One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Kecelakaan )


__ADS_3

Di Rumah Claudia


"Ara sayang sudah belum nak?" tanya Claudia dengan lembut.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Mommy bisa ndak sih. Jangan nuluh Ala cepat-cepat, kalau Ala ndak antik lagi gimana," ujar Ara dengan sebel karena mamanya menyuruh dia cepat-cepat bersiap.


Ya, hari ini mereka mau pergi ke moll untuk membeli perlengkapan Ara dan mengajak Ara ke Kidzoona tempat bermain anak di mall yang ada di kota California.


Disini disediakan banyak permainan seperti bongkar pasang rumah, mandi bola, mobil-mobilan, perosotan hingga penjual es krim. Tidak hanya bermain, namun disini anak bisa mengembangkan kemampuan berinteraksi dengan teman baru.


"Bukan begitu sayang. Nanti kalau kita telat gimana? Ara mau moll nya tutup," ujar Claudia dengan sabar.


"Mommy, mana ada moll tutup. Olang ini masih pagi, kalau jam segini moll ditutup untuk apa buka moll. Yang ada meleka bakalan bangklut kalena tidak ada olang yang pelgi ke sana," ujar Ara dengan kesel.


"Good. Benar kan... kalau anak aku ini emang anak ajaib, pintar, tidak bisa di tipu seperti anak orang lain. Entah menurun dari siapa anak aku ini. Kenapa dia bisa sepintar seperti ini," batin Claudia.


Karena tidak tahu mau bicara apalagi akhirnya Claudia langsung menyuruh Ara agar cepat pergi, dari pada dia di buat pusing oleh anaknya sendiri.


"Clau!" Kamu sudah siap kan?" tanya Alice yang sudah siap untuk pergi ke moll bersama mereka.


"Iya, aku sudah siap dari tadi. Ayo kita pergi sekarang," ajak Claudia.


"Hai... Ara kamu makin cantik saja sih," ujar Alice dengan gemas sambil mencubit pipi chubbynya Ara.


"Sekali lagi aunty mencubit pipi antik na Ala.


siap-siap akan kaki dali lumah Ala, ngelti," ancam Ara dengan tatapan tajamnya.


Claudia yang mendengar perkataan anaknya tidak tahu lagi mau memberikan nasehat padanya.


Jika salah bicara anaknya ini pasti akan marah padanya, dan mengganggap kalau dia hanyalah anak pungut, cuman gara-gara dia lebih membela Alice dari pada dirinya.


"Baiklah. Aku tidak akan melakukan nya lagi," ujar Alice bukannya dia takut dengan ancaman Ara melainkan dia lagi malas berdebat dengan Ara yang ujung-ujungnya dia yang kenak sial.


"Kalian mau pergi kemana pagi-pagi sudah rapi begini?" tanya Ariana saat melihat mereka yang sudah siap mau pergi.


"Ini ma... kami mau pergi ke moll buat beli perlengkapan Ara dan mengajak Ara bermain di moll, sebelum nanti aku sudah mulai sibuk mengurus restoran," jawab Claudia.


"Mama mau ikut kita tidak?" tanya Alice.


"Mama di rumah saja. Karena mama sudah tua tidak sanggup lagi untuk pergi jalan-jalan di moll," jawab Ariana dengan lembut.


"Ya sudah kami pergi dulu," ujar Alice lagi seraya pergi dari sana.


Saat Di Perjalanan


"Mommy!" Nanti Ala boleh kan beli boneka belbi? Soal na belbi Ala sudah ketinggalan jaman?" tanya Ara.


"Bukannya baru kemarin Ara beli bonekanya?Apanya yang sudah ketinggalan zaman sayang?" tanya Claudia dengan penasaran.


"Ihhhh, pucing pala Ala..."


"Mommy... itu kan kemalin belikna. Tentu itu sudah kadallualsa dan ndak bagus lagi. Jadi Ala penen boneka na yang balu," ujar Ara yang lagi-lagi kesel karena keinginan nya tidak di turuti.

__ADS_1


"Ok. Mommy akan belikan, tapi Ara harus janji dulu kalau Ara akan menjadi anak yang baik. Ara juga tidak boleh menjadi sombong lagi."


"Apa Ara bisa?" tanya Claudia dengan lembut.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Mommy ini ada niat ndak sih beli boneka na buat Ala. Tenapa mau beli bokena na saja banyak dlama na? Kata na mommy olang kaya, masak beli boneka na saja ndak mampu," ujar Ara yang meremehkan kekayaan orang tuanya.


Claudia bukannya tidak mampu untuk membelikan mainan untuk putri semata wayangnya, hanya saja dia ingin mengajarkan anaknya untuk menjadi orang yang rendah diri tidak sombong.


Tapi apa yang dia dapat, anaknya sendiri meremehkan kekayaan yang dia punya. Entahlah Claudia sudah menyerah untuk memberikan nasehat untuk putrinya.


Sementara Alice yang dari tadi mendengar pembicaraan sepasang anak dan ibu itu hanya bisa terkekeh geli melihatnya.





