
Di Ruangan CEO Alexander
"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Alex seraya memeriksa keadaan anaknya yang ada di pangkuan nya saat ini.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Daddy jangan lebay deuh. Ala Ndak apa-apa kok," sahut Ara dengan cuek.
"Bukannya mereka sudah menyiksa Ara. Hingga membuat tubuh Ara menjadi sakit?" tanya Alex dengan bingung.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sebelna na. Meleka Ndak menyiksa Ala kok. Ala sengaja bicala begitu. Buat balas dendam cama meleka yang sudah belani malahin Ala tadi." Ara berucap dengan wajah tanpa dosa.
"Apa?" teriak Alex yang terkejut saat mendengar perkataan anaknya.
"Emangnya apa yang mereka katakan sampai membuat Ara jadi marah seperti ini?" tanya Alex dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sebaik na. Daddy jangan tanyakan ladi masalah ini cama Ala. Kalena Ala Ndak mau mengingat masalah yang membuat hati Ala sakit," ujar Ara dengan wajah sendu.
Alex yang mendengar perkataan anaknya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka ternyata anaknya benar-benar sangat licik dan kejam seperti dirinya.
Ting
"Kenapa tuan Alex mengirim pesan sama aku," batin Andre seraya melihat isi pesan dari Alexander.
Isi Pesan
"Cepat cabut laporan terhadap anak buah kita sekarang juga. Dan jangan sampai Ara tahu kalau orang yang dia benci di bebaskan oleh aku," kata Alex.
Ting
"Tapi, kenapa tuan membebaskan mereka. Bukannya selama ini tuan tidak pernah melepaskan musuh tuan?" tanya Andre.
Ting
"Apa kamu tidak mendengarkan apa kata anak aku tadi. Kalau mereka tidak pernah menyiksa Ara. Jadi aku tidak mungkin menghukum orang yang tidak bersalah. Apalagi selama ini, mereka sudah setia terhadap keluarga aku. Itu sebabnya aku memberikan satu kesempatan untuk mereka. Tidak hanya itu. Beritahu mereka agar tidak mengulangi lagi perbuatannya tadi terhadap anak aku. Itupun jika mereka masih ingin hidup tenang di dunia ini," kata Alex.
Ting
"Baik tuan," jawab Andre.
"Daddy," panggil Ara hingga membuat Alex terkejut saat mendengar suara anaknya yang sangat keras.
"Iya, ada apa sayang?" tanya Alex dengan lembut.
"Tenapa sejak tadi, daddy sangat sibuk cama hp na? Apa hp itu lebih penting dali pada Ala?" tanya Ara dengan wajah kesal.
"Maaf sayang. Daddy ada kerjaan sedikit tadi. Makanya daddy mengurus pekerjaan dulu, biar nanti daddy punya banyak waktu buat Ara." Bujuk Alexander dengan lembut.
"Ya, sudah. Ala maafin. Tapi, daddy halus mengajak Ala pelgi ke moll bial Ala bisa beli balang-balang yang Ala inginkan," ujar Ara dengan cepat.
"Baik. Daddy akan belikan apapun yang Ara inginkan nanti." Alex berucap seraya mengelus rambut pirang anaknya dengan sayang.
"Hole... Telima kasih daddy. Ala sayang cama daddy," ujar Ara dengan antusias.
__ADS_1
"Sama-sama sayang. Daddy juga sayang sama Ara." Alex berucap seraya mencium pipi chubby anaknya dengan lembut.
"Ihhh, belhenti cium pipi na Ala daddy. Ala Ndak suka pipi na di cium," protes Ara yang tak suka pipinya di cium oleh Alex.
"Kalau Ara tidak bolehin daddy mencium pipinya. Daddy akan batalkan untuk pergi ke moll nanti," ancam Alex agar anaknya membolehkan dia mencium pipi chubby nya itu.
"Ya, sudah. Ala bolehin daddy mencium pipi na Ala. Asal, daddy mau mengajak Ala pelgi ke moll buat beli balang-balang yang Ala inginkan," ujar Ara yang lebih mengalah dari pada dia tidak jadi pergi ke moll.
