One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( DiMana Ayah Kandung Ara )


__ADS_3

Di Restoran


Saat ini mereka semua sudah berada di restoran yang ada di moll tersebut. Ara yang sejak tadi berada di samping Angelina tak hentinya bercoleteh dan juga bercanda seraya tertawa terbahak-bahak. Seperti mereka sudah kenal lama saja. Padahal baru tadi mereka saling mengenal. Tapi sekarang Ara sudah begitu akrab dengan Anggelina.


"Lihat anak kamu Clau! Dia begitu akrab sama tante Angel sampai kamu mommy kandung nya saja di lupain," ujar Alice saat mereka baru saja masuk ke dalam restoran tersebut. dan melihat Ara sedang asyik bercanda dengan Angelina.


"Sudah lah kak Al... biarkan saja Ara bercanda seperti itu. Dari pada dia membuat drama lagi seperti tadi. Yang ada kita akan terkenak serangan jantung mendadak," ujar Claudia.


"Oke. Aku tidak akan membahas Ara lagi. Lebih baik kita bergabung bersama mereka," ujar Alice seraya berjalan ke tempat mereka.


"Kalian sudah datang. Ayo duduk disini bersama kami," ujar Anggelina saat melihat mereka sudah ada di depannya.


"Baik tante Angel. Terima kasih," ujar Claudia seraya duduk di depan Anggelina dan di susul oleh Alice.


"Baiklah. Sekarang aku mau tanya kenapa kalian bisa terlibat masalah dengan pelayan yang ada di butik tadi?" tanya Anggelina dengan penasaran.


"Pelayan itu berpikir kalau kami tidak mampu membeli baju mahal di sana. Hingga dia menghina Ara putri saya tante." Jelas Claudia yang hampir kecoplosan bicara.


"Bukannya kalian emang tidak mampu membeli baju mahal di sana? Maaf, bukan maksud saya menghina kalian. Tapi kata Ara kalian orang miskin yang tidak mampu membeli baju branded di sana," ujar Angelina dengan kening mengkerut, karena dia tidak paham maksud Claudia tadi.


"Gawat. Jika sampai mommy keceplosan bicala. Bisa ketahuan kalau Ala dali tadi belbohong," batin Ara dengan wajah cemas.


"Kenak kau bocah licik. Aku mau lihat apalagi yang bisa kamu lakukan untuk mengelak agar tidak ketahuan kalau kamu sejak tadi sudah berbohong pada semua orang.. Hehehehe..." Alice membatin seraya terkekeh geli saat melihat ekspresi wajah Ara yang ketakutan.


Claudia yang mendengar perkataan Angelina hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Karena dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia berkata jujur takut Ara akan marah dengan nya. Karena sudah membongkar kebohongan yang dia lakukan sejak tadi.


"Sudahlah oma. Untuk apa oma membicalakan masalah itu lagi. Apa oma mau membuat Ala sedih lagi gala-gala mengingat pelkataan aunty jahat itu," ujar Ara dengan cepat sebelum Claudia membongkar kebohongan nya itu.


Mendengar perkataan Ara membuat Anggelina merasa bersalah karena gara-gara ucapannya membuat Ara sedih lagi.


"Maafkan Oma ya sayang. Gara-gara ucapan oma malah membuat Ara sedih. Oma janji tidak akan menanyakan itu lagi. Ya sudah, lebih baik kita pesan makanan nya saja," ujar Anggelina dengan wajah bersalah.

__ADS_1


"Oh my good. Ternyata anak ini benar-benar ratu drama. Dia pintar sekali membuat semua orang iba dan percaya dengan ucapan palsunya itu," batin Alice dengan kesal karena lagi-lagi Ara bisa lolos.


"Kalian cuman bertiga saja? Kalau boleh tahu dimana ayah kandung Ara?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Benar kan dugaan aku. Kalau orang ini pasti akan bertanya siapa ayahnya Ara," batin Alice.


Mendengar perkataan Angelina membuat mereka semua merasakan kesedihan. Terutama Ara yang sejak tadi menangis. Karena dia tidak tahu dimana keberadaan ayah kandungnya saat ini.


"Oma, jangan beltanya dimana daddy Ala belada. Kalena Ala ndak puna Daddy. Daddy Ala sudah belada di sulga oma... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.


"Maafkan oma sayang. Oma benar-benar tidak tahu kalau Daddynya Ara sudah tidak ada lagi," kata Angelina seraya memeluk Ara yang sedang menangis.


"Sebelna na Daddy Ala masih ada. Cuman mommy yang mengumpetin dan ndak mau ngasih tahu cama Ala. Coba oma belpikil jika daddy Ala sudah ada di sulga. Sehalusna Ala masih bisa lihat fotona daddy. Tapi mommy cama sekali ndak mau ngasih lihat fotona daddy. Kan aneh Oma," ujar Ara.


