
Di Restoran Maple & Co
"Clau! Kamu yakin pengacara itu akan datang ke sini?" tanya Alice dengan penasaran.
"Pasti dia datanglah kak. Karena tadi dia sudah menelepon aku untuk bertemu di restoran kita ini," ujar Claudia dengan tenang.
"Aunty Lilis bisa diam ndak sih. Tenapa jadi olang ndak sabal sekali, bikin pala Ala pucing saja," sahut Ara dengan kesal.
"Kamu yang seharusnya diam. Dasar ratu licik," ujar Alice dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Dengal ya aunty Lilis. Kalau Ala ndak licik cepelti ini. Apa kalian bisa mendapatkan halta itu dengan mudah?" tanya Ara seraya mengejek.
Alice yang mendengar perkataan Ara langsung terdiam. Karena apa yang dikatakan oleh Ara semuanya benar.
"Kenapa anak ini kalau bicara selalu tepat sasaran? Jangankan aku orang biasa. Seorang pengacara ternama saja bisa kalah dengan anak licik ini," batin Alice.
"Apa kalian bisa berhenti berdebat," sahut Claudia yang pusing mendengar mereka bertengkar terus-menerus.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Kalau mommy mau malah. Salahkan aunty Lilis yang suka bikin ulah. Ala kan anak baik mommy. Bukan cepelti aunty lilis yang nakal," ujar Ara yang tak mau disalahkan.
"Dasar bocah licik..."
"Cukup. Jangan bicara lagi. Jika kak Al mau bertengkar sebaiknya pulang saja," potong Claudia dengan wajah kesal.
"Ok. Aku akan diam," ujar Alice dengan pasrah.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di ruangan itu.
Cklek
"Maaf aku datang terlambat," ujar orang itu.
"Tidak masalah pak Steven. Silahkan duduk," titah Claudia dengan sopan.
"Terima kasih nona Clau," ujar Steven seraya duduk di depan mereka.
"Apa anda membawa surat yang kami minta?" tanya Claudia tanpa basa basi.
__ADS_1
"Tentu saja sudah nona Clau. Ini suratnya. Tapi kalian harus menghapus Vidio itu sekarang juga. Karena saya tidak mau kalian mengancam saya lagi dengan Vidio itu," ujar Steven dengan cepat.
"Om jahat jangan pelnah belani memelintah kami cepelti itu. Di sini Ala yang menjadi bos na. Sementala om jahat yang jadi bawahan na. Jadi om jahat hanya Pelu mendengal pelintah Ala bukan kami yang halus mendengal om jahat," sahut Ara dengan tatapan tajamnya.
Glek
"Kenapa anak ini sangat menyeramkan? Auranya persis seperti sang penguasa Alexander. Aku benar-benar curiga kalau anak ini pasti anaknya tuan Alexander Lemos. Sebaiknya aku jangan pernah menyinggung anak ini jika aku masih ingin hidup tenang di dunia ini," batin Steven seraya menelan saliva nya sendiri.
"Oh Tuhan... lihatlah keponakan aku ini. Sudah cocok menjadi pemeran antagonis. Auranya benar-benar kejam sekali. Ternyata bukan aku saja yang kalah dengan anak ini. Pengacara pintar, licik, ini saja kalah, dan takut sama Arrabella, apalagi aku yang bodoh ini," batin Alice.
"Maaf, bukannya waktu itu kalian sudah berjanji, jika saya berhasil kembalikan harta itu menjadi milik nona Claudia maka kalian akan menghapus Vidio itu?" tanya Steven dengan hati-hati takut menyinggung mereka.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Om jahat bisa diam ndak. Ala pucing mendengal om jahat bicala. Cekalang selahkan sulat itu pada kami," sahut Ara dengan tatapan tajamnya.
"Ok. Ini suratnya," ujar Steven seraya menyerahkan berkas surat pengalihan harta itu pada Claudia.
"Terima kasih," ujar Claudia setelah menerima surat itu.
"Apa ini sulat asli? Om jahat ndak ada niatan menipu kami kan? Jika itu sampai teljadi maka siap-siap om jahat hancul belsama wanita jahat itu," ujar Ara dengan tatapan tajamnya.
"Tentu saja itu surat asli. Kalian bisa membacanya dulu. Jika kalian sudah yakin itu surat asli maka nona Claudia, hanya perlu tanda tangan di bawah ini," ujar Steven seraya menunjuk dimana Claudia harus mendatangani surat pengalihan harta itu.
"Tunggu," teriak Ara dengan cepat, hingga membuat mereka terkejut saat mendengar teriakan Ara.
"Ada apa Ara? Kenapa kamu berteriak seperti itu? tanya Claudia dengan wajah kesal dengan anaknya ini.
"Mommy jangan menjadi olang bodoh bisa ndak. Tenapa mommy sangat pelcaya cama olang jahat ini? Apa mommy ndak takut di tipu cama dia.
"Sebaik na mommy peliksa dulu sulat itu asli apa Ndak. Jika mommy sudah yakin itu asli. Balu mommy tanda tangan sulat itu. Lagian sulat itu sudah menjadi milik mommy. Tenapa mommy halus bulu-bulu tanda tangan na," ujar Ara yang kesal dengan ibunya yang mudah sekali percaya sama orang.
