One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Morning Sickness )


__ADS_3

Ruang Meeting


Saat ini Alex sedang berada di ruang meeting, tiba-tiba dia mengalami morning sickness. Sehingga menyebabkan dia lemah dan tak bertenaga.


Huek... Huek... Huek...


"Kenapa perutku mendadak mual lagi?" batin Alex ketika merasa perutnya mual dan ingin muntah-muntah. Ia menahan rasa mual nya agar tidak menganggu kegiatan rapat.


Andre yang melihat ada yang aneh dengan atasannya, ia segera mendekat dan bertanya ada apa dengan nya.


"Kau kenapa tuan?" tanya Andre seraya berbisik.


"Tidak tau, aku merasa mual dari tadi. Dan sekarang mencium bau mu rasanya aku benar-benar ingin muntah." Andre mengernyitkan dahinya ketika mendengar perkataan Alex. Dia mencium baunya sendiri dan dia tidak merasakan jika tubuhnya bau.


"Hmmppthh." Alex yang semakin mual akhirnya tidak tahan lagi, dia segera berlari ke arah toilet yang ada di ruangan meeting. Para peserta meeting langsung saja menatap heran ke arah Alex, rapat juga terhenti karena pimpinan perusahaan sedang berlari ke toilet.


Andre yang melihat Alex berlari ke toilet segera menyusul dan memastikan keadaan nya baik-baik saja.


"Kau tidak apa-apa tuan? Apakah tuan sedang sakit?" tanya Andre yang langsung masuk ke dalam toilet yang kebetulan tidak terkunci, sehingga dia bisa melihat Alex yang sedang muntah di dalam sana.


Setelah menunggu Alex selesai memuntahkan isi perutnya dia kembali bertanya.


"Bagaimana? Apakah tuan sedang sakit?" tanya Andre dengan cemas saat melihat keadaan tuan nya.


"Tidak, hanya saja saat aku mencium aroma parfum mu yang murahan itu, membuat aku muntah. Kau handle rapat ini, aku akan ke ruangan ku untuk beristirahat dan ganti parfum mu itu," ujar Alex dengan memencet hidungnya agar tidak mencium aroma parfum Andre, dia segera berlalu pergi meninggalkan ruangan meeting.


Andre yang mendapatkan ejekan jika parfumnya murahan hanya memutar bola matanya malas dan berdecak kesal, perasaan parfum yang ia gunakan sama seperti biasanya. Namun kenapa Alex mengatakan jika dia semakin mual jika mencium aroma parfum nya yang mahal.


Andre segera menghandle rapat yang sempat tertunda beberapa menit dan segera menyelesaikannya setelah rapat selesai dia segera melangkah ke arah ruangan Alex.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


"Tuan kenapa? Wajah tuan pucat sekali?" tanya Andre dengan wajah khawatir ketika melihat Alex yang lemas dan wajahnya yang sangat pucat.


"Aku tidak tahu, sejak tadi pagi aku mual begini," ujar Alex.


"Kalau begitu aku panggil dokter Marko agar datang ke sini untuk memeriksa keadaan tuan," ujar Andre.


"Tidak, aku istirahat saja. Nanti juga sembuh sendiri," ujar Alex dan berlalu pergi melangkah ke arah kamar pribadinya yang ada di ruang kerjanya.


Andre yang melihat Alex hanya bisa menghela nafasnya kasar, ia sudah sangat khawatir dengan kondisi atasannya. Namun, atasannya sendiri malah tidak mau memperdulikan kesehatannya.


Hari ini Claudia, Ara, dan juga Dian pergi ke perusahaan Alexander sekalian membawa makan siang untuk suaminya Claudia.


Beberapa jam kemudian, dia telah sampai di perusahaan Apple Inc. Mereka langsung turun dan menaiki lift khusus presdir.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di depan ruangan Ceo dan bertemu dengan Andre yang ingin masuk ke dalam ruangan Alex.

__ADS_1


"Selamat siang nyonya, nona kecil, Nona Dian." Sapa Andre dengan sopan yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.


"Kalian datang ke sini?" tanya Andre.


Ara yang mendengar pertanyaan Andre yang menurutnya sangat aneh merasa terheran dan langsung melirik ke arah Andre.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Apa om Ande salah makan?" tanya Ara dengan tatapan memicing.


"Tidak nona kecil, memangnya kenapa?" tanya Andre dengan bingung.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa peltanyaan om Ande sangat aneh sekali? Kami sudah beldili di depan om Ande. Jadi, untuk apa lagi om Ande beltanya cama kami?" tanya Ara dengan bingung.


Sedangkan Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk. Claudia dan Dian menahan tawanya saat mendapati expresi bodoh dari Andre.


"Ahh yaya, maaf nona kecil. Otakku hari ini sedang eror saat melihat tuan Alex lemas dan muntah sedari tadi," ucapan Andre sontak mendapatkan tatapan khawatir dari Claudia. Tanpa aba-aba langsung saja dia masuk ke dalam ruangan Alex.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa sejak om Ande memiliki isci bukan na tambah pintal tapi om Ande malah tambah bodoh. Jika om Ande masih menjadi olang bodoh sepelti ini, maka dengan telpaksa Ala akan memecat om Ande dali peluhasaan Ala. Karena Ala ndak mau bawahan yang ndak becus sepelti om Ande," ujar Ara seraya masuk ke dalam ruangan ayahnya.


Mendengar perkataan Ara membuat Andre terkejut dan juga shock. Dia tidak menyangka anak atasannya bisa berbicara seperti itu. Padahal dia masih sangat kecil tapi dia sudah bersikap seolah-olah pemimpin di perusahaan ini.


