
Saat ini Steven sedang berada di mansion keluarga Abraham. Dia ingin menjebak Barbara agar mau menandatangani surat pengalihan harta kekayaan keluarga ini agar bisa jatuh ke tangan pewaris yang sah yaitu Claudia Henry Abraham.
"Ada apa kamu datang ke sini? Bukannya masalah kemarin sudah selesai?" tanya Barbara dengan penasaran.
"Maaf nyonya jika saya menganggu waktu anda. Tapi saya kesini karena ingin memberitahukan sama anda kalau surat kemarin belum sah menjadi milik anda karena saya lupa memasukkan seluruh kekayaan keluarga ini.
"Seperti hotel, apartemen, dan mansion lain yang ada di negara sebelah. Ini tidak sepenuhnya salah saya nyonya, karena saya juga baru tahu masalah ini," ujar Steven dengan penuh keyakinan hingga Barbara percaya dengan perkataan Steven.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Barbara dengan wajah bingung.
Karena dia sama sekali tidak mengerti masalah begini. Barbara dulu hanyalah orang miskin yang mendadak menjadi orang kaya setelah dia menikahi CEO perusahaan MH Group.
Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha Henry Abraham dan istrinya yang dulu juga seorang pengusaha yang sangat sukses dan juga sangat baik. Hingga menyebabkan orang-orang memanfaatkan kebaikan nya dengan pengkhianatan.
Dunia bisnis sangatlah kejam siapa yang paling pintar dan berkuasa maka orang itu yang berada di puncak kejayaan. Dan kita akan dipuji dan di sambut dengan hangat.
Tapi bila kita berada di level rendah maka siap-siaplah di kucilkan dan direndahkan oleh semua orang.
"Anda hanya perlu mengambil berkas surat pengalihan harta kekayaan keluarga ini kemari," titah Steven dengan tenang.
"Baik pak," jawab Barbara seraya pergi ke kamarnya.
Tak Lama Kemudian
"Ini berkas surat pengalihan harta kekayaan keluarga ini," ujar Barbara seraya memberikan berkas tersebut pada Steven tanpa curiga sedikitpun.
"Terima kasih nyonya. Dan ini surat yang baru saya buatkan kemarin, Anda hanya perlu tanda tangan di bawah ini," ujar Steven seraya memberikan berkas surat pengalihan harta tersebut.
Tanpa membacanya, Barbara langsung saja menandatangani surat pengalihan harta itu. Hingga dia tidak menyadari itu awal dari kehancurannya.
"Dasar wanita bodoh. Mudah sekali dia masuk dalam jebakan ku. Sekarang aku bisa menyuruh anak licik itu menghapus Vidio yang bisa merusak reputasi aku sebagai pengacara ternama," batin Steven dengan seringai liciknya.
"Apa ada lagi yang harus saya lakukan?" tanya Barbara setelah dia selesai menandatangani surat pengalihan harta tersebut.
"Anda tidak perlu melakukan apapun nyonya. Surat ini biar saya yang memegangnya. Jika surat ini sudah sah menjadi milik anda sepenuhnya. Baru saya kembalikan lagi pada anda." Jelas Steven.
"Kenapa surat ini harus anda yang memegangnya? Bukannya surat yang dulu setelah saya tanda tangani langsung diserahkan kepada saya?" tanya Barbara yang merasa curiga.
"Gawat. Sepertinya wanita bodoh ini mulai curiga dengan ku. Aku harus memutar otak agar dia bisa percaya sepenuhnya dengan aku lagi," batin Steven dengan wajah cemas.
"Apa suami anda ada di rumah saat ini?" tanya Steven seraya mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa anda menanyakan suami saya?" tanya Barbara dengan penasaran.
"Ini menyangkut dengan masalah yang sedang kita bicarakan saat ini." Kata Steven dengan tenang.
__ADS_1
"Dia tidak ada di rumah ini. Dan saya tidak tahu ada dimana suami saya saat ini," ujar Barbara.
"Bagus. Berarti aku punya alasan untuk membuat wanita bodoh ini percaya dengan perkataan ku nanti," batin Steven dengan seringai liciknya.
"Kalau suami anda tidak ada di rumah ini. Bagaimana anda meminta tanda tangan dari dia. Itu sebabnya saya meminta berkas surat itu. Biar saya yang meniru tanda tangan suami anda menjadi seperti tanda tangan asli."
"Apa anda sudah mengerti nyonya?" tanya Steven seraya menyakinkan Barbara agar percaya padanya.
"Anda benar juga pak Steven. Kenapa saya tidak berpikir begitu," ujar barbara seraya menyerahkan berkas surat pengalihan harta itu kepada Steven.
"Terima kasih Nyonya Barbara. Saya akan memberikan surat ini setelah sudah sah menjadi milik anda nanti," ujar Steven setelah surat itu ada di tangannya.
"Baik pak Steven. Jika surat itu sudah sah menjadi milik saya. Anda harus kembalikan pada saya lagi," titah Barbara.
"Tentu Nyonya Barbara," " jawab Steven dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya," ujar Steven.
"Ya, silahkan pak Steven," ujar Barbara seraya mengantar Steven sampai di depan pintu keluar.
