One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Kehancuran Barbara )


__ADS_3

Di Mansion Keluarga Abraham


"Apa kamu pikir bisa melawan kami anak bodoh?" tanya Barbara dengan seringai liciknya.


"Emangnya apa yang bisa kamu lakukan sama aku." Tantang Claudia.


"Ayo sayang kita beri anak sial ini pelajaran. Biar dia tahu siapa kita sebenarnya," ujar Barbara pada Audrey.


"Benar sekali ma... kita harus memberikan anak ini pelajaran biar dia tahu, kalau kita bukanlah lawan yang mudah dia kalahkan," sahut Audrey seraya berjalan ke arah Claudia.


"Apa yang akan mereka lakukan sama Claudia? Aku tidak boleh diam saja seperti ini. Ara... apapun yang terjadi kamu tidak boleh ikut campur dengan urusan kami."


"Apa kamu mengerti," titah Alice dengan tegas yang di tanggapi anggukan kepala oleh Ara.


"Dan bibi Ani. Tolong jaga Ara dengan baik. Jika seandainya kami kalah. Bibi harus membawa Ara pergi jauh dari rumah ini," ujar Alice seraya pergi ke tempat Claudia berada.


"Baik nona Alice," jawab bibi Ani dengan cepat.


"Siapa anak kecil ini? Kenapa mereka sangat sayang sama anak ini," batin bibi Ani yang penasaran dengan Ara.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Telnyata mommy cama aunty Lilis masih bodoh saja. Sudah tahu meleka olang yang sangat belbahaya. Tapi masih saja bicala dengan baik-baik cama meleka.


"Cekalang halus Ala yang membeleskan meleka lagi. Kapan meleka bisa menjadi olang pintal cepelti Ala," ujar Ara dengan wajah kesal.


Mendengar perkataan Ara membuat bibi Ani sangat terkejut. Dia tidak menyangka anak sekecil ini bisa bicara seperti itu sama orang yang lebih dewasa dengan nya.


"Apa bibi tahu no om polici?" tanya Ara seraya melihat ke arah bibi Ani.


"Untuk apa nona kecil?" tanya bibi Ani dengan lembut.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudahlah bibi jawab saja. Tahu apa ndak?" tanya Ara dengan wajah kesal.


"Tahu nona kecil," jawab bibi Ani dengan cepat.


"Cekalang bibi masukan no om polici ke hp na Ala cekalang juga," titah Ara seraya menyerahkan smartphone nya sama bibi Ani.


"Ini HP siapa nona kecil? Kenapa nona kecil bisa memiliki ponsel? Bukannya nona masih kecil, belum boleh pegang ponsel?" tanya bibi Ani dengan penasaran.


"Ihhh.. pucing pala Ala..."


"Tentu saja ini HP na Ala cendili. Emang bibi pikil Ala ndak mampu membeli HP. Dengal ya bibi... Ala ini model cilik yang sangat telkenal, tentu saja mampu membeli HP na dengan uang Ala cendili," ujar Ara dengan penuh keyakinan agar bibi Ani percaya dengan perkataan nya itu.


"Apa benar anak ini seorang model? Di lihat dari wajahnya dan juga pakaian yang anak ini pakai semuanya barang branded. Jadi tidak mungkin anak ini berbohong sama aku," batin bibi Ani.


"Sudahlah lupakan masalah itu. Cekalang bibi masukan no HP om polici ke HP na Ala Cekalang juga," titah Ara dengan tegas.


"Baik nona kecil," jawab bibi Ani seraya mengetik no polisi.


📞 "Hallo!" Dengan siapa ini?" tanya seseorang di sebrang sana.


📞 "Hallo om polici. Ini dengan Allabella Anastasya. Om polici tolong datang ke lumah Ala cekalang juga. Kalena di lumah Ala ada penjahat yang ingin membunuh Ala.


📞 "Tolong cepat datang na. Kalau ndak, Ala akan mati... Hiks... Hiks... Ala takut cendili di sini. Tolong cepat datang, jangan sampai meleka belhasil membunuh Ala... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.


📞 "Baik. Kamu kirim alamat rumah kamu sama om polisi. Biar om polisi datang kesana sekarang juga," ujar polisi yang ada di sebrang sana.


📞 "Oc. Ala akan kilim alamat na cekalang juga. Jadi om polici halus cepat datang ke sini. Kalau ndak, om polisi akan melihat mayat Ala di sini. Kalena meleka penjahat yang sangat belbahaya jadi om polici halus secepat na datang ke lumah Ala."


