
Di Mansion Alexander
"Ara... kamu di mana sayang?" teriak Angelina dengan suara keras saat dia baru sampai di mansion Alex.
"Mama?" Apa-apaan sih teriak-teriak di mansion Alex?" tanya Alex yang kesal dengan mamanya.
"Jika kamu tidak mau mendengar suara mama sebaiknya kamu tutup saja telinga kamu, bereskan," ujar Angelina dengan santai.
Mendengar perkataan mamanya membuat Alex menghela nafas pasrah karena percuma berdebat dengan mamanya malah bikin kepalanya pusing saja.
"Kenapa mama mau bertemu dengan Ara? Apa mama mau mempengaruhi Ara lagi agar ikut sama mama? Jika itu alasannya sebaiknya mama pergi saja dari sini. Karena sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan mama membawa anak ku pergi dari mansion ini," ujar Alex yang curiga dengan mamanya.
Bruk
"Awwsstt!" Kenapa mama malah memukul Aku sih?" tanya Alex dengan perasaan kesal.
"Dasar anak kurang ajar. Mamanya datang ke sini bukannya di sambut. Ini kamu malah mengusir mama dari mansion ini," ujar Angelina dengan wajah kesal.
"Jika mama datang dengan niat baik-baik, aku sih tidak masalah. Tapi aku tahu mama pasti belum terima Ara ikut tinggal bersama dengan kami," ujar Alex yang masih curiga dengan mamanya.
"Kenapa kamu menuduh mama seperti itu? Mama kesini bukan mau menghasut Ara untuk tinggal sama mama. Tapi mama mau mengajak Ara untuk pergi belanja di moll," ujar Angelina dengan penuh keyakinan.
"Mama tidak berbohong kan?" tanya Alex seraya memperhatikan wajah mamanya seperti tidak ada kebohongan sedikitpun.
"Benar Lex... Mana mungkin mama berbohong sama kamu," jawab Angelina dengan penuh keyakinan.
"Ya, sudah. Mama bisa mengajak Ara pergi jalan-jalan. tapi, setelah itu mama harus mengantar Ara kembali ke mansion ini lagi," titah Alex dengan tegas.
"Kamu tenang saja, mama tidak akan membawa kabur anak kamu itu," ujar Angelina dengan wajah kesal.
"Lex... istri kamu kemana? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Angelina dengan penasaran.
"Dia sudah berangkat bekerja," jawab Alex dengan cepat.
"Terus kenapa kamu tidak pergi bekerja?" tanya Angelina dengan penasaran.
"Walaupun aku pergi telat tidak ada yang berani memarahi aku. Karena aku lah, bos pemilik perusahaan tempat mereka mencari nafkah," ujar Alex dengan sombong.
Mendengar perkataan Alex membuat Angelina hanya bisa menghela nafas pasrah. Karena dia sudah tahu sifat anaknya yang sama persis seperti suaminya yang sama-sama angkuh dan sombong.
"Lex... Apa kamu tidak ada Rencana pergi bulan madu? Jika kalian sama-sama sibuk seperti ini, lalu bagaimana kalian bisa memiliki anak lain selain Ara." Angelina sengaja menyuruh anaknya pergi berbulan madu agar dia bisa membawa cucunya untuk tinggal di mansion nya lagi.
"Benar juga apa kata mama. Kenapa aku tidak kepikiran untuk mengajak Claudia pergi bulan madu? Karena sejak kami menikah aku baru sekali melakukan itu sama Claudia. itupun tidak membuat Claudia hamil kembali. Beda sekali saat dulu aku melakukan itu dengan nya. Sekali membuatnya langsung jadi anak yang sangat cantik seperti Ara," batin Alex.
"Aku akan bicarakan masalah ini sama Claudia. Jika dia setuju untuk pergi berbulan madu, maka aku akan segera mengatur keberangkatan kami secepatnya," ujar Alex.
"Mama harap kalian bisa secepatnya memberikan kami cucu laki-laki yang nantinya akan meneruskan perusahaan kalian. Karena mama tidak rela cucu kesayangan mama malah kalian suruh mengurus perusahaan kalian itu," ujar Angelina dengan tegas.
"Kenapa mama bicara seperti itu? Apa mama akan pilih kasih kalau sampai aku memiliki anak lagi?" tanya Alex dengan penasaran.
"Bukannya mama pilih kasih. Kamu tahu kalau anak laki-laki di lahir kan untuk menjadi pengganti kamu di perusahaan karena kekuatan fisiknya lebih kuat di bandingkan anak perempuan." Jelas Angelina yang tidak mau di salahkan.
__ADS_1
"Mama berdoa saja, semoga kami di percayakan untuk memiliki anak lagi," ujar Alex dengan penuh harap.
"Amin... Semoga kalian bisa secepatnya memiliki anak lagi," ujar Angelina dengan senyum bahagia yang di jawab anggukan kepala oleh Alex.
"Bi... Bibi," panggil Alex dengan suara keras.
"Iya tuan muda," jawab Susan kepala pelayan di mansion Alex.
"Suruh Dian mengantikan baju Ara dengan baju yang bagus, setelah itu suruh mereka kesini," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan muda," jawab Susan dengan sopan.
Tak Lama Kemudian
"Oma," panggil Ara dengan antusias.
