
"Sebaiknya kamu lupakan saja harta itu clau. Biarkan mereka menikmati harta kekayaan kita. Daddy lebih baik kehilangan harta dari pada harus kehilangan kamu," ujar Henry memperingati anaknya untuk tidak membalaskan dendam.
"Aku tidak akan pernah rela mereka menikmati harta keluarga kita Dad. Jika dulu aku dengan senang hati memberikan harta itu untuk mereka. Tapi sekarang tidak lagi dad. Aku akan membuat mereka kembali ke jalanan," ujar Claudia dengan penuh api dendam.
"Yang di katakan oleh Clau, benar paman Henry. Jika kita diam saja mereka akan semakin semena-mena. Jadi kita harus bisa membalaskan perbuatan jahat mereka selama ini," sahut Alice yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ya, sudah jika itu sudah menjadi keputusan kalian. Tapi ingat Clau, kamu harus berhati-hati melawan mereka. Karena mereka bukanlah lawan yang lemah. Tapi mereka lawan yang sangat kejam dan juga licik," kata Henry.
"Tentu saja aku tahu kalau mereka bukan lawan biasa melainkan lawan yang sangat licik. Karena daddy saja mudah terhasut oleh mereka, dan malah melukai anaknya sendiri," ujar Claudia yang masih saja menyindir ayahnya.
Henry yang mendengar perkataan anaknya hanya bisa diam. Karena dia tahu untuk membantah perkataan anaknya tidak mungkin. Karena apa yang dia katakan memang kenyataan. Berbeda dengan Alice yang hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Oh... ya ampun Clau. Masih sempat-sempatnya kamu menyindir daddy kamu. Apa kamu tidak lihat kalau daddy kamu sudah menyesal sekarang," batin Alice.
"Ya, sudah sebaiknya daddy makan saja dulu, habis itu minum obat. Sekarang daddy tinggal disini. Karena hanya ini tempat yang aman untuk daddy. Dari pada daddy kembali ke rumah neraka itu.
"Kalau disini daddy akan mendapatkan perawatan yang lebih baik. Karena ada profesor Antonio yang akan selalu memantau keadaan Daddy. Dan yang perlu daddy lakukan, Daddy harus berusaha lebih keras lagi agar daddy bisa cepat sembuh seperti semula.
"Sekarang aku mau pulang dulu. Karena sudah lama kami berada disini. Daddy harus jaga diri baik-baik. Besok aku akan datang lagi ke sini," ujar Claudia.
"Kamu tinggal di mana sekarang Clau?" tanya Henry dengan penasaran.
"Daddy tidak perlu tahu aku tinggal dimana. Kalau sudah waktunya aku akan ajak daddy menemui keluarga yang selama ini ada disaat aku kesusahan. Aku janji akan mengenalkan daddy sama mereka nanti. Yang perlu daddy lakukan sekarang menjalankan semua pengobatan yang dilakukan oleh profesor Antonio agar daddy bisa cepat sembuh. Sekarang aku pamit pulang dulu," ujar Claudia.
"Oke. Hati-hati dijalan," ujar Henry.
*
*
__ADS_1
Beberapa Jam Kemudian
"Clau! Kenapa kamu tidak memberitahukan keberadaan Ara sama daddy kamu?" tanya Alice.
"Aku belum siap mengenalkan Ara sama daddy kak Al," ujar Claudia dengan wajah sendu.
Alice yang mendengar perkataan Claudia hanya bisa pasrah, dan tak mau memaksanya. Karena dia tahu pasti sangat sulit menjadi Claudia. Apalagi Ara hadir di luar nikah tanpa tahu siapa laki-laki yang sudah menghamilinya dulu.
"Ya, sudah lebih baik kita masuk saja ke dalam. Biar kita bisa istirahat," ujar Alice sementara Claudia hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Mama... Ara sayang... aunty cantik sudah pulang," ujar Alice setelah masuk ke dalam rumah Claudia.
"Wah... wah... balu pulang ya aunty Lilis cama mommy. Tenapa kalian halus pulang ke lumah Ala ladi? Tenapa ndak sekalian saja kalian pelgi dali sini."
