
Di Mansion Maxim Almero
Siangnya, Alice turun ke lantai bawah dengan penampilan rapi, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya merasa tidak nyaman saat berada jauh dari Maxim. Jadi, dia memutuskan untuk menyusul suaminya ke kantor.
Beberapa Jam Kemudian
Saat ini Alice sudah sampai di kantor suaminya Maxim Almero. Tidak seperti pertama kali Alice datang ke kantor suaminya yang saat itu dihina dan diremehkan oleh karyawan Maxim. Kali ini dengan mudahnya dia bisa datang sesuka hatinya di karenakan semua karyawan Maxim sudah mengetahui Alice yang menjadi istri sah atasan mereka.
Apalagi saat mendengar resepsionis yang kemarin menghina Alice sudah dipecat dengan cara tidak hormat oleh Maxim Almero. Dia pantas mendapatkan itu karena sudah bersikap angkuh dan menghina istri Ceo perusahaan ini.
Alice yang tampak anggun dengan mini dress coklat muda dan sepasang high heels berwarna senada sehingga membuat dia terlihat sangat cantik.
"Selamat siang Bu..."
"Selamat siang Bu..."
"Selamat siang Bu..."
Itulah sapaan karyawan yang ada di lobby perusahaan Maxim Almero. Sementara Alice hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja. Setelah itu Alice langsung menuju ke ruangan Maxim Almero dan tanpa aba-aba dia langsung memeluk suaminya dan menghirup aroma tubuh Maxim dalam-dalam.
Dia mengabaikan ucapan suaminya yang memprotes kedatangannya hari ini.
"Katanya lagi lemas, terus kenapa malah memasakkan diri kesini?" tanya Maxim.
"Kangen," jawab Alice singkat.
Maxim tetap memeluk Alice meski hatinya bertanya-tanya karena melihat sikap istrinya yang tidak biasa.
"Aku tidur di sini ya, mas?" Tidak apa-apa, kan?" tanya Alice seraya memasang wajah imut.
"Boleh," jawab Maxim dengan lembut.
Kemudian Alice merebahkan dirinya di sofa dan menatap Maxim yang duduk di dekat kakinya." Mas kalau mau kerja, silahkan saja. Aku cuma pengen ada disini dan dekat dengan mas saja," ujar Alice.
Dia takut jika kedatangannya kesini malah menganggu pekerjaan suaminya. Itu sebabnya dia menyuruh suaminya agar melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda gara-gara kedatangan nya.
"Tidak apa-apa. Aku senang kamu ada disini," jelas Maxim.
__ADS_1
Alice tersenyum lega dan berterima kasih pada Maxim yang telah berlapang dada memahaminya. Maxim kemudian menyuruh jessica untuk mencarikan selimut untuk istrinya. Selain karena suhu ruangannya yang dingin, Maxim juga ingin menutupi kaki istrinya.
Sementara Maxim bekerja, Alice tidur di sofa dengan nyenyak. Sesekali Maxim melirik ke arah istrinya, dan melebarkan senyuman. Dia senang sekali melihat Alice yang tidur pulas. Tak henti-hentinya Maxim memuja istrinya di dalam hati dan bersyukur Alice menjadi miliknya.
Hari-hari berikutnya, sikap Alice semakin menunjukkan gelagat aneh. Dia tidak bisa jauh-jauh dari Maxim dan selalu merasa rindu meski baru berpisah satu jari saja.
Ruangan kerja Maxim sudah seperti kamar keduanya. Di mana Alice akan menghabiskan waktu untuk membaca buku atau hanya sekedar tidur, biar tidak bosan jika dia datang ke kantor suaminya.
Maxim mencoba memahami keinginan istrinya dan berusaha menyesuaikan keadaan. Jika ada yang ingin berkunjung ke ruangannya, Maxim akan memilih bertemu di conference room. Dia tidak ingin Alice merasa terganggu dengan orang yang datang ke ruangannya.
Kemudian, satu hal yang paling Alice sukai yaitu mencium aroma tubuh suaminya. Dalam setiap kesempatan, Alice akan mengendus leher suaminya dan bernafas dengan rakus disana.
"Rasanya seluruh tubuh ku merasa membaik jika aku mencium aroma tubuh mas Maxim," jelas Alice saat Maxim bertanya, kenapa sikapnya mendadak aneh begitu.
