
Di ruangannya CEO, Jessica sedang menemani Ara yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangannya Maxim.
"Hallo anak cantik. Kamu lucu sekali sih. Kamu mau makan apa sayang?" tanya Jessica yang sangat gemes sama Ara. Pengen rasanya dia mencubit pipi chubby nya itu.
"Apa saja aunty. Ala ndak milih-milih makanan," ujar Ara dengan lucunya.
"Wah... kamu emang anak yang pintar dan baik. Baiklah sebentar ya. Aunty Jessi pesankan dulu makanan untuk kamu," ujar Jessica seraya menelpon OB untuk memesan makanan untuk Ara.
"Oke, aunty Cika," jawab Ara dengan mata bulatnya yang lucu.
"Kalau boleh aunty tahu, nama kamu siapa sayang?" tanya Jessica dengan lembut.
"Nama Ala, Alabella Anastasya aunty," jawab Ara yang merasa bangga menyebut namanya sendiri. Karena menurutnya nama dia sangat bagus patut di banggakan.
"Kamu lucu sekali sih sayang, boleh tidak aunty cubit pipi chubbynya kamu itu?" tanya Jessica dengan hati-hati takut kalau anak bosnya tersinggung dan malah menangis.
"Solly aunty, Ala bukan badut. Jadi aunty ndak boleh cubit-cubit pipina Ala," ujar Ara karena dia paling benci kalau ada orang yang memegang pipinya itu.
Jessica yang mendengar perkataan Ara, jadi mengurungkan niatnya untuk mencubit pipi anak bosnya itu.
"Ya, sudah aunty tidak akan mencubitnya. Tapi boleh aunty tahu, apa benar tuan Maxim itu Daddynya Ara?" tanya Jessica yang masih penasaran apa Ara anak kandung bosnya apa bukan.
Soalnya dia melihat wajah Ara tidak ada mirip sedikitpun dengan bosnya itu. Itu sebabnya dia menanyakan langsung pada Ara, biar dia tidak penasaran lagi.
"Tentu saja Ala anakna. Emang aunty pikil Ala anak siapa?" tanya Ara dengan tatapan tajamnya.
Melihat tatapan tajamnya Ara membuat Jessica jadi takut. Kalau sampai Ara melaporkan soal dia yang meragukan anak bosnya itu bisa habis dia.
"Aduh Jessi... kenapa kamu bodoh sekali sih menanyakan soal itu sama nona kecil. Bagaimana kalau dia mengadu sama ayahnya bisa di pecat aku dari perusahaan ini," batin Jessica dengan raut wajah takut.
"Tentu saja nona kecil anaknya pak maxim. Aunty cuman penasaran karena nona kecil sangat cantik. Apa nona kecil mirip mommy nya, soalnya nona kecil tidak mirip dengan Daddynya sedikitpun?" tanya Jessica dengan senyum, biar dia tidak terlalu tegang saat bicara dengan Ara.
"Tentu saja Ala antik. Ala kan milip model Bella cadid. Tenapa aunty bodoh sekali kalau bicala. Ala ini cewek, tentu saja ndak milip Daddy. Kalena Daddyna Ala kan laki-laki. Jadi, sudah pasti Ala lebih milip mommy, kalena kami sama-sama pelempuan," ujar Ara dengan wajah kesel.
Jessica yang mendengar perkataan Ara hanya melongo, karena dia tidak percaya anak sekecil Ara bisa menyombongkan dirinya sendiri, lebih parahnya lagi sampai mengaku mirip model terkenal itu lagi.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
Tak Lama Kemudian
__ADS_1
Masuklah OB seraya membawakan makanan untuk Ara yang di pesan oleh Jessica tadi.
"Permisi nona, nona kecil. Ini makanan pesanan yang anda minta tadi," ujar OB itu.
"Taruh saja di sana," sahut Jessica seraya menunjuk ke arah meja di dekat sofa yang Ara duduk sekarang.
"Baik nona," jawab OB wanita itu seraya menaruh makanan di depan Ara duduk sekarang.
"Saya permisi dulu nona, nona muda," sambungnya lagi seraya keluar dari ruangan itu yang dibalas anggukan kepala oleh Jessica.
"Ayo nona kecil makan dulu. Nanti bisa main lagi," ujar Jessica dengan lembut.
"Ala ndak mau makan aunty," sahut Ara dengan cepat.
"Loh... Kenapa nona kecil tidak mau makan?" tanya Jessica lagi.
"Ala ndak suka makanan itu aunty Cika," ujar Ara lagi.
"Kenapa tidak suka. Bukannya Ara yang bilang sama aunty, kalau Ara mau makan apa saja dan tidak pilih-pilih makanan?" tanya Jessica dengan heran.