•
•
•
"Apa papa sudah mencari tahu indentitas Claudia?" tanya Angelina.
"Tentu saja sudah," jawab David dengan singkat.
"Apa yang papa dapatkan tentang wanita itu?" tanya Anggelina dengan penasaran.
"Dia adalah anak tunggal pengusaha sukses Henry Abraham yang memiliki perusahaan yang sangat besar di bidang teknologi seperti milik perusahaan kita." Jelas David lemos.
"Apa?" teriak Angelina yang sangat syok mendengar kenyataan kalau calon menantunya itu ternyata anak orang kaya.
"Bagaimana bisa dia anak orang kaya? Sementara mama mendengar sendiri dari mulut cucu kita. Kalau mereka selama ini hidup dalam kemiskinan. Bahkan cucu kita sendiri yang bilang kalau dia selalu di hina karena tidak memiliki uang.
"Dan kemarin dia juga mengatakan pada mama kalau dia tidak makan selama seminggu hanya untuk bisa menabung agar bisa membeli baju baru yang selama ini dia inginkan," ujar Angelina.
Hahahaha
"Apa mama tidak merasa kalau cucu kita sangat mirip dengan papa dan Alex?" tanya David seraya tertawa terbahak-bahak.
"Maksud papa apa? Mama tidak mengerti?" tanya Anggelina dengan kening mengkerut.
__ADS_1
"Dia bukanlah anak kecil biasa seperti anak orang lain. Cucu kita walaupun masih kecil tapi dia sudah pintar memanfaatkan orang lain untuk kepentingan nya sendiri.
"Persis seperti papa dan Alex yang licik dalam mengelabui lawan bisnis yang ingin berbuat curang terhadap kita. Apa mama sekarang paham maksud papa." Jelas David seraya terkekeh geli, saat mendengar pengakuan istrinya tentang kelakuan cucunya yang nakal itu.
"Papa benar sekali. Kenapa mama bisa masuk perangkap cucu kita sendiri. Mama sampai sedih, saat mendengar perkataan cucu kita yang selama ini hidup menderita," ujar Angelina.
Hehehehe
"Ternyata cucu kita jauh lebih pintar, dan licik dari pada papa dan Alex," ujar David seraya terkekeh.
"Jika Claudia anak orang kaya. Kenapa Alex tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu? Apa Alex yang tidak mau bertanggung jawab sama dia?" tanya Angelina dengan penasaran.
"Alex sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya Claudia. Bahkan sampai sekarang dia masih mencari tahu keberadaan wanita itu.
"Sejak kejadian Alex melecehkan Claudia. Dia lebih memilih pergi dari negara ini. Karena dia merasa tidak pantas untuk tinggal di rumah ayahnya lagi.
"Apalagi disana ada ibu tiri dan kakak Tirinya yang sangat jahat terhadap nya. Dia merasa menjadi wanita kotor, jika seandainya ayahnya tahu masalah yang dia alami ini, apalagi sampai dia hamil di luar nikah. Otomatis ayahnya pasti akan tambah membenci dirinya karena sudah mencoreng nama baiknya selama ini." Jelas David.
"Berarti, benar kata cucu kita kalau mereka selama ini hidup menderita. Karena Claudia tidak lagi tinggal di rumah orang tuanya itu," ujar Anggelina hingga membuat David tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha
"Mama sangat lucu sekali. Kenapa mama masih tidak mengerti juga. Kalau cucu kita itu sangat licik dan pintar memanfaatkan orang lain. Apa yang dikatakan oleh cucu kita semuanya bohong.
"Walaupun dia tidak tinggal dirumahnya lagi. Bukan berarti mereka hidup menderita. Karena Claudia dan juga keluarga barunya membuka restoran untuk menghidupi kebutuhan mereka selama ini.
"Awalnya restoran itu masih sangat kecil. Tapi berkat kerja keras dan kesabaran nya selama ini. Hingga restoran itu menjadi sangat terkenal sampai mereka berhasil mendirikan beberapa cabang restoran di berbagai negara salah satunya negara tempat kelahirannya selama ini." Jelas David.
"Kenapa mama sangat bodoh sekali bisa kenak tipu cucu kita sendiri. Padahal mama ingin sekali membuat perhitungan dengan Alex karena dia cucu kita hidup dalam kemiskinan. Tapi nyatanya malah hidup Ara sangat bahagia walaupun dia tidak memiliki ayah kandung," ujar Angelina dengan lesu.
Hahahaha
"Yang sabar ma... walau bagaimana pun dia tetap cucu kita. Bukannya kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," ujar David seraya tertawa terbahak-bahak.
"Papa benar juga. Mama tidak mungkin memarahi Ara. Yang ada dia malah tidak mau mengakui kita sebagai Oma dan opa nya," ujar Anggelina sementara David hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah istrinya yang tampak pasrah seperti itu.
"Aku tidak sabar melihat Alex kualahan menghadapi anaknya sendiri yang licik itu. Biasanya aku yang selalu kesal dengan kelakuan Alex yang suka bikin ulah itu. Sekarang biarkan Alex merasakan apa yang aku rasakan selama ini," batin Anggelina.
•
•
•
Bersambung....
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