
Perusahaan Apple Inc
Saat ini Alexander Lemos sedang berada di perusahaan miliknya dan dia sampai sekarang masih memikirkan tentang wanita yang selama ini sudah masuk ke dalam hatinya sepenuhnya.
Bahkan dia tidak pernah melirik atau tertarik dengan wanita lain walau bagaimanapun mereka menggoda nya selama ini. Karena dia sangat mencintai wanita itu. Dan dia berjanji tidak akan pernah melepaskan wanita itu jika dia sudah menemukan keberadaan wanita itu.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
Masuklah Andre Villas asisten pribadinya sekaligus sahabat Alexander yang sangat setia terhadap keluarga Lemos.
"Ada apa Ndre?" tanya Alex.
"Ini tuan. Saya ingin meminta tanda tangan Anda," ujar Andre seraya menyerahkan berkas yang harus di tandatangani oleh Alex.
"Bagaimana dengan pencarian kalian? Apa sudah ada titik terang tentang keberadaan wanita itu?" tanya Alex seraya menyerahkan berkas itu kembali pada Andre setelah dia selesai menandatanganinya.
"Belum ada tuan. Kami semua hampir menyerah karena emang tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaan wanita itu. Dia bagaikan hilang di telan bumi." Jelas Andre seraya menerima berkas itu dari tangan atasannya itu.
"Oh Tuhan... sampai kapan aku menunggu dia kembali. Aku sangat yakin sekali, kalau anak aku pasti sudah besar sekarang," ujar Alex.
"Bagaimana kalau kita melakukan tes DNA pada anaknya tuan Maxim. Saya sangat yakin kalau anak itu anak kandung tuan. Jika dia terbukti anak tuan otomatis tuan bisa bertemu kembali dengan wanita yang tuan cintai itu," ujar Andre hati-hati takut atasannya emosi.
"Diam kamu Ndre... sudah berapa kali aku katakan kalau anak tuan Maxim bukanlah anak kandung aku. Jadi berhenti membicarakan anak itu," ujar Alex dengan tatapan tajamnya.
"Baik tuan," jawab Andre dengan pasrah.
"Kenapa tuan sangat bodoh sekali. Sudah jelas mereka sangat mirip bagai pinang di belah dua. Bahkan sifatnya juga sama persis sama-sama kejam dan licik. Jika tuan menunggu wanita itu di temukan sampai kapan pun dia tidak akan di temukan," batin Andre.
"Jika tuan menemukan wanita itu. Apa yang akan tuan lakukan sama dia?" tanya Andre dengan wajah penasaran.
"Tentu saja aku akan mengikat nya agar dia tidak bisa kabur lagi dari aku," jawab Alex dengan cepat.
"Apa?" teriak Andre yang terkejut saat mendengar perkataan alex.
"Kenapa tuan begitu tega menyiksa seorang wanita? Bukannya tuan sangat mencintai dia? Tapi kenapa tuan malah ingin menyiksanya begitu?" tanya Andre yang terkejut saat mendengar perkataan Alex.
Bruk
"Awwsstt! Kenapa tuan malah memukul aku? Emangnya aku salah apa?" tanya Andre seraya mengelus jidatnya yang sakit akibat pukulan dari Alex tadi.
"Dasar asisten bodoh. Mana mungkin aku tega menyiksa wanita yang aku cintai. Apa kamu sudah gila menuduhku seperti itu," ujar Alex dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Bukannya tuan sendiri yang bilang seperti itu? Kenapa malah aku yang disalahkan?" tanya Andre dengan penasaran.
"Beraninya kamu menyalahkan aku Ndre?" tanya Alex dengan tatapan tajamnya.
"Tidak berani tuan," jawab Andre seraya menundukkan wajahnya karena merasa takut dengan tatapan tajam tuanya itu.
"Maksud aku tadi. Jika aku sudah menemukan wanita itu maka aku akan langsung menikahinya dan mengurung dia, agar wanita itu tidak bisa kabur lagi dari aku. Kamu Sudah paham Ndre." Jelas Alexander dengan tegas.
"Sudah tuan," jawab Andre dengan cepat.
"Ya, sudah sebaiknya kamu kembali ke ruang kerja kamu lagi. Aku ingin melanjutkan pekerjaan yang tertunda gara-gara kedatangan kamu kesini," ujar Alex seraya mengusir Andre agar cepat keluar dari ruangan nya itu.
"Untung bos aku. Kalau bukan sudah aku lempar dia dari atas gedung ini. Dasar bos menyebalkan," batin Andre dengan wajah kesal.
"Baik tuan," jawab Andre seraya pergi dari sana.
•
•
•
Di Rumah Claudia
Saat ini Claudia sedang berada di kamarnya bersama dengan Alice Norin kakak angkatnya Claudia.
"Aku juga belum tahu kak Al... aku sendiri masih bingung harus melakukan apa," jawab Claudia.
"Kamu harus bisa merebut harta kamu itu Clau. Enak saja siluman ular itu menikmati uang kamu setelah dia melakukan perbuatan jahat itu sama kamu, dan juga daddy kamu," ujar Alice dengan wajah kesal.
"Aku juga tidak terima kak Al.. mereka menikmati uang daddy aku sementara daddy aku malah menderita seperti ini. Bagaimana pun cara nya aku harus bisa melempar mereka kembali ke jalanan," ujar Claudia dengan emosi tertahan.
"Kamu benar sekali Clau. Seharusnya sampah di buang di tempatnya. Sama juga seperti mereka yang awalnya hidup di jalanan maka mereka juga harus kembali ke jalanan juga," ujar Alice.
