One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Dinyatakan Bangkrut )


__ADS_3

Di Ruangan Kerja Alex



"Ndre... berapa saham yang kita miliki di perusahaan mereka?" tanya Alex menatap mereka satu-persatu dengan seringai liciknya.


"Ada 45%, 30%, dan 15% sedangkan sisanya milik para pemegang saham yang lain tuan." Andre menjawab dengan cepat.


"Suruh mereka tarik semua saham yang di miliki oleh mereka di perusahaan orang yang saat ini berada di depan saya. Beserta dengan saham yang kita miliki di perusahaan mereka.


"Jika mereka menolaknya. Maka, hancurkan perusahaan yang mereka miliki itu. Tapi jika ada yang mau mendengarkan perintah saya maka ajaklah mereka untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan saya ini."


"Apa kamu mengerti Ndre," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan." Andre menjawab seraya melakukan perintah atasannya.


Mendengar perkataan Alex membuat mereka terkejut. Jika sampai Alex melakukan apa yang dia katakan itu. Maka sudah dipastikan kehidupan mewah yang selama ini mereka nikmati akan hilang dalam sekejap.


Beberapa Menit Kemudian


Dreet... Dreet.... Dreet...


Tiba-tiba dering ponsel terdengar bersautan didalam ruangan kerja Alexander.


📞 "Hallo... ada apa?" tanya Adam Malik saat dia sudah mengangkat telpon dari sebrang sana.


📞 "Gawat tuan Adam. Ada masalah besar yang terjadi di perusahaan," ujar Arya asisten pribadinya Adam Malik.


📞 "Apa?" Adam berteriak, dengan perasaan terkejut saat mendengar perkataan asisten pribadinya itu.


📞 "Apa yang terjadi?" tanya Adam dengan perasaan cemas.


📞 "Tiba-tiba semua pemegang saham di perusahaan kita menarik sahamnya secara mendadak dan akhirnya perusahaan kita sekarang dinyatakan bangkrut tuan." Arya asisten pribadinya menjawab dengan perasaan panik.


📞 "Apa?" Adam berteriak lagi, saat mendengar perkataan Arya asisten pribadinya dengan perasaan terkejut hingga membuat dia terdiam seperti patung.


"Apa yang terjadi pa?" tanya Anisa dengan penasaran.


"Ki... kita hancur ma... kita hancur sekarang." Adam menjawab dengan terbata-bata.


"Apanya yang hancur pa?" tanya Anisa yang tidak mengerti maksud perkataan suaminya.


"Perusahaan kita sekarang dinyatakan bangkrut. Ini semua karena mama. Jika mama tidak menyinggung orang yang berpengaruh di negara ini. Maka kita pasti masih bisa menikmati kekayaan ini. Tapi gara-gara ulah mama kita sekarang sudah menjadi ngembel." Adam berteriak dengan wajah penuh kemarahan.


"Apa?" teriak Anisa dengan perasaan terkejut.


"I... ini tidak mungkin pa. Kita tidak mungkin jadi ngembel. Lakukan sesuatu pa. Mama tidak mau menjadi ngembel... Hiks... Hiks..." Anisa menangis dengan terisak.


Tak jauh berbeda dengan perusahaan Leo dan juga perusahaan Robby yang ikut mengalami kehancuran seperti perusahaan Adam Malik.


"Tuan Alex. Kami mohon kembalikan perusahaan kami seperti semula," ujar Leo mengatupkan kedua tangannya di depan dada yang diikuti oleh yang lain.


Hahahaha

__ADS_1


"Kenapa saya harus kembalikan perusahaan kalian setelah saya menghancurkan nya? Ini tidak lah seberapa di bandingkan penyiksaan yang selama ini saya lakukan pada musuh-musuh ku....


"Kalian tahu, tidak ada kata pengampunan bagi orang yang sudah berani mencari masalah dengan keluarga Lemos. Jadi terimalah akibat dari perbuatan yang sudah di lakukan oleh para istri tercinta kalian itu hahahaha," ujar Alex tertawa terbahak-bahak.


Mendengar perkataan Alex membuat mereka terdiam seperti patung. Mau tidak mau mereka harus menerima kalau saat ini mereka sudah menjadi ngembel.


"Ndre... panggil anak buah kita kemari sekarang juga," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan." Andre menjawab dengan cepat.


Tak Lama Kemudian


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


Cklek


"Permisi tuan Alex. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Anak buah Alex dengan sopan.


"Bawa mereka semua dari sini. Kecuali orang ini," titah Alex dengan tegas seraya menunjuk ke arah Mateo.


"Baik tuan." Anak buah Alex menjawab dengan cepat.


"Hey... lepaskan kami. Apa yang kamu lakukan hah," bentak Leo seraya berontak saat dibawa paksa dari perusahaan Alex.


"Diam. Mau saya lempar anda dari atas gedung ini." Anak buah Alex mengancam dengan tatapan tajamnya.


Mendengar ancaman anak buah Alex membuat mereka semua langsung terdiam seperti patung. Mereka hanya bisa pasrah saat diseret dengan kasar oleh anak buah Alex keluar dari perusahaan Alexander.


