One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Membeli Cincin Nikah )


__ADS_3

Saat ini mereka sedang berada di Moll Ferry building marketplace seraya membeli cincin nikah yang sudah di pesan oleh Alexander.


"Selamat siang tuan Alex... nyonya Angel... nona muda," ujar Pak Agus Manager di sana dengan sopan.


"Apa pesanan saya sudah siap?" tanya Alex tanpa basa-basi.


"Sudah tuan Alex!" jawab pak Agus dengan cepat.


"Keluarkan segera," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan Alex," jawab pak Agus dengan sopan.


"Sayang... sini duduk dulu di samping aku, biar kamu tidak capek berdiri di sana," ujar Alex dengan lembut.


"Terima kasih atas tawarannya, tapi aku lebih suka duduk jauh dari kamu," ujar Claudia dengan pedas.


Alex yang mendengar perkataan Claudia berusaha sabar, jangan sampai dia menyakiti calon istri yang sangat dia cintai.


"Cuman calon menantu ku yang berani bicara seperti itu sama Alex. Jika orang lain mungkin sudah habis di tangannya," batin Angelina seraya menahan tawanya agar tidak keluar.


Tak Lama Kemudian


"Ini tuan cincin yang Anda inginkan," ujar pak Agus seraya memperlihatkan cincin nikah pesanan Alexander.



"Wah... apa ini rancangan kamu sendiri Lex?" tanya Angelina dengan antusias saat melihat cincin yang sangat cantik.


"Tentu saja ma," jawab Alex dengan bangga.


"Bagaimana sayang?" Apa kamu suka cincin ini?" tanya Alex dengan lembut.


"Iya... aku suka," jawab Claudia yang sangat takjub, melihat cincin rancangan Alexander.


"Bagaimana tuan?" Apa ada yang perlu saya rubah lagi?" tanya pak Agus dengan sopan.


"Tidak perlu. Saya ambil yang ini saja, dan ini bonus untuk mu," jawab Alex seraya memberikan bonus pada pak Agus atas kerja kerasnya yang sudah membuatkan cincin pesanan Alex tepat waktu.


"Terima kasih tuan," ujar pak Agus dengan wajah bahagia yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.


"Sayang... apa ada lagi yang ingin kamu beli?" tanyak Alex dengan lembut.


"Tidak mas... lebih baik kita makan saja. Aku sudah lapar sejak tadi," jawab Claudia dengan lembut.


"Baiklah. Ayo kita pergi ke restoran sekarang," ujar Alex yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.


Di Restoran


"Tuan mau pesan apa?" tanya pelayan yang bekerja di restoran itu.


"Sayang... kamu mau pesan apa?" tanya Alex yang lebih dulu bertanya sama calon istrinya dari pada menjawab pelayan itu.


"Samakan saja dengan kamu," jawab Claudia yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.


"Mama mau pesan apa?" tanya Alex pada mamanya.


"Mama pesan seafood saja," jawab Angelina.


"Apa masih ada lagi tuan?" tanya pelayan restoran itu dengan sopan.


"Tidak. Itu saja sudah cukup, beritahu manager di sini, agar segera Hidangkan makanan pesanan kami dulu. Apa kamu mengerti," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan," jawab pelayan itu dengan sopan.


Tak Lama Kemudian


"Permisi tuan... nona... nyonya... pesanan anda sudah siap," ujar pelayan itu seraya menaruh makanan pesanan Alex.

__ADS_1


"Terima kasih kak," ujar Claudia dengan suara lembut.


"Sama-sama nona... saya permisi," jawab pelayan itu seraya pergi dari sana.


"Ayo sayang.. ma... kita makan," ajak Alex yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.





Di Mansion Keluarga Lemos


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Opa... kemana pelgi na daddy cama mommy?" tanya Ara dengan penasaran.


"Mereka pergi buat fitting baju pengantin," jawab David dengan lembut.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Makcud Opa... daddy cama mommy pelgi ke moll buat belanja balang-balang balu?" tanya Ara yang tak paham maksud perkataan David.


Mendengar perkataan cucunya membuat David menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa kalau cucunya ini masih berumur empat tahun. Pasti dia tidak mengerti maksud perkataannya tadi.


