One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Di Mana Henry )


__ADS_3

Di mansion Henry Abraham


"Bibi... dimana kamu?" tanya Barbara yang baru pulang dari moll tadi.


"Bibi di sini nyonya," jawab bibi Ani.


"Buatkan aku minuman sekarang juga," perintah Barbara saat melihat bibi Ani ada di depannya.


"Buatkan sekalian untuk aku. Karena aku juga haus," sahut Audrey dengan cepat.


"Baik nyonya... nona Audrey," jawab bibi Ani seraya pergi dari sana.


"Ma... bagus tidak kalung yang aku beli tadi waktu di moll?" tanya Audrey seraya memamerkan kalung berlian yang dia beli tadi.


"Tentu saja bagus sayang. Bukannya itu barang keluaran terbaru? Dan mama yakin harganya tidak main-main Barbara," ujar Barbara.


"Iya ma... ini kalung berlian hanya di produksi 10 set saja. Tentu saja harganya mahal. Ternyata menjadi orang kaya sangat enak ya ma... mau apa saja tinggal beli," ujar Audrey dengan senyum bahagia.


"Kenapa tidak sejak dulu saja Mama menikah dengan daddy. Jika sejak awal mama menikah dengan daddy. Hidup kita tidak akan sudah dulu," sambungnya lagi.


"Udah lupakan masa lalu. Yang penting sekarang kita sudah bisa hidup dalam kemewahan," ujar Barbara.


"Mama benar juga. Yang penting sekarang kita bisa menguasai harta kekayaan keluarga ini. Mama emang hebat bisa mengelabui daddy untuk mau tanda tangan pengalihan harta keluarga ini menjadi milik kita seutuhnya," ujar Audrey tersenyum senang.


"Tentu saja mama bisa melakukan itu. Apalagi dengan keadaan Henry yang lumpuh begitu. Mama dengan mudah mengelabui agar dia mau menanda tangani surat pengalihan harta kekayaan keluarga ini," ujar Barbara seraya tertawa terbahak-bahak.


"Ma... sekarang kita sudah bisa menguasai harta kekayaan keluarga ini. Jadi menurut aku. Sebaiknya mama bunuh saja daddy. Karena dia sudah tidak ada gunanya lagi untuk kita. Dari pada dia menyusahkan kita," ujar Audrey tanpa perasaan sedikitpun.


"Kamu benar juga sayang. Sebaiknya kita bunuh saja Henry. Karena dia sudah tidak ada gunanya untuk kita. Bukannya kita sudah berhasil mendapatkan harta kekayaan keluarga ini. Ya, walaupun dengan cara licik seperti itu... Hahahaha... Dasar laki-laki bodoh," ujar Barbara.


"Oh Tuhan... kenapa mereka begitu tega, dan kejam seperti itu sama tuan Henry? Bukannya selama ini tuan Henry lebih sayang dan selalu membela mereka di bandingkan anak kandung nya sendiri.


"Tapi apa yang di dapat oleh tuan Henry. Bukannya mereka membalas jasa tuan Henry yang sudah mengangkat derajat mereka menjadi orang kaya seperti ini. Tapi dengan tidak tahu malunya mereka merebut harta yang bukan miliknya. Dan sekarang dengan teganya mereka ingin membunuh tuan Henry.


"Tenyata benar firasat nona Claudia, kalau mereka pasti akan menyingkirkan tuan Henry. Jika tuan Henry tidak berguna lagi untuk mereka. Untung saja nona Clau... sudah membawa pergi tuan Henry dari rumah ini. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi dengan tuan nanti. Mungkin saja mereka akan membunuh tuan Henry tanpa perasaan sedikitpun," ujar bibi Ani yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka.


"Ini nyonya... nona Audrey. Minuman, dan cemilan nya, saya permisi ke belakang dulu," ujar bibi Ani seraya pergi dari sana.


"Ma... aku mau pergi ke kamar dulu mau istirahat. Aku capek banget habis shopping di moll tadi," ujar Audrey.

__ADS_1


"Sama. Mama juga capek habis shopping tadi. Sekarang mama mau istirahat di kamar dulu," ujar Barbara seraya pergi dari sana.


Saat barbara baru sampai di kamarnya. Dia terkejut saat melihat tidak ada Henry lagi di kamar itu.


"Di mana Henry? Kenapa dia tidak ada di kamar ini? Apa dia sudah bisa berjalan lagi? Itu tidak mungkin, karena racun yang aku berikan untuk dia sangat berbahaya. Butuh beberapa bulan atau tahun baru bisa pulih seperti semula.


"Itu pun Jika dia lebih cepat mendapatkan penawar racunnya. Sementara dia selama ini hanya di rumah ini saja. Tanpa melakukan perawatan sekali pun. Lalu bagaimana dia bisa pergi dari sini? Aku harus bertanya sama bibi dulu? Bukannya dari tadi, bibi yang selalu ada di rumah ini?" tanya Barbara dengan penasaran.


"Bi... bibi... di mana kamu?" tanya Barbara saat dia sudah turun ke bawah lagi.


"Iya nyonya," jawab bibi Ani.


"Bibi tahu di mana keberadaan Henry sekarang? Kenapa dia tidak ada di rumah ini? Apa dia sudah bisa berjalan lagi seperti dulu?" tanya Barbara.


Mendengar perkataan Barbara membuat bibi Ani kelimpungan karena dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Gawat. Aku harus menjawab apa ini. Ayo berpikir bi... jangan sampai nyonya tahu kalau tuan Henry sudah di bawa pergi oleh nona Clau," batin bibi Ani.


