One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Perusahaan Raksasa )


__ADS_3

Di Perusahaan Alexander


Saat ini mereka sudah sampai di perusahaan Alexander. Perusahaan raksasa yang sangat berpengaruh di negara California Amerika Serikat.



"Ara sayang. Kenapa kamu ingin menemui daddy kamu di sini? Kamu tahu sendiri daddy kamu sedang bekerja sekarang," ujar Angelina dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Oma antalin Ala saja ke dalam luang kelja na daddy. Nanti oma akan tahu sendili kalau sudah sampai di sana," ujar Ara dengan cepat.


"Ya, sudah. Ayo kita masuk ke dalam," ujar Angelina dengan pasrah seraya membantu cucunya turun dari mobil.


"Pak Faisal tunggu di sini dulu. Saya mau antarin Ara pada daddy nya dulu. Jika sudah selesai, saya akan langsung pulang," titah Angelina pada supir pribadinya dengan sopan.


"Baik nyonya!" jawab pak Faisal dengan sopan.


"Dan kamu Dian. Tolong jaga Ara dengan baik jangan sampai dia terluka. Apa kamu mengerti," titah Angelina dengan tegas pada baby sister cucunya.


"Baik nyonya besar!" jawab Dian dengan sopan.


Di Lobby Perusahaan



"Selamat siang nyonya Besar... "


"Selamat siang nyonya Besar... "


"Selamat siang nyonya Besar... "


Itulah sapaan karyawan yang ada di perusahaan Alexander seraya membungkukkan tubuhnya dengan hormat.


Sementara Angelina hanya menganggukkan kepalanya saja tanda menjawab sapaan dari mereka.


"Itu yang bersama dengan nyonya besar anak siapa ya? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan tuan Alexander?" tanya Karyawan yang ada di sana dengan penasaran.


"Aku juga tidak tahu. Kemarin anak itu juga pernah datang ke kantor ini. Tapi dia tidak pergi sendiri melainkan bersama beberapa anak buah tuan Alex dan satu wanita yang masih muda, dan cantik, " sahut teman wanita yang bekerja di sana.


"Kira-kira dia siapa ya?" tanya wanita itu lagi dengan penasaran.


"Sudahlah. Sebaiknya kita lanjut kerja saja dari pada di marahin nanti," ujar teman wanita itu, seraya pergi dari sana.


Ruangan Kerja Alexander



Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


Cklek


"Daddy! panggil Ara dengan suara keras hingga membuat Alex yang sedang fokus bekerja langsung saja menoleh ke asal suara.


"Ara... Siapa yang membawa kamu kesini?" tanya Alex yang terkejut saat melihat keberadaan anaknya di perusahaan dia.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Tentu saja cama oma Dad. Emang na Ala bisa pelgi sendili ke sini," jawab Ara dengan sewot.


Mendengar perkataan anaknya membuat Alex berusaha untuk sabar agar jangan sampai dia mengeluarkan kata-kata yang akan membuat dia menyesal di kemudian hari.


"Kenapa kalian ke kantor? Bukannya tadi kalian mau pergi ke moll?" tanya Alex seraya menggendong anaknya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan kerjanya.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Apa daddy tahu. Telnyata oma sudah menipu daddy dan juga Ala. Oma ndak membawa Ala ke moll. Melainkan ke tempat penjahat," ujar Ara dengan wajah kesal saat mengingat perkataan mereka tadi.


"Apa?" teriak Alex yang terkejut saat mendengar perkataan anaknya.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Tenapa daddy teliak di telinga na Ala? Kalau Ala ndak bida dengal lagi gimana?" tanya Ara yang kesal pada ayahnya.


"Apa maksud Ara tadi? Coba jelaskan sama daddy?" tanya Alex dengan penasaran tanpa mempedulikan omelan anaknya.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Solly daddy. Dali Ala masih bayi sampai Ala besal cepelti ini. Kata-kata peltama yang Ala bisa yaitu. Ihhh, pucing pala Ala. Jadi Ala ndak bisa menghilangkan kata-kata itu. Kalau daddy ndak suka mendengal na, tinggal tutup telinga saja beles kan," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


Hahahaha


"Oh Tuhan... Kamu lucu banget sih sayang. rasanya oma pengen banget cubit pipi chubby nya kamu itu," ujar Angelina seraya tertawa terbahak-bahak begitu pun dengan Dian baby sister nya Ara.


Sedangkan Alex hanya bisa melongo dan juga terkejut saat mendengar perkataan anaknya yang super jail dan nakal ini. Sungguh, dia tidak habis pikir dengan anaknya ini yang pintar sekali menjawab setiap kata-kata yang dia tanyakan.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Ya, sudah. Ala akan jelaskan apa maksud Ala tadi. Oma tadi membawa Ala ke tempat pala nenek-nenek peyot belada. Saat Ala sampai di sana meleka langsung menghina oma dan juga daddy.


