
Saat ini Laura sekretaris Alexander sedang menemani anak atasannya di kantin perusahaan.
Di Kantin perusahaan
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Aunty Lala. Tenapa daddy menuluh aunty membawa Ala pelgi dali luangan na itu?" tanya Ara dengan penasaran.
"Aduh... gawat. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan nona kecil. Tidak mungkin aku bicara kalau daddy nya saat ini sedang menyiksa musuhnya. Jika sampai aku bicara seperti itu bisa habis aku di tangan tuan Alex," batin Laura dengan wajah cemas.
"I... itu nona kecil. Daddy nona sedang ada pekerjaan dengan mereka. Makanya tuan Alex menyuruh saya membawa nona kecil ke sini." Laura menjawab dengan terbata-bata.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa aunty pikil Ala bodoh yang mudah di tipu cama aunty. Dengal ya aunty Lala. Ala ini bukan anak kecil yang mudah pelcaya cama pelkataan aunty Lala.
"Ala tahu. Pasti cekalang daddy sedang menghukum penjahat itu kalena sudah belani menghina Ala tadi. Ala tahu, daddy olang yang sangat kejam pasti dia ndak akan melepaskan penjahat itu.
"Tapi daddy malah menuluh aunty Lala membawa Ala pelgi dali sana. Padahal Ala juga ingin melihat daddy menyiksa meleka pasti itu sangat selu. Ala juga ingin membalaskan dendam cama nenek peyot itu kalena dia sudah belani menghina Ala tadi. Bial meleka tahu, siapa Ala sebenalna na," ujar Ara dengan wajah kesal.
Mendengar perkataan Ara membuat Laura melongo dan juga shock. Dia tidak habis pikir kenapa anak sekecil ini bisa dengan mudahnya bicara seperti itu. Sungguh, anak yang sangat kejam dan tidak punya perasaan.
"Oh Tuhan... Ternyata anak ini benar-benar sangat kejam seperti tuan Alex. Benar kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Lihat anak ini dari wajah, bahkan sifatnya sama persis seperti tuan Alex yang terkenal licik dan kejam," batin Laura.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa aunty Lala diam saja sejak tadi?" tanya Ara dengan kening mengkerut saat melihat Laura yang diam saja sejak tadi.
"Maaf nona kecil. Sebaiknya nona lupakan saja masalah ini. Nona cepat habiskan makanan nya biar kita bisa kembali ke ruangan daddy nya nona kecil," ujar Laura mengalihkan pembicaraan.
"Ihhh, pucing pala Ala...."
"Ya sudah. Ala akan makan cekalang. Bial Ala bisa langsung pelgi ke luangan daddy untuk melihat meleka telsiksa, selaya meminta ampun cama Ala. Pasti itu sangat selu," ujar Ara dengan wajah antusias.
Mendengar perkataan Ara membuat Laura hanya bisa menghela nafas pasrah seraya geleng-geleng kepala. dia tidak habis pikir dengan anak ini. Masih kecil, tapi sudah tahu cara membalas dendam.
•
__ADS_1
•
•
Di Ruangan Kerja Alexander
Hahahaha
"Lihat nyonya Sintia. Apa ini orang yang anda sebut penguasa di negara ini? Jika benar dia penguasa negara ini. Kenapa dia harus memohon pada saya?" tanya Alex seraya mengejek.
Mendengar perkataan Alex membuat Sintia terdiam seperti patung dengan wajah berkeringat penuh ketakutan.
"Kenapa anda diam? Mana keberanian anda tadi?" tanya Alex seraya mengangkat dagu Sintia dengan kasar hingga membuat dia menongkak ke atas tepat di depan wajah Alexander.
"Kau tahu nyonya. Saya adalah Alexander Lemos, sang penguasa yang sebenarnya di negara ini. Lihat orang itu," ujar Alex seraya memalingkan wajah Sintia ke arah Mateo yang sedang ketakutan.
"Dia... Orang yang kau anggap penyelamat mu itu. Justru dia sekarang malah berlutut di depan kaki ku ini. Sementara kau... dengan lancang nya menghina anak saya tepat di depan mata saya sendiri. Bukannya anda sangat berani nyonya?"
"Tapi sayang. Keberanian anda ini malah akan membuat anda dan keluarga anda harus menerima akibatnya... " Setelah mengatakan itu tiba-tiba...
"Arrrggghhhttt..." Sintia berteriak, saat dengan kejamnya Alex menggores mulutnya dengan pisau yang selalu ada di saku jas mahalnya hingga mengeluarkan darah segar di lantai ruangan kerja Alexander.
"Kau tahu, tuan Leo. Mulut istri anda ini sudah lancang menyebut anak saya sebagai anak jalanan. Bukankah itu penghinaan besar bagi penguasa negara ini." Saya yang menguasai negara ini, bahkan hukum di negara ini tunduk kepada saya."
