One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Masuk Perangkap Arrabella )


__ADS_3

Di Kantor Pengacara


"Siapa bilang kami sudah kalah om jahat," sahut Ara yang membuat mereka semua langsung terkejut saat tiba-tiba ada anak kecil yang masuk ke dalam ruangan ini.


"Ara... bagaimana kamu bisa datang kesini nak? Siapa yang membawa kamu ke sini?Cepat bilang sama mommy?" tanya Claudia seraya memeluk tubuh Ara karena dia takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tentu saja cama mommy," jawab Ara dengan cuek.


"Apa," teriak Claudia yang terkejut saat mendengar perkataan anaknya.


"Kenapa mommy tidak melihat Ara waktu di mobil tadi?" tanya Claudia dengan kening mengkerut.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudahlah mom. Lupakan saja masalah ndak penting ini. Sebaikna kita membahas masalah yang jauh lebih penting dali pada ini," ujar Ara dengan cepat.


"Bocah ini kalau bicara seperti orang dewasa saja. Kalau ada Ara pasti akan ada drama nya. Kita lihat apa anak ini bisa mengalahkan orang licik ini. Biasanya orang licik di lawan dengan orang licik pula. Tidak seperti Claudia yang lembut itu tidak cocok di jadikan pemeran antagonis," batin Alice.


"Siapa kamu? Bagaimana anak kecil seperti kamu bisa masuk ke dalam ruangan saya ini?" tanya Steven dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sebelum Ala mau bicala. Ala mau duduk dulu. Soalna Ala capek kalau halus beldili," ujar Ara yang langsung duduk tanpa di persilahkan sama sekali.


"Siapa kamu?" tanyanya lagi.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Bocah ini, kenapa tidak langsung jawab saja jangan bilang pucing pala Ala Mulu. Bikin aku emosi saja," batin Alice dengan wajah kesal.


"Dengal baik-baik. Nama, Allabella Anastasya yang sangat antik milip model Bella cadid. bahkan sebelntal ladi Ala akan menjadi model yang sangat telkenal."


"Apa om jahat sudah tahu, siapa Ala?" tanya Ara dengan wajah sombong.


"Kenap anak kecil ini sombong sekali? Kalau di perhatikan dari wajahnya seperti pernah kenal. Tapi di mana aku pernah melihat anak ini," batin Steven dengan wajah penasaran.


"Ada apa kamu ke sini anak kecil? Sebaiknya kamu pergi main sana. Jangan menganggu pembicaraan orang dewasa," ujar Steven.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa om jahat menyuluh Ala pelgi dali sini? Apa om jahat takut cama Ala?" tanya Ara dengan percaya diri.


"Apa?" teriak Steven yang terkejut saat mendengar perkataan Ara.


"Kenapa saya harus takut sama anak kecil? Dasar bocah kurang kerjaan. Lebih baik kalian pulang saja dari kantor saya." Usir Steven dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Saya tidak akan pergi dari sini sebelum anda mengembalikan harta kekayaan keluarga saya," sahut Claudia dengan cepat.


"Lupakan harta itu karena sampai kapan pun harta itu tidak akan pernah menjadi milik kamu lagi," ujar Steven tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Jika anda masih tetap tidak mau mengembalikan harta saya. Maka saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke kantor polisi," ancam Claudia dengan tatapan tajamnya.


Hahahaha


"Bagaimana anda melaporkan saya ke polisi? Sejak tadi kalian hanya bisa mengancam saya tanpa adanya bukti."


"Apa kalian pikir polisi akan percaya sama kalian?" tanya Steven seraya mengejek mereka yang menyebabkan Claudia dan Alice terdiam.


"Siapa bilang ndak ada bukti buat lapolin om jahat ke om polici," sahut Ara dengan seringai liciknya.


"Apa maksud kamu anak kecil?" tanya Steven dengan kening mengkerut.


"Om jahat beltanya apa kami ada bukti apa Ndak kan? Ala cuman mau bilang kalau Ala ada bukti na buat lapolin om jahat ke om polici." Jelas Ara dengan seringai liciknya.


"Apa kamu bilang, kalau kamu punya bukti? Hahahaha... Emang apa yang bisa di lakukan oleh anak kecil seperti kamu?" tanya Steven seraya mengejek dan meremehkan Ara.


"Wah... sepeltina om jahat ini belum tahu siapa Ala. Kita lihat saja siapa yang akan ketawa nanti," batin Ara dengan tatapan tajamnya.


"Apa om jahat, ndak sadal kalau Ala sejak tadi melekam pembicalaan kalian semua dengan HP ini," ujar Ara seraya memperlihatkan HP yang sejak tadi ada di tangan nya itu.


"A... apa maksud kamu?" tanya Steven yang mulai takut dengan ancaman Ara.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Om jahat tahu apa isi di dalam hp Ala ini?" tanya Ara yang di jawab gelengan kepala oleh Steven.


"Di sinilah Ala melekam pembicalaan kalian tadi semua. Dan om jahat tahu pembicalaan apa saja yang kalian bicalakan tadi. Yang pasti itu sangat melugikan om jahat," ujar Ara dengan seringai liciknya.


