
Di Rumah sakit
Saat ini dokter Austin sedang pusing memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menyelesaikan perintah dari Alexander Lemos. Karena dia cuman diberi waktu hanya tiga jam saja.
Tapi jika seandainya dia di beri waktu satu hari mungkin dia bisa menyelesaikan nya seperti sebelumnya.
"Oh Tuhan... kenapa aku harus di pertemukan dengan orang kejam dan tidak ada perasaan seperti tuan Alexander. Bagaimana caranya aku menyelesaikan tugas yang di perintahkan oleh tuan Alex," ujar dokter Austin dengan frustasi.
"Coba dokter lihat dulu nama yang ada di sampel itu. Siapa tahu itu sama dengan sampel yang diberikan oleh nyonya Anggelina dan tuan David dulu," sahut suster itu yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kamu benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran sejak tadi," ujar dokter Austin dengan antusias.
"Siapa nama di sampel itu dok?" tanya suster itu dengan penasaran.
"Disini tertulis atas nama Arrabella dan juga Alexander. Apa namanya sama dengan nama yang dulu pernah diberikan oleh nyonya Anggelina?" tanya dokter Austin pada suster itu.
"Saya juga tidak ingat dok. Karena pasien yang kita tangani banyak sekali. Mana sanggup kita ingin satu persatu.
"Coba dokter lihat dulu berkas yang dulu. Siapa tahu namanya sama dengan nama yang diberikan oleh tuan Alexander," ujar suster itu.
"Kamu benar juga. Cepat ambilkan berkas yang dulu pernah kita lakukan tes DNA," titah dokter Austin dengan tegas.
"Baik Dok," jawab suster itu seraya mencari berkas tes DNA dulu.
Beberapa Menit Kemudian
"Ini Dok, berkasnya," ujar suster itu seraya memberikan berkas tes DNA yang langsung di ambil oleh dokter Austin.
Saat melihat nama yang tertera di berkas itu langsung membuat dokter Austin senang karena dia tidak perlu lagi susah-susah melakukan tes DNA ulang.
"Bagaimana Dok? Apa namanya sama dengan yang diberikan oleh tuan Alexander?" tanya suster itu dengan penasaran.
"Namanya sama sus... saya tidak perlu lagi melakukan tes DNA ulang. Karena sekarang saya cuman perlu mengedit tanggal sekarang saja agar tuan Alex tidak curiga kalau ini berkas yang dulu.
"Saya rasa orang tua tuan Alex tidak memberitahukan pada nya mengenai hasil tes DNA ini. Hingga tuan Alex melakukan tes DNA sendiri," ujar dokter Austin dengan perasaan lega.
"Tapi kenapa mereka merahasiakan hal ini sama tuan Alex?" tanya suster itu dengan kening mengkerut.
"Saya tidak tahu apa motif mereka menyembunyikan masalah ini sama tuan Alex. Yang jelas sekarang saya akan memberikan hasil tes DNA ini sama anak buah tuan Alex," ujar dokter Austin dengan antusias.
"Sebaiknya tunggu tiga jam dulu baru setelah itu dokter memberikan hasil tes DNA ini sama anak buah tuan Alex. Karena jika dokter memberikan sekarang mereka pasti curiga dengan kita.
"Bukannya tadi kata dokter hasil tes DNA keluar satu Minggu atau satu hari. Sedangkan tuan Alex ingin hasilnya keluar selama tiga jam. Jadi tuan pura-pura saja sedang melakukan tes DNA. Jika sudah tiga jam baru dokter memberikan hasilnya sama anak buah tuan Alex." Jelas suster itu.
"Ternyata kamu pintar juga. Untung kamu mengingatkan saya tadi. Kalau tidak, bisa habis saya sama tuan Alex. Pasti dia berpikir kalau saya merekayasa hasil tes DNA itu," ujar dokter Austin.
"Terima kasih atas pujiannya. Apa saya bisa mendapatkan bonus dok," ujar suster itu yang tak mau sia-siakan kesempatan ini. Siapa tahu atasannya memberikan dia bonus untuknya.
"Kamu ini bisanya minta bonus saja. Tapi tidak apa-apa. Karena kamu sudah menyelamatkan saya dari singa jantan itu. Maka saya akan memberikan kamu bonus," ujar dokter Austin seraya memberikan bonus untuk suster itu.
"Terima kasih Dok," ujar suster itu seraya menerima amplop dari tangan atasannya dengan wajah bahagia.
Tiga Jam Kemudian
"Bos. Kenapa dokter itu belum keluar dari ruangan kerjanya?" tanya anak buah Alex.
__ADS_1
"Kita tunggu sebentar lagi. Jika dia belum juga keluar dari ruangan nya baru kita masuk ke dalam," ujar Rio anak buah Alexander.
"Baik bos. Kita tunggu sebentar lagi," ujar anak buah Alex lagi.
Cklek
"Apa dokter sudah melakukan perintah tuan Alex?" tanya Rio tanpa basa-basi.
"Sudah tuan. Tolong berikan amplop ini sama tuan Alex. Sesuai perintah tuan Alex, kalian jangan pernah membuka amplop ini tanpa perintah darinya," ujar dokter Austin seraya memberikan amplop itu pada anak buah Alexander.
"Dokter tenang saja. Mana berani saya membuka amplop ini tanpa sepengetahuan tuan Alex. Saya masih ingin hidup tenang di dunia ini," sahut Rio.
"Baguslah kalau kalian sudah paham apa akibatnya jika melanggar perintah tuan Alex," ujar dokter Austin seraya mengingatkan mereka agar jangan sampai melanggar perintah Alexander.
"Ok. Terima kasih. kami permisi dulu," sambungnya lagi seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh dokter Austin.
