One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Melakukan Tes DNA )


__ADS_3

Ke Rumah Sakit


Seperti yang sudah di katakan oleh Angelina. Hari ini dia akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA antara Arrabella dan Alexander Lemos. Dia sangat penasaran dengan hasilnya dan juga berharap kalau dugaannya selama ini benar kalau Ara adalah cucu kandungnya yang selama ini dia impikan.


"Mama sudah siap apa belum?" tanya David yang sudah malas melihat istrinya yang sejak tadi belum juga selesai berdandan.


"Oh Tuhan... kenapa kaum hawa kalau berdandan perlu banyak sekali waktu? Beda sekali dengan kaum laki-laki yang tak pernah repot kalau urusan dandan," batin David.


( Sabar papa David. Beginilah kalau menjadi perempuan harus selalu terlihat cantik dan sempurna saat mau kemana-mana biar suaminya tidak melirik cewek lain. Benar kan kata author... Hehehehe... )


"Papa tidak sabaran banget sih. Apa papa tidak lihat mama lagi sibuk," ujar Anggelina dengan wajah kesal.


"Iya sibuk melukis alis biar panjang kayak kereta api," batin David.


"Papa harus sabar berapa jam lagi sampai rumah sakitnya tutup baru mama mau pergi kesana," ujar David dengan kesal saat mendengar perkataan istrinya.


"Iya... iya... ini sudah siap. Lagian siapa yang menyuruh papa ikut sama mama ke rumah sakit. Jadi jangan salahkan mama kalau lama," ujar Anggelina dengan wajah sinis.


David yang mendengar perkataan istrinya langsung terdiam karena apa yang dikatakan oleh istrinya semuanya benar. Dia sendiri yang menawarkan diri mau pergi bersama istrinya jadi wajar kalau Angelina kesal sama suaminya yang tidak sabaran itu.


"Oke. Papa minta maaf. Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya David yang lebih memilih mengalihkan pembicaraan dari pada dia kenak Omelan istrinya yang galak itu.


"Ayo kita berangkat. Mama tidak mau sampai telat pergi ke rumah sakit," ujar Angelina dengan cepat.


Sementara David hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya itu." Giliran aku yang menyuruh dia cepat-cepat malah ngomel. Sekarang malah dia yang tak sabaran pergi ke rumah sakit. Sungguh sial sekali jadi suami yang takut sama istri," batin David Lemos.


Beberapa Jam Kemudian


Saat ini mereka sudah Sampai di rumah sakit Ronald Reagan UCLA Medical Center. Rumah sakit terbesar yang ada di kota California Amerika serikat.


Tak lama kemudian datanglah suster yang sudah di tugaskan oleh dokter Austin untuk menyambut tamu istimewa nya itu menuju ke ruangan kerjanya.


"Permisi nyonya Angel... tuan David... dokter Austin sudah menunggu anda di ruang kerjanya sekarang. Mari saya antar tuan dan nyonya ke sana," ujar suster itu seraya menyuruh Angelina dan juga David untuk ikut dengan nya menuju ruangan kerja dokter Austin.


"Oke. Terima kasih," ucap Angelina seraya mengikuti suster itu yang sudah berjalan duluan.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


Cklek


Masuklah Angelina dan juga David lemos ke dalam ruangan dokter Austin yang sedang serius dengan pekerjaannya itu.


"Permisi dokter... tuan David... dan nyonya Angel sudah datang," ujar suster itu.


Mendengar perkataan suster membuat dokter Austin langsung menghentikan pekerjaannya dan dia langsung menyambut tamu istimewa itu segera.


"Silahkan duduk. Tuan David... nyonya Angel," ujar dokter Austin dengan sopan.


"Terima kasih dok," ujar Angelina seraya duduk di depan meja kerjanya itu.


"Apa yang menyebabkan anda berkunjung ke sini nyonya Angel dan juga tuan David?" tanya dokter Austin dengan wajah penasaran.


"Kedatangan kami ke sini ingin melakukan tes DNA Dok." Jelas Angelina dengan cepat.


Dokter Austin yang mendengar perkataan Angelina merasa terkejut dan juga heran saat melihat Angelina ingin melakukan tes DNA. Walaupun dia Bingung dan penasaran tetap saja dia tidak mau menanyakan hal itu pada mereka.


"Tentu saja sudah Dok," jawab Angelina seraya menyerahkan sampel rambut Alex dan Ara agar segera di lakukan tes DNA oleh dokter Austin yang langsung di terima olehnya.


"Kapan saya bisa mengambilnya dokter?" tanya David lemos yang sejak tadi hanya diam saja saat mendengarkan perkataan mereka.