Padahal ibunya tahu orang yang dia percayai itu, orang yang sangat licik. Tapi tetap saja dia percaya sama orang itu.
"Ternyata anak ini bukan anak kecil biasa, dia lebih pintar dari ibunya? Sangat cerdik, dan tidak mudah di bohongin. Aku saja kalah sama anak ini. Benar-benar hebat. Untung aku tidak berbuat curang sama surat itu tadi. Jika tidak, bisa tamat riwayat ku," batin Steven.
"Yang dikatakan Ara benar Clau. Sebaiknya kita suruh periksa sama pengacara kita saja. Apa surat itu asli apa tidak? Jangan kamu langsung percaya sama orang licik ini. Siapa tahu dia berbuat curang dengan kita," sahut Alice yang setuju dengan ide Arrabella.
"Baiklah kak Al. Aku tidak akan menandatangani surat ini," ujar Claudia yang setuju dengan perkataan mereka.
"Jadi bagaimana dengan Vidio nya? Apa kalian sudah menghapusnya?" tanya Steven dengan penasaran.
"Om jahat tenang saja. Selama om jahat ndak belbuat jahat cama kami. Maka om jahat akan selalu aman hidup di dunia ini. Tapi kalau om jahat masih belulah, dan menganggu kami. Maka siap-siap hidup om jahat hancul," ujar Ara dengan seringai liciknya.
__ADS_1
"Baik. Saya berjanji tidak akan menggangu kalian lagi. Asal kalian bisa pegang janji kalian untuk tidak menyerahkan Vidio itu sama polisi," ujar Steven dengan pasrah.
"Oc. Itu sudah pasti. Ala ini anak yang baik. Jadi mana mungkin Ala tega cama olang yang lebih tua dali Ala," ujar Ara dengan wajah pura-pura polos.
"Baik apanya. Bukannya dia yang sudah mengancam saya kemarin. Jika anak ini tidak mengancam saya. Mana mau aku membantu mereka mendapatkan harta itu kembali. Lihat dia pura-pura polos lagi, padahal kenyataannya sangat licik," batin Steven dengan wajah kesal.
"Baiklah. Jika semuanya sudah selesai. Saya mau pulang dulu." Pamit Steven yang tak tahan lagi harus duduk lama-lama dengan mereka.
"Ok. Terima kasih atas bantuannya pak Steven," ujar Claudia dengan sopan.
"Sama-sama nona Clau," jawab Steven seraya pergi dari sana.
"Akhirnya harta itu kembali lagi pada kamu Clau. Sekarang kamu sudah punya kuasa untuk melawan mereka. Kalau perlu kamu cepat-cepat usir mereka dari mansion kamu itu. Enak saja mereka bahagia diatas penderitaan kamu selama ini," ujar Alice dengan penuh emosi.
"Kak Al tenang saja. Aku pastikan ini terakhir kalinya mereka hidup enak dengan harta keluarga aku. Sekarang aku akan kembalikan mereka ketempat asalnya," ujar Claudia.
"Aku bahagia sekali saat melihat mereka tinggal di jalanan seperti dulu lagi. Orang jahat seperti mereka pantas diperlakukan seperti itu," ujar Alice.
"Orang serakah tidak akan selamanya hidup senang. Mereka akan mendapatkan karma atas segala perbuatan jahat yang selama ini mereka lakukan pada aku dan juga daddy," ujar Claudia dengan penuh kemarahan saat mengingat perbuatan mereka dulu sama dia dan ayahnya.
"Benar sekali Clau! Kamu tidak boleh kasihan apalagi peduli sama orang-orang jahat itu. Mereka tidak pantas diberi kesempatan. Karena aku yakin orang jahat seperti mereka tidak akan pernah berubah menjadi orang baik," ujar Alice.
"Aku juga tidak akan memberikan mereka kesempatan. Karena aku juga tahu sampai kapan pun, mereka tidak akan pernah berubah menjadi orang baik.
"Dan untuk kamu Ara. Mommy mengucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah membantu mommy untuk merebut kembali harta keluarga mommy. Kamu emang anak yang sangat baik. Mommy sangat bangga memiliki anak pintar seperti kamu," ujar Claudia dengan wajah bahagia.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu saja Ala mau membantu mommy. Jika mommy mendapatkan halta itu. Belati Ala juga akan menjadi olang kaya. Cekalang mommy halus membelikan bagian Ala.
"Kalena Ala sudah belsusah payah mengelualkan kelingat buat bisa mendapatkan halta itu dali tangan olang jahat itu," ujar Ara dengan wajah sombong.
"Oh Tuhan... menyesal aku memuji anak ini. Aku pikir anak ini sudah berubah. Ternyata dia masih saja matre dan juga sombong," batin Claudia dengan wajah kesal saat mendengar perkataan anaknya.
Sementara Alice yang melihat wajah Claudia yang kesal dengan anaknya berusaha menahan tawanya agar tidak keluar. Jika sampai itu terjadi pasti Ara akan mengatainya lagi, yang pasti unjung2nya dia yang akan kalah saat berdebat dengan bocah licik itu.
•
•
•
Bersambung....
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