One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Daddy Dimana Mereka )


__ADS_3

Di Ruangan Kerja Alexander


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


Cklek


Mendengar seseorang yang membuka pintu ruangan kerja nya, membuat Alex menoleh ke arah sana. Saat melihat siapa orang yang masuk ke dalam ruangan kerjanya membuat dia tersenyum bahagia.


"Daddy dimana meleka?" tanya Ara dengan wajah penasaran.


"Siapa yang Ara maksud?" tanya Alex pura-pura polos agar dia terhindar dari pertanyaan anaknya ini.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudahlah dad. Ndak pelu pula-pula polos cepelti itu. Ala tahu apa yang sedang daddy lakukan cama meleka. Pasti daddy habis menyiksa meleka tadi kan?"


"Jawab saja peltanyaan Ala dengan jujul. Kalau ndak... Ala akan adukan ini cama mommy. Bial mommy membenci daddy seumul hidup," ancam Ara dengan tatapan tajamnya.


Glek


"Kenapa anak ini suka sekali mengancam orang? Bagaimana kalau dia mengadukan ini sama Claudia. Aku yakin dia akan kabur lagi dari negara ini karena takut padaku," batin Alex dengan wajah cemas.


Sementara Andre yang melihat atasannya terdiam seperti patung menahan tawanya agar tidak keluar. Dia tidak habis pikir dengan atasannya ini, tadi saja dia seperti singa yang habis menerkam buruan nya. Tapi di depan anaknya dia malah berubah menjadi kucing Anggora.


"Iya sayang. Tapi Ara jangan adukan ini sama mommy ya. Nanti daddy akan memberikan Ara uang tutup mulut seperti biasanya," ujar Alex seraya menyogok anaknya yang matre ini agar diam.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Begitu dong. Kan enak kita cama-cama mendapatkan keuntungan. Tapi untuk saat ini Ala ndak butuh uang na daddy...


"Ara... Daddy mohon jangan adukan ini sama mommy oke. Jika Ara tidak mau uang apa Ara mau daddy belikan moll atas nama Ara sendiri? Bukannya selama ini Ara suka shoping barang branded," potong Alex seraya merayu anaknya ini.


Hingga membuat semua orang yang ada di ruangan ini terkejut sekaligus shock saat mendengar perkataan Alex yang akan membelikan moll untuk anak berumur empat tahun. Bukannya itu tidak masuk akal. Tapi bagi orang kaya yang hartanya tidak tahu mau di apakan lagi wajar jika membeli moll, seperti membeli permen.


"Wah... betapa beluntung na Ala hali ini akan di belikan moll cama daddy. dengan begitu Ala akan puas membeli balang-balang balu setiap hali, Tanpa takut halus mengelualkan uang sedikitpun. Tapi hali ini Ala ndak ambil keuntungan buat Ala sendili. Kalena aunty Lala lebih membutuhkan uang na dali pada Ala. Moll... Maafin Ala ya... kalena ndak memilih kamu.

__ADS_1


"Padahal Ala penen memiliki kamu. Tapi kalena Ala sayang cama aunty Lala. Ahlil na, Ala.. meminta uang buat di belikan cama aunty Lala saja," batin Ara.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Solly daddy. Jika daddy mau Ala tutup mulut. Maka daddy halus membelikan uang na buat aunty Lala saja," ujar Ara yang terpaksa melepaskan kesempatan emas ini.


"Apa?" teriak mereka semua dengan wajah terkejut saat mendengar perkataan Ara yang ada di luar pemikiran mereka.


"Siapa aunty Lala? Kenapa Ara mau melepaskan kesempatan besar ini hanya untuk memberikan uangnya buat Lala itu?" tanya Alex dengan penasaran yang langsung di jawab oleh Ara dengan cara menunjukkan ke arah Laura yang saat ini berdiri di depan Alex.


Hingga membuat Alex langsung paham siapa yang di sebut Lala yang tak lain adalah Laura sekretaris pribadinya itu. Dia heran dengan anaknya ini yang suka sekali mengantikan nama orang lain sesuka hatinya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Kalena aunty Lala lebih membutuhkan na dali pada Ala yang sudah memiliki uang yang sangat banyak dali hasil kelingat Ala sendili," ujar Ara dengan sombong.


"Emang Ara kerja apa selama ini? Kenapa Ara bisa memiliki uang sebanyak itu?" tanya Alex dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tentu saja dengan cala mengancam olang yang sedang mengalami kesusahan cepelti daddy ini." Ara menjawab dengan penuh percaya diri.