"Kapan kamu akan mengenalkan Ara sama daddy kamu Clau? Ini sudah lama sekali, Ara berhak tahu kalau dia masih memiliki seorang kakek. Apa kamu tidak kasihan sama Ara, dia tidak tahu siapa ayah kandungnya selama ini sekarang kamu malah menyembunyikan kalau dia masih memiliki keluarga lain yaitu kakek kandung nya sendiri," ujar Alice.
"Kalau sudah waktunya aku akan memberitahu Ara kalau dia masih memiliki kakek yang selama ini dia inginkan," ujar Claudia.
"Terserah kamu saja lah Clau. Aku sudah mengingatkan kamu. Kalau kamu tetap pada pendiriannya kamu ya, sudah," ujar Alice dengan wajah pasrah.
Mereka tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka sejak tadi.
"Jadi Ala masih ada Kakek? Tenapa mommy malah menyembunyikan ini cama Ala? Dan siapa maksud meleka yang sudah melebut halta mommy?"
"Itu belalti Ala akan mendapatkan uang banyak jika bisa membantu mommy mengambilkan halta itu lagi dali tangan nenek sihil itu. Wah... betapa beluntung na Ala jika bisa memiliki uang yang banyak lagi.
__ADS_1
"Belalti Ala akan menjadi olang kaya Laya. Tapi gimana cala Ala membantu mommy supaya mommy bisa cepat mendapatkan halta itu lagi. Oke, cekalang Ala halus belpikil supaya bisa membantu mommy segela," ujar Ara yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka di depan pintu kamar Claudia.
"Mommy cama aunty Lilis sedang apa?" tanya Ara pura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah mendengarkan perkataan mereka sejak tadi.
"Hey bocah. Sebaiknya kamu diam saja. Anak kecil seperti kamu tidak perlu tahu masalah orang dewasa," sahut Alice dengan cepat.
"Sepertinya perang dunia akan segera di mulai lagi ini. Kapan mereka bisa akur? Kak Al juga sudah tahu Ara anaknya memiliki mulut pedas masih tidak kapok menganggu dia," batin Claudia.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Aunty Lilis tahu ndak. Tenapa sampai cekalang ndak laku juga? Itu kalena ndak ada yang tahan mendengal mulut aunty yang cepelti petasan. Kalau aunty bicala pasti olang-olang akan langsung Kabul kalena takut mendengal suala aunty yang kelas itu," ujar Ara dengan mulut pedasnya.
"Benar kan yang aku katakan tadi. Anak ini pasti akan membalas perkataan kak Al dengan katanya yang sangat pedas," batin Claudia.
"Hey bocil. Enak saja kamu bilang aunty tidak laku. Aunty bukannya tidak laku. Tapi aunty emang tidak mau menikah dengan laki-laki yang salah. Makanya aunty ingin memilih pasangan yang tepat buat aunty ajak serius."
"Apa sekarang kamu sudah mengerti? Jika kamu sudah mengerti, jadi berhenti bicara seperti itu sama aunty," ujar Alice dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ini mulut Ala cendili. Tenapa aunty yang mengatul Ala mau bicala apa ndak. Kalau aunty ndak suka Ala bicala tinggal tutup saja telinga na, beles kan..."
"Helen deuh Ala jadi olang ndak pelnah pintal sedikit pun. Sudah tua masih saja jadi olang bodoh. Ya, sudah lah Ala mau tidul siang dulu. Malas beldebat dengan aunty Lilis yang ndak malu sudah menumpang di lumah Ala masih saja tak malu menghina pemilik lumah ini," ujar Ara seraya pergi dari sana.
"Clau! Kenapa kamu bisa punya anak yang mulutnya tajam bagai pisau itu? Aku selalu kalah kalau berdebat dengan anak kamu itu," ujar Alice dengan wajah kesal.
"Sudah tahu kak Al tidak pernah menang jika melawan Ara. Ini bukannya kapok tapi kak Al masih saja bertengkar dengan Ara. Jadi sekarang tanggung sendiri akibatnya," ujar Claudia.
"Aku juga ingin diam Clau. Tapi entah kenapa setiap lihat anak kamu. Mulut aku tak bisa diam. Mungkin sudah nasib aku yang selalu kalah dengan Ara," ujar Alice dengan pasrah.
"Kak Al... yang sabar saja. Ara seperti itu karena kesal sama kakak yang selalu mencari masalah dengan dia. Tapi aku berharap kakak tidak menggambil hati atas perkataan Ara tadi. Karena aku tahu walaupun Ara bicara seperti itu tapi dia tetap sayang sama kakak," ujar Claudia.
"Iya Clau. Aku sudah tahu Ara tidak ada niat mengusir aku dari rumah ini. Buktinya dia sangat peduli dan khawatir sama aku disaat aku sakit," ujar Alice.
"Iya kak Al benar. Ara emang anak yang sangat baik hanya saja dia memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan sifat aku yang mudah kasihan sama orang lain. Walaupun orang itu sudah menyakiti aku sekalipun.
"Tapi Ara dia akan menghancurkan orang yang berani menghinanya dan juga keluarganya. Sama seperti yang terjadi waktu di moll dulu. Tanpa ada kasihan sedikitpun sama orang yang sudah dia buat kehilangan pekerjaan nya itu. Entah sifat siapa yang menurun sama anak itu aku sendiri masih bingung," ujar Claudia.
"Sudahlah. Lupakan masalah Ara. Aku mau kembali ke kamar ku dulu," ujar Alice yang di anggukkan kepala oleh Claudia.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