"Anda bisa mengambilnya dalam waktu seminggu tuan David," ujar dokter Austin dengan sopan.


"Saya ingin besok hasil tes DNA nya segera keluar. Kalau tidak, siap-siap rumah sakit ini saya hancurkan," ancam David Lemos dengan tatapan tajamnya.


"Ba... baik tuan David. Besok anda bisa mengambil hasilnya segera," ujar dokter Austin terbata-bata saat mendengar ancaman dari David Lemos di tambah dengan tatapan tajamnya yang membuat dokter Austin menelan air ludahnya sendiri.


Angelina yang mendengar perkataan suaminya hanya bisa menghela nafas pasrah dan geleng-geleng kepala saat melihat kelakuan suaminya.


"Oh Tuhan... kenapa papa harus mengancam akan menghancurkan rumah sakit ini hanya masalah sepele seperti ini? Sekarang aku mengerti kenapa papa mau ikut dengan aku ke rumah sakit ini. Agar dia bisa mengancam dokter ini biar hasilnya cepat keluar," batin Anggelina.

__ADS_1


"Terima kasih Dok atas bantuannya. Sekarang kami pamit pulang dulu. Besok kami akan datang lagi untuk menerima hasil tes DNA ini dengan segera," ujar Angelina.


"Sama-sama nyonya Angel. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai dokter di rumah sakit ini," ujar dokter Austin dengan sopan.


"Ayo pa... kita pulang sekarang juga," ujar Anggelina seraya pergi dari sana yang di ikuti oleh David lemos.


Setelah melihat mereka keluar dari ruangannya barulah dokter Austin bisa bernafas lega.


"Oh Tuhan... kenapa tuan David sangat menyeramkan sekali? Ternyata yang di katakan oleh orang-orang kalau keluarga Lemos sangat kejam itu sungguh nyata. Sekarang aku sudah bisa merasakan nya sendiri sampai aku tidak bisa menahan nafas saat berada dalam satu ruangan dengannya tadi," ujar suster itu yang lagi berdiri di samping dokter Austin.


"Jangankan kamu sus. Saya saja sangat takut dan berkeringat begini saat mendengar ancaman dari tuan David tadi. Rasanya jantung saya mau copot saking takutnya saya sama tatapan tajamnya itu," ujar dokter Austin.


"Saya pikir cuman saya saja yang takut tadi Dok. Ternyata anda lebih penakut dari pada saya... Hehehe..." suster itu berucap seraya terkekeh geli saat melihat dokter Austin mengelap keringatnya yang bercucuran dari dahinya itu.


"Apa kamu mau saya pecat dari rumah sakit ini?" tanya Austin seraya mengancam suster itu dengan tatapan tajamnya.


"Ti... tidak Dok... saya berjanji tidak akan mengejek dokter lagi," ujar suster tadi yang ketakutan saat mendengar ancaman dari dokter Austin.


"Huuf... kenapa kamu tidak bisa mengontrol mulut mu sih? Bagaimana kalau kamu sampai di pecat dari rumah sakit ini? Sekarang cari kerja sangat susah, apalagi hutang aku sangat banyak yang belum aku lunas kan lagi," batin suster itu yang takut di pecat dari rumah sakit ini.


"Saya kasih kamu kesempatan jika kamu masih berani mengejek saya lagi. Siap-siap kehilangan pekerjaan ini, kamu mengerti," ujar dokter Austin yang melampiaskan kemarahannya terhadap bawahannya sendiri. Karena dia tidak mungkin memarahi David Lemos yang ada nyawanya akan melayang.


"Ba... baik Dok... saya berjanji tidak akan mengulangi nya lagi," jawab suster itu dengan terbata-bata.


"Bagus jika kamu sudah paham. Sekarang kamu lanjutkan pekerjaan kamu yang belum selesai itu, dan satu lagi tutup mulut mu itu jangan sampai kejadian ini di dengar oleh orang lain, kamu paham," ujar dokter Austin lagi.


"Baik dok," jawab suster itu seraya pergi dari sana.


"Austin apa yang kamu lakukan. Hancur sudah harga diri kamu yang ketahuan kalau kamu tadi seorang penakut. Lagian siapa yang tidak takut dengan keluarga Lemos. Lihat saja tatapan tajamnya sangat menakutkan. Tapi untung saja aku bisa mengancam suster itu agar dia bisa tutup mulutnya itu. Jika tidak, bisa malu aku sama semua orang," batin dokter Austin seraya menghela nafas lega.




__ADS_1


Bersambung....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2