Tak lama kemudian mereka baru saja sampai di moll Ferry Building Marketplace, moll terbesar yang ada di kota California.


Pada saat Claudia sedang sibuk bicara di telepon, sementara Ara yang tidak sabar menunggu mommy nya bicara di telepon.


Tanpa melihat kiri kanan. Ara langsung menyebrang jalan, tiba-tiba...


Derrrr


"Aaaaa..."


"Ara," teriak Claudia yang terkejut saat melihat keadaan anaknya yang mengalami kecelakaan.


"Ohw tidak," ujar Claudia.


Tanpa pikir panjang Claudia langsung menghampiri Ara yang sedang tergeletak di pinggir jalan.


"Ohe... tidak!" Ara sayang bangun nak, kamu tidak apa-apa kan... Hiks... Hiks... Ara bangun sayang... Hiks... Hiks... Jangan tinggalkan mommy sendiri nak. Mommy tidak sanggup kehilangan kamu... Hiks... Hiks..." Claudia berucap dengan suara serak karena sedang menangis.


"Tenang nyonya. Anak anda tidak aap..."


"Bagaimana aku bisa tenang. Apa anda tidak lihat anak saya tidak bangun dari tadi," potong Claudia dengan cepat.


"Clau!" Apa yang terjadi dengan Ara?" tanya Alice dengan panik.


"Kak Al... Hiks... Hiks... cepat bantu aku bawa Ara ke rumah sakit," ujar Claudia pada Alice.


"Sebaiknya kalian pakai mobil saya saja," sahut seseorang yang menolong Ara saat kecelakaan tadi.


Tanpa berpikir panjang Claudia dan yang lainnya langsung saja masuk ke dalam mobil orang tersebut menuju rumah sakit terdekat.


"Dokter... dokter... tolong anak saya dok," teriak Claudia saat sudah sampai di loby rumah sakit tersebut.


Suster yang mendengar suara teriakan Claudia langsung memberikan brangkar agar bisa meletakkan Ara yang tidak sadarkan diri dari tadi.


Beberapa Menit Kemudian

__ADS_1


Datang dokter dan langsung menyuruh mereka membawa Ara ke ruang UGD untuk ditangani lebih lanjut.


Saat mereka sudah sampai di ruang UGD.


"Mohon maaf nyonya. Anda tidak bisa masuk ke dalam, jadi silahkan anda tunggu di luar," ujar suster itu.


"Tapi Sus," ujar Claudia yang ingin masuk melihat anaknya.


"Ini sudah menjadi peraturan rumah sakit nyonya. Mohon di mengerti," ujar suster itu lagi seraya menutup pintu ruangan UGD tersebut.


"Sudah Clau. Biarkan dokter yang menangani Ara. Aku yakin Ara akan baik-baik saja," ujar Alice seraya menenangkan Claudia.


Tak Lama Kemudian


Keluar lah dokter yang menangani anaknya tadi dengan raut wajah yang tidak bisa di baca.


"Bagaimana dengan anak saya dokter?" tanya Claudia dengan wajah panik.


"Putri anda tidak apa-apa, dia hanya mengalami syok ringan, karena terkejut tadi," jawab dokter laki-laki itu.


"Syukurlah kalau Ara baik-baik saja," sahut mereka semua yang ada di sana.


"Apa saya bisa melihat anak saya dok?" tanya Claudia.


"Anda sudah boleh menjenguk nya tapi tunggu pasien di bawa ke ruang rawat dulu," jawab dokter itu lagi.


"Baiklah Dok. Saya mengerti, dan terima kasih banyak," ujar Claudia dengan lembut.


"Sama-sama nyonya. Jika ada apa-apa anda segera menemui kami. Kalau begitu saya pamit dulu, permisi," sambungnya lagi seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh Claudia.


Beberapa menit kemudian keluar lah Ara dengan di ikuti oleh Claudia dan yang lainnya menuju ruangan rawat Ara sekarang.


"Bagaimana dengan kamu sayang? Ara tidak apa-apa kan?" tanya Claudia saat melihat Ara sudah sadarkan diri sejak tadi.


"Mommy?" Ala ndak antik lagi cekalang... Hiks... Hiks..." Ara menjawab dengan tangis keras.


"Loh... kenapa Ara bisa bilang seperti itu nak?" Ara masih cantik kok," ujar Claudia dengan heran.


"Mommy boong. Apa mommy ndak lihat Legan Ala beldalah!" Ala kan mau jadi model, Kalau Legan Ala lecet. Ala ndak bisa menjadi model telkenal.


"Kan olang yang halus jadi model kulitna halus mulus, ndak boleh cacat sedititpun... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.


Claudia yang mendengar perkataan anaknya, hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana mungkin anaknya yang baru berumur empat tahun bisa tahu banyak soal menjadi model.


Dan apa ini, dia yang masih takut terjadi sesuatu dengan anaknya. Tapi anaknya malah takut memikirkan nasibnya yang akan di tolak menjadi model.


"Oh Tuhan... berikan aku stok kesabaran yang lebih untuk menghadapi anak aku ini," batin Claudia.





Bersambung.........

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2