
Di Ruangan Kerja Alexander Lemos
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
"Ada apa?" tanya Alex dengan penasaran.
"Maaf tuan jika menganggu waktu tuan, saya cuman mau menyampaikan di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan Alex," ujar Laura dengan sopan.
"Siapa?" tanya Alex dengan kening mengkerut.
"Wanita kemarin tuan," jawab Laura dengan cepat.
"Ada apa lagi wanita ondel-ondel itu datang ke kantor ku? Apa dia tidak ada kerjaan lain selain menganggu ku?" tanya Alex dengan wajah kesal.
Laura yang mendengar perkataan atasannya berusaha menahan tawanya agar tidak keluar. Mana berani dia menertawakan atasannya yang terkenal kejam dan tidak memiliki perasaan yang ada bisa tamat riwayat nya.
"Kenapa kamu masih di sini? Cepat suruh dia masuk ke sini," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan," jawab Laura seraya pergi dari sana.
Cklek
"Selamat siang kak Alex." Sapa Aluna dengan lembut.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Alex tanpa basa-basi.
"Ini aku bawakan makan siang buat kak Alex,
aku sengaja memasak makanan ini khusus untuk kak Alex," ujar Aluna seraya memberikan bekal makanan pada Alex.
"Untuk apa kamu memberikan aku makanan ini? Apa kamu lupa kalau aku sudah memiliki istri? Aku tidak bisa memakan makanan wanita lain selain buatan istri ku sendiri." Tolak Alex dengan tegas.
"Apa aku tidak memiliki kesempatan untuk merebut hati kak Alex? Kenapa dia selalu menolak aku? Padahal aku sudah melakukan berbagai macam cara untuk merebut hati kak Alex. Tapi, nyatanya dia sama sekali tidak berlirik aku. Bahkan dia terang-terangan menolak makanan yang aku bawakan ini. Apa ini pertanda kalau aku harus menyerah? Tapi aku tidak mau menyerah karena aku sangat yakin cepat atau lambat kak Alex pasti akan jatuh ke pelukan ku. Apalagi cinta ku pada kak Alex sangatlah dalam. Sungguh, sangat sulit jika aku harus melupakan cinta pertama ku," batin Aluna.
"Aku mohon kak Al terima makanan ini, aku sengaja memberikan makanan ini hanya bentuk ucapan terima kasih karena kak Alex sudah mau berteman dengan ku," ujar Aluna dengan wajah memelas.
Melihat wajah Aluna membuat Alex menghela nafas pasrah. Dia terpaksa menerima makanan pemberian Aluna karena tidak ingin membuat dia sedih. Apalagi dia sedang lapar sekarang jadi, apa salahnya kalau dia memakan makanan yang di bawakan oleh Aluna.
"Baiklah. Bawa makanan nya ke sini," titah Alex seraya berjalan menuju ke arah sofa yang ada di dalam ruangan nya.
"Baik kak," jawab Aluna dengan antusias.
__ADS_1
Aluna yang berpura-pura terpeleset langsung saja di tarik oleh Alex hingga mereka terjatuh di sofa tepat di atas Alex. Dan sialnya kejadian itu malah di saksikan oleh Claudia yang baru saja sampai di perusahaan suaminya dan dia melihat suaminya sedang berpelukan di atas sofa hingga membuat dia salah paham karena berpikir suaminya sedang berselingkuh di belakangan nya padahal kenyataan nya tidak sesuai yang di pikirkan olehnya.
"Akhh..." teriak Aluna yang hampir jatuh di atas lantai kalau saja tangannya tidak di tarik oleh Alex.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Claudia dengan keras.
"Sa... sayang! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ujar Alex seraya mendorong Aluna hingga terjatuh tepat di atas lantai.
Bruk
"Awwsstt... sakit," teriak Aluna dengan keras.
"Kenapa mas Alex tega selingkuh di belakang aku? Apa yang kurang dari ku hingga mas Alex tega mengkhianati aku?" tanya Claudia dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang! Aku mohon dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku sama sekali tidak selingkuh. Kamu salah paham sama aku," ujar Alex seraya mendekati istrinya.
"Stop, jangan mendekat. Aku tidak sudi di sentuh oleh tangan kotor kamu. Aku tidak menyangka mas Alex bisa melakukan ini padaku di saat aku sedang mengandung anak kamu... Hiks... Hiks..." Claudia berucap seraya terisak.
"Sayang! Aku mohon jangan menangis. Aku tidak bisa melihat kamu menangis. Tolong dengarkan penjelasan aku dulu sebelum kamu berpikir macam-macam," ujar Alex seraya memeluk istrinya.
"Lepaskan aku," ujar Claudia seraya melepaskan pelukan dari Alex.
Melihat istrinya yang sedang berontak akhirnya Alex terpaksa melepaskan istrinya karena dia takut terjadi sesuatu pada anak yang sedang di kandung oleh istrinya.
