
Di Rumah Claudia
"Oma ayo kita main di taman cebental. Ala bocan di lumah telus," ujar Ara.
"Baiklah. Oma siap-siap dulu," ujar Ariana.
"Holle... ahlil na Ala bica kelual duga dali kandang macan ini," ujar Ara dengan antusias.
Ariana yang mendengar perkataan Ara hanya bisa menepuk jidatnya. Karena dia tidak habis pikir dengan cucu nakalnya ini, ada-ada saja kelakuan nya itu.
"Ayo sayang kita pergi," ajak Ariana.
"Ayo Oma," sahut Ara seraya mengandeng tangan Ariana.
Tak Lama Kemudian
Sampai lah mereka di Taman Hiburan Universal Studios Hollywood yang ada di kota California Amerika serikat.
Ara yang baru pertama kali melihat taman yang ada di kota California Amerika serikat merasa sangat senang. Karena semenjak dia tinggal di kota ini, mommy nya tidak pernah mengajaknya ke taman hiburan ini.
"Oma... Ala mau es klim," ujar Ara yang ingin makan es krim yang ada di taman itu.
"Baik. Ara tunggu disini dulu jangan kemana-mana ok," titah Ariana seraya memperingati cucu nakalnya.
"Oc. Jangan lama-lama pelgi na Oma," ujar Ara yang di anggukkan kepala oleh Ariana.
"Bos. Ini kesempatan kita untuk mendekati anak itu, sebelum neneknya kembali ke tempat anak itu duduk," ujar seseorang yang sejak tadi mengintai Ara sejak dari rumah sampai ke taman ini.
"Kamu benar juga. Sebaiknya kamu saja yang dekatin anak itu. Tapi ingat, kata bos Alexander jangan pernah melukai anaknya sedikitpun. Jika sampai itu terjadi, tamat sudah riwayat kita."
"Apa kamu mengerti," titah Arman bawahan Alexander.
"Baik bos," jawab bawahan Arman.
Setelah Alexander melihat foto kebersamaan Claudia dan juga Arrabella membuat dia curiga kalau Arrabella adalah anak kandungnya bersama Claudia.
__ADS_1
Sehingga dia menyuruh anak buahnya untuk mengintai rumah Claudia. Terutama Arrabella untuk mengambil sampel rambut Ara agar dia bisa melakukan tes DNA dengannya.
Walaupun dia sudah curiga kalau Arrabella adalah putri kandungnya. Tapi dia tetap melakukan itu untuk berjaga-jaga bila suatu saat Claudia mengelak kalau Ara bukan putrinya maka dia bisa menunjukkan bukti itu padanya kalau Ara adalah darah dagingnya sendiri.
"Kamu saja bos yang dekatin anak itu," ujar bawahan Arman yang takut sampai melukai Ara.
"Dasar bodoh. Siapa yang bos di sini hah," bentak Arman yang geram dengan anak buahnya itu.
"Baik bos. Saya akan melakukan perintah bos sekarang," ujar anak buahnya yang takut dengan kemarahan bosnya itu.
Tiba-tiba terdengar suara orang yang terjatuh tepat di dekat Ara duduk saat ini, hingga membuat Ara yang mendengarnya jadi penasaran.
"Aduh... tolong," teriak seseorang yang tiba-tiba jatuh di tanah hingga membuat orang itu terluka.
Ara yang mendengar suara orang yang minta tolong langsung saja dia menghampiri orang itu, seraya melihat apa yang terjadi dengannya.
"Om botak tenapa main lumpul di cini? Apa om botak Ndak puas main waktu kecil dulu? sudah tua juga masih kayak anak kecil, kayak Ndak ada keljaan lain saja dasal Olang gila," ujar Ara dengan mulut pedasnya.
Mendengar perkataan Ara membuat orang itu melongo dan juga terkejut. Karena dia tidak menyangka ada anak kecil yang memiliki mulut pedas melebihi cabai itu.
"Astaga pedas juga mulut anak ini. Bukannya menolong aku yang lagi kesakitan tapi dia justru malah menghina aku," batin Orang itu yang dipanggil om botak oleh Ara.
