
Di Mansion Alexander
"Bi... Bibi Susan," panggil Claudia dengan suara keras.
"Iya nyonya muda," jawab Bibi Susan dengan sopan.
"Di mana Ara Bi?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Tadi nona kecil sedang pergi bersama dengan nyonya besar," jawab Bibi Susan.
"Apa mereka ada bilang mau pergi kemana?" tanya Claudia dengan kening mengkerut.
"Ada nyonya muda. Tadi Bibi dengar, kalau mereka pergi ke moll," jawab Bibi Susan.
"Ya, sudah. Bibi lanjutkan kerja sekarang," titah Claudia dengan tegas.
"Baik nyonya," jawab Bibi Susan seraya pergi dari sana.
•
•
•
Di Ruangan Kerja Alexander
"Lex... Mama pulang dulu. Bagaimana dengan Ara?" tanya Angelina dengan penasaran.
"Mama pulang saja sama Dian. Biar Ara pulang sama aku saja nanti," jawab Alex dengan lembut, yang di tanggapi anggukan kepala oleh Angelina.
"Dian... Kamu pulang dengan aku saja. Biar Alex yang menjaga Ara nanti," titah Angelina dengan tegas.
"Baik nyonya besar," jawab Dian baby sister Ara dengan sopan seraya mengikuti Angelina.
*****
"Apa kamu sudah tahu? Siapa orang yang sudah berani menghina kami tadi?" tanya Alex dengan tegas.
"Sudah tuan Alex," jawab Andre dengan sopan.
"Bacakan," titah Alex dengan tegas.
"Selain nyonya Sintia yang sudah di sebutkan oleh nyonya besar tadi. Masih ada dua orang lagi yang belum disebutkan oleh nyonya besar tuan..."
"Siapa mereka," potong Alex dengan cepat.
"Dia adalah nyonya Anisa, istri dari tuan Adam Malik pengusaha di bidang perhotelan yang sedang bekerjasama dengan perusahaan kita tuan..."
"Siapa lagi," potong Alex lagi dengan penasaran.
"Dia adalah nyonya Clara istri dari tuan Robby pengusaha di bidang kesehatan tuan." Jelas Andre yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.
"Panggil mereka semua ke sini," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan," jawab Andre dengan cepat.
"Oh Tuhan... Apa yang akan tuan Alex lakukan pada mereka? Apa tuan Alex akan menghancurkan mereka?" batin Andre.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa yang akan daddy lakukan cama meleka?" tanya Ara dengan penasaran.
"Tentu saja menghancurkan mereka tanpa sisa," jawab Alex seraya menahan emosi agar tidak meledak.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa daddy sangat jahat cama meleka?" Kalau daddy mau menghukum meleka, daddy tinggal usil saja meleka dali lumah na itu," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.
Mendengar perkataan anaknya membuat Alex menahan emosinya agar tidak meledak. Sementara Andre berusaha menahan tawanya agar tidak keluar. Kalau tidak, bisa habis dia di tangan mereka berdua.
"Ara sayang. Apa bedanya perkataan daddy dengan perkataan kamu itu. Bukannya intinya sama saja?" tanya Alex dengan sabar walaupun dalam hati sudah kesal sama anaknya ini.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu bedalah Dad. Daddy ingin mengahanculkan meleka. Sedangkan Ala cuman menuluh meleka pelgi dali lumah meleka sendili. Tenapa daddy jadi olang bodoh sekali? Kata na... bos besal, masak itu saja ndak ngelti," ujar Ara dengan mulut pedasnya.
Hahahaha
Akhirnya pecah juga tawanya Andre. Sungguh, dia tidak sanggup lagi menahan tawanya yang sejak tadi dia tahan.
Alex yang mendengar tawanya Andre langsung saja dia menatap ke arah Andre dengan tatapan tajamnya.
Glekk
"Oh Tuhan... Apa yang kamu lakukan Ndre. Kenapa kamu menertawakan tuan Alex? Lihat wajahnya seperti ingin memangsa buruannya. Sungguh sangat menyeramkan," batin Andre menelan saliva nya sendiri.
