One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Siapa Kalian )


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin yang menyebabkan Ara ngambek sama Claudia. Dengan terpaksa Claudia mengajak Ara pergi ke moll untuk membujuknya agar anaknya tidak marah lagi sama dia.


Dan benar saja. Rencana ini benar-benar berhasil membuat Ara kembali lagi ceria seperti dulu. Tapi sayang, Claudia harus mengeluarkan uang yang sangat banyak agar anaknya ini tidak marah lagi sama dia.Tapi itu tidak menjadi masalah buatnya. Asalkan anaknya bisa kembali ceria seperti dulu lagi.


"Bagaimana sayang? Apa Ara sudah memaafkan mommy?" tanya Claudia dengan lembut.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Selama mommy membelikan Ala uang dan balang mahal sepelti ini. Ala pasti akan memaafkan mommy," ujar Ara dengan antusias.


"Oh Tuhan... kenapa anak aku matre banget seperti ini? Aku sungguh kasihan sama calon suaminya nantik jika harus menikah dengan anak aku yang licik dan matre ini," batin Claudia dengan pasrah.


"Ya sudah. Sebaiknya kita pergi dari sini. Ara ikut ke kantor mommy saja. Karena mommy tidak bisa mengantar Ara pulang dulu. Karena mommy sudah telat masuk kerja," ujar Claudia.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Bukan na itu pelucahaan mommy sendili? Tenapa mommy halus takut telat masuk kelja na? Yang sehalus na takut kan meleka. Bukan mommy yang halus takut cama meleka?" tanya Ara dengan kening mengkerut.


"Anak ini sangat pintar sekali kalau bicara. Semua yang dia bicarakan tidak pernah salah sedikitpun. Bahkan aku yang mommy nya sendiri selalu kalah, kalau berdebat dengannya," batin Claudia.


"Ara?" Dengerin mommy. Walaupun itu perusahaan kita sendiri bukan berarti kita semena-mena datang ke sana. Karena itu bukanlah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap bawahannya. Jadi sebagai pemimpin kita harus bisa memberikan contoh yang baik agar bawahan kita bisa bekerja dengan benar dan disiplin," ujar Claudia dengan sabar.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa mommy malah membuat pala Ala tambah pucing sih? Sudah tahu Ala ini masih kecil. Tapi mommy, masih saja bicala yang ndak Ala ngelti. Sudahlah lebih baik kita pulang saja," ujar Ara dengan wajah kesal.


"Ini anak kenapa suka sekali menyalahkan orang lain. Padahal dia sendiri yang bertanya. Giliran di jawab, malah menyalahkan aku. Kalau tidak ingat dia anak kandung aku sendiri. Sudah lama aku kembalikan dia sama orang tuanya," batin Claudia dengan wajah kesal.


Karena tidak ingin berdebat lagi akhirnya Claudia mengikuti keinginan Ara untuk segera pergi dari sana.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Claudia dengan lembut yang di jawab anggukan kepala oleh Ara.


"Mbak, tolong bantu bawakan barang-barang anak saya ke dalam mobil saya sebentar," titah Claudia dengan sopan.


"Baik Nyonya," jawab pelayan itu seraya membawakan barang-barang mereka yang banyak itu, terutama barang Ara.


"Dimana saya harus menaruh barangnya Nyonya?" tanya pelayan itu saat sudah berada di dekat mobil Claudia.


"Taruh di sini sana mbak," ujar Claudia seraya menunjukkan bagasi mobilnya.


"Baik nyonya," jawab pelayan itu dengan sopan.


"Terima kasih mbak, atas bantuannya, dan ini tips untuk kamu," ujar Claudia seraya memberikan beberapa lembar uang tunai untuk pelayan itu.


"Sama-sama Nyonya," jawab pelayan itu seraya menerima uang dari tangan Claudia dengan hati bahagia.


"Ara?" Pakai sabuk pengaman dulu," titah Claudia saat melihat anaknya tidak memakai sabuk pengaman.

__ADS_1


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Mommy sudah tahu Ala ndak bisa pakai sendili. Tapi tetap saja menuluh Ala memakai na," ujar Ara dengan wajah kesal.


"Maaf mommy lupa. Sini mommy pakaikan dulu sabuk pengaman nya Ara," ujar Claudia seraya memakaikan sabuk pengaman anaknya.


Di Perjalanan


Ckiitt


"Astaga apa yang terjadi? Ara kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Claudia dengan wajah khawatir pada anaknya, saat tiba-tiba ada mobil yang menghadang mereka hingga Claudia terpaksa menggerem mendadak. Untung mereka menggunakan sabuk pengaman kalau tidak, entah apa yang akan terjadi dengan mereka.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ala ndak apa-apa mommy," ujar Ara dengan cepat.


"Syukurlah kalau Ara tidak apa-apa," ujar Claudia dengan wajah lega saat melihat keadaan anaknya baik-baik saja.


Tak lama kemudian turunlah beberapa orang yang berpakaian serba hitam, dan mereka langsung menghampiri ke arah mobil Claudia berada saat ini.


"Turun," titah orang itu dengan tegas.