"Benar juga kata Ara. Jika ayahnya sudah tiada seharusnya Ara masih bisa melihat foto ayahnya atau tidak tempat makamnya selama ini di kubur. Bukannya ini sangat aneh. Apa jangan-jangan dugaan aku benar kalau Ara cucu kandung aku," batin Anggelina.


"Oh Tuhan... Kenapa Ara harus bicara seperti itu sih? Bagaimana kalau orang ini curiga dengan masa lalu aku yang hamil di luar nikah. Sekarang apa yang bisa aku katakan lagi. Aku benar-benar malu jika sampai orang ini menghina aku sebagai wanita murahan. Apalagi sampai menghina Ara anak haram aku tidak sanggup sampai itu terjadi," batin Claudia dengan wajah sendu.


"Kenapa aku merasa seperti ada yang di sembunyikan oleh mereka? Aku harus mencari tahu sebenarnya Ara benar cucu kandung aku apa bukan," batin Anggelina.


Mendengar perkataan Alice membuat Claudia bisa menghela nafas lega. Setidaknya dia bisa terlepas dari pertanyaan yang membuat dia jantungan saat ini. Sementara Ara yang mendengar perkataan Alice hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Dasal aunty penipu. Apa dia pikil Ala akan pelcaya kalau daddy na Ala pelgi ninggalin Ala cama mommy. Sepeltina ada yang ndak beles. Ala halus mencali cendili sapa Daddy asli Ala. Tapi bagaimana cala na. Ala saja ndak puna fotona cama sekali. Ihhh, pucing pala Ala," batin Ara.


"Permisi Nyonya... nona... nona kecil... ini pesanan kalian sudah siap," ujar pelayan restoran tersebut seraya menaruh makanan itu di atas meja.


"Terima kasih," ujar Alya Putri yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Sama-sama nona," jawab pelayan itu seraya pergi dari sana.


"Sebaiknya kita makan saja dulu. Aku sudah lapar sejak tadi," sambung Alya lagi.

__ADS_1


"Oke. Ala juga sudah lapal sejak tadi," ujar Ara dengan mata berbinar-binar saat melihat makanan kesukaan nya ada di atas meja itu.


"Dasar bocah rakus," sahut Alice dengan wajah mengejek.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Dengal ya aunty Lilis... Ala bukan na lakus. Tapi Ala cepelti ini kalena sudah seminggu ndak di kasih makan cama mommy. Ini bukan salah mommy sih. Tapi kalena mommy ndak ada uang buat beli Ala makanan.


"Jadi wajal kalau Ala senang saat melihat makanan enak yang ada di sini. Tapi aunty dengan tega na bilang Ala lakus... Hiks... Hiks..."


"Tenapa semua olang selalu menghina Ala? Apa Ala ndak belhak bahagia? Sakit hati Ala... Hiks... Hiks... oh... begini kah nasib jadi olang miskin selalu di hina dan di lendahkan halga di lina," ujar Ara seraya terisak.


"Oh Tuhan... malangnya nasib cucuku ini. Selama ini aku selalu hidup dalam kemewahan sementara cucuku hidup dalam kemiskinan. Jika benar Ara cucu kandung ku. Aku akan mencincang kamu nanti Alex. Gara-gara kamu yang tidak mau bertanggung jawab, sehingga membuat hidup Ara cucuku menderita seperti ini," batin Anggelina.


"Kenapa kak Alice jahat banget sama Ara keponakan kakak sendiri? Wajar jika Ara makan seperti itu. Karena dia baru pertama kali melihat makanan enak. Tapi kakak malah mengejek Ara seperti itu. Lihat wajah Ara jadi sedih begitu gara-gara perkataan kakak itu," sahut Alya Putri yang kesal saat mendengar perkataan Alice yang mengejek Ara.


"Oh Tuhan... Kenapa malah aku yang selalu di salahkan? Tanpa mereka tahu bagaimana sifat asli Ara. Tapi mereka langsung menyalahkan aku. Ini salah kamu juga Alice yang tidak bisa mengontrol ucapan mu sendiri," batin Alice.


Sementara Claudia hanya bisa menghela nafas pasrah. Anaknya ini benar-benar mirip seperti ibu tirinya yang kejam dan juga licik. Apa Mungkin anaknya bisa menjadi licik seperti ini gara-gara saat dia mengandung Ara dulu dia terlalu membenci ibu tirinya hingga anaknya lahir bisa menjadi seperti dia.


"Sudahlah Clau... yang bisa kamu lakukan hanya lah bersabar. siapa tahu Ara akan berubah nanti," batin Claudia.





Bersambung.....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2