"Apa daddy tahu. Meleka melagukan kalau Ala anak kandung daddy. Dan dia juga bilang kalau Ala ini anak dali jalanan yang di punut oleh daddy.


"Sakit hati Ala dad... Hiks... Hiks... masak Ala di kila anak di pinggil jalan sih. Olang Ala dali bayi sampai besal cepelti ini ndak pelnah hidup di jalanan cepelti itu. Ndak hanya itu saja meleka menyebut daddy laki-laki ndak nolmal alias gay."


"Ala ndak ngelti apa itu gay. yang Ala tahu kata-kata itu pasti kata yang mengejek daddy." Jelas Ara seraya terisak.

__ADS_1


"Kurang ajar. Berani sekali mereka menghina anak ku dan juga meragukan keperkasaan ku. Apa mereka tidak bisa melihat, hanya sekali saja aku sudah berhasil mendapatkan anak yang sangat cantik dan pintar seperti Ara," ujar Alex dengan wajah penuh emosi.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Daddy bicala apa sih? Ala ndak ngelti apa yang daddy bicalakan. Bikin pala Ala pucing saja," sahut Ara dengan wajah kesal.


"Ini masalah orang dewasa, Ara tidak perlu tahu apa yang daddy bicarakan. Nanti kalau Ara sudah besar akan mengerti dengan sendirinya," ujar Alex dengan lembut.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Tenapa halus menunggu Ala dewasa dulu balu daddy menjawab peltanyaan Ala. Jika daddy menjelaskan cekalang pun Ala pasti mengelti. Bilang saja kalau tadi daddy lagi bicala hal yang jolok. Maka na daddy takut Ala tahu," ujar Ara menyindir ayahnya.


Mendengar perkataan anaknya membuat Alex geleng-geleng kepala. Dia yang baru sebentar mengurus Ara sudah sangat emosi dan kualahan. Bagaimana dengan istrinya dulu yang sejak bayi sampai sekarang mengurus Ara pasti dia sangat capek apalagi anaknya yang sangat jail dan nakal seperti ini.


"Mama membawa Ara kemana tadi? Kenapa Ara mengatakan ada nenek-nenek yang menghina anak ku tadi?" tanya Alex dengan tatapan tajamnya.


Glek


"Itu Lex... Tadi mama membawa Ara ke tempat arisan. Mama sengaja membawa Ara kesana untuk memamerkan pada mereka kalau kamu sudah menikah dan memiliki anak yang sangat cantik. Bukan seperti yang mereka pikirkan selama ini yang mengatakan kalau kamu seorang gay.


"Karena selama ini. Setiap mama pergi arisan mereka selalu menghina kamu yang tidak pernah dekat dengan satu wanita pun. Tapi, pada saat mama pergi kesana, mereka tetap tidak percaya kalau kamu sudah menikah apalagi memiliki seorang putri seperti Ara.


"Bahkan mereka mengatakan kalau mama sengaja membayar Ara untuk pura-pura menjadi cucu mama agar bisa menutupi kekurangan kamu itu." Jelas Angelina panjang lebar.


"Siapa nama mereka biar aku yang mengurus mereka nanti?" tanya Alex menahan emosi.


"Orang yang menghina kami tadi cuman Sintia istri dari Leo Martin pemilik perusahaan Alva group," jawab Angelina dengan cepat.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Ndak cuman ada nenek peyot Tia itu saja yang menghina kami tadi. Tapi yang lain juga ikut belsalah kalena meleka cuman diam saja saat Ala dan oma di hina oleh nenek peyot Tia itu.


"Dan Ala tahu di antala meleka ndak ada satu pun olang yang baik. Meleka seling menghina oma. Tapi oma ndak pelnah melawan meleka satu pun. Belbeda cepelti Ala yang langsung saja menjambak lambut nenek peyot yang tadi menghina Ala," sahut Ara dengan bangga karena sudah berhasil memberi mereka pelajaran.


Tapi itu hukuman yang sangat ringan untuk mereka. Sebelum Ara menghancurkan hidup mereka dia tidak akan bisa tenang. Karena pantang bagi Ara memaafkan orang yang sudah berani mencari masalah dengan dia.


"Bagus sayang, daddy bangga sama kamu. Kamu anak yang sangat pintar dan pemberani," ujar Alex dengan bangga.


"Ihhh, pucing pala Ala... "


"Tentu Ala halus menjadi anak yang pintal dan pembelani. Jika Ala lemas maka meleka pasti akan mudah menindas Ala nanti," ujar Ara dengan cepat.


"Ayah dan anak yang sama-sama memiliki sifat licik dan kejam. Padahal cucu aku masih kecil, tapi dia sudah mengikuti jejak ayahnya yang kejam itu. Inilah yang di sebut buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," batin Angelina.




__ADS_1


Bersambung....


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2