•
•
•
Beberapa Jam Kemudian
Saat ini mereka baru sampai di perusahaan Apple Inc milik keluarga Alexander Lemos. Setelah sampai di lobby mereka langsung menghampiri resepsionis yang ada di perusahaan ini.
"Permisi nona!" Apa tuan Alex ada di kantor saat ini?" tanya Rio pada resepsionis itu.
"Tentu saja sudah. Bilang saja Rio Febrian mau bertemu dengan tuan Alexander," ujar Rio dengan tegas.
"Baik tuan Rio," jawab resepsionis itu seraya menelpon sekretaris Alexander.
Beberapa Menit Kemudian
"Bagaimana nona? Apa kami bisa pergi ke ruangan tuan Alex?" tanya Rio saat melihat resepsionis itu baru selesai bicara di telpon.
"Tuan Rio bisa naik lift khusus petinggi perusahaan ini, agar tuan bisa lebih cepat sampai ke ruangan tuan Alex di lantai 65. Setelah itu kalian bisa langsung masuk ke dalam ruangan CEO kami," ujar resepsionis itu dengan sopan.
"Baik. Terima kasih," ujar Rio seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh resepsionis itu.
Saat sudah sampai di meja sekretaris mereka berhenti sejenak." Permisi nona!" Apa kami bisa masuk ke dalam ruangan tuan Alex?" tanya Rio yang merasa takut jika langsung masuk ke dalam ruangan bosnya, tanpa di persilahkan masuk oleh Alexander.
"Oh... apa tuan yang bernama Rio Febrian?" tanya Laura sekretaris perusahaan itu.
"Benar nona. Apa saya bisa masuk ke dalam?" tanya Rio lagi.
"Silahkan tuan... sebelum itu ketuk pintu dulu. Setelah itu baru anda masuk ke dalam ruangan tuan Alexander," titah Laura yang di jawab anggukkan kepala oleh mereka.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
__ADS_1
"Maaf tuan jika kami mengganggu waktu tuan Alex" ujar Rio yang takut mengganggu Alexander yang sedang sibuk bekerja.
"Apa kalian membawa amplop yang saya minta?" tanya Alexander tanpa basa-basi.
"Sudah tuan Alex," jawab Rio seraya memberikan amplop itu pada Alexander.
"Ini bonus untuk kalian. Sekarang kalian bisa pergi dari sini," ujar Alex seraya memberikan amplop berupa uang tunai untuk mereka.
"Terima kasih tuan Alex. Kami permisi dulu," ujar Rio seraya pergi dari sana dengan perasaan bahagia, karena mendapatkan bonus dari atasannya.
"Cepat tuan buka amplop nya. Saya tidak sabar ingin tahu apa isi di dalam amplop itu," ujar Andre dengan antusias.
"Kenapa kamu yang heboh. Sementara saya yang ayahnya sendiri tidak heboh seperti kamu?" tanya Alex dengan kening mengkerut.
"Apa tuan tidak bahagia jika seandainya nona kecil anak kandung tuan Alex?" tanya Andre dengan penasaran.
"Tentu saja saya senang. Kenapa kamu menanyakan ini sama saya. Apa kamu pikir saya tidak senang jika seandainya Ara benar-benar putri kandung aku," ujar Alex dengan tatapan tajamnya.
"Maafkan saya tuan," ujar Andre seraya menundukkan kepalanya karena takut dengan kemarahan atasannya.
Tak Lama Kemudian
Alex langsung saja merobek amplop itu dengan cepat dan dia langsung mengeluarkan isi yang ada di dalam amplop itu. Saat dia melihat nya, membuat Alex langsung syok dan juga terkejut.
Sehingga menyebabkan Andre bertanya-tanya, apa isi di dalam amplop itu hingga membuat atasannya terkejut dan terdiam seperti patung.
"Apa isinya tuan?" tanya Andre dengan hati-hati.
"Di... dia benar putri Kandung aku ndre," ujar Alexander terbata-bata karena dia tidak menyangka ternyata Ara benar putri kandung nya yang selama ini dia cari.
"Apa?" teriak Andre dengan wajah terkejut.
"Jadi dia benar putri kandung tuan Alex. Wah... ternyata filing aku selama ini tidak salah kalau anak yang selama ini kita kira anak kandung tuan Maxim ternyata putri kandung tuan Alex," ujar Andre dengan antusias.
"Kamu benar ndre. Aku benar-benar bodoh karena tidak mendengarkan perkataan kamu dulu untuk melakukan tes DNA dengan Arrabella.
"Jika seandainya aku percaya sama ucapan kamu. Pasti aku akan lebih cepat bertemu dengan mereka," ujar Alex dengan wajah menyesal.
"Sudah lupakan masalah itu tuan. Sekarang apa yang ingin tuan lakukan dengan wanita yang membawa pergi darah daging tuan itu?" tanya Andre dengan penasaran.
"Tentu saja aku akan memberikan kucing liar ku hukuman agar dia tidak bisa kabur dari negara ini lagi," jawab Alex dengan seringai liciknya.
"Apa yang akan tuan Alex lakukan sama wanita itu. Sepertinya dia tidak mungkin menghukum wanita itu seperti dia menghukum para pengkhianat yang selama ini berkhianat di keluarga Lemos dulu. Jika sampai itu terjadi, tamat sudah riwayat wanita itu," batin Andre yang sangat ngeri saat mengingat Alex menghukum para pengkhianat itu dulu.
"Akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang. Ternyata aku tidak hanya bertemu dengan wanita yang aku cintai, tapi aku juga mendapatkan bonus yaitu Putri yang sangat cantik," batin Alex dengan wajah bahagia.
•
•
•
Bersambung.....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1