"Tidak apa-apa," balas Maxim. Di peluknya tubuh Alice dengan elusan penuh rasa sayang.
Saat Alice tidak bisa datang ke kantor Maxim dan terpaksa pulang malam, maka Alice akan tidur sambil memeluk kemeja kerja suaminya yang belum di cuci. Aroma Maxim yang tersisa disana menjadi obat mujarab atas rasa gelisah karena rasa rindunya.
Sayang sekali, Maxim juga sedang menangani proyek baru yang menguras waktu dan tenaganya. Maxim jarang berada di kantornya sehingga percuma saja jika Alice datang kesana. Bahkan Maxim sering pulang malam sambil menentang beberapa berkas yang harus mendapat perhatiannya.
"Sebaiknya kita periksa ke dokter saja," ajak Maxim setelah melihat Alice bersikap aneh selama dua minggu ini berturut-turut.
Satu-satunya yang membuat Alice bersemangat dan terasa hidup hanyalah saat berada di dekat Maxim. Aroma tubuh dan pelukan suaminya seolah-olah memberikan kehidupan baru untuknya.
"Aku tidak sakit, mas. Jadi untuk apa ke dokter," elak Alice menolak ajakan suaminya.
"Tapi aku khawatir, sayang. Kamu bisa beneran jatuh sakit dan kekurangan nutrisi kalau terus dibiarkan begini," ujar Maxim yang merasa khawatir pada istrinya.
Karena terus di bujuk, akhirnya Alice bersedia untuk konsultasi ke dokter. Apalagi Maxim menawarkan diri mengantarkan ke dokter di tengah-tengah kesibukannya.
Awalnya Alice tidak berpikiran aneh-aneh karena merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi saat dokter yang menanganinya memberi rujukan agar dirinya mendatangi dokter spesialis obgyn, Alice mulai merasakan sesuatu yang ganjil.
"Apa yang terjadi padaku, mas? Kok sampai nganti dokter begini?" tanya Alice sambil menatap suaminya dengan cemas.
"Entahlah, kita ikuti saja sarannya," jawab Maxim.
Maxim sebenarnya juga cemas, tapi dia berusaha untuk tenang. Tidak sekali pun dia melepaskan tautan jarinya dari Alice. Seharusnya Alice tahu bahwa dokter spesialis obgyn yang dimaksud sama dengan dokter kandungan. Tapi pikirannya terlalu kalut memikirkan keadaan istrinya.
__ADS_1
"Sebelumnya sudah pernah tes kehamilan pakai testpack?" tanya dokter pada Alice.
"Belum," jawab Alice sambil menggeleng.
"Kalau begitu kita cek pakai metode USG saja, ya." Kemudian asisten dokter itu meminta Alice untuk berbaring di ranjang dan perutnya diolesi gel dingin.
Saat alat digerakkan di perut Alice, layar monitor menampilkan sesuatu yang belum dipahami Alice hingga akhirnya dokter memberi penjelasan.
"Kehamilannya sudah empat minggu dan ini kantongnya serta janin sudah terlihat," jelas dokter itu.
Maxim menatap layar dengan nanar, sementara Alice membekap mulutnya sendiri. Dia nyaris tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh dokter barusan.
"Sayang... Lihat, itu calon anak kita," bisik Maxim dengan bahagia saat mengetahui kehamilan Alice.
Lalu setetes air mata turun dan Alice terisak pelan. Bukan tangis sedih, tapi karena dia begitu terharu dan juga bahagia saat mengetahui ada nyawa di dalam perutnya.
Sudah lama dia menantikan kehadiran anak di dalam rumah tangga nya. Dan sekarang Tuhan telah mengabulkan doanya. Dia berharap anaknya bisa menjadi anak yang baik dan yang pasti jangan sampai sikap anaknya bisa seperti keponakan cantiknya itu.
"Terima kasih sayang... Karena kamu mau mengandung anak ku," ujar Maxim dengan senyum bahagia.
"Sama-sama sayang," balas Alice dengan tersenyum.
"Terima kasih Dok. Kami pulang dulu, permisi," ujar Maxim dengan perasaan bahagia.
"Sama-sama tuan," balas dokter itu dengan sopan.
"Ayo sayang kita pulang," ajak Maxim seraya membantu istrinya turun dari brangkal.
"Iya, mas," balas Alice dengan singkat, setelah itu mereka pergi dari sana dengan hati bahagia.
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1
🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