"Bangunlah tuan Mateo. Saya tahu anda tidak bersalah disini. Jadi anda bisa meninggalkan tempat ini sekarang juga," titah Alex dengan tegas.


Mendengar perkataan Alex membuat Mateo bisa bernafas lega. Dia pikir nasibnya akan sama seperti mereka.


"Terima kasih tuan Alex. Kalau begitu saya pulang dulu," ujar Mateo seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.





Di Kantin perusahaan


Dreet.... Dreet... Dreet....


📞 "Hallo... tuan Alex," ujar Laura saat sudah mengangkat telpon dari sebrang sana.


📞 "Bawa Ara kesini segera," titah Alex dengan tegas. Setelah itu dia langsung mematikan smartphone nya tanpa mendengar jawaban dari Laura sekretaris pribadinya itu.


"Selalu saja begini, setiap kali dia bicara di telpon tanpa mendengarkan jawaban dari aku, dia langsung mematikan hpnya," gomel Laura dengan wajah kesal tanpa sadar ada Ara di sampingnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."

__ADS_1


"Wah... aunty Lala telnyata suka sekali mengomeli daddy na Ala saat ada di belakang cepelti ini. Ala akan adukan ini cama daddy bial aunty Lala di pecat dali pelusahaan ini sekalang juga," ujar Ara dengan seringai liciknya.


Deg


"Oh Tuhan... Aku lupa kalau disini masih ada anak atasan aku. Bagaimana kalau dia melaporkan aku sama tuan Alex. Aku tidak mau sampai di pecat dari perusahaan ini," batin Laura dengan wajah ketakutan.


"Ara?" Aunty minta maaf. Tolong jangan adukan ini sama tuan Alex. Aunty tidak mau sampai di pecat," ujar Laura dengan wajah memelas.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Baiklah. Ala... Ndak akan adukan ini cama daddy. Tapi aunty Lala halus membelikan Ala uang tutup mulut. Jika ndak, dengan telpaksa Ala akan adukan ini cama daddy." Ara mengancam dengan tegas.


"Kenapa anak ini pintar sekali memanfaatkan keadaan orang yang sedang mengalami kesulitan seperti ini. Bukannya dia anak sang penguasa negara ini pasti dia sudah memiliki banyak uang. Tapi anak ini malah memeras aku yang miskin ini. Tapi jika aku tidak memberikan apa yang anak ini minta. Maka sudah di pastikan aku akan menjadi pengangguran," batin Laura.


"Baik. Aunty cuman punya uang segini. Karena semua ngaji yang aunty punya beserta tabungan aunty sudah aunty pakai buat membayar operasi ibu aunty yang sedang sakit kemarin. Itu pun baru setengah yang aunty bayar. Sedangkan setengah lagi aunty sedang berusaha meminta pinjaman sama temen-temen aunty," ujar Laura seraya memberikan uang beberapa lembar yang dia punya.


Mendengar perkataan Laura membuat Ara merasa iba. Dia yang awalnya ingin memeras Laura tapi tidak jadi saat mendengar penderitaan yang Laura alami saat ini.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ala ndak jadi ambil uang ini. Aunty simpan saja uang ini untuk aunty sendili. Ala ini anak olang kaya, mana mau memegang uang leceh cepelti itu," ujar Ara dengan sombong.


Mendengar perkataan Ara membuat Laura langsung memasukkan uang itu kembali ke dalam tasnya. Dia sama sekali tidak merasa sakit hati saat mendengar perkataan Ara. Karena apa yang Ara katakan benar adanya. Uang yang dia kasih tidak ada artinya di bandingkan uang ayahnya Ara.


Dia sudah pasrah jika seandainya Ara mengadukan ini sama Alex. Bagaimana pun ini semua salah dia karena sudah berani mengumpat atasannya.


"Apa nona kecil mau mengadukan aunty sama tuan Alex?" tanya Laura dengan perasaan cemas.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudah lah. Lupakan masalah itu. Sebaik na kita kembali ke luangan daddy na Ala sekalang duga," ajak Ara dengan cepat.


"Apa itu artinya nona kecil tidak jadi melaporkan saya sama tuan Alex?" tanya Tanya Laura dengan perasaan khawatir, takut Ara berubah pikiran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ala beljanji ndak akan mengadukan ini cama daddy. Tapi dengan syalat Aunty ndak boleh mengumpati daddy di belakang na lagi." Ara menjawab dengan tegas.


"Baik. Aunty berjanji tidak akan melakukan ini lagi. Terima kasih nona kecil, karena sudah memberikan aunty kesempatan," ujar Laura dengan senyum bahagia.


"Ya, sudah. Lebih baik kita kembali ke luangan daddy saja sekalang. Kalena Ala sudah penasalan apa yang daddy lakukan tadi cama penjahat itu," ujar Ara dengan wajah antusias.


Mendengar perkataan Ara membuat Laura geleng-geleng kepala. Dia tidak bisa menebak isi pikiran anak ini. Karena sifatnya berubah-ubah.


"Baik nona kecil. Ayo kita pergi dari sini," ujar Laura seraya menggandeng tangan mungil Ara menuju ruangan Alexander berada.





Bersambung....

__ADS_1


💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥


__ADS_2