"Apa kalian ndak tahu ini sudah jam belapa? Tapi kalian dengan seenak na pulang ke lumah Ala tanpa tau atulan sedikitpun."
"Dan kau... aunty Lilis. Sehalus na aunty Lilis sadal ini bukan lumah aunty. Tapi lumah ini milik Allabella. Jika aunty melakukan itu lagi. Sebaikna aunty pelgi dali lumah Ala, mengelti," ujar Ara dengan sindiran pedasnya.
"Oh Tuhan... Apa benar ini anak yang aku kandung dulu? Kenapa rasanya aku tak percaya dia anak yang aku kandung dulu? Lihat saja mulutnya jika berbicara sangat pedas dan tajam," batin Claudia.
"Kenapa Ara bisa bicara seperti itu nak? Apa mommy ada salah sama Ara?" tanya Claudia dengan suara lembut.
"Ihhhh, pucing pala Ala..."
"Itu kalena Ala sangat membenci mommy yang pelgi ndak ajak Ala. Mommy kalau mau pelgi selalu cama aunty Lilis. Apa mommy ndak sayang lagi cama Ala? Tenapa batin Ala selalu tertekan... Hiks... Hiks... sakit hati Ala..."
"Tenapa semua olang ndak ada yang sayang cama Ala... apa Ala ndak belhak bahadia mommy?" tanya Ara seraya terisak.
"Oh Tuhan... kenapa malah dia yang merasa tersakiti? Seharusnya kami yang sakit hati sama dia. Ini kenapa malah kami yang disalahin? Dasar bocah licik," batin Alice dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Mommy minta maaf oke. Bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan ke moll. Ara bisa beli apa saja yang ada di sana. Mommy janji tidak akan melarang Ara memilih barang yang Ara suka. Bahkan barang yang mahal pun tidak masalah." Bujuk Claudia agar Ara tidak sedih lagi.
"Dali tadi kek mommy bilang begitu. Jadi Ala kan ndak Pelu menangis cepelti ini. Lihat wajah Ala ndak antik lagi gala-gala mommy cama aunty Lilis," ujar Ara.
"Tapi ndak apa-apa. Yang penting cekalang Ala bisa puas dengan tawalan mommy yang mengajak Ala pelgi ke moll. Ah... senang na Ala bisa belanja balang-balang mahal. Tenapa nasib Ala begitu beluntung sekali sih," sambung Ara lagi dengan wajah senang.
"Benar kan... dugaan aku. Kalau anak ini pasti akan diam kalau sudah di sogok dengan uang atau barang mahal. Kenapa anak aku sangat matre sekali tuhan? Perasaan waktu aku ngidam dulu tidak pernah minta hal-hal yang aneh. Apa aku harus melakukan tes DNA dengan Ara. Siapa tahu Ara bukan putri kandung aku. Astaga... apa yang aku katakan. Kalau Ara mendengar pasti dia tambah ngambek sama aku," batin Claudia yang menyesali perkataan nya.
"Hey bocah. Yang menyuruh kamu menangis siapa? Bukannya kamu sendiri yang menangis? Kenapa kamu malah menyalahkan kami?" tanya Alice dengan cepat.
"Ihhh, pucing pala..."
"Sebalik na aunty Lilis diam deuh. Malas Ala mendengal aunty bicala. Bikin pala Ala pucing saja," potong Ara.
"Kamu yang seharusnya diam. Dasar bocah cadel. Bicara saja masih belepotan sok-sokan menghina orang. Dasar ratu drama cengeng," ujar Alice yang masih kesal dengan Ara.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Aunty Lilis bisa diam ndak. Lihat nih pala Ala makin pucing. Tenapa jadi olang celewet sekali sih? Lebih baik Ala pelgi tidul saja. Dali pada ladenin olang ndak walas cepelti aunty Lilis," ujar Ara seraya pergi dari sana.
Alice yang mendengar perkataan Ara ingin sekali meremas mulutnya itu. Sementara Claudia hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya yang aneh itu.
"Semoga jika aku menikah nanti anak aku tidak seperti Ara. Jika sampai aku memiliki anak seperti Ara. Aku rela menukarnya dengan anak orang lain. Aku ingin anak aku bisa menjadi anak yang baik dan penurut amin," batin Alice seraya berdoa.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung.....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