"Apa om polisi mengelti," titah Ara dengan tegas.


📞 "Baik. Kami akan segera pergi kesana. Sebaiknya kamu sembunyi dulu dari mereka. Biar mereka tidak membunuh kamu nanti," ujar polisi itu dengan cepat.


📞 "Oc. Ala akan sembunyi dali meleka cekalang juga," ujar Ara seraya mematikan smartphone nya.


Hahahaha


"Telnyata sangat mudah menipu om polici itu agal mau datang ke lumah ini. Cekalang Ala hanya Pelu menunggu om polici datang saja. Bibi tolong kilim alamat lumah ini cama om polici kalena Ala ndak bica menulis cendili," ujar Ara seraya menyerahkan smartphone nya pada bibi Ani.


"Baik nona kecil," jawab bibi Ani setelah sadar dari terkejut nya saat mendengar perkataan Ara tadi.


Dia tidak menyangka kalau anak sekecil Ara bisa berakting sangat bagus seperti ini. Sampai polisi saja percaya pada perkataan nya itu. Sungguh, anak yang sangat hebat, dan pemberani.


"Ini bibi sudah kirim alamatnya nona kecil," ujar bibi Ani seraya memberikan ponsel Ara kembali padanya.


"Telima kasih. Bibi temani Ala di sini saja. Kalena Ala ndak bica melawan meleka semua. Ala hanya bisa membantu mommy dengan bantuan polici. Ala belhalap mommy cama aunty Lilis bisa selamat dali olang jahat itu," ujar Arrabella.


"Sama-sama nona kecil. Sebenarnya nona kecil sudah sangat hebat karena bisa punya pikiran melaporkan ini sama polisi. Coba saja nona tidak menelpon polisi. Bibi takut mereka akan melukai nona Claudia dan juga nona Alice," ujar bibi Ani dengan lembut.

__ADS_1


"Semoga meleka baik-baik saja bi... Ala ndak mau sampai mommy dan aunty Lilis telluka gala-gala meleka," ujar Ara dengan wajah takut saat melihat mereka sedang menyiksa ibunya dengan kejam.


"Amin. Bibi juga berharap begitu nona kecil," ujar bibi Ani.


Saat ini Barbara dan anaknya sedang menyiksa Claudia dengan kejam hingga menyebabkan Claudia terluka cukup parah.


"Ahhh... sakit!" Apa yang kalian lakukan sama aku? Dasar wanita ular. Aku tidak akan membiarkan kalian menyiksa aku lagi seperti dulu," ujar Claudia seraya melawan mereka yang sedang menyiksa dia seperti dulu.


"Rasakan ini wanita bodoh. Aku akan membuat kamu mati disini. Ayo Audrey kita siksa anak ini biar dia tahu siapa kita sebenarnya," ujar Barbara dengan penuh emosi.


Plak


plak


plak


"Ahhh... sakit!" Dasar wanita ular tidak punya hati," ujar Claudia yang tak kuat lagi menahan sakit saat mereka menyiksa dia seperti ini.


Bruk


"Awwwsstt!" Kurang ajar. Siapa yang sudah berani memukul aku seperti ini?" tanya Barbara saat dia terjatuh di lantai.


"Aku yang melakukan itu. Apa kamu pikir Claudia hanya datang sendiri. Aku tidak akan biarkan kamu menyiksa Claudia lagi. Dasar nenek sihir," sahut Alice dengan cepat.


"Siapa kau? Beraninya kamu ikut campur urusan saya sama anak bodoh ini," ujar Barbara dengan penuh emosi.


"Mama tidak apa-apa kan? Siapa orang ini? Kenapa dia bisa datang bersama anak pelayan ini?" tanya Audrey seraya membantu mamanya berdiri.


"Mama juga tidak tahu," jawab Barbara dengan wajah kesal.


"Clau!" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Alice seraya memeriksa tubuh Claudia.


"Awwwsstt!" Kepala sama pipi aku sakit sekali kak. Ini semua gara-gara mereka yang dengan sengaja menjambak dan menampar pipi aku dengan keras," ujar Claudia seraya meringis saat Alice tak sengaja menyentuh bibirnya yang berdarah saat di tampar oleh mereka tadi.


"Kita harus bisa mengalahkan mereka Clau. Kalau tidak, kita bisa mati di tangan mereka. Kamu tahu sendiri kalau kita tidak bisa ilmu bela diri," ujar Alice seraya berbisik.