"Kenapa kamu ketawa Ndre? Apa kamu sudah siap di pindahkan ke tempat terpencil?" tanya Alex dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Tidak tuan," jawab Andre dengan cepat.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa daddy suka sekali mengancam olang lain sih? Kita ndak boleh jahat cama olang. Lihat Ala... dah antik, baik lagi. Bukan sepelti daddy yang bisa na mengancam olang," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.
"Sabar Lex... Bagaimana pun dia anak kandung kamu. Jika kamu sampai memarahi anak ini. Aku sangat yakin, kalau dia pasti akan mengadu sama Claudia.Yang akhirnya aku yang kenak marah sama dia nanti," batin Alex.
Tak Lama Kemudian
Tok...Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
"Permisi tuan Alex. Di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan. Kata mereka tuan yang mengundang mereka ke kantor ini," ujar Laura dengan sopan.
"Suruh mereka masuk," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan. Saya permisi," jawab Laura dengan sopan, seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.
Cklek
Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Alex langsung menoleh ke arah sana hingga dia bisa melihat orang-orang yang sudah berani menghina dia dan juga keluarga nya saat ini ada di kantornya.
"Kenapa tuan Alex ingin menemui kami?" tanya Leo Martin salah satu suami dari mereka.
"Apa istri anda tidak menceritakan apa yang sudah dia lakukan pada anak dan mama saya tuan Leo?" tanya Alex tanpa menjawab pertanyaan dari leo.
"A... apa yang sudah istri saya lakukan tuan? Jujur, saya sama sekali tidak tahu tuan," ujar Leo Martin dengan terbata-bata karena merasa takut dengan Alexander.
"Wah... Kenapa nyonya Sintia yang terhormat ini, tidak menceritakan pada suami nyonya ini tentang apa yang sudah nyonya lakukan pada keluarga saya, pada saat anda melakukan arisan dengan mama saya tadi?" tanya Alex tanpa mempedulikan pertanyaan dari Leo.
"Untuk apa saya menceritakan soal Anda yang di sebut sebagai seorang gay. Tanpa saya menceritakan kekurangan Anda, semua orang pasti sudah tahu."
"Dan mengenai anak ini. Mana mungkin saya percaya kalau dia anak anda. Dilihat dari segi apapun dia lebih cocok berada di jalanan." Sintia dengan angkuh nya menunjuk ke arah Ara dengan tatapan menghina.
Mendengar perkataan Sintia membuat mereka semua terkejut dan juga syok. Sungguh, wanita yang sangat pemberani.Tapi dia tidak sadar kalau dia sudah salah mencari lawan tanpa tahu sebentar lagi hidupnya dan juga keluarga nya akan segera hancur.
"Kurang ajar. Beraninya kamu menghina saya dan anak saya di depan saya sendiri. Apa anda belum tahu siapa saya sebenarnya?" tanya Alex seraya menahan emosi agar tidak meledak di depan anaknya ini.
"Emangnya kenapa saya harus takut dengan anda. Jika saya sudah memiliki orang yang sangat berpengaruh di belakang saya yang pasti lebih kuat dari pada anda," ujar Sintia dengan angkuh.
"Ndre... suruh Laura membawa anakku pergi dari sini. Jika aku sudah selesai dengan mereka, suruh dia antar kembali anak ku kesini. Apa kamu mengerti," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan." Andre menjawab dengan cepat.
Cklek
"Bawa anakku pergi dari sini segera. Jangan kembali kesini tanpa pemberitahuan dari saya. Apa kamu mengerti," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan Alex." Laura menjawab dengan sopan, seraya pergi dari sana bersama dengan Ara.
Tak... Tak... Tak...
Suara langkah kaki Alex yang mendekat ke arah tempat mereka berdiri saat ini.
"Coba anda, ulangi lagi perkataan tadi nyonya," titah Alex seraya menyeringai.
"Anda adalah laki-laki... Akh... " Sintia merasakan lehernya dicekik oleh pria ini dengan sangat erat, hingga membuat dia kesulitan bernafas.
"Kenapa anda tidak melanjutkan perkataan tadi nyonya?" tanya Alex pura-pura polos padahal dia sedang mencekik leher wanita itu hingga membuat dia kesulitan bicara.
