
Di Restoran Perch
Restoran Perch salah satu restoran mewah yang ada di kota California. Bahkan pada malam berkabut, pemandangan dari Perch sangat indah. Lampu-lampu panas membuat teras tetap hangat untuk makan malam dan lubang-lubang api di lantai atas membuat malam tetap terang dengan cahaya yang kemerahan.
Tidak hanya itu di Restoran Perch menyediakan berbagai macam makanan yang sangat enak seperti scallop bacon yang lezat, tuna tartar, risotto jamur, dan bordelasise daging sapi yang sangat lembut dan masih banyak lagi makanan yang tersedia di restoran ini.
Di Ruangan VIP
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
"Angel kamu baru datang?" tanya salah satu teman arisan Angelina.
"Iya, Maaf saya datang terlambat," jawab Angelina dengan perasaan tidak enak.
"lain kali kalau ada kegiatan seperti ini, kamu harus datang tepat waktu. Kamu tidak lihat kami sudah capek menunggu kamu disini," sahut Sintia salah satu teman arisan Angelina dengan sinis.
"Ini nenek peyot belani sekali bicala kasal cama Oma na Ala. Awas saja jika nenek peyot ini masih menghina oma na Ala. Akan Ala balas dia nanti," batin Ara dengan wajah kesal.
"Maaf semuanya, saya tidak sengaja datang terlambat. Karena di jalan tadi macet banget," ujar Angelina dengan lembut.
"Alah, alasan saja kamu ini. Mentang-mentang kamu istrinya pengusaha ternama di negara ini malah datang seenak kamu saja. Bilang saja kalau kamu malu sama kami, karena mengakui kalau anak kamu alex sudah memiliki istri dan anak. Padahal ternyata dia seorang gay alias banci yang suka sesama jenis." Sintia menatap Angelina dengan sinis.
"Belani na nenek peyot menghina daddy na Ala. Apa nenek peyot mau Ala bikin bangklut." Ara mengancam dengan wajah menakutkan.
Mendengar suara anak kecil di dalam ruangan ini membuat mereka semua langsung menoleh ke asal suara hingga membuat mereka terkejut saat melihat wajah Ara seperti orang yang selama ini mereka takuti.
Tapi berbeda dengan Sintia wanita yang saat ini sedang menghina Angelina tidak ada raut wajah takut sedikitpun karena bagi dia keluarga Lemos tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan orang yang selama ini selalu mendukung dan membela keluarga dia. Tanpa dia tahu ini akhir dari hidupnya dan juga keluarga nya karena sudah berani mencari masalah dengan penguasa negara ini.
"Angel?" Siapa anak kecil yang ada di samping kamu ini? Kenapa wajah anak ini sangat mirip dengan anak kamu Alexander?" tanya Anisa salah satu teman arisan Angelina dengan penasaran, begitu pun yang lain juga ikut penasaran.
"Oh, kenalin dia adalah Arrabella cucu kandung saya, anak dari Alexander," Jelas Angelina seraya memamerkan cucu cantiknya sama temen-temen arisan dia, yang selama ini menghina anaknya sebagai seorang gay.
"Apa?" teriak mereka dengan wajah terkejut saat mendengar perkataan Angelina.
"Apa benar ngel, dia anak kandung Alexander? Bukannya selama ini gosip mengatakan kalau anak kamu itu gay?" tanya Anisa sangat syok saat mendengar perkataan Angelina.
"Itu semua berita palsu. Anak saya Alex laki-laki normal. Kalian bisa lihat sendiri wajah anak ini sangat mirip dengan Alex anak saya. Jadi mana mungkin anak saya seorang gay." Jelas Angelina dengan penuh keyakinan.
"Kalian jangan percaya sama Angel. Mungkin saja dia sengaja membayar anak ini untuk berakting seolah-olah dia adalah anak kandung Alexander." Sintia sengaja mempengaruhi mereka semua agar tidak percaya sama Angelina.
__ADS_1
Mendengar perkataan Sintia membuat Angelina berusaha menahan emosi agar tidak meledak. Sungguh, dia sangat benci dengan wanita bermulut pedas ini.
Jika orang lain pasti tidak akan ada yang berani menyinggung dia karena takut dengan nama belakang keluarganya. Tapi wanita ini sama sekali tidak takut dengan dia ataupun keluarganya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sekalang Ala beltanya cama nenek peyot. Belapa nenek peyot di bayal cama olang buat menjelekan oma dan daddy na Ala?" tanya Ara membalikkan kata-kata Sintia.