"Maksudnya, daddy sama mommy kamu mau membeli baju buat acara pesta pernikahan mereka nanti. Apa Ara sudah mengerti?" tanya David.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Jadi benal, meleka pelgi belanja di Moll. Tenapa Ala ndak di ajak pelgi duga. Apa meleka takut kalau Ala akan menghabiskan uang meleka?" tanya Ara dengan wajah kesal.


David yang mendengar perkataan cucunya menahan tawanya agar tidak keluar. Dia takut kalau cucunya malah marah padanya nanti.


"Bukan begitu sayang... mereka pergi ke tempat yang tidak boleh ada anak kecil di sana," ujar David seraya memberi pengertian agar cucunya tidak marah sama orang tuanya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Oh Tuhan... Ternyata anak ini benar-benar duplikat aku sama Alex. Aku tidak menyangkal perkataan Ara. Karena jika ini di posisi aku. mungkin aku juga akan berpikir seperti Ara," batin David.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa Opa cuman diam caja sejak tadi?" tanya Ara dengan wajah bingung.


"Apa yang harus aku jawab. Kenapa cucu ku ini sangat pintar sekali. Jika salah bicara bisa habis aku di marahin sama mereka," batin David dengan cemas.


"Ara... lihat apa yang daddy bawa untuk kamu," panggil Alex saat dia melihat keberadaan anaknya ada di ruang keluarga bersama dengan ayahnya.



Mendengar perkataan Alex membuat Ara langsung menoleh ke asal suara. Hingga membuat Ara langsung memasang muka cemberut saat melihat keberadaan ayahnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Daddy macih ingat cama anak na... Ala pikil daddy cudah puna anak lain di lual cana. Maka na daddy melupakan Ala di sini," ujar Ara menyindir Alex.


"Kenapa Ara bicara seperti itu sayang? Daddy tidak memiliki anak lain selain Ara." Alex menjelaskan pada anaknya dengan sabar.


"Ihhh pucing pala Ala..."


"Alah... alasan saja, bial Ala ndak malah cama daddy. Bukti na... daddy cama mommy pelgi ke Moll ndak mengajak Ala. Itu pasti daddy takut kalau Ala akan menghabiskan uang daddy. Maka na daddy pelgi tanpa Ala.


"Untuk apa juga daddy bekelja selama ini jika takut uang na habis cama Ala. Sebaik na jual saja pelusahan na, kalena pelcuma memiliki pelusahaan. Tapi Ala ndak bisa menikmati hasil na. Kalau daddy sudah menjualnya, daddy halus membagi na cama Ala.


"Bagaimana pun Ala belhak menikmati halta daddy. Kalena Ala anak satu-satunya di kelualga ini. Jika daddy ndak membagikan bagian Ala... akan Ala lapolkan daddy cama Om polici bial daddy masuk lumah belpagal." Ara mengancam dengan tatapan tajamnya.


Hahahaha

__ADS_1


Akhirnya pecah juga tawa David yang sejak tadi dia tahan. Sungguh, cucunya ini sangat lucu dan mengemaskan.


"Oh... ya ampun Lex... lihat anak kamu lucu banget. Daddy tidak menyangka anak kamu pintar sekali memanfaatkan keadaan," ujar David tertawa terbahak-bahak.


"Oh Tuhan... Kenapa anak aku bisa matre seperti ini sih. Masih kecil sudah pintar membahas harta. Dia malah menyuruh mas Alex menjual perusahaan lagi. Apa dia tidak tahu kalau perusahaan di jual, dia akan menjadi gembel karena tidak ada lagi penghasilan untuk di berikan pada dia setiap kali dia minta buat di belikan barang keluaran terbaru," batin Claudia dengan wajah kesal.


"Maafkan daddy sayang... daddy berjanji, lain kali akan mengajak Ara pergi ke Moll. Terserah Ara mau beli apapun disana. Nanti biar daddy yang akan membayar belanjaan Ara," bujuk Alex agar anaknya tidak marah lagi padanya apalagi menyuruh dia menjual perusahaan bisa bangkrut dia nanti kalau perusahaan di jual.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa ndak dali tadi daddy bicala sepelti itu. Ala kan ndak pelu belakting malah sepelti ini," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


"Oh Tuhan... Jadi anak ini hanya pura-pura marah padaku. Aku pikir dia beneran marah tadi, makanya aku bujuk dia agar tidak marah lagi padaku. Anak ini benar-benar sangat pintar dan licik persis seperti aku. Kenapa aku bisa kalah dengan anak ku sendiri. Padahal selama ini aku tidak pernah kalah saat melawan musuh-musuh ku," batin Alex dengan wajah kesal.