Mendengar ada suara seseorang yang menyuruhnya turun. Langsung saja Claudia menoleh ke asal suara. Saat Claudia melihat beberapa orang yang berpakaian serba hitam. membuatnya ketakutan.


"Cepat buka pintunya. Atau kami pecahkan kaca mobilnya," ancam mereka lagi.


"Siapa kalian? Mau apa kalian dengan kami?" tanya Claudia dengan wajah ketakutan.


"Cepat bawa masuk mereka ke dalam mobil," titah ketua mereka tanpa menjawab pertanyaan Claudia.


"Kenapa kalian menculik kami?" Saya mohon. Tolong lepaskan kami," ujar Claudia seraya berontak agar bisa terlepas dari mereka.


"Lebih baik anda diam nona. Kalau tidak, kami terpaksa menembak kalian disini," ancam orang itu lagi hingga membuat Claudia terdiam.


"Baik. Saya akan ikut Kalian, tapi saya mohon lepaskan anak saya tuan... Hiks... Hiks..." Mohon Claudia seraya terisak.


"Cepat jalan," titah ketua itu saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Baik bos," jawab anak buah ketua itu seraya melajukan mobilnya.


Saat Di Perjalanan


"Om mau apa cama kami? Kalau om mau menculik kami cuman gala-gala uang. Sebaikna om mengelungkan niat na, kalena kami bukan olang kaya.


"Jadi pelcuma kalian menculik kami. buang-buang waktu kalian saja. Kalena ndak ada seolang pun yang akan menebus kami nanti. Bahkan Ala ndak memiliki daddy yang akan menyelamatkan Ala cama mommy nanti," ujar Ara dengan wajah sendu.


Mendengar perkataan Ara membuat penculik itu saling tatap. Setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak, entah apa yang lucu sehingga mereka tertawa seperti orang gila.

__ADS_1


"Ada apa dengan olang ini? Tenapa meleka teltawa sepelti olang gila? Apa Ala ada salah bicala?"


"Di lihat dali pakaian yang meleka pakai, sepelti bukan penjahat. Tapi, kalau bukan penjahat untuk apa meleka menculik Ala cama mommy. Ihhh... pucing pala Ala," batin Ara yang masih berada dalam pelukan mamanya.


"Tenapa kalian ketawa? Apa Ala ada salah bicala?" tanya Ara dengan penasaran.


"Lebih baik kamu diam saja anak kecil," sahut orang itu dengan suara tegas.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Dacal penjahat bodoh. Sudah Ala bilang kalau kami ini bukan olang kaya tapi masih saja menculik kami," ujar Ara dengan wajah kesal.


"Oh Tuhan... kenapa anak ini cerewet sekali? Jika di izinkan ingin sekali membuang anak ini ke laut biar di makan ikan hiu saja," batin ketua itu dengan wajah kesal.


"Bos? Lebih baik kita bius saja anak cerewet ini biar dia bisa diam. Kami pusing mendengar dia bicara," sahut anak buah ketua itu.


"Apa kamu mau mati?" Jika kalian tidak mau mendengar suara anak itu. Lebih baik kalian tutup telinga kalian saja," ujar ketua itu yang membuat mereka ketakutan dengan kemarahan bosnya itu hingga menyebabkan mereka terdiam seperti patung.


"Siapa kalian? Kenapa kalian ingin menculik kami?" tanya Claudia dengan kening mengkerut karena dia merasa tidak memiliki musuh selama ini.


"Anda tidak perlu tahu siapa kami. Lebih baik kalian diam saja jangan banyak bicara," titah ketua itu dengan tatapan tajamnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Siapa juga yang ingin mengenal cama olang jelek sepelti kalian. Lihat saja wajah kalian, jangankan Ala. Hantu saja takut melihat wajah kalian yang sangat selem itu," sahut Ara dengan wajah tanpa takut sedikitpun.


"Apa kamu bisa berhenti bicara? Jika tidak, saya akan melempar kamu dari sini," ancam ketua itu dengan tatapan tajamnya.


"Saya mohon jangan Lakukan apapun pada anak saya. Dia masih kecil belum mengerti apapun. Tolong maafkan dia." Mohon Claudia dengan wajah ketakutan.


"Kalau begitu. Suruh anakmu diam disana. Jangan sampai dia bicara lagi. Jika kamu tidak ingin anak kamu saya lempar dari mobil ini," ancam ketua itu lagi.


"Baik tuan. Saya akan menyuruh anak saya diam." Claudia berucap dengan cepat.


"Ara jangan bicara lagi. Mommy tidak mau mereka mencelakakan Ara nantik," bisik Claudia di telinga anaknya.


"Tenapa juga mommy halus takut cama olang itu? Jika meleka benelan mau melakukan apa yang di katakan na itu. Pasti sudah sejak tadi dia lakukan. Untuk apa juga dia halus mengancam kami segala. Sepeltina ada yang ndak beles. Meleka pasti suluhan seseorang yang ndak suka cama kami atau sebaik na.


"Sudahlah. Lebih baik Ala diam saja dali pada halus melihat mommy memohon cama meleka. Tapi awas aaja jika olang yang menuluh meleka olang yang baik cama Ala. Maka siap-siap saja Ala akan membalaskan kalian nanti," batin Ara dengan seringai liciknya.





Bersambung....

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2