"Begini nyonya... tadi tuan Henry berpesan. Jika nyonya sudah pulang ke rumah ini. Nyonya di suruh membaca surat yang tuan Henry tulis di kertas yang ada di kamar nyonya," ujar bibi Ani.


"Ya, sudah. Kamu bisa pergi dari sini," kata Barbara.


"Emangnya apa yang Henry tulis di kertas itu? Apa dia sudah tahu kejahatan kami selama ini? Sepertinya itu tidak mungkin, sebaiknya aku kembali ke kamar untuk melihat isi dari surat yang di tulis oleh Henry," ujar Barbara.


Di Kamar Henry


"Aduh. Di mana Henry meletakkan suratnya?" tanya Barbara pada dirinya sendiri.


"Mama sedang mencari apa? Bukannya mama tadi mau istirahat? Ini kenapa mama malah mondar-mandir kayak setrikaan sejak tadi?" tanya Audrey yang baru datang ke kamar orang tuanya.


"Itu mama lagi mencari surat yang daddy kamu tulis. Kamu tahu, kalau daddy kamu pergi dari rumah ini," kata barbara.


"Apa? kok bisa? Bukannya daddy tidak bisa berjalan?" tanya Audrey dengan wajah terkejut.


"Itu dia yang ingin mama tahu sejak tadi. Makanya mama sedang mencari surat yang Henry tulis itu. Dan melihat apa yang sebenarnya di tulis oleh Henry," kata Barbara.


"Apa ini surat yang ingin mama lihat?" tanya Audrey seraya memberikan surat itu pada mamanya.


Barbara yang melihat apa yang sejak tadi dia cari ada di tangan anaknya. Langsung saja dia merebut kertas itu untuk melihat isi dari surat tersebut.

__ADS_1


"Kamu temukan di mana surat ini? Kenapa mama tidak melihat itu sejak tadi?" tanya Barbara dengan kening mengkerut.


"Tentu saja di samping tempat tidur. Mama saja yang tidak bisa melihatnya," ujar Audrey.


"Ya, sudah. Mama mau baca dulu apa isi surat ini," kata Barbara seraya membaca surat itu.


( ISi Surat )


"Jika mama sudah membaca surat ini berarti Daddy sudah tak ada lagi di rumah ini. Maaf, daddy tidak bisa berpamitan dengan mama. Karena daddy tahu mama pasti tidak akan mengizinkan daddy pergi dari sini. Itu sebabnya daddy pergi di antar oleh orang kepercayaan daddy selama ini. Daddy terpaksa pergi dari sini karena daddy merasa menjadi suami dan ayah yang tidak berguna bagi kalian. Kalian pasti malu dan terbebani dengan adanya keberadaan daddy di rumah ini. Makanya lebih baik daddy pergi untuk menenangkan diri di tempat yang tidak ada seorang pun yang tahu. Jika sudah waktunya tiba, daddy akan kembali lagi ke rumah ini. Dan berharap mama jangan pernah mencari keberadaan Daddy. Semoga mama bisa menerima keputusan daddy yang pergi dari rumah ini. Sekali lagi maafkan daddy yang sudah banyak merepotkan mama selama ini. Terima kasih karena mama sudah menjadi istri dan ibu yang baik bagi daddy dan juga Claudia putri kandung daddy. Sekian dan terima kasih.


^^^Henry Abraham^^^


"Apa isi surat dari daddy ma? tanya Audrey dengan wajah penasaran.


"Itu daddy kamu cuman mau pamit dengan kita. Karena dia selama ini merasa malu dan tak enak hati sudah merepotkan kita," ujar Barbara dengan cuek.


"Oh... baguslah kalau daddy sudah pergi dari sini. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi menyingkirkan daddy dari rumah ini. Karena dia sendiri yang sudah pergi. Sekarang kita bisa tenang karena dua hama dalam rumah ini sudah tak ada lagi. Jadi kita bisa bersenang-senang dengan harta kekayaan keluarga ini," ujar Audrey dengan senyum bahagia.


"Kamu benar sayang. Sekarang kita sudah benar-benar menjadi orang kaya. Dan tidak perlu takut lagi hidup di jalanan seperti dulu lagi," kata barbara.


"Ternyata rencana mama yang membuat daddy lumpuh ada gunanya juga sekarang. Tidak salah mama memberikan racun kepada daddy. Dan sekarang kita yang mendapatkan hasilnya, mama sangat hebat... Hahahaha..." Audrey berucap seraya tertawa terbahak-bahak.


"Tentu saja mama hebat. Jika bukan karena mama yang membuat Henry lumpuh. Maka kita tidak akan bisa memiliki kekayaan keluarga ini. Dia mau saja dibodohi oleh kita selama ini dan bahkan rela menyiksa anak kandungnya sendiri hanya demi membela kita.


"Padahal sudah jelas sekali anaknya selama ini tidak pernah salah. Tapi kerena hasutan mama. Laki-laki bodoh itu malah termakan perkataan, dan rayuan mama... Hahahaha..." Barbara berucap seraya tertawa terbahak-bahak.


"Benar apa kata mama. Dia memang laki-laki bodoh," shut Audrey seraya tertawa terbahak-bahak.


Mereka merasa bahagia karena bisa menyingkirkan Henry dan Claudia di rumah ini. Sehingga mereka bisa leluasa menikmati harta kekayaan keluarga Abraham dengan sesuka hati mereka tanpa adanya larangan siapapun.





Bersambung....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2