"Kak Al benar. Aku menyesal tidak mendengarkan perkataan mama. Seandainya aku menyuruh bawahan kita yang mengusir mereka dari mansion ini. Aku pasti tidak akan mengalami penganiayaan seperti ini lagi," ujar Claudia dengan wajah penuh penyesalan.


"Sudahlah. Percuma kita menyesal, sekarang apa yang harus kita lakukan untuk melawan mereka?" tanya Alice.


"Entah lah kak Al... aku capek melawan mereka tadi. Ternyata tenaga mereka sangat kuat. Mungkin mereka sudah terbiasa hidup di jalanan dan berkelahi dengan penjahat. Sepertinya kita tidak akan selamat dari mereka kak Al... bagaimana ini, aku tidak mau mati sebelum melihat mereka menderita seperti yang aku dan daddy alami selama ini," ujar Claudia dengan wajah cemas.


"Apa yang kalian bicarakan? Lihat saja Clau... saya tidak akan membiarkan kalian keluar dari rumah ini hidup-hidup," ujar Barbara dengan seringai liciknya.


"Bagaimana ini kak? Aku takut sekali sama mereka?" tanya Claudia dengan wajah ketahuan.


"Aku juga takut, sama seperti kamu," jawab Alice dengan wajah ketakutan.


"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian takut dengan kami?" tanya Barbara seraya tertawa terbahak-bahak.


"Lebih baik kita kasih pelajaran sama pelayan dan temannya ini saja ma... biar mereka tahu siapa kita sebenarnya," ujar Audrey dengan seringai liciknya.


Tak lama kemudian


Dor


Dor


Dor


"Angkat tangan. Jangan bergerak," titah polisi yang saat ini sudah berada di mansion Claudia.


Mendengar perkataan polisi langsung saja Barbara dan Audrey mengangkat ke dua tangan mereka ke atas termaksud Claudia dan juga Alice.


"Ma... siapa yang Panggil polisi kesini? Aku tidak mau masuk penjara ma," ujar Audrey yang merasa ketakutan saat melihat polisi ada di sini.


"Mama juga tidak tahu sayang," jawab Barbara yang sama takutnya seperti Audrey anaknya.


"Om polici cepat tanggap kedua penjahat itu sebelum meleka membunuh kami semua di lumah ini," sahut Ara seraya menunjuk ke arah Barbara dan juga Audrey.


Mendengar perkataan Ara membuat semua orang melihat ke arah yang di tunjuk oleh Ara saat ini. Hingga membuat Barbara dan juga Audrey terkejut karena dia tidak menyangka kalau di rumah ini ada anak kecil yang datang entah dari mana.


"Baik. Cepat tangkap mereka berdua sekarang juga," perintah komandan polisi.


"Siap komandan," sahut mereka dengan serentak seraya memborgol tangan Barbara dan juga Audrey.


"Hey... apa yang kalian lakukan. Lepaskan tangan saya. Saya tidak bersalah, seharusnya kalian tanggap mereka bukan malah menangkap kami," ujar Barbara seraya berontak saat polisi memborgol tangannya.


"Jangan pelcaya cama penjahat itu om polici. Ala melihat dengan mata Ala cendili. Kalau meleka lah yang sudah menyiksa kami semua," sahut Ara dengan cepat.


"Diam kamu bocah ingusan. Berani sekali kamu menuduh saya yang jahat. Yang seharusnya di tangkap itu mereka berdua bukannya malah saya dan anak saya," ujar Barbara dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudahlah nenek sihil. Jangan banyak bicala, Ala takut dengalin suala nenek sihil yang milip suala hantu. Bukan suala na saja yang milip. Tapi wajah na juga sangat milip banget. Ala yakin, siapa pun yang melihat nenek sihil, pasti akan kabul kalena takut," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


Mendengar perkataan Ara membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak. Berbeda dengan Barbara yang ingin sekali meremas mulut Arrabella yang sudah mengatai nya itu mirip hantu.


"Kenapa kalian cuman diam saja saat anak ini mengatai saya di depan kalian? Seharusnya kalian tangkap anak ini juga. Karena dia sudah menghina saya seperti ini," ujar Barbara dengan wajah kesal.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa Ala halus di tangkap cama om polici? Ala kan masih kecil. Lagian Ala bicala sesuai kenyataan kalau nenek sihil ini milip hantu. Benal kan... om polici?" tanya Ara dengan wajah imut.


Hahahaha


"Iya. Kamu benar sekali sayang. Anak di bawah umur tidak bisa di tahan oleh polisi. Kamu pintar banget sih sayang."