Tadi dia sudah sangat bangga pada anaknya yang rela mengalah demi membantu orang lain seperti sifat istrinya yang suka membantu orang miskin. Tapi apa yang dia dengar ini. Anaknya justru dengan bangganya mengatakan uang yang dia dapatkan dengan cara memeras orang lain dari hasil keringat dia sendiri.


"Kenapa sekarang aku bisa dibodohi sama anak kandung aku sendiri? Uang dari hasil keringat nya sendiri. Bukannya itu pantas di sebut sebuah pemerasan. Astaga... kenapa kelakuan anak perempuan aku bisa seperti ini? Oh Tuhan... Sayang, kamu kasih anak kita makanan apa selama ini? Kenapa dia bisa menjadi anak licik dan kejam seperti ini," batin Alex yang tidak sadar kalau dari sifat dialah menurun pada anaknya itu.


Sementara Andre ingin tertawa terbahak-bahak tapi karena takut dengan Alex hingga akhirnya dia menahan tawanya agar tidak keluar.


"Berapa yang Ara butuhkan? Sebutkan saja. Daddy akan memberikan berapapun yang Ara minta?" tanya Alex dengan tegas.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ala minta angka selatus." Ara menjawab dengan percaya diri kalau uang yang dia minta pasti banyak.


"Hah... Maksud Ara seratus perak, seratus ribu, seratus juta, atau...


"Stop.... tenapa daddy membuat pala Ala pucing sih? Mana Ala tahu belapa uang yang daddy sebutkan itu. Yang Ala tahu, angka selatus itu pasti yang paling banyak," potong Ara dengan wajah kesal.

__ADS_1


Hahahaha


Akhirnya pecah juga tawa Andre yang sejak tadi dia tahan. Sungguh, anak atasannya ini benar-benar anak ajaib. Dia ingin memeras ayahnya tapi tidak tahu uang yang paling banyak berapa.


Berbeda dengan Laura yang sangat terharu atas kebaikan anak atasannya ini. Demi ingin membantunya dia rela menolak hadiah besar yang akan di berikan untuk nya.


"Baiklah. Daddy beri satu kesempatan buat Ara untuk memilih salah satu dari 3 nominal yang akan daddy sebutkan nanti. Terserah Ara mau pilih yang mana. Apapun hasilnya nanti Ara tidak boleh mengeluh ataupun membenci daddy apabila pilihan Ara tidak tepat sasaran."


"Apa Ara mau lanjut atau tidak?" tanya Alex yang sengaja mengerjai anaknya ini, sebagai bentuk balas dendam atas perlakuan anaknya yang nakal itu hingga membuat istrinya sering memarahinya gara-gara ulah Ara.


"Kenak kamu Ara sayang. Daddy tahu, kamu pasti tidak akan bisa menebak nominal yang besar. Karena kamu masih kecil palingan kamu akan menyebut seratus perak, atau nggak seratus ribu," batin Alex dengan tawa jahatnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa daddy membeli syalat cepelti itu sih?sebaik na daddy lansung saja kasih uang na buat aunty Lala. Kasihan dia sedang membutuhkan uang sekalang," ujar Ara dengan wajah kesal.


"Ara mau menerima syarat dari daddy apa tidak. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Lebih baik daddy kehilangan uang yang banyak untuk membelikan moll buat Ara yang anak kandung daddy sendiri, dari pada memberikan uang pada orang lain," ujar Alex dengan cuek padahal dalam hati sudah menahan tawanya agar tidak keluar saat melihat wajah anaknya yang sedang marah seperti itu.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Apa aunty Lala ndak masalah kalau Ala nanti memilih uang yang cuman sedikit. Kalena Ala masih kecil ndak tahu, belapa uang yang banyak?" tanya Ara pada Laura dengan penasaran.


"Tidak apa-apa nona kecil. Berapa pun uang yang nona kecil sebutkan nanti aunty akan menerimanya dengan senang hati." Laura menjawab dengan perasaan terharu atas kebaikan Ara yang lebih memilih membantu dia dari pada menerima pemberian ayahnya.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ya sudah daddy sebutkan saja uang na. Bial Ala bisa pilih nanti," ujar Ara dengan penuh keyakinan kalau dia pasti bisa menebaknya.


"Kenapa anak ini sangat berani menerima tantangan dari aku? Apa Ara sudah tahu jawaban dari pertanyaan aku itu? Jangan-jangan aku akan masuk perangkap dia lagi. Tenang Lex... sepertinya Ara tidak tahu masalah ini, bukannya dia masih kecil," batin Alex seraya menyakinkan dirinya sendiri kalau Ara pasti akan kalah.





Bersambung......

__ADS_1


💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥


__ADS_2