"Hey bocah. Apa kamu bisa menjaga mulut kamu itu untuk tidak berbicara kasar seperti itu sama orang yang lebih tua dari pada kamu. Lihat Angel, apa ini cucu yang kamu pamerkan pada kami. Aku yakin anak ini pasti anak dari jalanan yang kamu ambil, makanya anak ini tidak ada sopan santun pada orang yang lebih tua dari pada dia," ujar Sintia seraya mengejek ke arah mereka berdua.
Mendengar perkataan Sintia membuat Angelina tidak terima saat dia menghina anak dan juga cucu kesayangannya.Tapi pada saat dia ingin membalas Sintia langsung saja di cegah oleh Ara dengan cara menggelengkan kepalanya hingga membuat Angelina mengurungkan niatnya itu.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa kalian mendengal apa yang nenek peyot ini bicalakan tadi. Dia mengatakan Ala ndak ada sopan-santun kalena belbicala kasal cama dia. Bukan na dali tadi dia juga ndak sopan cama oma na Ala. Bahkan nenek peyot ini menghina daddy na Ala."
"Ala beltanya cama kalian. Jika kelualga kalian di lendahkan dan di hina di depan mata kalian apa kalian akan diam saja?" tanya Ara menatap mereka satu persatu.
"Tidak," jawab mereka dengan serentak.
"Nah... begitu pun Ala yang ndak akan telima kalau kelualga Ala di hina cepelti itu oleh nenek peyot ini. Tapi lihat nenek peyot ini sudah tua bukan na beltaubat agal waktu meninggal nanti ndak masuk nelaka. Tapi dia malah menasehati olang lain agal Ala bicala yang sopan cama dia. Sedangkan dia malah belbicala kasal cama olang lain. Dasal nenek keliput ndak tahu malu," ujar Ara dengan mulut pedasnya.
Mendengar perkataan Ara membuat semua orang yang ada di sana hanya bisa melongo dan juga syok. Sungguh, mereka tidak menyangka anak sekecil Ara bisa mengeluarkan kata-kata pedas seperti itu.
Berbeda dengan Sintia yang sudah geram dan emosi saat mendengar perkataan Ara yang sudah berani berbicara kasar padanya dan juga mempermalukan dia di depan semua orang.
"Ihhhh, pucing pala Ala..."
"Ini mulut Ala. Telselah Ala mau bicala apa saja. Jika nenek peyot ndak suka mendegal suala Ala. Nenek peyot tutup saja telinga na, beles kan," ujar Ara dengan santai.
"Kau ini masih terlalu kecil. Tapi, kenapa mulut kamu sangat pedas seperti cabai rawit, hah," bentak Sintia yang sudah geram dengan anak ini. Ada saja jawaban nya hingga membuat dia emosi seperti ini.
"Ihhh, pucing pala Ala... "
"Apa nenek peyot ndak capek malah-malah telus. Ala kasih salan. Sebaik na nenek peyot jangan teliak cepelti itu takut na nenek peyot malah telkenak penyakit jantung. Ahlil na malah meninggal mendadak sebelum nenek peyot beltaubat," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.
Hahahaha
"Sekarang kami percaya kalau anak kecil ini adalah anak kandung tuan Alexander. Lihat saja, cara dia bicara sama persis seperti tuan Alexander yang terkenal kejam dan licik," ujar Anisa tertawa terbahak-bahak.
"Kamu benar sekali Sa. Anak kecil ini benar-benar duplikat tuan Alexander," sahut Clara teman Angelina yang lain yang membenarkan perkataan Anisa seraya terkekeh.
"Kurang ajar. Kenapa malah aku yang di permalukan oleh anak kecil ini. Padahal niat aku ingin mempermalukan Angelina di depan mereka semua. Tapi sekarang malah aku yang malu," batin Sintia dengan wajah emosi.
"Sebaiknya kamu ajak cucu kamu duduk di sini dulu. Kasihan dia pasti sudah capek berdiri sejak tadi," ujar Anisa dengan sopan yang di jawab anggukan kepala oleh Angelina.
__ADS_1
"Kapan anak kamu menikah ngel? Kenapa kamu tidak mengundang kami semua. Padahal kami ini teman kamu?" tanya Clara dengan penasaran.
"Iya teman bermuka dua. Apa mereka pikir aku tidak tahu sifat mereka selama ini yang suka menghina anak aku sebagai seorang gay. Hanya karena dia tidak dekat dengan perempuan selama ini. "
"Lihat sekarang mereka bicara lembut seperti ini hanya di depan aku saja. Kalau di belakang aku, entah apa saja yang mereka bicarakan tentang anak ku. Aku mengundang mereka semua ke sini hanya untuk membuktikan pada mereka kalau anak aku laki-laki normal. biar mereka bisa diam dan tidak menuduh anak aku lagi," batin Angelina.