"Apa kamu mau tinggal di rumah om polisi saja?" tanya komandan polisi itu yang merasa gemas dengan Ara.


"Solly om polici. Ala ndak bica ikut cama om polici. Kalena Ala masih ada kelualga cendili. kalau om polici mau memiliki anak. Sebaik na om polici beli saja cendili." Tolak Ara dengan tegas.


Hahahaha


"Kamu benar-benar lucu sekali. Om polisi cuman bercanda tadi sayang," ujar komandan polisi itu seraya terkekeh geli saat mendengar perkataan Ara.


"Apalagi yang kalian tunggu. Cepat bawa mereka ke kantor polisi," titah komandan itu dengan tegas.


"Siap komandan," jawab mereka dengan serentak.


"Hey... apa yang kalian lakukan. Cepat lepasin tangan saya. Saya tidak bersalah. Cepat lepasin saya," ujar barbara seraya memberontak saat polisi membawa paksa dia dari sana.


"Diam. Sebaiknya anda ikut kami ke kantor polisi," ujar polisi itu dengan tegas.


"Lepaskan. Aku tidak mau ikut sama kalian. Mama... aku tidak mau masuk penjara... Hiks... Hiks..." Audrey berucap seraya terisak.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudahlah nenek cihil. Belhenti belakting cepelti itu. Kalena kalian ndak akan dilepas cama om polici. Bukan na tempat olang jahat itu di lumah belpagal.


"Jadi sudah cukup menangis na. Bukan na olang jahat cocok na tinggal belcama olang jahat. Maka na nenek sihil jangan jadi olang jahat kalau ndak mau masuk lumah belpagal."


"Cepat om polici bawa meleka pelgi dali lumah Ala. Kalena Ala sudah ndak mau ada kuman lagi yang teltinggal di lumah Ala nanti," ujar Ara dengan wajah mengejek.


"Siapa kamu? Dasar anak kurang ajar. Berani sekali kamu menghina kami seperti itu," ujar Barbara yang penasaran dengan Ara yang tiba-tiba ada di mansion ini.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Untuk apa kalian tahu siapa Ala? Bukan na kalian ndak akan bisa kelual dali lumah balu kalian itu. Sebaik na kalian beltaubat agal menjadi olang yang baik dan ndak jahat lagi cepelti ini," ujar Ara seraya mengejek mereka.


"Cepat bawa mereka ke kantor polisi pak. Karena kami tidak mau melihat mereka lagi di rumah ini," titah Claudia dengan tegas.


"Baik. Cepat masukkan mereka ke mobil sekarang juga," perintah komandan polisi itu lagi.


"Siap komandan," jawab mereka serentak seraya membawa Barbara dan Audrey masuk ke dalam mobil polisi.


"Lepaskan kami. Kami tidak bersalah," ujar Barbara yang masih berontak saat di masukkan ke dalam mobil polisi.


"Diam, atau kami akan melempar mu ke curang," ancam polisi itu agar mereka berhenti bicara. Hingga membuat mereka terdiam karena takut mendengar ancaman polisi itu.


Setelah itu mereka pergi dari sana.


"Terima kasih pak polisi karena sudah membantu kami. Jika tidak ada kalian entah apa yang akan terjadi sama kami disini," ujar Claudia dengan lembut.


"Berterima kasihlah sama anak kecil ini nona. Karena berkat dia kami bisa berada di rumah ini. Karena dia yang menelpon kami tadi, agar bisa secepatnya datang ke rumah ini," ujar komandan polisi itu hingga membuat Alice dan Claudia terkejut Karena lagi-lagi berkat Ara mereka berdua bisa selamat dari wanita ular itu.


"Baik pak. Dan tolong masukkan mereka berdua ke dalam penjara. Ini rekaman bukti kejahatan mereka saat mereka dengan kesadaran penuh ingin membunuh daddy saya dengan racun yang sangat berbahaya pak," ujar Claudia seraya menyerahkan bukti tambahan agar bisa menjerat mereka dengan pasal berlapis.


"Ok. Kami permisi dulu," ujar komandan polisi itu seraya pergi dari sana, yang di jawab anggukkan kepala oleh mereka.


"Akhirnya kita bisa menghancurkan Barbara dan juga menyingkirkan dia dari mansion ini. Aku berharap tidak akan ada masalah lagi yang akan menimpa kita," ujar Claudia dengan perasaan lega.


"Kamu benar Clau. Semoga kita bisa hidup tenang sekarang," ujar Alice yang merasa lega saat melihat mereka di bawa oleh polisi.





Bersambung....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2