
Di Mansion Alexander Lemos
Setelah menempuh beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di mansion Alexander Lemos. Mansion yang sangat mewah nan megah hanya orang-orang tertentu yang dapat memiliki mansion sebesar ini. Sedangkan kalangan bawah hanya bisa gigit jari di karenakan tidak mampu membeli mansion sebesar ini karena tidak memiliki uang.
"Kenapa berhenti pak?" tanya Alice saat melihat supir pribadinya tiba-tiba berhenti.
Yah, tadi saat mereka pergi ke moll Alice pergi bersama supir pribadinya di karenakan tidak di perbolehkan menyetir sendiri dalam keadaan hamil. Itu sebabnya dia pergi bersama supir pribadinya menuju ke mansion Alexander Lemos sekalian menjemput Claudia.
"Kita sudah sampai nyonya," jawab supir pribadi Alice.
Mendengar perkataan supir pribadinya langsung saja Alice melihat sekelilingnya dan ternyata benar kalau mereka sekarang sudah sampai di mansion Alexander Lemos. Karena terlalu asyik mengobrol dengan adik angkatnya akhirnya mereka tidak tahu jika saat ini sudah sampai di mansion Alexander Lemos.
"Terima kasih pak," ujar Claudia dengan lembut.
"Sama-sama nyonya," jawab supir pribadi Alice.
"Apa kak Al mau mampir?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Iya, aku mau melihat keponakan cantik ku. Sudah lama aku tidak melihat Arrabella," ujar Alice.
"Ya, sudah, ayo kita masuk ke dalam," ujar Claudia yang di tanggapi anggukan kepala oleh Alice seraya masuk ke dalam.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oh Tuhan... Baru saja masuk sudah di sambut siluman cilik," ujar Alice dengan lirih sehingga Ara tidak dapat mendengar nya, jika saja dia bisa mendengar apa yang di katakan oleh Alice bisa habis dia di tangan Ara.
"Mommy habis dali mana?" tanya Ara dengan penasaran.
"Ngapain kamu tanya-tanya?" Alice yang tadi ingin melepas rindu dengan keponakan cantiknya justru malah mengajak perang dengan Ara. Lihat saja dia sendiri yang mencari masalah padahal Ara tidak ada niat bertengkar dengan Alice tetapi dia malah mencari masalah dengan Ara.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ck! Tenapa aunty jadi olang geel sekali? Ala tadi hanya beltanya cama mommy tenapa malah aunty yang lepot-lepot menjawab, itupun jawaban na sangat kasal campai hati Ala sakit mendengal na. Entah tenapa aunty ini selalu mencali masalah cama Ala.
"Apa aunty ini ndak bisa melihat Ala hidup bahagia walau hanya sekali saja?" Seperti biasa Ara selalu membuat drama, jika dia tidak membuat drama bukan Ara namanya.
__ADS_1
Makanya dia di juluki Drama Queen yang sangat pantai berdrama sehingga orang-orang pada percaya pada perkataan nya padahal apa yang di katakan olehnya tidaklah benar tetapi karena akting dia sangat bagus sehingga orang pada percaya padanya.
"Ck! Dasar drama queen," gumam Alice dengan wajah kesal.
Claudia yang melihat tingkah mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia sudah bisa menebak jika mereka di pertemukan pasti akan bertengkar. Untuk mengingatkan mereka pun percuma karena mereka emang akan selalu bertengkar, itu sebabnya mereka tidak bisa di persatukan kalau sudah bertemu ya ini akibatnya ujungnya pasti bertengkar.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa mommy membawa olang ini ke lumah kita? Mommy tahu sendili kalau Ala ndak suka melihat dia ada di lumah Ala. Dia kalau ke sini pasti selalu buat Ala kesal maka na Ala ndak suka melihat dia ada di sini," ujar Ara dengan tatapan tak suka saat melihat ke arah Alice.
"Ara tidak boleh bicara seperti itu aunty Alice ke sini ingin melihat keadaan Ara katanya dia kangen sama Ara karena sudah lama kalian tidak bertemu," ujar Claudia dengan lembut.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa na yang kangen cama Ala? Aunty Lilis setiap beltemu dengan Ala pasti ujung-ujung na bikin Ala emosi," ujar Ara.
