sedang hamil?" tanya Alex dengan santai sedangkan Claudia yang mendengar perkataan suaminya sangat malu saat melihat dokter Anya tersenyum pada mereka.


"Boleh tuan muda. Tapi, tidak boleh terlalu sering. Dan carilah posisi yang aman jika ingin melakukan itu dengan istri anda. Dan lakukan itu dengan pelan-pelan, agar bayi kalian tetap aman dan tidak mengalami keguguran." Jelas Dokter Anya.


Mendengar penjelasan Dokter Anya membuat Alex bahagia itu artinya dia masih bisa bercocok tanam dengan istrinya walaupun istrinya sedang hamil. Sedangkan Claudia rasanya ingin sekali menghilang dari tempat ini secepatnya. Karena dia sangat malu dengan dokter Anya yang dari tadi tersenyum di depan mereka.


"Baik, Dok. Kami pamit pulang dulu," ujar Claudia seraya menarik tangan suaminya agar segera pergi dari ruangan dokter Anya.


"Iya, Hati-hati di jalan," ujar dokter Anya yang di tanggapi anggukan kepala oleh Claudia seraya pergi dari sana.





Bersambung......

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2