"Bagaimana Lex? Apa kamu sudah merasakan apa yang mama alami dulu. Saat kamu berbuat nakal yang menyebabkan mama emosi setiap hari?" tanya Angelina mengejek anaknya dengan suara berbisik.


"Mama benar. Mungkin ini karma untuk aku. Karena dulu suka bikin mama emosi dan darah tinggi, gara-gara kelakuan aku yang nakal," ujar Alex yang membenarkan perkataan mamanya.


"Baguslah jika kamu mengakui kesalahan yang kamu perbuat dulu. Mama pikir kamu akan menutupi kelakuan buruk kamu itu," ujar Angelina terkekeh geli saat melihat wajah Alex yang berusaha sabar menghadapi kelakuan cucunya yang nakal itu.


"Sudah cukup mama mengejek aku. Lebih baik mama mengajak Ara pergi ke taman belakang mansion, biar aku bisa terbebas dari pertanyaan Ara yang bikin kepala aku pusing," ujar Alex yang di jawab anggukan kepala oleh Angelina.


"Apa Ara mau melihat kelinci?" tanya Angelina dengan lembut.


"Di mana kelinci na Oma? Ala mau lihat," ujar Ara dengan antusias.


"Di taman belakang sayang? Apa Ara mau melihat nya?" tanya Angelina.


"Mau Oma," jawab Ara dengan wajah bahagia.


"Ya sudah. Ayo kita pergi kesana," ajak Angelina yang di jawab anggukan kepala oleh Ara.


"Hufff... syukurlah Ara sudah pergi dari sini. Jika tidak bisa pecah kepala aku gara-gara ulah dia," ujar Alex dengan lega.


"Baru segitu saja sudah kesal sama anak sendiri. Bagaimana dengan aku yang setiap hari menghadapi tingkah Ara yang menyebalkan seperti kamu," ujar Claudia menyindir Alex.


"Sayang? Apa Ara sering membuat kamu sakit kepala seperti ini?" tanyak Alex dengan penasaran.


"Sering. Tapi aku tidak mungkin marah sama anak aku sendiri. Tidak seperti kamu," ujar Claudia seraya pergi dari sana.


Mendengar perkataan calon istrinya membuat Alex melongo. Dia tidak habis pikir dengan ulah calon istrinya yang suka sekali bikin dia emosi.


Beruntung dia bisa menahannya. Jika tidak, mungkin Claudia akan membatalkan pernikahan mereka.


Hahahaha


"Lihat Lex... sekarang kamu sudah mendapatkan karma. Karena kamu dulu sering mengejek papa gara-gara takut sama mama kamu. Tapi sekarang kamu juga merasakan apa yang papa alami selama ini," ujar David mengejek anaknya.


Mendengar perkataan ayahnya membuat Alex teringat karena dulu dia sering mengejek ayahnya karena takut dengan mamanya. Tapi sekarang dia merasakan apa yang di rasakan oleh ayahnya.


"Papa benar. Sekarang aku baru mengerti kenapa papa dulu sangat nurut dan takut sama mama. Itu karena papa tidak mau sampai membuat orang yang kita cintai sedih atau tersakiti gara-gara perkataan kita," ujar Alex.


"Sekarang kamu sudah semakin dewasa. Papa bangga sama kamu. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab bagi keluarga kecil kamu itu. Jika ada masalah jangan sekali pun kamu angkat tangan pada istri kamu. Karena sekali kamu sudah mengangkat tangan atau memukul istri kamu. Maka akan sulit bagi dia memaafkan kamu atau pun percaya dengan kamu lagi. Apa kamu mengerti lex," titah David dengan tegas.


"Baik pa," jawab Alex dengan penuh keyakinan.


"Ya sudah. Papa mau pergi ke ruang kerja dulu," ujar David yang di jawab anggukan kepala oleh Alex seraya pergi dari sana.





Bersambung.....


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2