"Oke, aunty mengaku salah. Jadi tolong maafkan aunty karena sudah membuat kamu marah gara-gara perkataan aunty tadi," ujar Alice.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oh Tuhan... Kenapa anak ini sangat pintar berakting seperti ini? Lihat saja tingkahnya bikin aku kesal saja, jika tidak ingat keponakan aku sudah dari tadi aku merobek mulutnya itu karena sudah membuat aku emosi," batin Alice dengan wajah kesal.
"Terus Ara maunya apa?" tanya Alice dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Nah, dali tadi kek aunty beltanya mau na Ala apa jadi Ala ndak pellu belakting menyedihkan sepelti ini," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.
"Kau... Dasar bocah licik," umpat Alice dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ala menjadi licik sepelti ini kalena menulun sifat daddy. Jika ingin malah kalena Ala memiliki sifat licik malahin saja daddy na Ala," ujar Ara.
Mendengar perkataan Ara membuat Alice terdiam seperti patung. Mana berani dia memarahi Alexander Lemos, jika itu sampai terjadi itu sama saja dia membiarkan dirinya di terkam oleh singa.
__ADS_1
"Aku tahu anak ini pasti sengaja bicara seperti itu untuk mengejek diriku. Karena dia sangat tahu kalau aku sangat takut dengan tuan Alex yang terkenal kejam dan licik sama persis seperti anaknya ini," ujar Alice dengan suara lirih agar Ara tidak dapat mendengar perkataan dirinya.
"Sudah cukup kalian bertengkar, aku pusing mendengar kalian bertengkar dari tadi," ujar Claudia yang sedari tadi sudah bosan mendengar pertengkaran mereka.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Pusing minum obat sana," sahut Alice dengan wajah kesal.
"Lihat kan mom, siapa yang duluan mencali masalah cama Ala? Apa sekalang mommy masih menuduh Ala yang salah, padahal bukti na sudah jelas kalau aunty Lilis lah yang belsalah di sini sedangkan ada cama sekali ndak belsalah," ujar Ara.
"Kapan mommy menuduh Ara bersalah? Perasaan tadi mommy cuman menyuruh kalian berdua untuk diam karena mommy sudah pusing mendengar kalian bertengkar." Claudia merasa anaknya ini semakin hari semakin licik persis seperti ayahnya. Padahal tadi dia sama sekali tidak pernah menuduh anaknya tapi kenapa anaknya malah bicara seperti itu bikin dia kesal saja.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Mommy cama aunty Lilis emang nyebelin, Ala malas bicala cama kalian. Lebih baik Ala istirahat saja dali pada pala Ala semakin pusing gala-gala kalian beldua." Setelah mengatakan itu langsung saja Ara pergi dari sana dengan wajah kesal. Sedangkan mereka hanya bisa melongo saat melihat tingkah Ara yang semakin aneh saja.
"Clau, aku cabut kembali kata-kataku yang mengatakan kangen sama anak kamu. Aku bukannya merasa senang saat melihat anak kamu tetapi aku malah terlihat kesal dan emosi," ujar Alice dengan wajah kesal.
"Sudahkah kak, bukannya kak Al sudah tahu bagaimana sifat Ara, jadi biarkan saja dia mengatakan apa yang ingin dia katakan karena aku sangat mengenal anak ku dia tidak serius bicara seperti itu. Karena pada dasarnya dia anak yang baik hanya saja dia akan terlihat menjadi anak yang kejam kalau sampai mengusik dirinya."
"Tadi juga salah kak Al sendiri karena mencari masalah dengan Ara, padahal Ara hanya bertanya padaku dengan niat baik tetapi kak Al malah menjawab yang dapat bikin Ara emosi jadi wajar kalau dia kesal dan marah seperti itu," ujar Claudia.
"Iya, kamu benar juga Clau, ini semua salah aku. Coba saja tadi aku tidak bicara seperti itu pada Ara pasti Ara tidak akan marah pada kita terutama pada ku," ujar Alice dengan perasaan bersalah.
"Sudahlah, semuanya juga sudah terjadi lagian kali kak Al jaga cara bicaranya jangan sampai membuat Ara kesal seperti ini lagi," ujar Claudia yang di tanggapi anggukan kepala oleh Alice.
"Entah kenapa aku selalu emosi saat berdekatan dengan Ara? Padahal niat aku ke sini ingin melepas rindu dengan keponakan ku tetapi yang terjadi malah kami bertengkar itupun gara-gara ulah aku sendiri sehingga sekarang Ara malah marah pada kami," batin Alice dengan perasaan bersalah.
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1
🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