Tiba-tiba pria itu semakin menggerakkan cekikan nya dileher sintia." Lee... epashkan A... aku..." Sintia berucap dengan terbata-bata karena dia sudah tidak mampu lagi untuk bicara dengan jelas. Berulang kali ia berusaha menyingkirkan tangan Alex dari lehernya tapi tetap saja dia tidak bisa. Karena tenaga Alex jauh lebih kuat di bandingkan dengan nya.
"Kau ingin aku melepaskan nya?" tanya Alex yang di jawab anggukan kepala oleh Sintia.
"Baiklah," jawab Alex seraya melepaskan wanita itu hingga dia terjatuh tepat di atas lantai. Membuat wanita itu bisa bernafas lega karena berpikir Alex sudah melepaskan dia, tetapi dia salah besar.
Tiba-tiba.. "Arrrggghhhttt..." Ampun... " Wanita itu berteriak, karena merasakan kesakitan saat tangannya di injak dengan kuat oleh Alex.
"Tuan Alex. Tolong lepaskan istri saya tuan. Tolong maafkan istri saya tuan." Mohon Leo seraya berlutut di bawah kaki Alex.
"Apa maksud anda tuan Leo? Emangnya apa yang saya lakukan pada istri anda hingga anda meminta saya melepaskan dia?" tanya Alex dengan wajah pura-pura polos.
"Tolong lepaskan kaki anda dari tangan istri saya tuan Alex. Kasihanilah istri saya tuan Alex," ujar Leo seraya memohon agar Alex mau melepaskan istrinya itu.
"Apa?" Kasihan. Apa pada saat istri anda menghina saya dan anak saya dia memiliki rasa kasihan?" tanya Alex dengan aurat menakutkan sedangkan Leo hanya bisa diam seperti patung karena dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa diam? Apa anda tidak bisa menjawabnya. oh... begini saja, bagaimana kalau anda yang mengantikan istri anda?" tanya Alex seraya menampilkan smirk.
"Tidak mau tuan. Tolong ampuni saya." Mohon Leo Martin dengan wajah ketakutan.
Hahahaha
"Sungguh pasangan yang sangat munafik. Jika di depan publik kalian begitu mesra seakan-akan tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan kalian. Tapi lihat ini, untuk mengantikan istrinya yang sedang mengalami penyiksaan dari saya saja anda tidak mau," ujar Alex tertawa terbahak-bahak.
"Tolong ampuni saya tuan. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi. "Arrrggghhhttt... "Lepas tuan. Sakit..." Sintia berteriak, saat Alex tidak ada perasaan sedikitpun menginjak tangannya yang tadi menunjuk anaknya hingga rasanya mau lepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Plak
Plak
Plak
Suara tamparan menggema di dalam ruangan kerja Alex hingga membuat mereka yang ada di dalam sana merasakan ketakutan. Mereka takut jika sasaran selanjutnya adalah giliran mereka.
Sementara Andre yang melihat kekejaman atasannya tidak merasakan takut. Karena dia sudah terbiasa melihat bosnya melakukan ini pada orang-orang yang berani berkhianat pada keluarga Lemos. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan orang yang selama ini dia siksa di markas yang sengaja dia bangun hanya untuk menghukum orang yang dia anggap bersalah.
"Kau... laki-laki iblis yang tidak berperasaan. Aku ini hanya wanita tua tapi anda sama sekali tidak memiliki hati menyiksa saya seperti ini. Lihat saja saya akan mengadukan ini pada orang yang sangat berpengaruh di negara ini untuk menghukum kamu nanti," ancam Sintia.
Hahahaha
"Benarkah nyonya. Coba kasih tahu saya siapa orang yang anda maksud orang berpengaruh di negara ini? Saya beri waktu anda untuk menelpon dia untuk datang kemari," ujar Alex seraya mengejek.
"Dasar wanita bodoh. Apa dia tidak tahu orang yang berpengaruh di negara ini adalah tuan Alexander Lemos," umpat mereka semua dalam hati.
"Kenapa anda diam nyonya? Apalagi yang anda tunggu. Cepatlah telpon orang itu, karena saya bukan orang yang suka menunggu," titah Alex dengan tegas.
"Baik. Akan saya telpon dia sekarang," jawab Sintia dengan angkuh.