Claudia yang sudah masuk ke ruangan tidak menemukan Alex. Langsung saja melangkah menuju kamar pribadinya pria itu, Ara dan Dian pun mengikuti Claudia dari belakang. Dan benar saja, jika Alex sekarang sedang terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat.


"Bangun mas," ujar Claudia seraya menggoyangkan badan Alex, Alex yang merasa tidurnya terusik pun mencoba membuka matanya dan mengerjap. Ia melihat sudah ada istri, anak, dan baby sister anaknya. Ia beranjak duduk dan bersandar pada sandaran ranjang.


"Kalau kamu sakit, kenapa memaksa untuk bekerja sayang?" tanya Claudia seraya duduk di sebelah suaminya.


"Tidak apa-apa sayang, nanti juga sembuh kalau di buat istirahat," ujar Alex.


"Jangan suka membantah mas, kalau kamu merasakan tubuhmu sakit jangan dipaksa untuk bekerja," hardik Claudia dengan kesal saat melihat suaminya yang sangat keras kepala.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa daddy halus sakit? Jika daddy sakit siapa yang mengulus pelusahaan ini? Ala takut pelusahaan ini akan bangklut," ujar Ara.


"Diam kamu anak nakal. Yang kamu pedulikan cuman harta dan harta saja. Apa kamu tidak kasihan dengan daddy kamu yang lagi sakit ini?" tanya Claudia dengan wajah kesal.


Mendengar perkataan ibunya membuat Ara terdiam seperti patung. Sebenarnya dia juga khawatir pada ayahnya. Tapi, karena dia masih marah pada ayah nya yang sudah ingkar janji padanya. Sehingga membuat dia bersikap seolah-olah tidak peduli pada ayahnya.


"Sudah sayang. Jangan kamu pedulikan anak matre itu. Lebih baik kamu makan saja, biar kamu punya tenaga nanti," ujar Claudia seraya memberikan makanan pada suaminya.


"Aku mau di suapin sama kamu sayang," ujar Alex dengan manja.


"Ihhh, pucing pala Ala..."

__ADS_1


"Tenapa daddy jadi olang manja banget? Ala saja yang masih kecil ndak pelnah lagi meminta di suapin cama mommy sedangkan daddy yang sudah besal masih meminta di suapin cama mommy," ujar Ara seraya mengejek ayahnya.


"Biarin, kalau kamu mau seperti daddy. Sebaiknya kamu cari suami sana biar kamu bisa bermesraan seperti daddy," ujar Alex dengan wajah tanpa dosa.


Mendengar perkataan Alex membuat mereka terkejut. Bagaimana tidak terkejut, anaknya masih di bawah umur tapi dia malah menyuruhnya menikah.


"Apa kepala mas Alex terbentur sesuatu? Aku merasa mas Alex bukan seperti dirinya sendiri," batin Claudia yang merasa bingung saat melihat perubahan sikap suaminya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tunggu Ala besal dulu balu Ala akan menikah dengan laki-laki kaya laya. Kalau untuk sekalang Ala belum boleh menikah kalena masih kecil," sahut Ara.


"Sekarang mas makan dulu. Biar aku yang suapin mas Alex."


"Akkk." Claudia menyodorkan ke arah Alex dan mulutnya ikut ternganga bagaikan menyuapi anak kecil, Alex mengernyit ketika melihat cara Claudia menyuapi nya.


"Buka mulutmu mas! Jangan melamun ish." Kesal Claudia saat Alex tidak membuka mulutnya. Akhirnya Alex membuka mulutnya, dan Claudia menyuapi makanan tersebut. Namun, tidak berangsur lama Alex kembali merasa mual.


"Hmmmptth." Alex langsung lari ke dalam toilet yang ada di kamar pribadinya Alex, Claudia yang melihat Alex ke dalam toilet langsung menyusulnya. Ia memijat tengkuk pria itu.


Huekk... Huekk... Huekk...


"Alex memuntahkan seluruh makanan yang baru saja ia telan, ia terlihat sangat lemas sekali. Wajahnya juga nampak sangat pucat.


Claudia memapah tubuh Alex kembali ke ranjang, ia merebahkan Alex. Ketika Claudia akan beranjak menjauh, pergelangan tangannya di cekal oleh Alex


"Temani aku, aku ingin memeluk dan mencium aroma tubuhmu agar tidak mual." Dahi Claudia mengernyit atas pernyataan Alex, memang bisa begitu? Tapi, karena kasihan melihat Alex yang lemas dan pucat akhirnya ia menuruti kemauannya.


"Baiklah, bergeser lah sedikit." Claudia merebahkan tubuhnya di sebelah kanan Alex. Pria tersebut langsung memeluk wanita itu dengan posisi tidur membelakangi nya.


Kepala Alex di taruh di ceruk leher jenjang Claudia, ia menghirup dalam wangi jeruk dari tubuh Claudia.


Claudia terdiam gugup, detak jantungnya berdetak dengan kencang saat merasakan hembusan nafas Alex yang membuat darahnya berdesir.


Tanpa sadar keduanya tertidur cukup pulas. Entah kapan mereka sama-sama tertidur.


"Ayo nona kecil kita keluar dari sini," ujar Dian saat melihat majikannya sudah terlelap.


"Ihhh, pucing pala Ala,"


"Oke, aunty Dian. Sebaiknya kita pulang saja dali sini. Sepelti na meleka akan lama bangun na," ujar Ara.


"Baik nona kecil," jawab Dian menggandeng tangan mungil Ara seraya pergi dari sana.




__ADS_1


Bersambung....


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2