"Kenapa kamu menganggu suami aku? Apa kamu tidak ada laki-laki lajang yang mau sama kamu sehingga kamu mendekatin suami orang, hah," bentak Claudia dengan emosi tertahan.
"Sayang! tenang lah, ingat kamu sedang hamil sekarang. Aku tidak ingin bayi kita kenapa-kenapa," ujar Alex seraya menenangkan istrinya.
Plok
Plok
Plok
"Aku tidak menyangka kamu lebih membela pelakor ini dari pada aku istri kamu sendiri. Kalau begitu lebih baik kamu nikahin saja dia dan ceraikan aku segera," ujar Claudia dengan emosi.
"Apa yang kamu katakan hah? Sampai mati pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu," ujar Alex yang tidak sadar membentak istrinya karena emosi saat mendengar perkataan istrinya tadi.
"Ka... kamu membentak aku demi perempuan itu mas?" tanya Claudia terbata-bata seraya menunjuk ke arah Aluna yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran mereka.
"Maafkan aku sayang, aku tidak sengaja membentak kamu tadi," ujar Alex dengan wajah menyesal.
"Sudah cukup mas. Aku sudah tau apa yang harus aku lakukan. Silahkan kalian lanjutkan apa yang ingin kalian lakukan aku sudah tidak peduli," ujar Claudia yang ingin pergi dari sana tapi langsung di cegah oleh Alex.
"Sayang! Dengarkan dulu penjelasan aku. Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan. Izinkan aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum kamu datang tadi," ujar Alex.
__ADS_1
"Biarkan aku sendiri dulu mas. Kamu tidak mau terjadi sesuatu pada anak kamu ini kan? Jadi biarkan aku tenangkan diri dulu untuk saat ini," ujar Claudia yang tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari suaminya.
"Tapi sayang..."
"Aku mohon mas, biarkan aku sendiri dulu untuk saat ini," potong Claudia dengan cepat.
"Baiklah jika itu keinginan kamu, lebih baik sekarang kamu pulang dulu. Nanti kita bicarakan masalah ini di mansion," ujar Alex dengan pasrah.
Tanpa kata Claudia langsung meninggalkan perusahaan Alex dengan hati hancur. Dia tidak menyangka suaminya bisa menduakan cintanya. Padahal selama ini suaminya tidak pernah terlibat dengan satu perempuan pun, tapi siapa sangka suaminya malah menyimpan rahasia sebesar ini. Jika dia tau suaminya akan menyakiti dia seperti ini maka dia tidak akan pernah mau membuka hatinya untuk Alex. Percuma menyesal sekarang karena itu tidak ada gunanya.
Cklek
"Nyonya..." panggil Laura tanpa di pedulikan oleh Claudia.
"Kenapa nyonya Claudia menangis? Apa terjadi sesuatu di dalam?" tanya Laura saat melihat istri atasannya yang pergi begitu saja tanpa menyapa dirinya seperti biasa.
•
•
•
Di Perjalanan
"Kenapa mas Alex tega selingkuhin aku? Bahkan dia tidak mencegah kepergian aku. Apa kejadian dulu akan terulang lagi? Aku tidak sanggup jika harus berjuang melahirkan anakku tanpa suamiku tuhan. Cukup Ara yang merasakan tanpa kasih sayang daddy nya, jangan biarkan anak aku yang sekarang merasakan seperti Ara... Hiks... Hiks..." Claudia membatin seraya terisak.
"Apa nyonya baik-baik saja?" tanya supir pribadi Claudia dengan penasaran.
"Ah... apa pak?" tanya Claudia yang baru sadar dari lamunan nya.
"Apa nyonya baik-baik saja? Saya perhatikan nyonya sedari tadi tidak berhenti menangis apa nyonya sedang sakit? Apa perlu kita pergi ke rumah sakit?" tanya supir itu dengan sopan.
"Ah... tidak perlu pak. Saya baik-baik saja, pak Arman tidak usah khawatir," ujar Claudia dengan lembut.
"Syukurlah jika nyonya Claudia baik-baik saja," ujar Pak Arman dengan cepat walaupun dalam hati sangat penasaran melihat istri majikannya menangis sedari tadi tapi dia tidak berani bertanya lagi karena dia tau kalau dia hanyalah seorang supir yang tidak berhak ikut campur urusan majikannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada nyonya Claudia? Kenapa dia menangis seperti ini? Apa nyonya ada masalah dengan tuan Alex? Seperti nya tidak mungkin tuan Alex membuat nyonya Claudia menangis seperti ini karena aku sangat tau bagaimana tuan Alex memanjakan dan mencintai istrinya selama ini," batin Pak Arman supir pribadinya Claudia.
•
•
•
Bersambung.....
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