"Oh... Ala pikil om sengaja main lumpul di sini. Ya sudah sini Ala bantuin om botak bial bisa beldili," ujar Ara dengan cepat.
Pada saat Ara ingin membantu Om botak. Dengan sengaja orang itu menarik rambut Ara sampai rontok sehingga membuat Ara teriak kesakitan.
"Ahhh... apa yang om botak lakukan pada lambut Ala? Tenapa om botak belani menalik lambut Ala hah," bentak Ara dengan tatapan tajamnya.
Melihat tatapan tajamnya Ara membuat orang itu menelan ludahnya sendiri. Karena dia tidak menyangka walaupun anak ini masih kecil tapi auranya seperti orang yang sangat di takutkan oleh mereka selama ini. Siapa lagi orang nya kalau bukan Alexander Lemos.
"Tolong maafin om anak cantik. Om tidak sengaja menarik rambutnya kamu tadi," ujar orang itu dengan wajah menyesal agar Ara percaya kalau dia benar-benar tidak sengaja.
"Ihhhh, pucing pala Ala..."
"Ya Sudah Ala maafin. Om botak bangun sendili saja, Ala sudah malas membantu om botak beldili. Masak lambut Ala yang antik ini di talik-talik sih. Dasal olang ndak walas," ujar Ara dengan kesal seraya pergi dari sana.
Hahahaha
__ADS_1
"Lucu sekali anak itu," ujar Arman seraya tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa bos malah ketawa? Bukannya bantuin aku berdiri tapi bos malah asyik ketawa tidak jelas," ujar orang itu saat melihat bosnya malah asyik tertawa terbahak-bahak.
"Gila. Benar-benar mirip seperti tuan Alexander. Aku yakin tanpa melakukan tes DNA, anak kecil itu sudah pasti anak kandungnya bos Alex.
"Lihat cara dia bicara mirip seperti bos Alex yang kejam tanpa perasaan sedikitpun. Bahkan dia sama sekali tidak takut dengan orang yang tidak dia kenal. Jika anak lain mungkin sudah takut dengan orang asing apalagi wajah kamu yang sangat menyeramkan ini," ujar Arman seraya terkekeh geli melihat tingkah laku Ara tadi.
"Sudah lupakan anak kejam itu. Lebih baik kita pergi ke kantor tuan Alex saja, dan memberikan Sampel Rambut anak ini sama dia. Biar kita bisa mendapatkan bonus dari tuan Alexander," ujar anak buah Arman dengan antusias.
"Kamu benar juga. Sebaiknya kita pergi dari sini. Karena misi kita sudah selesai kita jalankan," ujar Arman seraya pergi dari sana dan disusul oleh anak buahnya di belakang.
"Maafin Oma karena lama beli es krim untuk kamu. Soalnya antrian banyak sekali tadi." Jelas Ariana yang merasa bersalah sama cucunya itu.
"Ndak apa-apa Oma. Ala yang sehalus na minta maaf cama Oma. Gala-gala Ala yang ingin makan es klim Oma malah halus capek-capek antian dengan olang banyak," ujar Ara.
"Tidak apa-apa sayang. Oma senang bisa membelikan Ara es krim untuk Ara. Tapi ingat, jangan sering makan es krim biar gigi Ara tidak ompong nanti ok," titah Ariana seraya mengelus rambut pirang Ara dengan lembut.
"Telima kacih Oma. Ala cayang banget cama Oma," ujar Ara dengan tulus.
"Sama-sama sayang," jawab Ariana dengan lembut.
"Oma... ayo kita pulang ke lu mah cekalang juga. Ala sudah puas main tadi, cekalang Ala capek pengen tidul di lumah," ujar Ara.
"Baik. Ara habiskan dulu es krimnya biar kita bisa pulang secepatnya," ujar Ariana dengan suara lembut.
"Oc Oma," jawab Ara dengan antusias.
"Kalau di lihat begini. Cucu aku sangat polos, dan baik hati. Tapi bila ada orang yang mencari masalah dengan nya. Pasti anak ini akan mengeluarkan sifat licik dan kejamnya tanpa perasaan," batin Ariana.
•
•
•
Bersambung....
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