"Ala bilang ndak mau. Tenapa aunty masak Ala telus dali tadi sih?" tanya Ara dengan wajah kesal.
"Ya, sudah kalau Ara tidak mau makan terserah. Aunty tidak peduli lagi," ujar Jessica yang kecoplosan bicara dengan suara sedikit keras karena kesel dengan tingkah Ara yang menyebalkan.
Ara yang mendengar suara keras Jessica langsung saja lari dari sana seraya menangis sesenggukan.
•
•
Saat mereka masih asyik membicarakan kesepakatan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan lain.
Tak Lama Kemudian
Brak
Dan masuklah anak kecil yang dari tadi masih menangis sesenggukan. Siapa lagi orang nya kalau bukan si cantik ratu drama Arrabella.
"Daddy," panggil Ara seraya lari ke arah Maxim dengan tangis sesenggukan.
Maxim yang melihat Ara menangis langsung mengangkat Ara ke dalam pangkuan nya. Sementara orang-orang yang ada didalam ruangan itu penasaran siapa anak kecil yang ada di pangkuan Maxim.
"Ada apa sayang? Kenapa Ara menangis hemm?" tanya Maxim dengan lembut seraya mengelus rambut pirang Ara.
__ADS_1
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Daddy... Hiks... Hiks... Daddy tahu tidak, kalau nenek sihil itu tadi membelikan Ala makanan belacun... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.
"Apa?" teriak semua orang yang ada di ruangan itu termaksud seseorang yang sejak tadi selalu memperhatikan Ara yang berada di pangkuan Maxim.
Orang itu adalah Alexander Lemos ayah kandung Arrabella Anastasya. Dia juga berada di perusahaan Maxim untuk membahas kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan Maxim Almero.
Dia merasakan perasaan senang, hangat, bahkan hatinya bergetar saat melihat Ara entah karena apa, dia pun tidak tahu. Padahal yang menyebabkan dia merasakan perasaan seperti itu karena ikatan batin seorang ayah dan anak yang sudah lama terpisahkan.
Dan sekarang untuk pertama kalinya dia di pertemukan dengan anak kandungnya sendiri. Tapi sayang seribu sayang, karena dia tidak mengenal siapa Ara begitu pun dengan Ara yang tidak tahu kalau Alexander adalah ayah kandung nya selama ini.
"Coba tuan perhatikan wajah anak itu baik-baik. Bukannya wajah anak itu mirip sekali dengan tuan saat masih kecil," ujar Andre yang sejak tadi tidak pernah lepas melihat wajah Ara yang sangat mirip dengan bosnya itu.
"Kamu yakin dia mirip dengan ku?" tanya Alex dengan penasaran.
"Benar sekali tuan. Jika tuan melihat foto tuan waktu masih kecil, aku yakin tuan akan percaya dengan perkataan aku," ujar Andre.
"Apa jangan-jangan anak itu anak kandung tuan yang dibawa kabur oleh perempuan itu," sambungnya lagi.
"Mana mungkin dia anakku Ndre... kamu tidak lihat betapa sayangnya Maxim sama anak kecil itu. Bukannya itu sudah menjelaskan kalau anak itu darah dagingnya Maxim," ujar Alex.
"Lagian aku juga belum tahu apa perempuan itu hamil anak aku apa tidak. Jadi aku tidak bisa menganggap anak orang lain menjadi anak aku sendiri," sambungnya lagi.
"Jika benar wanita itu pernah hamil anak tuan. Aku sangat yakin, usianya pasti tidak jauh berbeda dengan anaknya tuan Maxim," ujar Andre.
"Bagaimana kalau tuan melakukan tes DNA saja dengan anak itu. Biar jelas apa anak itu anak tuan apa bukan," sambungnya lagi.
"Dasar bodoh. Mana mungkin aku meminta Maxim untuk melakukan tes DNA, yang ada dia tersinggung gara-gara kita menaruh curiga dengan anaknya itu," ujar Alex dengan tatapan tajamnya.
"Maksud saya tuan. Secara rahasia saja tuan melakukannya, biar kita tahu anak itu anak tuan apa bukan," ujar Andre.
"Untuk apa aku repot-repot melakukan tes DNA dengan anak yang sudah jelas ada ayahnya. Aku akan melakukan tes DNA jika sudah menemukan wanita itu, jika dia terbukti pernah hamil empat tahun yang lalu," ujar Alex.
"Kenapa tuan sekarang jadi bodoh sekali? Apa dia tidak menaruh curiga dengan anak itu? Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa kalau anak itu lebih cocok menjadi anaknya, dari pada anak tuan Maxim.
"Ya, sudahlah jika tuan tidak percaya dengan perkataan aku. Yang penting aku sudah mengingatkan nya. Jika dia tidak mau mengikuti saran aku terserah dia saja," batin Andre.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung......
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