"Ka... kamu tidak mungkin memiliki bukti itu. Kamu sengaja mau menjebak saya kan?" tanya Steven terbata-bata dengan wajah ketakutan.


"Wah... sepeltina om jahat ini mau langsung di tangkap cama om polici. Baiklah akan Ala kilim lekaman na."


"Apa om jahat mau mengucapkan kata-kata pelpicahan cama kelualga na?" tanya Ara dengan wajah mengejek.


"Jangan... ok. Saya akan menuruti perintah kalian. Tapi saya mohon tolong hapus rekaman itu dulu." Mohon Steven dengan wajah memelas.


"Aku sangat yakin anak ini pasti akan percaya dengan perkataan ku. Lihat saja, pasti dia akan menghapus Vidio itu. Dengan begitu mereka tidak memiliki bukti apapun lagi," batin Steven.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Apa om jahat pikil Ala olang bodoh, dengan mudah na pelcaya cama pelkataan mu. Tentu saja ndak akan semudah itu om jahat pengaluhin buat menghapus lekaman na.


"Apa om jahat tahu? Ala ndak cuman Puna satu lekaman saja. Tapi, Ala masih ada vidio cadangan di hp Ala yang lain. Apa om jahat mau Ala telepon olang suluhan Ala buat kilim lekaman om jahat cama om polici, atau mau Ala cendili yang kilim na," ancam Ara dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Mendengar ancaman Ara membuat Steven susah menelan ludahnya nya sendiri. Dia tidak habis pikir bagaimana anak ini bisa lebih pintar dan licik melebihi dirinya selama ini.


"Ok saya menyerah. Sekarang katakan apa yang kamu mau?" tanya Steven dengan wajah frustasi, dia tidak habis pikir bisa kalah dengan anak kecil.


"Kembalikan halta mommy Ala secepat na, " ujar Ara tanpa basa-basi.


"Baik. Saya akan membantu mengembalikan harta keluarga kalian. Tapi beri saya waktu untuk melakukan itu," ujar Steven dengan pasrah.


"Ala beli waktu satu Minggu buat Om jahat kembalikan halta na mommy Ala. Jika dalam waktu satu minggu om jahat ndak juga mengembalikan halta kami. Maka siap-siap om jahat hancul," ancam Ara dengan seringai liciknya.


"Saya berjanji akan menyelesaikan masalah ini hanya dalam waktu satu Minggu. Jadi saya mohon jangan kirim Vidio itu sama polisi." Mohon Steven seraya mengatupkan kedua tangannya di depan Ara.


"Om jahat tenang saja. Selama om jahat ndak main culang cama kami. Maka ala ndak akan mengilim lekaman itu cama om pilici. Tapi, jika om jahat belbuat culang, itu tanda na om jahat sudah siap masuk lumah belpagal.


"Jangan tanyak apa itu lumah belpagal. Kalena Ala ndak ada waktu buat jelasin na. Yang pelu om jahat tahu, temui Ala di lestolan Maple & Co satu Minggu lagi. Jangan lupa bawa semua yang Ala butuhkan."


"Apa om jahat mengelti," titah Ara dengan tegas.


"Baik, saya mengerti," jawab Steven dengan pasrah.


"Kalena Semuana sudah selesai, lebih baik kita pulang saja ke lumah. Kita akan beltemu dengan om jahat ini lagi di lestolan mommy nanti," ujar Ara yang di anggukkan kepala oleh mereka.


"Ingat janji kamu itu. Jika kamu tidak melakukan perintah kami. Maka siap-siap masuk penjara," ancam Alice dengan tatapan tajamnya.


Melihat tingkah Alice membuat Claudia geleng-geleng kepala. Sementara Ara hanya memutar bola matanya malas.


"Bisa na mengancam olang. Tapi gililan di ancam balik malah takut. Dacal aunty Lilis bodoh," batin Ara dengan wajah kesal.


"Ayo mommy kita pulang," titah Ara seraya pergi dari sana, yang di ikuti oleh mereka.


Melihat kepergian mereka membuat Steven kesal setengah mati. Karena selama ini dia belum pernah di kalahkan oleh lawannya. Tapi sekarang dia dikalahkan oleh anak kecil. Dia sungguh malu sekali, apalagi sampai di ketahui oleh orang lain, mau di taroh dimana wajahnya itu.


"Hufff... kenapa aku bisa kalah sama anak kecil itu? Tunggu dulu, seperti nya aku pernah melihat tatapan mata anak itu yang sangat mirip dengan seseorang.


"Ya, aku ingat sekarang. Wajah dan sifatnya sama persis seperti pak Alexander Lemos yang terkenal kejam dan licik itu. Walaupun dia masih kecil tapi dia sangat pintar mengancam orang sampai aku sendiri takut dengan nya. Apa anak itu anak kandung pak Alexander Lemos?"


"Tapi jika dia anaknya, pasti mereka sudah meminta bantuan tuan Alex untuk mengancam aku tadi. Bukannya mereka malah pergi bertiga dengan anak licik itu."


"Sudahlah lupakan saja. Sekarang yang perlu aku lakukan hanya satu. Yaitu bagaimana caranya menjebak Barbara agar dia mau menandatangani surat pengalihan harta itu kembali pada pemilik aslinya." Kata Steven panjang kali lebar.





Bersambung.....

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2