📞 "Hallo," ujar orang itu di sebrang sana.
📞 "Hallo tuan Mateo. Apa anda bisa datang ke kantor tuan Alexander Lemos saat ini?" tanya Sintia dengan perasaan cemas takut dia tidak bisa datang ke tempat ini.
📞 "Untuk apa saya harus datang ke sana? Apa ini perintah dari tuan Alex? Jika iya maka saya akan datang kesana," ujar Mateo dengan penasaran.
📞 "Tentu saja." Sintia berucap dengan antusias karena dia pikir ini akhir dari hidup Alex.
📞 "Baiklah. Saya akan datang kesana sekarang juga," ujar Mateo tak kalah antusias. Karena dia berpikir Alex mau berkerjasama dengan perusahaan nya itu.
Tak Lama Kemudian
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
Deg
"A... apa yang terjadi di sini? Kenapa mereka semua ada di dalam ruangan tuan Alex? Ke... kenapa mereka semua duduk di lantai?" I... itu bukannya nyonya sintia? Ke... kenapa dengan wajahnya itu?"
"Sial... seperti nya ini bukan waktu yang tepat buat aku berada di sini. Ini semua gara-gara wanita tua itu yang tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Jika aku tahu, Tidak mungkin aku mau pergi ke tempat sarang singa ini," batin Mateo dengan terbata-bata.
"Wah... lihat Ndre... penguasa negara ini sudah datang. Bagaimana kalau dia mencelakakan aku," ujar Alex seraya memasang wajah ketakutan.
"Sama tuan. Aku juga takut sama tuan Mateo..."
"Tuan Mateo. Kami minta maaf jika ada salah. Tolong jangan hukum kami." Mohon Andre seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya dengan wajah ketakutan.
Mendengar perkataan Andre membuat Alex menahan tawanya agar tidak keluar. Dia tidak habis pikir dengan asisten pribadinya ini yang bisa mengimbangi akting dia. Sungguh, akting yang sangat bagus.
Hahahaha
"Saya bilang juga apa. Anda pasti takut jika saya memanggil orang yang paling berpengaruh di negara ini datang kesini," ujar Sintia tertawa terbahak-bahak.
Glekk
"Kurang ajar. Dasar wanita tua. Apa dia tidak tahu, siapa sebenarnya orang yang paling berpengaruh di negara ini. Habislah aku. Sebelum tuan Alex menghancurkan aku tanpa sisa. Aku harus memohon ampun padanya sekarang juga," batin Mateo dengan wajah ketakutan.
Tiba-tiba ." Ampuni saya tuan Alex. Saya sama sekali tidak pernah mengatakan kalau saya orang paling berpengaruh di negara ini. Tapi wanita tua itu yang berpikir seperti itu," ujar Mateo seraya berlutut di depan kaki Alex yang sedang duduk di sofa saat ini.
"Kenapa tuan Mateo berlutut di depan saya?Seharusnya saya yang takut sama tuan Mateo. Apa saya harus melakukan hal yang sama seperti yang tuan Mateo lakukan saat ini?" tanya Alex memasang wajah ketakutan.
"Jangan..." Mateo berteriak dengan suara keras hingga membuat mereka semua menjadi terkejut.
Brukk
"Arrrggghhhttt..." Mateo berteriak, saat dengan sengaja di tendang oleh Alex hingga jatuh ke lantai.
"Beraninya anda teriak di depan saya. Apa anda mau saya lempar dari atas gedung ini?" Alex mengancam dengan wajah menyeramkan.
Glek
"Maafkan saya tuan. Saya berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Tolong ampuni saya tuan." Mohon Mateo mengatupkan kedua tangannya.
Sintia yang melihat orang yang dia anggap sangat berpengaruh di negara ini memohon ampun sama Alex bisa dia simpulkan kalau dia sudah salah mengenali orang selama ini.
Sekarang dia sedang ketakutan karena dia tahu ini akhir dari hidup dia. Seandainya dia tahu kalau Alex adalah orang yang berkuasa di negara ini. Maka dia tidak akan berani mencari gara-gara dengan nya.
•
•
•
Bersambung.....
__ADS_1
💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