"Tapi istri anda ini menyebut anak kesayangan saya sebagai anak jalanan dengan mulut busuk ini. Jadi, tidak salah saya menggores nya sedikit. Untuk memperingati istri anda ini agar dia tidak lagi berani menghina keluarga saya."
"Anda sejak tadi selalu memohon agar saya melepaskan istri anda. Tapi giliran saya meminta anda untuk menggantikan istri anda, kau malah tidak mau. Sungguh pasangan munafik," ujar Alex seraya mengejek.
Mendengar perkataan Alex membuat Leo Martin langsung terdiam seperti patung. Begitupun mereka yang ada di dalam ruangan itu yang sejak tadi sudah ketakutan.
"Ndre... ambil tisu," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan." Andre menjawab dengan cepat.
"Ini tuan," ujar Andre memberikan tisu pada Alex yang langsung di terima olehnya.
"Siapa lagi di antara kalian yang menghina saya dan anak saya?" tanya Alex sambil melihat mereka satu-persatu dengan aura menakutkan.
Sementara mereka hanya bisa terdiam seperti patung, karena merasakan ketakutan saat melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana kejamnya Alex menyiksa orang yang sudah berani menghina keluarganya. Padahal orang yang dia siksa hanyalah seorang wanita berumur.
__ADS_1
"Kenapa kalian diam hah," bentak Alex dengan suara keras.
"Ampun tuan. Tolong maafkan kami." Mohon mereka berlutut di depan Alexander yang saat ini sedang membersihkan tangannya gara-gara terkenak darah Sintia.
Sedangkan Sintia sudah pingsan sejak tadi gara-gara tidak sanggup menerima penyiksaan Alexander.
"Kenapa sekarang kalian takut pada saya?" Bukannya di belakang saya, kalian sangat berani menghina keluarga saya."
"Tunjukkan keberanian kalian ini pada saya. Biar saya bisa menilai siapa di antara kalian yang lebih hebat. Biar saya bisa putuskan siapa di antara kalian yang berhak mendapatkan penghargaan dari saya.
"Dan saya pastikan penghargaan ini tidak akan bisa kalian lupakan seumur hidup kalian nanti," ujar Alex yang saat ini sedang duduk di depan mereka dengan seringai liciknya.
"Tolong lepaskan kami tuan. Kami mengaku salah karena sudah menghina tuan Alex. Tapi itu dulu, sedangkan kami kemarin hanya diam saja saat nona kecil bertengkar dengan nyonya Sintia bahkan nona kecil dengan sengaja menjambak rambut nyonya Sintia hingga rontok.
"Kami bahkan sangat terkejut saat melihat keberanian nona kecil. Tanpa takut dia memberi pelajaran pada nyonya Sintia. Padahal kami sering menghina nyonya Angelina tapi dia tidak pernah berani melawan kami. Karena dia orang yang baik berbeda dengan nona kecil yang kejam sama seperti tuan Alex," jelas Anisa yang paling bodoh diantara yang lain.
"Kenapa istri aku ini sangat bodoh sekali. Kenapa dia membongkar aibnya sendiri. Sekarang aku sangat yakin hidup kami tidak akan selamat sekarang. Kenapa aku dulu harus menikah dengan wanita bodoh ini. Gara-gara dia perusahaan yang aku bangun dari keringat aku selama ini akan hancur di tangan tuan Alex," batin Adam dengan penuh kemarahan pada istrinya itu.
Hahahaha
"Tentu saja dia sangat berani. Karena dia adalah keturunan keluarga Lemos. Darah ku mengalir dalam tubuhnya. Maka sudah di pastikan dia akan memiliki sifat yang sama persis seperti saya yang terkenal licik dan kejam," ujar Alex tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan dari wanita itu tentang keberanian anaknya.
Mendengar tawa Alex membuat mereka tambah takut karena suara tawanya sungguh sangat menyeramkan.
"Apa wanita tua itu membalas perbuatan anak saya?" Alex dengan penasaran.
"Tidak tuan Alex. Karena pada saat nyonya Sintia ingin menampar anak tuan. Nyonya Angelina langsung menyembunyikan nona kecil di belakang tubuhnya. Setelah itu nyonya Angelina meminta maaf sama nyonya Sintia agar nona kecil tidak dipukul oleh nyonya Sintia," jelas Anisa lagi.
"Kurang ajar. Jadi wanita tua itu ingin menampar anak kesayangan ku. Tidak salah aku patahkan tangan wanita tua itu.Ternyata tangan itu yang hentak memukul anak kesayangan ku," batin Alex dengan penuh kemarahan.
•
•
•
BERSAMBUNG....
☾ ⋆*・゚:⋆*・゚:⠀ *⋆.*:・゚ .: ⋆*・゚: .⋆
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