"Oh Tuhan... Anak ini benar-benar duplikat aku. Dia pandai sekali memanfaatkan keadaan sebaik mungkin. Walaupun dia tidak suka di cium oleh aku. Tapi, demi keuntungannya sendiri, dia terpaksa membolehkan aku menciumnya. Sungguh licik sekali anak ini," batin Alex Seraya terkekeh geli melihat tingkah laku anaknya.
"Sudah cukup anda membohongi anak aku tuan Alex. Saya tahu anda bukan ayah kandung anak aku. Tapi kenapa anda malah memberikan harapan palsu sama anak aku?" tanya Claudia dengan tatapan tajamnya.
Mendengar perkataan wanita kesayangannya yang sedang kesal. Membuat Alex tertawa terbahak-bahak. Dia tidak habis pikir dengan dua wanita kesayangannya yang sama sekali tidak takut dengan nya. Jika orang lain mungkin sudah ketakutan sejak tadi.
"Apa kamu tidak bisa melihat, kalau kami sangat mirip, bukan hanya wajah saja yang mirip.Tapi sifat kami pun sama persis?" tanya Alex dengan seringai liciknya.
"Sekarang aku sudah tahu. Kenapa Ara memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dengan aku. Ternyata dia mewarisi sifat laki-laki ini. Sekarang apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak mau laki-laki ini merebut Ara dari sisi aku," batin Claudia yang semakin takut jika benar kenyataan kalau laki-laki ini ayah kandung Ara.
"Mana buktinya kalau kamu ayah kandung anak aku?" tanya Claudia dengan tegas.
"Sudah aku duga. Kalau kucing liar ku ini bukan wanita bodoh, yang mau percaya begitu saja sebelum adanya bukti. Tapi kamu tenang saja sayang. Aku sudah mempersiapkan bukti tes DNA anak kita," batin Alex dengan senyum penuh kemenangan.
"Ndre... bawa berkas yang sejak tadi aku persiapkan untuk menyambut kedatangan calon istri aku ini," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan Alex." Andre menjawab seraya mengambil berkas yang Alex inginkan.
"Ini tuan berkasnya," ujar Andre seraya menyerahkan berkas itu sama Alex.
"Kamu bisa duduk sekarang," titah Alex seraya menerima berkas itu dari Andre.
"Baik tuan," jawab Andre dengan sopan.
Mendengar perkataan Alex membuat Claudia memutar bola matanya malas. Dia tetap kekeh berdiri di depan mereka.
"Mana buktinya," titah Claudia seraya mengulurkan tangannya agar Alex menyerahkan berkas itu padanya.
Hahahaha
"Sepertinya, kucing liar ku tidak sabaran ingin melihat berkas yang sejak tadi aku pegang ini Eummm?" tanya Alex seraya menggoda Claudia.
"Cepat berikan berkas itu pada saya. Apa anda sengaja ingin mempermainkan saya?" tanya Claudia dengan tatapan tajamnya.
Hahahaha
"Ya, ampun sayang. Kenapa kamu galak banget sama calon suami kamu sendiri?" tanya Alex seraya tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kamu ketawa. Emangnya ada yang lucu?" tanya Claudia dengan wajah kesal.
"Tak ku sangka. Beruang kutub akhirnya bisa mencair juga. Hanya nona Claudia yang bisa membuat tuan Alex ketawa lepas seperti itu. Baguslah kalau tuan Alex sudah mendapatkan pawangnya. Dengan begitu aku tak perlu takut lagi, jika sewaktu-waktu tuan Alex menindas ku. Karena aku bisa mendapatkan perlindungan dari nona Claudia," batin Andre dengan senyum bahagia.
"Aku ketawa gara-gara kamu sayang," ujar Alex seraya terkekeh geli melihat wajah calon istrinya yang terlihat mengemaskan saat dia marah seperti ini.
Mendengar perkataan Alex membuat Claudia makin benci dengan nya. Sementara Ara hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah laku ke dua orang tuanya yang seperti anak kecil saja.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa mommy cama daddy bisa belhenti beldebat? Pala Ala pucing melihat kalian beldebat sepelti itu," ujar Ara dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Maafin daddy sama mommy sayang. Daddy berjanji tidak akan berdebat lagi dengan mommy nya Ara," sahut Alex seraya mencium gemas pipi chubby anaknya.