"Oh... cucu oma cantik sekali," ujar Angelina memeluk cucunya dengan erat.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa oma balu sadal kalau Ala sangat antik dali siapa pun," ujar Ara dengan sombong.
Hehehehe
"Kamu benar sayang. Cucu oma lebih cantik dari orang lain," ujar Angelina yang membenarkan perkataan cucunya.
"Tenapa oma kesini?" tanya Ara penasaran.
"Tentu saja mau mengajak Ara pergi ke moll," jawab Angelina dengan cepat.
"Apa?" teriak Alex terkejut saat mendengar perkataan anaknya.
"Ara bilang daddy pelit. Lalu selama ini Ara beli barang branded uang dari siapa?" tanya Alex yang kesal dengan anaknya.
"Tentu saja uang Ala sendili," jawab Ara dengan wajah tanpa dosa.
Hahahaha
"Ya, ampun Lex... bukannya kamu orang paling kaya di negara ini.Tapi kenapa anak kamu sendiri tidak kamu nafkahi. Kasihan sekali cucu oma ini memiliki daddy yang sangat pelit," ujar Angelina mengejek Alex.
Alex yang mendengar perkataan mereka sangat emosi, tapi dia berusaha untuk menahannya agar tidak menyakiti orang-orang yang dia sayangi.
"Jika Ara bilang daddy pelit. Mulai sekarang daddy tidak akan memberikan apapun untuk Ara." Alex mengancam anaknya.
"Ihhh, pucing pala Ala... "
"Ya, sudah. Kalau begitu Ala akan tinggal cama oma dan opa saja, dali pada tinggal cama daddy ndak ada untung na." Ara mengancam balik ayahnya.
Glek
"Kenapa anak ini selalu bikin aku emosi? Dia juga pintar sekali melawan setiap kata-kata yang aku Keluarkan. Bahkan ancaman dia lebih menakutkan dari pada ancaman aku tadi. Bagaimana kalau Ara pindah ke mansion mama bisa habis aku sama Claudia," batin Alex dengan wajah cemas.
__ADS_1
Hehehehe
"Daddy cuma bercanda sayang. Mana mungkin daddy tega sama anak sendiri. Ambil ini untuk Ara belanja nanti," ujar Alex seraya menyerahkan black card pada anaknya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tadi daddy bilang ndak pelit cama Ala. Telus tenapa daddy membelikan Ala balang aneh cepelti ini. Ala mau nya uang bukan balang aneh cepelti ini," ujar Ara yang kesal dengan ayahnya.
Mendengar perkataan anaknya membuat Alex menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat kalau anaknya baru berumur empat tahun mana mengerti dia dengan kartu ajaib ini. Kalau tahu mungkin dia bisa membeli pulau dengan black card ini.
Berbeda dengan Angelina yang sejak tadi menahan tawanya agar tidak keluar. Sungguh, lucu sekali cucunya ini, dia menjadi matre cuman setengah saja. Mungkin karena dia masih kecil makanya yang dia tahu menjadi orang kaya kalau ada uang yang banyak, tanpa dia tahu kalau kartu yang Alex kasih ini lebih besar keuntungannya, dari pada uang yang dia terima selama ini.
"Apa yang Ara mau?" tanya Alex dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu saja Ala mau na uang daddy. Uang... Bukan balang aneh itu."
"Apa daddy mengelti," titah Ara dengan tegas.
"Daddy tidak memiliki uang tunai. Daddy transfer uang pada oma saja. Kalau tidak cukup bilang sama daddy. Biar daddy kirim lagi uang nya pada oma nanti," ujar Alex dengan pasrah.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa ndak sejak tadi daddy kilim uang na cama oma. Jadi Ala ndak pelu kesal cama daddy," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.
"Bukannya sejak tadi aku sudah memberikan dia uang dalam bentuk kartu black card. Kenapa sekarang dia malah menyalahkan aku? Pakek bilang kalau kartu black card barang aneh lagi, padahal kalau dia tahu mungkin saja mansion ini bisa menjadi toko barang branded dadakan. Oh Tuhan... sabar Lex... Tahan emosi kamu. Bagaimana pun dia anak kandung kamu sendiri," batin Alex menahan emosi.
"Ayo Ara sayang... Kita pergi sekarang," ujar Angelina seraya mengajak Ara pergi dari sana saat dia melihat wajah anaknya yang sedang menahan emosi sejak tadi.
Dia takut tanpa sadar anaknya malah mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti cucunya nanti yang akhirnya membuat Alex menyesal seumur hidupnya.
"Baik. Oma," jawab Ara dengan antusias seraya pergi dari sana.
"Hufff... syukurlah mama cepat membawa Ara pergi dari mansion ini. Jika tidak, entah apa yang akan aku katakan sama Ara saat aku tidak sadar gara-gara emosi tadi," ujar Alex menghembuskan nafas lega.
"Sudahlah lebih baik aku berangkat kerja saja," sambungnya lagi seraya pergi dari sana.
•
•
•
Bersambung...
Hari ini Author kasih double Up ya..
Semoga kalian suka...
Selamat Membaca...
__ADS_1
Salam cinta ❤️❤️❤️ untuk kalian semuanya. love you semuanya.
💖💖💖( by Aty Farah )💗💗💗