"Kenapa kamu diam saja ngel? Kapan anak kamu Alex menikah? Kenapa dia sudah memiliki anak sebesar ini?" tanya Clara saat melihat Angelina hanya diam saja sejak tadi.
"Lihat sekarang dia tidak bisa menjawab pertanyaan kalian itu sudah membuktikan kalau dia sudah menipu kita yang mengatakan kalau anak dia sudah menikah. Coba kalian pikirkan kalau anak dia sudah menikah pasti mereka akan mempublikasikan pada media, apalagi mereka ini keluarga terpandang!" Sintia sengaja mempengaruhi mereka agar tidak percaya pada perkataan Angelina.
"Awwsstt..." Sakit."
"Hey apa yang kamu lakukan dengan rambut saya hah," bentak Sintia yang kesakitan saat Ara dengan sengaja menarik rambutnya hingga rontok.
"Ini hukuman buat nenek peyot kalena sudah belani menghina daddy na Ala. Ini balu pelmulaan nenek peyot. Lihat saja nanti, Ala pastikan hidup nenek peyot akan tamat." Ara mengancam dengan aura yang menakutkan.
Glekkk
"Kenapa anak ini bisa memiliki mata tajam seperti pisau? Bahkan aura anak ini sangat menakutkan saat mengancam aku seperti ini. Apa aku sudah salah mencari gara-gara dengan anak ini? Tapi selama ini aku sudah sering membuat Angelina malu di depan teman-teman lain. Tapi dia hanya bisa diam dan menerima penghinaan aku tanpa melawan sedikitpun. "
"Sementara anak ini masih kecil tapi sudah berani mengancam dan melawan orang yang lebih tua dari pada dia. Aku yakin anak ini hanya bisa mengancam tanpa bisa berbuat macam-macam dengan aku atau pun keluarga ku. Karena selama ini keluarga aku mendapatkan dukungan yang sangat hebat melebihi keluarga lemos," batin Sintia seraya menenangkan hatinya agar tidak takut dengan ancaman Ara.
Sementara Angelina hanya bisa diam dan juga sedih saat melihat mereka menghina anaknya seperti ini. Dia pikir dengan membawa Ara ke sini akan membuat mereka berhenti menghina anaknya. Tapi kenyataan nya mereka malah semakin menjadi menghina anaknya dan juga cucunya.
Angelina adalah wanita yang lemah lembut sama seperti Claudia yang mudah di tindas oleh orang lain. Tapi berbeda dengan Ara yang memiliki darah dari keluarga Lemos yang terkenal licik dan kejam. Dia tidak akan tinggal diam, saat keluarganya di hina dan direndahkan seperti ini. Siapapun orangnya akan di balas lebih parah dari pada penghinaan mereka ini.
"Hey Angel!" Ajarin sopan santun sama cucu palsu mu itu untuk bersikap sopan sama orang yang lebih tua dari pada dia. Sebelum saya melakukan sesuatu sama dia." Sintia mengancam dengan tegas.
"Maaf Sintia. Ini tidak sepenuhnya salah cucu saya. Tapi ini juga salah kamu yang sudah menghina daddy dari cucu saya. Jadi wajar kalau dia membalas perbuatan kamu itu," ujar Angelina yang tidak terima cucunya di salahkan.
"Sejak kapan kamu berani melawan saya? Bukannya selama ini kamu cuman diam saja saat kami menghina anak kamu itu. Apa gara-gara ada pahlawan cilik kamu itu?" tanya Sintia mengejek Angelina.
"Jadi meleka yang ada di cini pelnah menghina daddy na Ala. Awas caja kalian cemua. Aku pastikan hidup kalian cemua na hancul," batin Ara menatap mereka satu persatu dengan penuh permusuhan.
"Diam kau nenek peyot. Ingat pelkataan Ala baik-baik. Kalian semua yang ada di sini akan Ala pastikan hidup kalian dan juga kelualga kalian akan hancul tanpa sisa." Ara mengancam dengan wajah penuh dendam.
"Ayo oma kita pelgi dali sini. Dan mulai sekalang oma ndak pelu lagi belteman dengan olang-olang licik sepelti meleka," ajak Ara yang di jawab anggukan kepala oleh Angelina.
"Apa kalian mendengar perkataan cucu ku ini. Mulai sekarang kalian bukan lagi teman saya. Anggap saja kita tidak pernah mengenal," ujar Angelina seraya menggandeng tangan Ara dan pergi dari sana.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung.....
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