"Ihhh, tenapa daddy ndak ngelti juga. Ala ndak suka kalau pipi na di cium sepelti ini," ujar Ara seraya menghapus bekas ciuman Alexander yang ada di pipinya itu.
Alex yang mendengar perkataan anaknya hanya bisa menghela nafas pasrah dan dia terpaksa menuruti keinginan anaknya. Jika tidak, anaknya pasti akan marah dengan nya nanti.
"Baiklah. Daddy janji tidak akan mencium Ara lagi." Alex berucap dengan pasrah.
"Baguslah kalau daddy sudah mengelti. Awas saja kalau daddy mengulangi ladi. Ara akan malah cama daddy," ancam Ara dengan tegas.
"Apa Ara sudah makan. Kalau belum, daddy akan pesankan makanan untuk Ara?" tanya Alex seraya mengalihkan pembicaraan.
"Ala belum makan sejak tadi daddy." Ara berucap dengan cepat.
"Ara mau makan apa? Biar daddy pesan kan untuk Ara?" tanya Alex dengan lembut.
"Ala bisa makan apa saja, kecuali sayul. Kalena Ala sangat benci yang nama na sayul." Ara berucap dengan cepat.
"Baik. Daddy pesan kan dulu makanan untuk Ara. Bagaimana dengan kamu sayang? Apa kamu mau aku pesan kan makanan juga?" tanya Alex pada Claudia yang sejak tadi masih berdiri di depannya.
"Kenapa dia selalu memanggil aku dengan sebutan sayang? Apa dia tidak tahu, kalau aku malu sekali saat dia panggil aku dengan panggilan sayang. Tapi, lihat laki-laki ini malah bersikap biasa saja, setelah membuat aku salah tingkah seperti ini. Dasar laki-laki gila," batin Claudia dengan wajah kesal.
"Tidak usah pak Alex. Aku belum lapar." Claudia menolak dengan tegas.
"Kenapa wanita ini keras kepala sekali? Aku sangat yakin kalau dia pasti sedang lapar sekarang. Tapi, karena gengsi, dia malah menahan lapar," batin Alex dengan wajah kesal.
"Sebaiknya kamu duduk saja di depan kami. Apa kamu tidak capek berdiri sejak tadi?" tanya Alex saat melihat Claudia masih berdiri di depannya.
"Bagaimana dengan buktinya? Kapan anda memberikan nya pada saya?" tanya Claudia seraya menahan emosi, gara-gara di permainan oleh Alex.
"Tunggu kami selesai makan dulu. Baru aku akan kasih kamu bukti tes DNA itu." Alex berucap dengan santai.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Daddy cama mommy bicala apa sejak tadi? Tenapa kalian bicala yang ndak Ala ngelti?" tanya Ara dengan kening mengkerut.
"Tidak apa-apa sayang. Ini masalah orang dewasa." Alex berucap dengan lembut.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa jadi olang dewasa sangat melepotkan sekali? Ada saja masalah na. Enakan jadi Ala yang hidup na selalu tenang dan jauh dali masalah," ujar Ara dengan santai.
Tanpa Ara tahu, kalau mereka sangat kesal dengan nya yang bicara santai seperti itu seolah-olah dia tidak berbuat salah sedikitpun. Padahal dia lah penyebab orang mendapatkan masalah bahkan sampai di tangkap oleh polisi.
"Cepat duduk sayang. Kalau tidak, aku tidak akan memberikan bukti tes DNA itu pada kamu nanti," ancam Alex dengan tegas.
Mendengar Ancaman Alex. Membuat Claudia langsung duduk di depan Alex. Sebenarnya dia sudah capek sejak tadi. Tapi karena gengsi dia tetap berusaha berdiri walaupun kakinya sudah kram saat berdiri tadi.
Alex yang melihat calon istrinya sudah duduk di depannya. Tanpa sepengetahuan Claudia, dia langsung memesan makanan untuk nya. Walaupun calon istrinya menolak makanan yang dia tawarkan.
Tapi, tetap saja dia memesan makanan untuknya. Karena dia tahu calon istrinya pasti sudah menahan lapar sejak tadi. Terserah dia mau makan apa tidak nanti. Yang penting dia pesan dulu makanan nya. Siapa tahu dia berubah pikiran dan mau memakan makanan yang dia pesankan.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung.....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